Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Honeymoon?



Reyhan keluar dari kamar mandi seraya menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Ia menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan saat tak menemukan keberadaan Kenzi di kamar. Pandangannya kemudian beralih pada balkon kamar, dan benar saja perempuan itu sedang berdiri disana.


Reyhan menghampirinya kemudian memeluknya dari belakang. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kenzi hingga membuat perempuan itu kegelian.


"Udah selesai mandinya?" tanya Kenzi seraya mengelus tangan Reyhan yang melingkar di perutnya.


"Udah" jawab pria itu dengan singkat.


"Kita kapan pulang?" tanya Kenzi lagi.


Reyhan mengangkat sebelah alisnya, merasa bingung dengan apa yang perempuan itu tanyakan


"Pulang kemana?, kita kan udah pulang?" tanya balik Reyhan


"Pulang ke rumah mama papa kah, kemana lagi?!" sahut Kenzi sambil memutar bola matanya jengah.


"Kan aku udah bilang, Ini rumah kita. Jadi kita pulangnya ya kesini, nggak ke rumah orangtua kamu ataupun ke rumah orangtua aku"


Kenzi spontan berbalik badan setelah mendengar ucapan Reyhan. Ia menatap pria itu dengan mata memicing.


"Kamu serius?"


Reyhan mendengus kesal. Bisa-bisanya dia dikira pengibul.


"Ya serius lah sayang. Ngapain aku bohong sama kamu" sahutnya dengan nada jengkel.


"Barang-barang aku kan masih di rumah!!!" desis Kenzi seraya menghentakkan kakinya karena kesal.


"Besok aja kita ngambilnya sambil pamitan"


"Pamitan kemana?!" tanya Kenzi dengan kening mengerut bingung.


"Honeymoon" sahut Reyhan seraya memasang wajah malaikatnya.


"Honeymoon?!" tanya Kenzi lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi.


"Tadaaaa" Reyhan mengangkat sebelah tangannya, memamerkan dua buah tiket pesawat dan juga paket wisata ke beberapa destinasi di Eropa dan juga Asia.


Mata Kenzi langsung berbinar senang. Rasa kesalnya sudah hilang tak tersisa saat melihat tiket wisata di depan mata.


"Aaa kok kamu bilang sihhh" Kenzi merebut tiket itu, memandangnya dengan seksama seperti anak kecil yang habis menerima mainan baru.


"Suka nggak?!" tanya Reyhan sambil merangkul bahu perempuan itu, mengajaknya untuk kembali masuk karena di luar mulai turun hujan.


"Ya suka banget lahhh. Apalagi ada tiket trip ke Korea. Aaa sayang pokoknya nanti disana aku mau nonton Konser EXO, pengen liat Sehun kembaran kamu. Kan mereka lagi comeback, pasti seru banget deh!!!" Kenzi berceloteh panjang lebar sambil jingkrak-jingkrak nggak jelas, sedangkan Reyhan menutup pintu balkon dan juga gorden-nya agar air tidak masuk ke dalam kamar.


"Lagi ada Corona Yang, nggak boleh ngadain konser" sahut Reyhan dengan nada jengkel. Nyesel dia setuju sama saran Renata buat trip ke Korea kalo ujung-ujungnya disana bakal ternistakan sama EXO, apalagi Sehun. Mentang-mentang muka sama jadi dikira kembar.


"Di dunia novel nggak ada Corona!!!" desis Kenzi dengan tatapan horror yang ia tujukan kepada suaminya.


Reyhan menghela napas panjang. Tidak ada cara lain selain mengalah saat menghadapi sikap Kenzi yang seperti ini.


"Iya.... iya, besok kita kesana!!" sahutnya dengan nada malas.


"Nahhh, gitu dong!!. Aaa Mas Sehun aku datanggg" sorak Kenzi seraya menghempaskan tubuhnya kembali keatas ranjang padahal dia baru bangun tidur. Gapapa, yang penting ketemu Sehun. Begitu pikir Kenzi.


"Masih gantengan juga aku!!" desis Reyhan yang merasa tak terima saat istrinya mendambakan pria lain.


"Muka mu aja terinspirasi dari dia!!!" sahut Kenzi dengan nada keras tanpa merubah posisinya.


****************


"Kalian kalo udah sampek, jangan lupa kabarin kita yaa" Allia dan Raisa kembali mengingatkan untuk yang kesekian kalinya saat mereka mengantarkan anak dan menantunya ke Bandara. Yaa, pasangan itu memang menolak memakai Jet Pribadi, biar serasa kayak honeymoon beneran katanya.


"Iya, Ma. Ken sama Reyhan paati kabarin kok" sahut Kenzi seraya menyalami ibu dan mertuanya bergantian dengan Reyhan.


"Bener?!. Nanti keenakan jalan-jalan jadi nggak inget sama yang di rumah" goda Allia


"Kami pasti inget lah Mom, nggak mungkin lupa" sahut Reyhan.


"Iya deh kita percaya, jangan lupa bikinin cucu yang banyak buat Mommy" ucapan itu membuat pipi Kenzi memerah. Bisa-bisanya ibunya berkata demikian.


"Kalo perlu lembur tiap malem Rey, biar cepet jadi" timpal Raymond yang membuat semua orang teetawa kecuali Kenzi yang tengah menahan malu.


"Siap Pah, nanti Reyhan bikinin sebelas buat Tim basket" sahut Reyhan dengan cengir watadosnya. Kenzi memukul bahu pria itu agak kencang saat ucapannya melewati batas upnormal. .


Audio center sudah memberparahan agar mereka segera menuju boarding area. Setelah berpamitan dan peluk-cium layaknya teletubbies berpelukan, Reyhan dan Kenzi melangkahkan kakinya meninggalkan lobby bandara. Dengan tangan yang saling bertautan, mereka menyusuri bandara yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dalam waktu singkat.


**************


Seorang anak kecil laki-laki dengan umur sekitar 3 tahunan tiba-tiba mendekat kearah kursi mereka yang membuat Reyhan dan Kenzi sama-sama menoleh. Anak itu tersenyum manis hingga pipi chubby-nya mengembang, mata sipit dan kulit putih menandakan jika anak itu keturunan orang tionghoa.


"Untuk aunty" anak itu mengulurkan sebuah gantungan kunci yang terbuat dari kayu. Kenzi ikut tersenyum, Ia menerima benda itu. Disana terdapat sebuah ukiean yang dicat menggunakan cat warna-warni.


\*\*From Excel✨



Doain Excel cepat sembuh ya\*\*


**Aunty**



"Terimakasih Excel" ucap Kenzi sambil tersenyum tulus. Anak itu mengangguk semangat beberapa kali, merasa senang karena buatannya disukai oleh orang.


"Uncle nggak dikasih?" goda Reyhan sambil memasang wajah seolah merajuk.


Anak itu nampak diam dan berfikir. Ia kemudian mendongak, menatap Reyhan dengan seksama menggunakan kedua mata bulatnya.


"Excel cuma buat lima. Satu buat Mama, satunya buat Papa, satunya lagi buat Aunty. Terus yang dua mau Excel kasih buat Pak Dokter disana. Kata mama, Pak Dokter yang mau bantuin Excel buat sembuh. Excel mau kasih hadiah buat Pak Dokter" Reyhan dan Kenzi sedikit terenyuh mendengar penuturan anak itu. Usianya masih sangat kecil, namun caranya berbicara sudah sangat jelas dan lancar seperti anak yang sudah berumur delapan tahunan.


"Excel!!!" seorang perempuan paruh baya mendekat kearah anak kecil bernama Excel itu. Ia menggandengnya dengan erat, seakan takut anak itu hilang meskipun ruang gerak di dalam pesawat sangat terbatas.


"Mama" sahut Excel dengan senyum manisnya.


"Kamu lagi ngapain sayang?" perempuan itu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak itu.


"Excel kasih ini buat Aunty" perempuan itu mengalihkan pandangannya kearah Kenzi. Ia tersenyum hangat di tengah wajahnya yang mulai keriput.


"Maaf menganggu waktu kalian" ucap perempuan itu dengan tulus.


"Gapapa kok Bu. Tapi maaf, tadi Excel bilang dia mau berobat. Kalau boleh saya tau, dia sakit apa ya?" entah mendapat dorongan darimana, Kenzi berani bertanya demikian. Rasa simpati pada anak itu muncul secara tiba-tiba di hatinya.


"Dokter bilang, Excel terkena Leukemia. Kami akan pergi ke Eropa karena disana ada teman ayah Excel yang bekerja sebagai dokter ahli. Harapan kami serahkan padanya karena di Negara kami benar-benar tidak bisa mengatasi. Saya mohon bantu doanya Ya, semoga Excel bisa sembuh" sahut perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ma... leukemia itu apa?" tanya Excel dengan kepala mendongak menatap ibunya.


"Itu sakit ringan kok sayang, Excel pasti sembuh" sahut ibunya sambil memaksakan senyumnya.


Mata Kenzi memanas, hatinya merasa iba saat melihat anak sekecil Excel harus menanggung penyakit seperti itu.


"Excel anak pinter, kamu harus sembuh ya" Ucap Kenzi seraya mengelus kepala anak itu.


"Excel pasti sembuh" sahut Excel dengan semangat.


"Janji?" Kenzi menyodorkan jari kelingkingnya, dan Excel segera menautkan jari mereka.


"Janji" sahut Anak itu disertai senyuman.


Pertemuan singkat yang memberikan kesan tersendiri bagi Kenzi. Gantungan kunci dari Excel masih tersimpan rapi dalam genggamannya meskipun anak itu sudah tidak ada di depan mata.


"Excel kasian ya Yang" ucap Kenzi seraya menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan. Pria itu mengangguk beberapa kali, merasa setuju dengan ucapan istrinya.


"Ya, dia anak yang cerdas. Aku berharap dia kuat lewatin ini semua" sahut Reyhan


"Ya, aku juga berharap begitu"


Dua orang itu lalu larut dalam fikiran masing-masing. Fikiran yang masih tertuju pada bocah kecil yang mereka temui beberapa waktu lalu. Tidak ada yang mengira jika bocah itu akan hadir di hidup mereka di masa yang akan datang. Datang menjadi sosok yang lain dengan cerita yang berbeda.


**************


"Thor, kok scene iya-iyanya cuma sedikit?"


AuthorMahaBenar: " Ehmm jadi gini ya manteman yang budiman. Saya ini masih otw I6 tahun loh. OTW 16 TAHUN. Gue masih bocil Beb, kagak ngerti begituan. Tapi demi kalian wahai readerku tercintahh, gue rela mengotori kepolosan otaque dengan nulis adegan itu meskipun di skip yekan. Tapi lebih bagusan gue skip daripada nggak dikasih sama sekali. iyaa nggak iya nggak?, yaiyalah masak enggak. Dan asal


tempe, gue nulis part itu harus nonton kissing in drakor dulu coy biar nggak dikira ngawur. Maklum lah, adekkan masih polos"


**Guys maaf ya kemarin nggak bisa up dan baru up hari ini. Ada sikit kendala di real life sehingga membuat penulisan sedikit tertunda. Mohon maaf sekali lagi..... jangan lupa tinggalkan jejak.


Happy Reading😘**