
"Apartemen?!' tanya Kenzi dengan kening mengerut saat mereka sudah sampai di depan sebuah apartemen luas yang terletak di lantai paling atas gedung. Di tangannya sudah terdapat berbagai macam makanan yang baru ia beli, mungkin mereka habis memborong di sebuah restoran. Di lantai 25 ini, hanya apartemen itu yang ada disana. Menandakan jika tempat itu benar-benar privat.
"Nanti aku jelasin di dalem, kita masuk dulu!!" Reyhan membuka pintu apartemennya, mengajak Kenzi untuk ikut masuk. Ia menggandeng tangan Kenzi namun gadis itu menahannya.
"Jawab dulu!!" seru Kenzi dengan tak sabaran. Sifat keras Kepalanya muncul saat ini, dan menuruti adalah satu-satunya jalan agar terhindar dari perdebatan.
Reyhan menarik nafas panjang seraya menatap lekat kearah mata Kenzi yang juga sedang menatapnya.
"Aku udah nggak tinggal di rumah, dan tempat tinggal aku sekarang disini" jawab Reyhan dengan singkat.
Kenzi menautkan kedua alisnya, bingung dengan apa yang pemuda itu ucapkan.
"Kenapa?" tanya Kenzi, rupanya jawaban yang diberikan oleh Reyhan tak cukup untuk menutup rasa penasaran gadis itu.
"Itu nggak penting. Yang penting sekarang kita masuk dulu, aku mau ganti baju!!" Kenzi mencebikkan bibirnya kesal setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh pemuda itu yang tak memuaskan sama sekali. Meski dengan wajah kesal, Kenzi tetap mengikuti langkah Reyhan masuk ke dalam apartemennya.
Apartemen itu sangat luas dan mewah. Meski tinggal seorang diri, tempat itu terlihat sangat bersih dan rapi, berbanding teebalik dengan tempat tinggal kebanyakan laki-laki yang berantakan.
Kenzi meletakkan makanan yang ia bawa di pantry. Ia mengamati setuap sudut tempat tinggal Reyhan. Dekorasinya unik tapi modern. Semua vourniture yang digunakan juga bukan barang sembarangan, semua berasal dari merek ternama.
"Aku mau ganti baju bentar ya!!" ucapan Reyhan membuyarkan lamunan Kenzi yang tengah berkelana kesana-kemari. Kenzi menegokkan kepalanya kearah Reyhan, menatap pemuda itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia kemudian menatap dirinya sendiri. Kondisi mereka sama, sama-sama basah kuyub.
"Terus aku gimana...?" rengek Kenzi sambil merentangkan kedua tangannya, menunjukkan jika bajunya juga basah. Meski hanya atasannya saja.
"Tunggu bentar" Reyhan bergehas masuk ke dalam salah satu ruangan yang diyakini adalah kamarnya. Di apartemen ini ada empat kamar, dan satu diantaranya digunakan Reyhan sebagai ruang kerja.
Kenzi dengan sabar menunggu sambil melihat-lihat isi dari ruangan itu. Ia melihat lukisan-lukisan yang terpajang di dinding, rata-rata adalah lukisan dari pelukis legendaris. Hingga matanya tak sengaja melihat sebuah foto yang terletak di meja hias samping aquarium. Bibir Kenzi melengkung membentuk sebuah senyuman saat menyadari bahwa itu adalah foto dirinya bersama Reyhan dulu saat masih duduk di bangku SMA, masa putih abu-abu yang menyenangkan. Hingga saat ini, Ia masih tak menyangka jika dirinya bisa menaruh hati pada seorang Badboy SMA Dharma Bangsa yang dulu sering ia sebut 'Rabun'. Kenzi terkikik sendiri saat mengingat masa-masa mudanya yang dipenuhi dengan kenakalan, hukuman, tawuran, dan surat BK. Sangat jauh dari kata 'feminin'
"Ken, kamu pakek ini dulu gapapa kan?!" Reyhan tiba-tiba muncul sambil membawa sebuah kaos berwarna hitam di tangannya. Kenzi menatap kaos itu dengan seksama, Ia kemudian beralih menatap kearah Reyhan dengan sebelah alis yang terangkat.
"Kaos kamu?" tanya Kenzi yang dibalas anggukan oleh pemuda itu.
"Iya, adanya cuma ini. Ini juga ukuran yang paling kecil, kayaknya pas deh sama kamu" jawab Reyhan. Kenzi mengambil kaos itu lalu menempelkan di depan badannya. Saat ini sih kelihatannya pas, tapi entah jika nanti.
"Yaudah deh, daripada pake baju basah. Aku ganti baju dimana?!" jawab Kenzi sekaligus bertanya. Meski pacar, Ia tidak akan selancang itu sampai masuk-masuk ke dalam ruangan Reyhan tanpa izin. Bagaimanapun Ia tau batasan, sebagai seseorang yang hanya berpredikat sebagai 'pacar', ia cukup sadar diri untuk tidak terlalu mencampuri, mengatur, menggunakan, dan menuntut sesuatu yang belum menjadi hak dan tugasnya.
"Kamu pake kamar mandi yang bawah ya, biar aku pake kamar mandi yang diatas" ucap Reyhan. Sebagai lelaki yang masih memiliki moral dan etika, Reyhan juga tidak akan membawa Kenzi pada sesuatu yang belum sepantasnya mereka masuki. Ia juga punya batasan dan akal sehat. Merusak anak gadis orang adalah perbuatan yang tidak sepatutnya, dan ia tak akan melakukan hal itu. Ia mencintai Kenzi dengan tulus, dan dia akan mengikat gadis itu dengan cara yang benar dan sejalan dengan norma yang ada. Bukan seperti anak muda zaman sekarang. Baru pacaran udah manggil mama papa, gilirin di kasih anak malah nangis. Orangtua yang nggak tau apa-apa ikut disalahkan dan nanggung malu. Ciri-ciri anak nggak beradab.
Kenzi mengangguk lalu berjalan kearah kamar mandi yang ditunjukkan oleh Reyhan. Menutup pintu rapat-rapat, dan mulai mengganti bajunya. Reyhan pun melakukan hal yang sama, Ia naik ke lantai dua dan masuk kekamar mandi yang ada disana.
Selang beberapa menit, Kenzi keluar dari dalam kamar mandi masih dengan celana yang sama namun atasannya kini berganti menggunakan kaos Reyhan yang kebetulan pas di tubuhnya. Ia kemudian melihat kearah tangga, Reyhan belum turun dari sana. Gadis itu menghela nafas oanjang.
"Oke, mari kita selesaikan" gumam Kenzi seorang diri. Ia menggulung rambutnya tinggi-tinggi, membiarkan leher putihnya terpampang dengan nyata.
Berjalan kearah pantry, Kenzi meraih makanan-makanan itu, tangannya yang satunya lagi mengambil beberapa wadah dan menuangkan makanan itu ke dalamnya. Tak lupa nasi putih yang sudah dipesan juga ia siapkan.
Ia kemudian membuka lemari pendingin, ada beberapa buah jambu dan mangga yang masih segar. Kenzi mengambilnya lalu membawanya kembali ke pantry. Mengupas kulit buah itu, setelah merasa semua bersih, ia memasukkan beberapa potong buah mangga ke dalam blender. Menambahkan sedikit susu kental manis lalu me-mix hingga merata. Setelah siap, Ia menuangkan jus mangga itu ke dalam Gelas dan beralih memasukkan potongan buah jambu ke dalam blender. Melakukan hal yang sama, dan meletakkannya ke dalam gelas yang lain.
Setelah dirasa semuanya cukup, Kenzi membawa makanan-makanan itu ke meja makan dan menyusunnya dengan rapi. Mulai dari nasi hingga minuman, semuanya sudah tersedia di atas meja.
"Sayang... kamu ngapain?!" tanya Reyhan yang baru menuruni tangga.
"Tadaaa......" girang Kenzi sambil memamerkan hasil karyanya. Reyhan mengamati semua makanan yang ada diatas Meja. Ia tau semua itu tadi membeli, tadi dia senang dan terkesan karena Kenzi mau repot-repot menyiapkan makanan untuknya. Padahal ia tau jika gadis itu pasti juga lelah setelah beraktivitas seharian.
"Thank you" kecupan di pipi Reyhan hadiahi untuk gadis itu. Senyuman hangat muncul di wajah keduanya.
"Ayo kita makan" ajak Kenzi sambil mulai duduk di salah satu kursi. Reyhan ikut mendudukkan dirinya di kursi samping Kenzi sambil menatap semua makanan yang rata-rata adalah makanan kesukaannya, Ayam mentega, Capcay, Soto mie, dan juga kentang goreng.
Layaknya istri sungguhan, Kenzi mengambil beberapa sendok nasi dan meletakkannya di piring Reyhan. Ia juga mengambilkan lauk pauk secukupnya, tak lupa Jus mangga yang sudah ia buat juga ia sodorkan.
"Selamat makan...." ucap Kenzi sambil tersenyum. Mereka makan dengan khidmat tanpa bicara. Takut keselek katanya.
Setelah prosesi makan selesai, mereka duduk bersebelahan di kursi samping TV. Reyhan membika kaosnya, dan itu tentu membuat Kenzi terkejut.
"Kamu ngapain?!!!" pekik Kenzi seraya mengalihkan pandangan kearah lain.
"Luka aku basah lagi gara-gara kena air tadi" rengek Reyhan layaknya seorang anak kecil. Kenzi kembali menatapnya setelah mendengar hal itu, dan benar saja, luka tusuk itu sedikit berair karena terkena air tadi. Spontan Kenzi mengambil kotak P3K yang kebetulan terletak di samping TV. Ia mengambil kapas dan mengoleskannya dengan cairan alkohol. Ia mendekat kearah Reyhan dan berdiri tepat di samping pemuda itu.
"Tahan yaa" Dengan telaten, Kenzi membersihkan sisa-sisa kotoran yang terdapat di sekitar luka. Posisi yang sangat dekat membuat Reyhan dapat menatap gadis itu dengan seksama. Cantik, hanya itu yang dapat Reyhan ucapkan dalam hati saat melihat Kenzi sedekat ini.
Setelah mengoleskan salep dari dokter, Kenzi menutup luka itu menggunakan kapas dan plester agar tidak tergores kaos yang pemuda itu kenakan. Ia membereskan semua peralatan medis dan mengembalikannya ke tempat semula. Reyhan pun juga sudah memakai kaosnya. Saat Kenzi ingin berpindah tempat, Reyhan menarik tangan gadis itu hingga membuatnya hampir menindih tubuh Reyhan andai tak ia tahan.
"Kamu udah cocok jadi Istri, gimana kalo kita nikah aja!!" Ucap Reyhan dengan senyum menggoda. Tangannya masih setia menggenggam tangan Kenzi yang berada di atas perutnya hingga membuat gadis itu tak bisa bergerak.
"Lamaran kamu nggak romantis!!" desis Kenzi sambil memutar bola matanya jengah.
"Aku akan buat acara lamaran sebagus mungkin, sampek kamu bahkan nggak akan pernah bisa buat lupain saat-saat itu" ucap Reyhan dengan penuh keyakinan yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Kenzi.