
"Jadi hari ini lo mau memperjelas semuanya?" tanya Leon seraya menyampingkan tubuhnya untuk menatap Kenzi.
Kenzi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman sambil menatap lurus ke depan.
"Ya, ini satu-satunya jalan supaya gue dan dia sama-sama nggak tertekan" sahut Kenzi dengan nada datar tanpa emosi.
Leon menegakkan punggungnya dan ikut menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Gimana kalo dia pengen semuanya berakhir?" tanya Leon penasaran.
"Gue akan pergi" sahut Kenzi singkat.
"Semudah itu?" tanya Leon dengan ekspresi tak percaya. Ia menaikkan sebelah alisnya sambil menatap intens kearah gadis itu.
Kenzi menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Ia menoleh kearah Leon.
"Dia aja bisa, kenapa gue nggak bisa?!!" sahut Kenzi
"Lo emang bisa, tapi hati lo yang nggak bisa!!" tukas Leon dengan santainya. Dan Kenzi terdiam, ia kembali menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Ya, hati gue emang nggak bisa. Tapi gue akan paksa dia untuk bisa. Meskipun gue tau, itu akan terasa sakit" ucap Kenzi dengan suara berat.
*********
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa hari sudah menjelang malam. Kenzi masih terdiam di dalam mobilnya tanpa berniat untuk melajukan mobil tersebut. Tangannya berkeringat dingin sekarang, seiring dengan jantungnya yang berdegup tak karuan.
"Lo pasti bisa!!" yakin Kenzi pada dirinya sendiri. Ia melihat kearah arlojinya, sudah pukul 20.00
Perlahan, ia melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Perasaannya tak karuan sekarang. Antara gelisah, takut, dan sedih. Semua bercampur menjadi satu.
Di depan lampu merah, dan Kenzi menghentikan mobil yang ia kendarai. Berulang kali ia mengatur nafasnya untuk mengurangi rasa tegang yang tak beralasan.
Saat ia menengok ke samping, tak sengaja matanya menangkap sosok Reyhan dan Sella sedang duduk berdua di taman dekat situ.
"Kamu bahkan masih sempet buat nemuin dia" ucap Kenzi sambil tersenyum kecut.
Dan entah mendapat dorongan darimana, Kenzi meminggirkan mobilnya. Ia lalu keluar dari mobil itu kemudian berjalan kearah Reyhan dan Sella. Ia berjalan dengan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara. Di depan ada sebuah pohon, dan Kenzi menyembunyikan dirinya disana. Posisi pohon yang lumayan dekat dengan Reyhan dan Sella membuatnya dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
"Rey, lo harus tegas dong!!!" seru Sella dengan suara agak tinggi. Kenzi masih menyimak obrolan mereka dengan seksama.
"Gue nggak bisa" sahut Reyhan sambil menunduk lesu. Sella berdecak kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Terus sekarang gimana?!" desis Sella seraya menatap tajam kearah pemuda di sampingnya. Reyhan masih diam, tak berniat untuk menjawab ucapan gadis itu.
"Rey...!!!, besok kita mau tunangan, dan lo belum memperjelas semuanya!!. Mau sampek kapan kayak gini?!!!" ucap Sella lagi.
Degg
Kenzi terpundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Ia menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Gue nggak bisa nyakitin Kenzi terlalu jauh" sahut Reyhan dengan lesu.
"Gue akan jelasin semuanya...., Malem ini" lanjutnya. Sella tersenyum tipis mendengar itu.
Kenzi menangis tanpa suara. Ia perlahan mundur, berlari menjauh dari tempat itu sambil membawa rasa sakit di hatinya. Ia berlari tanpa tujuan, tak peduli kondisi sekitarnya. Ia terus menangis dan menangis, hingga ia berhenti di depan sebuah halte bus yang kosong.
Tubuh Kenzi luruh ke lantai, ia menangis sejadi-jadinya disana. Menumpahkan segala rasa sakit dan kesal yang sedari tadi ia tahan.
** I Love You Kenzia**
**Memiliki kamu adalah hal terindah yang pernah tuhan berikan**
**Kita akan selalu bersama**
Ucapan Reyhan terus terngiang di kepala Kenzi seperti dejavu. Ia benci ini, Kenzi menjambak rambutnya sendiri dengan kesal.
"OMONG KOSONG!!!" teriak Kenzi dengan amarah menggebu. Tiba-tiba hujan turun dengan deras, seakan langit ikut merasakan kesedihan yang ia rasakan.
"KENAPA LO DATENG KALO AKHIRNYA CUMA MENYAKITI!!!" Kenzi berteriak di sela-sela tangisannya. Ia mengelap kasar wajahnya yang basah.
"KENAPA....KENAPA DISAAT GUE BENER-BENER TERLENA DENGAN SIKAP LO, LO MALAH BERSIKAP LAYAKNYA SEORANG BAJINGANN!!!"
"MANA JANJI LO?!!!, MANA KATA CINTA LO YANG SELALU LO UCAPIN KE GUE RIBUAN KALI?!!!"
"APA INI YANG LO MAKSUD CINTA YANG INDAH?!!!"
"CIHH, GUE BENCI SEMUA INI!!!"
"GUE BENCI CINTA!!!"
"GUE BENCI LO REYHAN!!!!!"
Amarah Kenzi semakin menjadi-jadi. Ia terus berteriak diiringi isak tangis dan rintikan air hujan yang berjatuhan. Kenzi memukul dadanya sendiri yang terasa sangat sakit. Ini menyakitkan, dan dia tak sanggup untuk menghadapinya.
********
Suara bell berbunyi mengalihkan pandangan Devano dari televisi. Ia berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang datang. Tangannya meraih knop pintu dan menariknya hingga pintu terbuka sempurna.
Mata Devano langsung terbelalak kaget saat melihat Kenzi datang dengan kondisi acak-acakan. Baju basah kuyup, mata sembap, dan rambut yang berantakan.
"Ken, lo kenapa?" tanya Devano bingung sekaligus khawatir. Kenzi tak menjawab, ia langsung berhambur ke pelukan kakaknya hingga membuat Devano kaget dan sedikit terpundur ke belakang.
"Dia jahat bang....dia nyakitin gue" racau Kenzi sambil menangis di dada Devano.
Devano mengelus punggung Kenzi perlahan. Menyalurkan kehangatan dan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
"Kita masuk dulu, oke!!. Nanti lo cerita di dalem" ucap Devano dengan lembut. Ia menuntun Kenzi untuk duduk di Sofa, mengabaikan pakaiannya yang ikut basah karena pelukan gadis itu. Ia memerintah salah seorang pelayan untuk membawakan handuk kering dan secangkir teh hangat, sedangkan dirinya masih terus memeluk Kenzi karena gadis itu masih terus menangis.
"Sekarang lo cerita, ada apa hemm?" tanya Devano dengan lembut. Cukup lama Kenzi terdiam, dan Devano dengan sabar menunggu gadis itu menjawabnya. Ia tau ini tidak mudah.
"Reyhan besok mau tunangan sama cewek lain" ucap Kenzi dengan suara serak, air matanya kembali menetes di dada sang kakak.
Tangan Devano terkepal kuat dibawah sana. Rahangnya mengetat dengan mata memerah menahan amarah.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Devano lagi dengan nada datar tanpa emosi, berusaha menekan amarahnya yang bergejolak. Ia tak mau Kenzi semakin terpuruk.
"Gue nggak tau" sahut Kenzi dengan suara lemah.
"Lo udah mutusin dia?!" tanya Devano yang lebih tepatnya seruan. Kenzi menjawab hal itu dengan gelengan kepala. Devano membuang nafasnya kasar.
"Kenapa nggak lo putusin?!" desis Devano dengan nada yang mulai kesal.
"Gue nggak mau ketemu dia!!" sahut Kenzi sambil mencengkram kuat kaos yang digunakan kakaknya.
"Kalo gitu biar gue yang mutusin, sama lehernya dia sekalian!!!" tukas Devano. Ia hendak berdiri namun tertahan oleh Kenzi.
"Please nggak usah Bang. Biarin aja!!" cegah Kenzi seraya memegang lengan kakaknya.
Devano menghela nafas berat.
"Gimana gue bisa diem aja disaat si bangsatt itu berani-beraninya buat lo nangis?!!!, gue bakal ngasih dia pelajaran karena semua ini!!" desis Devano dengan amarah.
"Gue akan pergi" ucap Kenzi tiba-tiba. Devano langsung diam seketika saat mendengar ucapan gadis itu.
"Gue akan pergi. Jauh dari sini.... Jauh dari dia, dan jauh dari sebuah rasa sakit" lanjut Kenzi sambil menunduk lesu.