Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Obrolan di Tepi Pantai



Kenzi dan Reyhan memandang puas kearah kamar calon bayi mereka yang baru selesai di dekorasi kemarin. Ruangan bernuansa biru laut dengan dua buah box bayi berwarna senada nampak sangat cerah dan ceria. Di dinding-dinding terdapat banyak hiasan dan wallpaper dinding khas anak-anak yang sangat menggemaskan.


"Ini oke banget sih" puji Kenzi dengan tatapan puas yang ia tujukan kepada ruangan di depannya. Reyhan mengangguk setuju. Ucapan sang istri memang benar adanya, dekorasi ruangan itu benar-benar menarik.


"Oh ya, bajunya twins udah di masukin lemari semua kan?" tanya perempuan itu seraya menoleh kearah Reyhan.


"Udah, tadi pagi sama Mbak Ratna udah dimasukin semuanya. Kamu mah pokoknya tinggal terima beres"


"Pak, Bu, maaf mengganggu, mobilnya sudah siap" ucapan Pak Joni, supir mereka yang tiba-tiba masuk membuat atensi dua orang itu teralihkan kearah pintu.


Reyhan mengangguk sebagai jawaban diiringi senyuman tipis di wajahnya.


"Iya Pak, terimakasih ya"


"Iya Pak, saya tunggu di depan!"


Setelah mendapat persetujuan dari majikannya, Pak Joni bergegas keluar dari kamar dan kembali ke halaman depan, menyisakan Kenzi dan Reyhan yang belum puas memandangi kamar buah hati mereka.


"Nggak usah diliatin sebegitunya kali Yang. Beberapa minggu lagi kita bakal ketemu mereka" ucap Reyhan seraya merangkul bahu Kenzi dengan mesra.


Perempuan itu tersenyum tipis. Perasaannya tidak bisa dideskripsikan, antara senang dan takut. Semua bercampur menjadi satu.


"Ayo berangkat sekarang. Twins udah nggak sabar pengen liat pantai"


Kenzi mengalihkan pembicaraan kearah lain, dan Reyhan menyadari hal itu. Ia juga memahami dan merasakan apa yang perempuan itu rasakan. Ini lebih menegangkan daripada bertarung dengan tiga geng besar sekaligus.


"Ayo....!!!"


*************


Hamparan pasir putih dan ombak yang berkejar-kejaran menyapu pandangan mata seorang Kenzia yang tengah berdiri termenung di bibir pantai. Entah apa yang ia pikirkan, hanya dia dan tuhan yang tau.


Angin berhembus kencang, membuat rambut perempuan itu berterbangan mengikuti arah gerak angin.


"Lautnya cantik kan Baby?" gumamnya seorang diri seraya mengelus perutnya yang terdapat dua buah nyawa di dalamnya.


Sebuah lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggang Kenzi. Ia tidak terkejut, karena dia tau siapa pelakunya.


"Kamu ngapain disini?"


"Liat laut, cantik banget kan?. Aku nggak tau kapan lagi bisa liat ini bareng sama kamu kayak gini. Mungkin nggak bisa lagi" ucap Kenzi dengan mata yang terus menatap kedepan. Tangannya mengelus lengan Reyhan yang melingkar di perutnya, menikmati suasana berdua yang mungkin akan sangat jarang mereka lakukan.


Kenzi tak menjawab, Ia hanya tersenyum tipis mendengar penuturan suaminya yang tengah pamer harta kekayaan.


"Kamu masih inget nggak omongan aku seminggu yang lalu?"


"Omongan kamu banyak, yang kamu maksud yang mana?" tanya balik Reyhan


"Yang di taman belakang!!"


Kini Reyhan terdiam, ia tau kemana arah bicara perempuan itu. Selalu terarah kepada sesuatu hal yang paling ia benci, bahkan untuk memikirkan pun rasanya ia sangat enggan.


"Emang kenapa?" lirih Reyhan


"Kamu inget kan?"


Pria itu mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu tau kan kalo kehidupan itu nggak akan terus terpaku sama kebahagiaan?, pasti ada kesedihan di sela-sela kisahnya. Dan kayak omongan kamu tiap malem, kehadiran mereka berdua akan jadi pelengkap kebahagiaan kita"


"Tapi nggak menutup kemungkinan kalo akan tetep ada kesedihan di dalemnya kan sayang?. Kamu laki-laki baik, kamu laki-laki paling pengertian yang pernah aku kenal. Aku bahagia banget bisa menjadi salah satu orang yang hadir di kisah hidup kamu. Kamu pantes buat bahagia, dan aku yakin tuhan pasti udah nyiapin kebahagiaan yang begitu besar buat kamu di masa depan, begitupun sama anak kita"


"Dan kebahagiaan itu akan berjalan kalo aku selalu sama kamu, sama anak-anak kita" potong Reyhan dengan cepat.


Kenzi membalikkan tubuhnya, menghadap kearah Reyhan yang sedang memasang wajah tak suka. Ia meraih tangan Reyhan, menggenggam tangan pria itu dengan erat seakan enggan untuk melepaskan.


"Kehidupan nggak sesimpel itu sayang. Seperti kata orang, hari esok adalah misteri. Kita nggak tau apa yang bakal terjadi besok. Hari ini kita bersama, bisa jadi besok kita malah sebaliknya. Mungkin kedengerannya kayak nggak adil, tapi itulah takdir. Kalaupun suatu saat dunia nggak berpihak sama kita, aku cuma pengen kamu terus lanjutin hidup kamu. Laki-laki sebaik kamu itu pantes buat bahagia, kamu berhak dapetin hari-hari indah di sepanjang hidup kamu. Dan aku yakin, kamu pasti bisa jadi ayah yang hebat buat twins. Mereka kelak pasti bangga punya ayah sehebat kamu" Kenzi berucap panjang lebar diiringi senyuman di bibirnya. Berulang kali ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga saat angin pantai berhembus kencang menerpa tubuh mereka.


Reyhan terdiam. Ia menatap lekat kearah bola mata Kenzi yang juga sedang menatapnya. Hatinya tak tenang, bahkan pikirannya terus dilanda ketakutan setelah mendengar ucapan perempuan itu.


"Kamu tau kan arti kehadiran kamu di hidup aku?" tanya pria itu yang dibalas anggukan oleh Kenzi.


"Kamu itu segalanya, kebahagiaan akan selalu aku dapetin kalo aku selalu sama kamu"


Reyhan menjeda ucapannya. Ia melepas genggaman tangan Kenzi kemudian berjalan ke bibir pantai hingga telapak kakinya basah terkena gulungan ombak.


Kenzi mengikuti arah gerak Reyhan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Perpisahan, adalah sesuatu yang paling aku benci. Dan aku tau arah pembicaraan kamu kemana. Ya kamu bener, hari esok adalah misteri dan takdir adalah sesuatu yang nggak bisa kita hindari. Tapi boleh nggak sih kali ini aja aku egois ke tuhan supaya terus ngasih kebahagiaan ke kehidupan kita?"


...Like comentnya dong guys!😪...