
Kenzi memasuki kelasnya bersama Reyhan. Dua sejoli itu sudah seperti upil dan ingus yang tak pernah terpisahkan. Kenzi berdiri di depan mejanya sedangkan Reyhan sudah duduk di mejanya sendiri.
"Hy, Ken!" sapa Sella sambil tersenyum kearah Kenzi.
"Hay" sahut Kenzi sambil tersenyum juga
"Ken, dicariin tuh!" ucap Renata. Kenzi mengernyitkan dahinya bingung.
"Siapa?" tanya Kenzi sembari meletakkan tas punggung-nya di meja.
"Tuh..." tunjuk Renata pada seseorang yang duduk di tempat paling belakang, tepat di samping kiri tempat duduk Reyhan.
"Raffa" gumam Kenzi setelah melihat orang itu.
Di ujung sana, Raffa duduk sambil tersenyum manis menatap Kenzi. ia bangkit dari duduknya. Dengan langkah yang pelan, ia menghampiri Kenzi yang hanya diam membisu. Sampai akhirnya Raffa berdiri berhadapan dengan Kenzi. ia menampilkan senyum malaikatnya kepada gadis yang sangat ia rindukan hampir satu tahun ini.
"Hay Ken!!. Apa kabar?, lo masih inget kan sama gue?" Raffa memulai pembicaraan. Ditatapnya gadis itu dengan lekat. Tak ada yang berubah, semua nampak sama, perasaannya pun tetap sama. Tetap untuk Kenzia, hanya untuk Kenzia.
"Gue baik kok, lo apa kabar?" Kenzi berusaha bersikap ramah dan tenang untuk menutupi rasa terkejutnya melihat kehadiran Raffa kembali kesini, satu kelas lagi dengannya. Oh ayolah, semoga ini bukan hal yang buruk. Pikir Kenzi.
"Gue selalu baik saat bertemu sama lo" jawab Raffa sambil tersenyum. Kenzi hanya membalas dengan senyuman tipis. Semua hanya diam menyaksikan interaksi dua manusia itu, kecuali Reyhan.
Cukup beberapa menit untuknya merelakan Kenzi-nya dipandang orang lain. Dengan perasaan kesal, Reyhan berdiri dan menghampiri mereka berdua. Ditariknya Kenzi dari hadapan Raffa dan mendekap gadis itu dengan erat.
"Udah kan ngomongnya?, Kenzi baru sampek, biar dia duduk dulu. Main nyerocos aja jadi orang!" ketus Reyhan pada Raffa.
"Lo apa-apaan sih!, main peluk-peluk aja. Lagian lo siapanya Kenzi?, pake acara ngatur-ngatur segala. Orang Kenzi-nya fine fine aja kok" jawab Raffa tak terima. ia menarik Kenzi menjauh dari Reyhan, sedangkan Reyhan menarik Kenzi untuk mendekat.
"Lepasin nggak!!" tekan Reyhan dengan menatap tajam kearah Raffa.
"Nggak!!" sahut Raffa tanpa takut. ia menarik Kenzi, Reyhan pun melakukan hal yang sama.
"Don't touch my girlfriend, fucker!!" bentak Reyhan dengan rahang mengetat. Raffa tersentak kaget, ia menoleh kearah Kenzi yang terlihat tidak nyaman dengan situasi yang terjadi.
"Ken, lo beneran pacaran sama dia?" tanya Raffa dengan ekspresi terkejut. Tangan kirinya yang bebas ia gunakan untuk menunjuk Reyhan.
"Telunjuk lo gue gigit juga lama-lama!" desis Reyhan tak suka yang sama sekali tidak mendapat respon dari Raffa. Pemuda itu sedang terfokus untuk menunggu jawaban Kenzi.
Kenzi menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
"Iya" jawab Kenzi sambil menatap Raffa. Raffa terdiam seketika. Pegangannya di tangan Kenzi perlahan mulai melonggar. ia menunduk beberapa saat, hingga akhirnya kembali menatap Kenzi dengan tatapan sayu.
"Jadi lo bener-bener nggak nerima gue ya?" tanya Raffa.
"Gue nggak bisa bohongin hati gue Fa, gue sayang sama Reyhan dan gue harap lo ngertiin keputusan gue. Kita temenan aja ya!" tambah Kenzi.
Dunia Raffa seolah runtuh mendengar jawaban Kenzi. 8 bulan lamanya ia merindukan gadis ini selama ia di Singapura. Berharap saat ia kembali, mungkin ia bisa mendapatkan gadis yang dicintainya. Tapi 'mungkin' akan tetap menjadi 'mungkin' saat tidak ada usaha. Raffa sadar selama ia di Singapura, ia sama sekali tidak mencoba menghubungi Kenzi ataupun mencoba untuk mendekati gadis itu. ia tidak memiliki keberanian untul melakukannya. ia lebih memilih diam. Dan ternyata diamnya malah membawa suatu hal yang buruk. Yaitu kehilangan Kenzi. Ya, saat ini Raffa harus merasakan sakitnya kalah sebelum berperang. Akhhh, rasanya ia sangat ingin mengundur waktu sehingga ia dapat lebih dulu meluluhkan hati Kenzi daripada Reyhan. Namun semua hanya sebuah kata 'ingin' karena saat ini semua sudah terlanjur.
Raffa menghela nafas berat sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Ya, kita teman" ucap Raffa sambil memaksakan senyumnya. Mungkin hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa dekat dengan Kenzi, meski harus dengan kedok 'pertemanan'. Tapi tak masalah, banyak orang yang mengatakan bahwa cinta bisa datang karena terbiasa. Terbiasa menjadi teman mungkin salah satunya, pikir Raffa.
Kenzi tersenyum mendengar jawaban Raffa. ia lega saat pemuda ini tak memaksakan kehendak seperti Bintang. Berbicara tentang Bintang, pemuda itu sudah dikeluarkan dari sekolah sejak dua hari yang lalu. Hal itu tentunya karena koneksi yang Kenzi miliki di sekolah ini. Karena mengeluarkan Bintang bukanlah perkara yang mudah, apalagi mengingat jika pemuda itu cukup berprestasi. Namun, semua itu akan tetap terjadi saat Kenzi yang melakukannya. Sekali ia bilang keluar, maka dengan hitungan jam, orang itu akan keluar dari tempat miliknya.
Kenzi menepuk bahu Raffa pelan
"Thanks ya Fa, gue yakin kalo suatu saat nanti lo bakal nemuin seseorang yang lebih baik dari gue dan bisa mencintai lo sepenuh hati" ucap Kenzi tulus. Raffa ikut tersenyum dibuatnya.
"Gue harap juga begitu" sahut Raffa.
"Kalo gitu gue keluar sebentar ya" pamit Raffa yang dibalas anggukan oleh Kenzi. ia segera keluar kelas dan pergi menuju rooftop. ia sangat butuh udara segar sekarang.
Sesampai di rooftop, Raffa berdiri di belakang pagar pembatas, ditatapnya seluruh siswa dan siswi yang berlalu lalang dibawah sana.
"Arghhhhh" teriak Raffa sambil menendang pagar pembatas itu. ia mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
"B*go, tollol, stupid!!!!" maki Raffa pada dirinya sendiri. ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian kembali menatap depan dengan perasaan kacau.
"Cinta itu butuh perjuangan, boy!" ucap seseorang dari belakang. Raffa membalikkan tubuhnya untuk menatap orang itu.
"Siapa lo?" tanya Raffa pada seorang gadis di depannya.
Gadis itu tersenyum miring, ia berjalan mendekat kearah Raffa.
"Nanti lo juga akan tau gue ini siapa" jawabnya santai. ia berjalan ke pagar pembatas dan menatap ke depan, Raffa pun mengikuti gadis itu dan berdiri di sampingnya.
"Kalo gue jadi lo, gue gak bakalan biarin orang yang gue suka dimiliki orang lain. Gue bakal berusaha dapetin dia" ucap gadis itu sambil menoleh kearah Raffa. Raffa ikut menatapnya.
"Tapi dia udah punya pacar, gue nggak mungkin ngerebut dia dari pacarnya. Gue nggak se gila itu!" tukas Raffa.
Gadis itu tersenyum miring.
"Apanya yang nggak mungkin?, dan apa yang gila?. Toh, mereka cuma pacaran. Belum menikah, jadi sah-sah aja dong kalo ada yang ambil" sahut gadis itu. Raffa hanya diam sambil menatap gadis yang juga sedang menatapnya.