
"Mau aku anter?" Reyhan mengantar Kenzi keluar dari Apartemennya, sebelah tangannya masih setia menggenggam tangan gadis itu seolah tak ingin ia pergi.
"Nggak perlu, kamu istirahat aja ya. Kamu kan baru sembuh" tolak Kenzi dengan halus. Reyhan menghela nafas berat, dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan gadis itu.
"Aku pulang ya" pamit Kenzi sambil tersenyum manis yang malah membuat Reyhan semakin tak rela melihatnya pulang.
Reyhan menyodorkan punggung tangannya tepat di depan muka Kenzi seraya berkata.
"Cium tangan dulu sama suami" titah Reyhan sambil terkikik geli.
Kenzi memelototkan matanya tak percaya. Dengan kesal, Ia memukul punggung tangan Reyhan hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Nggak usah aneh-aneh deh!!" desis Kenzi sambil geleng-geleng kepala.
"Sakit tauu" desis Reyhan seraya mengelus punggung tangannya, " lagian kenapa sih?!!. Toh nanti kita juga bakalan nikah, gapapa dong kalo dimulai dari sekarang" ucapnya lagi.
"Kan masih nanti, kalo sekarang kan belum. Udah akhh, aku mau pulang. Abis ini kamu masuk, cuci muka terus Tidur!!. Bye... bye sayang!!" sebelum pergi Kenzi mengecup singkat pipi kiri Reyhan. Ia lalu segera berlalu menjauh, meninggalkan pemuda itu yang masih mematung sambil memegangi pipi kirinya.
Setelah Kenzi memasuki lift dan menghilang dari pandangan, barulah Reyhan tersadar dari lamunannya.
"Gilaaaa!!" sorak Reyhan sambil senyum-senyum nggak jelas.
"Gue nggak akan cuci muka sampek seminggu" ucapnya lagi dengan wajah sumringah.
*********
Di jam pulang kerja seperti ini, Jalanan kota selalu saja ramai. Macet sana-sini sudah menjadi makanan sehari-hari. Kenzi menghela nafas berat, jemari lentiknya ia ketukkan ke setir kemudi mobil karena bosan menunggu rentetan mobil di depannya yang tak kunjung berjalan.
"Ini kapan jalannya sih anjeng!!!" cebik Kenzi dengan kesal. Ia menekan USB di mobilnya, lalu muncullah suara penyanyi perempuan dari benda itu.
"Ck, suara jelek aja sok-sokan jadi penyanyi!!. Jadi pengamen aja lo juga ga bakal laku!!!"kritiknya saat mendengar suara fals yang penyanyi itu keluarkan. Nggak kuat nada tinggi tapi nyanyinya yang oktafnya tinggi, akhirnya suaranya terputus-putus seperti orang sakaratul maut.
Kenzi membuka kaca mobilnya lalu mengeluarkan kepalanya. Mencoba mencari tau kejadian apa yang terjadi di depan sana hingga membuat jalanan macet sepanjang ini.
"Pak, di depan sana ada apa sih?. Kok macetnya nggak kelar-kelar?" tanya Kenzi pada supir ojek online yang berhenti di samping mobilnya.
"Lagi ada tawuran mbak, satpol PP udah misahin tapi nggak bisa. Mereka bawa pistol" jawab pria Itu dengan suara yang aga keras.
"Oh gitu ya, makasih ya pak infonya" ucap Kenzi yang dibalas anggukan oleh pria itu.
Ia kembali menutup kaca mobilnya dan bersandar di kursi kemudi. Mencoba sabar meski sulit, mencoba menunggu meski sakit. Apalagi kalo yang ditunggu nggak peka, makin ngeness!!. Ehh malah curhat:/. #Author
"Tawuran ya?!" gumam Kenzi sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Kenangan indah delapan tahun yang lalu kembali terputar dalam benaknya. Saat-saat dimana ia memimpin pertarungan bersama Geng Red Rose terputar dengan sempurna hingga membuat gadis itu tersenyum seorang diri.
"Kangen dehh" gumamnya lagi sambil tertawa geli. Ia rindu saat-saat dirinya menjadi Bad waktu itu. Kini waktunya sudah banyak tersita untuk menjalankan bisnis ini itu hingga membuatnya tak memiliki waktu untuk kembali menjadi seorang 'Lady'
Dengan mengumpulkan segenap keyakinan yang ada, Kenzi mengambil pistol yang selalu ia bawa dalam dashboard. Menyimpan benda itu di saku celana, Kenzi membuka pintu mobilnya lalu keluar dari mobil itu. Ia berjalan ke depan dengan menyempil-nyempil diantara kendaraan yang berhenti.
Saat sudah di depan, mata gadis itu langsung membulat saat melihat bahwa geng-nya lah yang tengah bertarung entah dengan siapa itu.
" Anjirrr geng gue!!!. Tau gitu gue bantuin dari tadi!!" gumam Kenzi dengan kesal. Ia menatap kearah rival geng-nya dengan tatapan tajam siap membunuh. Dalam hati, Ia bingung apa yang membuat mereka sampai bertarung di tengah jalan seperti ini. Karena tak mungkin Geng Red Rose melakukan hal serendah itu jika tanpa penyebab, Ia selalu mengajarkan anggotanya untuk menjadi anggota Geng yang berwibawa, tidak menjadi anggota receh yang suka tawuran di tengah jalan seperti ini.
"Mampuss lo di tangan gue!!" gumam Kenzi lagi. Ia berlari mendekat kearah lawan geng-nya lalu menendang bahu pemuda itu hingga tersungkur ke lantai.
"LADY!!" seru Anggota Red Rose bersamaan yang merasa senang karena ketuanya datang.
Seseorang kembali mendekat dan menyerang Kenzi secara tiba-tiba. Gadis itu tersenyum senang tatkala mendapat kesenangan yang sudah lama tak ia rasakan. Beberapa pria ikut mendekat dan ikut menyerangnya dengan bersamaan. Anggota Red Rose juga melawan musuh mereka dengan bringas, tak ada kata ampun jika berhadapan dengan Gengster yang dipimpin oleh seorang Kenzia.
Bughhh
Satu pukulan telak Kenzi dapatkan di pipi kanannya hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah. Gadis itu mengumpat dalam hati sambil mengusap ujung bibirnya menggunakan ibu jari.
"Shit!!" umpat Kenzi dengan kesal. Ia mengambil pistolnya dari dalam saku lalu menodongkannya ke depan hingga membuat beberapa orang yang menyaksikan histeris seketika.
Dorr....dorr... dorr
Luncuran peluru itu ia arahkan kearah beberapa lawan yang hendak mendekat, dan tepat mengenai lengan mereka. Ada beberapa tembakan juga yang salah sasaran hingga mengenai dahan pohon ataupun kaca mobil seseorang sampai pecah.
Anggota Red Rose yang lain mengeluarkan senjata yang mereka bawa masing-masing. Sebagai Geng besar yang sudah berdiri bertahun-tahun, soal beladiri tentu mereka tak usah diragukan lagi. Meski Kenzi selama delapan tahun ini menetap di Mexico, tapi masih ada Hanzo dan Soffia yang mengajari dan mengawasi perkembangan ilmu beladiri mereka hingga kini Geng Red Rose menjadi Gengster yang tak terkalahkan.
Wiu....wiuuu....wiuuu
Suara sirine mobil membuyarkan konsentrasi mereka. Semua orang yang ikut dalam tawuran ini berlari menuju motor masing-masing dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu sebelum polisi menangkap mereka. Kenzi berlari kearah salah satu anggotanya dan naik ke boncengan pemuda itu dengan segera. Dengan cepat, Anggota Geng Red Rose meninggalkan tempat kejadian dan menghindari kejaran polisi.
Disaat yang bertepatan, empat mobil polisi dengan suara khas-nya itu berhenti di tempat kejadian. Melihat targetnya sudah kabur, mereka membagi menjadi dua kelompok. Dua mobil mengejar Geng Red Rose, dan dua mobil lagi mengejar Geng yang satunya.
Anggota Red Rose memacu motor mereka dengan kecepatan tinggi. Sesekali Kenzi menengok ke belakang untuk melihat mobil polisi yang mengejar di belakangnya. Anggota Red Rose yang ikut tak bisa dikatakan sedikit, ada sekitar 25 orang yang ikut disana. Jika sampai tertangkap, otomatis keberadaan anggota Red Rose yang lain pasti akan tercium oleh oknum politik.
"BERPENCAR!!!" seru Kenzi dengan lantang saat mereka tiba di sebuah perempatan. Mengerti dengan titah sang Lady, anggota Red Rose berbagi menjadi tiga. Ada lurus, belok ke kanan, dan belok ke kiri.
Kenzi sendiri memilih jalur yang kurus seperti masa depan:v.
Ia bisa melihat para polisi nampak kebingungan untuk memilih mengejar yang mana. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengejar ke jalur kanan dan kiri.
"Kita aman!!" ucap Kenzi pada anggotanya yang tengah menyetir. Pemuda itu mengangguk memberi tanggapan.
***********
Setelah acara kejar-kejaran dengan polisi yang menguras tenaga dan bensin, kini Kenzi dan Anggotanya sedang berkumpul dalam markas. Semua nampak diam membisu saat melihat Kenzi terdiam dengan tatapan yang terpaku pada benda pipih di atas meja.
Ia mengambil benda itu dan mengamatinya dengan seksama. Benda pipih yang terbuat dari perunggu dengan lambang Dead Cobra di depannya membuat Kenzi teringat akan kejadian delapan tahun silam. Saat dimana Ia nyaris terbunuh karena kecelakaan mobil, dan benda ini pula yang terdapat pada tempat kejadian.
"Mereka sering membuat ulah?!" tanya Kenzi pada anggotanya. 'Mereka' yang ia maksud adalah Geng Dead Cobra. Ketidakadaan Hanzo dan Soffia membuatnya kesulitan mendapat informasi, apalagi ia sudah jarang datang ke markas karena sibuknya mengurus perusahaan.
"Sejauh ini tidak Lady. Terakhir mereka mengganggu adalah saat ada Anda dan Kak Devano delapan tahun yang lalu" jawab salah satu diantara mereka.
"Apa sampek sekarang kalian belum tau siapa ketua mereka?" tanya Kenzi lagi.
"Kami belum mengetahuinya" jawab pemuda itu sambil menunduk.
Kenzi mendesah berat seraya meletakkan kedua kakinya diatas meja.
"Terus, kenapa kalian tadi sampek berantem di tengah jalan kayak gitu?!!. Malu-maluin tau nggak!!" desis Kenzi dengan kesal sambil memutar bola matanya jengah.
"Maaf Lady, tapi tadi waktu kami lagi di Cafe, mereka tiba-tiba membakar salah satu motor kami. Tentu kami marah dan terjadilah pertengkaran itu. Maaf sekali lagi, Lady" jawabnya sambil menunduk takut.
Kenzi terdiam, otak cerdasnya bekerja untuk mencerna setiap peristiwa yang terjadi. Serasa ada yang janggal dalam setiap kejadian yang menimpa Geng-nya.
"Ini aneh, kenapa mereka menyerang kalo cuma pas ada gue. Sedangkan saat gue nggak ada disini, mereka nggak berkutik sama sekali. Sebenernya siapa mereka?!!!" batin Kenzi bingung.