Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Sebuah Perubahan



#DELAPAN TAHUN KEMUDIAN


Waktu terus berjalan maju, membawa serta Reyhan pada kehidupan yang berbeda. Delapan tahun hidupnya berlalu dengan ditemani sepi dan kesedihan. Reyhan yang dulunya hanya seorang pelajar badboy kini telah berubah menjadi pria dewasa yang sukses berkarir di dunia bisnis.


KR EL' ALEXAN COMPANY, adalah sebuah perusahaan yang ia dirikan enam tahun lalu dengan jerih payahnya sendiri. Ia mengembangkan semua bisnis-bisnis yang sudah ia rintis hingga kini ia berhasil membangun kerajaan bisnis yang sudah melebarkan sayap dikanca internasional.


CEO muda berperanggai iblis seakan sudah melekat dalam diri seorang Reyhan Alexander. Kepergian Kenzi telah membawa kehangatan dan rasa belas kasih dari dalam dirinya. Reyhan yang sekarang telah berubah menjadi orang yang dingin dan tak tersentuh.


"Bunuh dirimu sendiri atau aku yang membunuhmu!!!" kata itulah yang selalu ia ucapkan jika ada seseorang yang melakukan kesalahan pada dirinya. Dan hingga kini, tak pernah ada rumor yang mengatakan bahwa Reyhan tengah dekat atau berhubungan dengan perempuan. Pemuda itu benar-benar menutup hatinya, untuk siapapun dan sampai kapanpun. Ia hanya akan membuka hatinya untuk Kenzia, meskipun itu terdengar konyol, tapi Reyhan benar-benar melakukan itu sampai saat ini.


Seperti biasa, setiap hari Reyhan akan selalu ke pantai. Entah hanya untuk diam, atau berteriak meluapkan kerinduan untuk seorang gadis yang telah pergi jauh. Kenzi meninggal karena tenggelam bersama pesawat di tengah laut, itu sebabnya Reyhan selalu ke pantai dengan dalih menemui Kenzi.


Seperti pagi ini, Ia berdiri di bibir pantai seraya memegang seekor burung merpati putih di tangannya. Tatapan tajam itu masih sama seperti delapan tahun yang lalu, hatinya pun masih untuk orang yang sama. Hingga saat ini.


"Happy birthday, sayang" gumam Reyhan sambil tersenyum tipis.


"Nggak kerasa ya, delapan tahun kita berpisah. Berpisah ruang dan waktu" mata pemuda itu mulai berembun. Entah mengapa, ia selalu menjadi lemah saat mengingat tentang Kenzi.


"Kamu tau?, delapan tahun aku lalui dengan sangat berat tanpa kehadiran kamu. Aku coba untuk bangkit meski sulit. Berharap suatu saat kamu akan datang, meskipun itu mustahil" tambahnya sambil tertawa sumbang. Ia menarik nafas panjang lalu mengalihkan atensinya pada burung merpati putih yang ia gengam.


Reyhan mengelus burung itu sambil tersenyum hangat. Sebuah senyuman yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun delapan tahun ini.


"Aku sengaja bawa burung ini. Kata orang, burung merpati bisa mengantar sebuah pesan. Kedengeran konyol sih, tapi bodohnya aku percaya itu" ucap Reyhan disertai kekehan.


"Birds, mungkin ini konyol bahkan mustahil. Tapi gue harap ini bisa. Please, sampein rasa kengen gue ke Kenzia. Dia gadis spesial, cewek paling berarti dalam hidup gue. Tapi sekarang dia nggak disini, dia ada diatas sana. Lo temuin dia ya, sampein salam gue buat dia" Ucap Reyhan seraya mengelus kepala burung itu menggunakan jari telunjuknya. Ia menggesekkan hidungnya pada kepala burung sejenak.


"Selamat jalan" burung merpati putih itu terbang bebas setelah Reyhan melepas genggamannya. Reyhan tersenyum dengan mata terus mengikuti arah gerak sang burung hingga burung itu menghilang diantara awan-awan.


"Maaf, Pak. 1 jam lagi anda ada jadwal pertemuan dengan pihak ZNA Persada untuk membahas rencana kerja sama kita" Reyhan mengalihkan atensinya dari laut lepas setelah mendengar ucapan Faiz, sekretaris sekaligus tangan kanannya selama ini. Ia kemudian berbalik badan untuk menatap pria itu.


"Tunggu sebentar" sahut Reyhan yang langsung diangguki oleh Faiz. Enam tahun bekerja bersama Reyhan membuatnya sudah sangat hafal dengan kebiasaan bos-nya ini. Faiz juga tau penyebab mengapa Reyhan bersikap seperti sekarang, dan dia memaklumi hal itu. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan yang namanya kehilangan. Bedanya, Reyhan kehilangan seorang perempuan, sedangkan dirinya kehilangan kucing kesayangan. Nah lohhh?!!


Beberapa menit terdiam, Reyhan menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Ia memasukkan sebelah tangannya di saku celana yang ia kenakan.


"Kita berangkat sekarang!!" ucap Reyhan dengan tiba-tiba.


"Baik, Pak" sahut Faiz dengan segera. Reyhan berjalan lebih dulu di depan diikuti Faiz dan dua bodyguard-nya di belakang. Sekretaris tampan itu membukakan pintu mobil untuk tuannya. Setelah pria itu masuk, Ia menutup pintu mobil dengan perlahan lalu beralih ke kursi depan dan mendudukkan dirinya disana.


Reyhan terus menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Kosong seperti hatinya.


"Benar kata orang. Rindu itu berat, apalagi rindu tanpa pertemuan. Aku harap, kita bisa bertemu lagi sayang. Meskipun itu hanya sebuah ilusi dalam mimpi"


*************


Ciudad Juárez, Mexico


Lukisan langit kemerahan itu nampak sangat cantik dan indah, sama seperti sang pelukis. Dua jam lamanya gadis cantik itu duduk sambil terus mengoleskan cat pada kain kanvas di depannya. Sebuah senyuman manis itu terbit setelah ia melihat hasil lukisannya yang memuaskan.


"Perfect" ucapnya diiringi senyum manis yang membuat siapapun yang melihat langsung terpesona.


Tuk...tukk


Sebuah suara lirih dari jendela mengalihkan atensi gadis itu dari lukisan yang ia buat. Ia berjalan kearah jendela lalu membuka jendela itu perlahan.


"Hy, birds!!!.Kenapa kamu disini?!" pekiknya setelah melihat ada seekor burung merpati putih yang bertengger di depan jendela kamarnya. Ia meraih burung itu dan membawanya masuk.


"You so cute" ucapnya dengan gemas. Ia menggesekkan hidungnya di kepala burung itu hingga membuat burung itu menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"ZIA....!!!" sebuah seruan dari lantai bawah membuat gadis itu sedikit terlonjak karena kaget.


"Ya, uncle" sahut gadis itu dengan suara keras.


"Kemarilah sayang" ucap sang paman. (anggep aja pake bahasa spanyol, kalo aku tulis nanti kelamaan:v)


"Oke!!" sahut gadis itu. Ia meletakkan burung digenggamannya pada sebuah patung kayu yang terletak di kamarnya.


"Kamu disini dulu, oke?!" ucap gadis itu dengan lembut. Ia kemudian keluar kamar untuk menemui sang paman di lantai bawah. Gadis itu menuruni tangga dengan perasaan bingung, pasalnya lantai bawah kini sangat gelap tanpa penerangan. Tak seperti biasanya.


"Uncle...?!!" ucapnya dengan suara keras namun tak ada jawaban.


Dorrr


Suara letusan dari sebuah balon membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia memegangi dada kiri tepat pada jantungnya yang seperti hendak melompat dari tempat.


"Surprise.......!!!!" seru sang paman bersama seorang pemuda dan wanita disebelahnya setelah lampu menyala.


"Happy birthday, Kenzia...." ucap pemuda itu diiringi senyum menawan di wajahnya.


"Thanks, Justin" sahut Kenzia sambil tersenyum manis.


"Tiup lilinnya dong, sayang" ucap sang Aunty, Nameera.


"Oke!!!" sahut Kenzi dengan antusias. Ia memejamkan matanya dan memanjatkan harapan di pertambahan usianya tahun ini. Setelah selesai, ia meniup sebuah lilin yang berbentuk angka 25 itu. Tepuk tangan menggema setelah lilin tersebut padam. Sang paman mendekat lalu segera memeluk keponakannya erat.


"Happy Birthday little princess" ucap sang paman, Lucas


"Thank you so much, uncle. I love you" sahut Kenzi dengan senyum manisnya.


-


-


Setelah perayaan kecil-kecilan yang dilakukannya tadi, Kenzia duduk di pinggir ranjang sambil memangku burung merpati putih yang ia dapatkan tadi sore. Ia termenung cukup lama setelah mendengar ucapan Lucas tadi.


"Kapan kamu kembali ke Indonesia, sayang?. Mommy dan Daddt mu sudah bertanya berulang kali kepada uncle. Uncle tidak masalah jika kamu masih ingin menetap disini, atau kamu ingin kembali ke indonesia. Semua keputusan ada di tanganmu"


Kenzi berulang kali menghela nafas berat.


"Kembali ke Indonesia?, apa aku nanti bisa mengendalikan semua perasaan ini?" gumam Kenzi dengan lesu.


Drttt......drttttt


Suara ponsel membuyarkan lamunan Kenzi. Ia mengambil benda pipih itu lalu menggeser ikon hijau yang ada disana. Seseorang melambaikan tangannya setelah panggilan video terhubung.


"Oiii broo, gimana kabar lo?!!. Betah amat disana sampek nggak inget pulang!!!"


Kenzi terkekeh mendengar ocehan dari orang itu.


"Kabar gue baik kok, lo sendiri gimana?" jawab Kenzi sambil balik bertanya.


"Selalu baik dari dulu sampek sekarang"


Kenzi manggut-manggut mengerti. Ia berjalan sambil membawa burung merpati yang bertengger di tangannya kearah jendela.


"Gimana perusahaan gue?" tanya Kenzi.


"Aman dong....nomer 1 se-Asia Tenggara!!!, gimana-gimana, kerja gue bagus ngga?"


"Kerja lo emang nggak pernah mengecewakan" sahut Kenzi yang membuat Hanzo bersorak di sebrang sana.


"Kapan lo balik?"


Pertanyaan itu sukses mbuat rait wajah Kenzi berubah. Gadis itu berdehem sejenak untuk mengurangi rasa tak nyaman pada dirinya.


"Gue nggak tau" sahut Kenzi seadanya.


"Dia masih nunggu lo, Ken"


Kenzi tersenyum tipis mendengar itu. Ia sudah paham siapa 'Dia' yang dimaksud oleh Hanzo.


"Lo nggak bilang ke siapa-siapakan tentang gue?!!" tanya Kenzi mengalihkan pembicaraan. Hanzo berdecak kesal di sebrang sana, dan Kenzi mengetahui hal itu.


"Lo mau sampek kapan menghindar?!!"


"Sampek gue bisa kendaliin perasaan gue sendiri!!!" jawab Kenzi dengan lugas.


"Dan nyatanya, selama delapan tahun lo menghindar, selama itu juga lo masih nggak bisa hapus perasaan lo buat dia. Lo nggak bisa bohongin hati lo sendiri, Ken!!"


"Lo nggak usah sok tau deh!!!" ucap Kenzi sambil tertawa hambar.


"Gue bukannya sok tau, tapi gue emang tau. Gue bahkan lebih tau lo daripada diri lo sendiri!!!"


"Gue mau istirahat, bye" Kenzi mematikan panggilan sepihak. Helaan nafas berat keluar dari bibir gadis itu. Ia menatap lurus kearah langit Mexico yang mulai gelap seiring dengan bulan yang semakin meninggi.


"Delapan tahun bukan waktu yang cukup untuk menghapus semua rasa dan kenangan. Ya, semua memanf benar. Delapan tahun nggak membuat aku berhasil ngelupain kamu, justru perasaan aku dengan lancangnya malah merindukan kamu. Bahkan sampai sekarang, perasaan ini masih sama. Hanya keadaan yang berbeda. Kamu sudah memilihnya, dan aku nggak berhak buat melarangnya. Kita udah berbeda, kita bukan lagi kita yang dulu. Banyak perubahan yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu"


Bersambung.......