
"Hello...!!!, Permisii.....!!!!, Orang ganteng datang.....!!! Bukain pintu dong....!!!" teriakan Leon menggema di depan sebuah pintu megah yang masih tertutup rapat. Tak berselang lama, pintu sedikit bergerak pertanda jika ada yang membukanya. Dan benar saja, sang pemilik rumah membuka pintu sambil memasang wajah tak enak dipandang.
Kenzi menatap Leon sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia kemudian menengokkan kepalanya ke dalam untuk melihat jam dinding, pukul 17.15
"Ngapain lo sore-sore ke rumah gue?" tanya Kenzi dengan nada malas.
"Mau numpang makan, hehee. Di rumah gue lagi nggak ada orang, Nyokap sama Bokap lagi keluar kota" jawab Leon disertai cengiran di wajahnya. Kenzi memutar bola matanya malas setelah mendengar jawaban dari pemuda itu. Jawaban yang sudah ia tebak.
"Lo pikir rumah gue panti sosial?!" ketus Kenzi dengan nada tak suka. Namun ia tetap mempersilahkan Leon untuk masuk hingga membuat pemuda itu bersorak senang. Setelah menutup pintu kembali, mereka berjalan beriringan menuju ke ruang tengah yang sudah ada Allia dan Devano disana.
"Kalo mansion lo dibuat panti sosial, pasti ini bakalan jadi panti sosial terbesar dan termewah yang pernah ada" jawab Leon yang menurut Kenzi sangat ngaco. Tapi benar juga sih. Mansion sebegini luasnya jika dibuat panti sosial pasti akan menjadi panti sosial terbesar dan ternyaman yang pernah ada. Bayangkan saja, mansion sebagus punya Kenzi dijadikan panti sosial. Pasti penghuninya akan sangat keenakan.
"Tante....!!!" sapa Leon saat melihat Allia sedang menonton Tv bersama Devano di sampingnya.
"Siapa ya?" tanya Allia bingung dengan kening mengerut.
"Pfttt" Kenzi menahan tawanya saat melihat reaksi yang diberikan sang mommy. Leon menatap sebal kearah gadis itu. Ia kemudian beralih menatap Allia dengan wajah yang di imut-imutkan seperti bayi babii.
"Ya gustii. Tante, ini aku Leon. Masak Tante lupa sama anak kecil yang gantengnya melampaui Raden Kian Santang waktu itu sih" cerocos Leon panjang lebar.
"Leon?" bingung Allia masih dengan ekspresi yang sama.
"Lele itu loh Mom. Anaknya Om Aji" sahut Kenzi seraya mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang terletak paling ujung.
"Loh, ini Leon yang waktu itu?. Udah besar ya kamu, ganteng pula" ucap Allia dengan senyum sumringah di wajah cantiknya. Leon ikut tersenyum lalu mendekat dan menyalami tangan Allia sopan.
"Yaiya dong Tante, udah 5 tahun masak aku masih kecil terus" sahut Leon sambil terkekeh. Ia kemudian mendudukkan dirinya tanpa permisi, tanpa melihat. Sehingga tanpa ia sadari ia duduk diatas pangkuan Devano.
"Ehh anjing!!!. Gue sunat ulang kelarr hidup lo!!" maki Devano dengan kesal saat aset berharganya di duduki oleh Leon. Leon terlonjak kaget. Ia segera bangkit dari pangkuan Devano dan langsung menatap pemuda itu disertai senyum malaikatnya.
"Maaf Bang Dev!!. Gue kagak liat, beneran dah" ucap Leon sambil mengacungkan dua jarinya. Devano memutar bola matanya malas. Ia kembali menatap ke ponsel tanpa mau memperdulikan teman Kenzi yang menurutnya gila dari lahir.
Leon mengendikkan bahunya acuh. Ia kemudian beralih duduk di samping kiri Allia.
"Aji sama Linda apa kabar Le?" tanya Allia pada Leon. Ia memiringkan kepalanya agar bisa menatap pemuda itu.
"Papa sama Mama baik-baik aja kok Tan, mereka sekarang lagi ke luar kota" jawab Leon sambil tersenyum.
"Makanya dia kesini, mom. Mau numpang makan" celetuk Kenzi dengan santainya.
"Dih, nyamber aja lo kek petir" sahut Leon kesal.
"Biarin lah. Mulut-mulut gue!!. Kalo lo nggak suka, silahkan pergi!!" ketus Kenzi dengan wajah songongnya.
"Ken, nggak boleh gitu sama tamu!" tegur Allia pada Kenzi. Merasa mendapat pembelaan, Leon tersenyum lebar selebar lautan setelah mendengar ucapan perempuan itu.
"Mom, aku tuh nggak ngundang dia. Jadi dia itu bukan tamu!!" jawab Kenzi dengan kesal sambil menatap tajam kearah Leon yang dibalas oleh juluran lidah oleh pemuda itu.
Allia menggeleng-gelengkan kepala saat melihat sikap Kenzi terhadap Leon yang sejak dulu selalu seperti anjing dan kucing. Ia kemudian melihat kearah jam dinding. Seperti teringat oleh suatu hal, Allia menepuk dahinya pelan.
"Ken, tolong ambilin pesenan mommy ya. Di resto biasa. Buat kita makan malem nanti, sekalian sama Leon juga!!" seru Allia sambil menatap kearah Kenzi yang sedang memainkan kuku-kukunya.
Kenzi menghela nafas panjang. Mau nggak mau harus mau kan?. Ia bangkit dari duduk dan langsung menggeret tangan Leon tanpa berbicara sepatah katapun. Dan hal itu sukses membuat pemuda itu terkejut karena ulahnya.
"Kalo mau ngajak ngomong dong!!. Lo pikir tangan gue tali tambang?!, pakek acara ditarik-tarik segala. Iya gue tau kok kalo gue ganteng" ucap Leon dengan PD-nya saat mereka sudah berada dalam mobilnya.
"Dih, narsis lo!!" hardik Kenzi dengan malas. Leon tak menanggapi lagi ucapan Kenzi. Ia kembali menatap depan untuk fokus menyetir.
"Ken, gue ke toilet bentar ya" pamit Leon pada Kenzi yang langsung dibalas anggukan oleh gadis itu.
Setelah Leon pergi, Kenzi melangkahkan kakinya menuju meja kasir untuk menanyakan pesanan sang mommy. Cukup lama ia menunggu hingga mata tajamnya tak sengaja menangkap sosok yang ia kenal di pojok sana.
"Reyhan" lirih Kenzi sambil menatap nanar kearah Reyhan dan Sella yang sedang tertawa bersama di meja paling ujung Resto ini. Kemarahannya tak dapat dibendung. Ia melangkah mendekat kearah dua orang itu dengan amarah yang menyeruak di rongga hatinya.
Kenzi meraih gelas Reyhan yang berisi orange jus yang masih penuh dan langsung menyiramkannya ke wajah Sella hingga membuat dua orang itu kaget.
"Ken, lo apa-apaan sih?!!" marah Sella sambil berdiri dan mengelap kasar wajahnya yang basah. Reyhan pun ikut berdiri dari duduknya.
"Apa-apaan?!. Lo yang apa-apaan!!!. Dasar nggak tau malu!!!" maki Kenzi dengan amarah sambil menunjuk Sella tepat di depan wajahnya. Ia berbicara dengan volume yang cukup keras hingga membuat semua pengunjung menoleh kearah mereka. Tapi Kenzi tak peduli akan hal itu. Yang menjadi pusat perhatiannya saat ini hanyalah dua orang di depannya.
"Ken, jangan buat keributan disini!!" peringat Reyhan dengan suara pelan. Kenzi berdecik sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kenapa?!, kamu malu?!. Cihh, punya malu juga kamu ternyata!!. Aku pikir kamu udah nggak punya urat malu sampek bisa dengan PD-nya jalan sama cewek lain di belakang aku!!" sinis Kenzi sambil menatap tajam kearah Reyhan.
"Jaga ucapan kamu!!" tegas Reyhan dengan nada dingin. Bukannya takut, Kenzi malah menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya yang ia tujukan kepada pemuda itu.
"Apa yang perlu dijaga?!. Emang bener kan yang aku omongin. Sekali buaya, tetep aja buaya. Aku pikir kedekatan kamu sama dia itu cuma setingan dia semata. Tapi ternyata, kamu juga ikut andil ya dalam hubungan menjijikkan ini?!" sinis Kenzi dengan tatapan menghunus kearah mereka berdua.
"Ken, sorry gue lama" Leon tiba-tiba datang dan langsung berdiri di samping Kenzi dan menatap bingung kearah mereka bertiga yang sama-sama memasang wajah marah.
Kali ini Reyhan yang berdecik sinis. Ia menatap tajam kearah Kenzi yang dibalas tatapan tak kalah tajam oleh gadis itu.
"Cih, munafik!!" sinis Reyhan dengan wajah datarnya.
"Kalo ngomong pake otak dong!!" marah Leon sambil mendorong kasar bahu Reyhan hingga pemuda itu terdorong ke belakang.
"Lo diem!!!. Gue nggak ada urusan sama lo!!" seru Reyhan dengan lantang sambil mendorong balik Leon.
"Ini apa?. Kamu sendiri juga deket sama dia kan?!. Dan kamu nggak terima saat aku deket sama Sella. Kamu egois!!!" tukas Reyhan pada Kenzi.
"Aku nggak ada hubungan lebih sama dia!!!. Dan stop sebut aku munafik karna aku nggak pernah berbuat hal seperti yang kamu ucapin, Reyhan!!!" tegas Kenzi masih dengan amarah.
"Teman?!. Aku muak denger kamu selalu pakek alesan cuma teman dalam masalah ini!!!. Aku harap habis ini kamu ngaca, pantes apa nggak kamu marah sama aku disaat kamu nggak pernah ngehargai perasaan aku sedikitpun sewaktu kamu deket sama dia!!." bentak Reyhan dengan keras hingga membuat Kenzi terkejut.
Reyhan meraih tangan Sella dan menggandeng gadis itu untuk keluar restoran meninggalkan Kenzi dan Leon yang masih menatap mereka dalam diam. Kenzi menatap tangan Reyhan yang menggandeng tangan Sella. Ia kemudian menunduk sambil menggigit bibir bawahnya berharap rasa sakit itu sedikit berkurang.
Air mata itu perlahan jatuh membasahi pipinya. Leon menatap iba kearah Kenzi. Ia kemudian mendekat dan memeluk gadis itu dengan erat. Ia bisa merasakan tubuh Kenzi bergetar karena menahan isak tangis. Leon mengusap punggung Kenzi dengan lembut berharap agar gadis itu bisa sedikit tenang. Ternyata tidak sama sekali.
"Gue nggak tau kalo kedekatan kita disalah artikan sama dia. Tapi apa harus begini?, apa harus dengan dia deketin cewek lain buat ngelampiasin semuanya?. Gue sakit Le, gue sakit!!" ucap Kenzi di sela-sela tangisannya dengan suara terbata-bata.
"Lo tenang dulu, oke?!. Nanti kita bicara solusinya gimana" sahut Leon dengan lembut.
Kaca Restoran yang tembus pandang membuat Reyhan yang berada di luar restoran dapat melihat itu semua. Hatinya masih sakit, namun bibirnya menunjukkan senyuman sinis dengan tatapan yang ia tujukan pada dua orang di dalam sana.
"Nyatanya kamu bener-bener nggak peduli!!" gumam Reyhan sambil mengalihkan pandangan kearah lain.
"Rey, sorry ya. Andai tadi gue nggak numpang dan ngajak lo kesini pasti semua ini nggak bakal terjadi" ucap Sella yang sedang berdiri di samping Reyhan.
"Gapapa. Ini bukan salah lo. Btw, maaf ya buat kelakuan Kenzi tadi" sahut Reyhan singkat.
"Santai aja" jawab Sella sambil tersenyum yang dibalas senyuman tipis oleh pemuda itu.