
Kenzi memilah jas-jas Reyhan yang tergantung rapi di dalam lemari. Hingga pilihannya jatuh pada Jas berwarna abu-abu yang nampak serasi dengan kemeja yang pria itu kenakan. Ia kemudian berbalik badan, melangkah kearah suaminya yang tengah sibuk memakai dasi.
Kenzi meletakkan jas itu di ranjang. Ia berdiri di hadapan Reyhan. Tangannya mulai sibuk membenarkan dasi pria itu yang agak miring. Setelah merasa pas, Ia meraih jas tadi lalu memakaikannya di tubuh Reyhan.
"Perfect" puji Kenzi saat melihat penampilan suaminya yang selalu terlihat sempurna.
"Vitamin aku mana?" tanya Reyhan dengan senyum menggoda.
Kenzi tersenyum malu. Ia sedikit berjinjit dan menempelkan bibirnya di bibir Reyhan yang tentunya dibalas oleh pria itu dengan senang hati.
Setelah berciuman beberapa saat, mereka melepaskan pagutan bibir masing-masing. Reyhan tersenyum teduh, ibu jarinya mengusap bibir Kenzi dengan lembut.
"Baik-baik di rumah!!. Jadi istri solehah, jangan suka petakilan!!"
"Kamu pikir aku bocah?!!" sungut Kenzi dengan kesal yang membuat Reyhan terkekeh geli.
"Iya, kamu emang bocah. Bocah paling manis yang pernah aku temuin" sahut Reyhan dengan senyum malaikatnya. Kenzi memutar bola matanya malas, hingga ia teringat akan sesuatu. Sontak saja Ia langsung mendekat dan memeluk lengan Reyhan. Menyandarkan kepalanya dengan mesra di bahu pria itu.
"Bunny......" panggil Kenzi dengan nada mesra yang begitu mendayu di telinga.
"Mau minta apa?" kepekaan Reyhan langsung bekerja saat melihat sikap istrinya yang tiba-tiba seperti ini. Pasti ada maunya.
"Mau minta uang, nanti aku mau keluar sama temen-temen. Kamu tega kalo istri kamu yang cantik ini keluar nggak bawa uang?" kepiawaian Kenzi berbicara memang sudah mendarah daging. Padahal dia punya uang sendiri, tapi dengan lebay-nya ia berbicara demikian.
Reyhan mengeluarkan dompet dari saku celananya kemudian menyerahkan dompet yang berisi uang dan card kepada Kenzi.
"Jangan pulang sebelum uangnya habis"
Kenzi memekik senang. Ia menerima dompet itu dengan senang hati.
"Kamu terbaik sayang" sebuah kecupan ia hadiahkan di pipi, membuat senyuman Reyhan melebar seketika.
"Udah sana berangkat kerja!!. Cari duit yang banyak buat aku!!" lanjutnya lagi seolah mengusir.
"Dih, habis manis sepah dibuang!!" cibir Reyhan yang dibalas cengiran oleh perempuan itu.
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju lantai bawah. Disana sudah ada sekitar lima ART yang memang Reyhan pekerjakan untuk membersihkan Mansion mengingat jika Kenzi bukan tipe orang rajin. Sapaan dari para ART itu terlontar yang hanya dibalas oleh senyuman kecil oleh pasangan itu.
Kenzi mengantar Reyhan sampai ke teras depan. Ia menyerahkan tas Reyhan yang tadi dibawanya kemudian beralih mencium punggung tangan pria itu.
"Semangat kerjanya, Bunny. Jangan lupa makan, usahain pulang tepat waktu, kalo pulangnya telat jangan lupa kabarin aku!!" seperti biasa, Reyhan akan selalu mendengar ocehan istrinya di pagi hari sebelum berangkat kerja. Tapi anehnya, dia sangat menyukai ocehan itu. Seakan ocehan pagi Kenzi adalah mood booster tersendiri untuknya.
"Iyaa, kamu baik-baik di rumah. Kalo ada apa-apa, cepet kabari aku" sahut Reyhan yang dibalas anggukan oleh Kenzi. Sebuah kecupan ia hadiahi di kening perempuan itu.
Reyhan masuk ke dalam mobil, Ia mengklackson mobilnya beberapa kali saat mobil itu hendak meninggalkan area Rumah. Kenzi melambaikan tangannya saat mobil Reyhan hendak pergi. Hingga mobil pria itu sudah tidak terlihat, barulah dia kembali mssuk ke dalam rumah.
Aktivitas yang kini menjadi rutinitasnya tiap pagi setelah menikah dengan Reyhan. Tak terasa, sudah dua bulan lamanya ia menyandang 'gelar' sebagai Nyonya Reyhan Alexander. Sudah sejak seminggu yang lalu, Kenzi memutuskan untuk berhenti bekerja dan mulai memfokuskan diri sebagai Ibu rumah tangga. Perusahaannya kini dipegang penuh oleh Reyhan. Meskipun awalnya menolak, pria itu akhirnya mau mengurus perusahaan Kenzi meskipun harus dengan sedikit paksaan.
Kursus memasak sudah ia lakoni untuk mendalami peran yang biasa ia sebut 'istri solehah' sejak beberapa hari yang lalu. Meskipun prakteknya belum memuaskan, setidaknya Ia sudah berhasil membuat telur mata sapi yang kuningnya sempurna berada di tengah, nasi goreng yang layak di makan, dan soto ayam yang rasanya masih manusiawi.
Kenzi meraih ponselnya yang berada di nakas untuk menghubungi teman-temannya.
Anda
~Dimana lo pada woy?!. Jadi nggak keluar?, laki gue udah berangkat nih!!
Renata_Bhag
~Ya jadi lah!!. Yuk cus, laki gue juga udah berangkat
Tasya_Dirg
~Otewe
Andien_Adp
~Oke, kumpul di Taman kota aja. Biar ga bingung
Anda
~Sip
Chat berakhir. Kenzi meletakkan ponselnya ke dalam tas. Ia kemudian berjalan kearah lemari, mengambil celana dan hem kotak-kotak berwarna abu-abu dan putih. Tak menunggu waktu lama, Ia segera berganti pakaian karena saat itu ia hanya memakai mini dress di atas lutut. Biasalah.... Reyhan tadi malem habis minta *****.
******************
Kenzi keluar dari dalam mobilnya dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung. Siapapun yang melihat, pasti tidak akan mengira bahwa perempuan itu sudah menikah. Bagaimana tidak, penampilannya bahkan tak kalah jauh dengan ABG SMA pada umumnya.
"OI MARKONAH!!!" sebuah seruan dari arah samping spontan membuat Kenzi menoleh. Terlihat tiga teman gilanya sedang sama-sama nangkring di kap mobil masing-masing seperti orang mau balapan.
"Eh juminten. Apa kabar buk?!. Habis nikah nggak ada kabarnya semua lo pada!!" hilang sudah predikat istri solehah yang selalu ia bawa-bawa jika sudah bertemu dengan tiga manusia ini. Seolah menolak tua, Kenzi dkk masih saja bersikap layaknya anak muda.
"Ya lo tau sendiri kan, habis nikah pastinya nggak bisa sebebas dulu. Apa-apa harus lapor dulu ke laki, kalo ga dibolehin ya terpaksa nggak keluar" jawab Andien yang diangguki semuanya.
Empat gadis yang dulu terkenal sebagai 'Bad Girl' kini sudah menjelma menjadi perempuan yang lihai mengatur rumah tangga masing-masing. Renata, Tasya, dan Andien memang sudah menikah dengan Vicky, Reza, dan Ariel beberapa minggu yang lalu. Bertepatan dengan kepulangan Kenzi dan Reyhan dari honeymoon mereka.
"Ngobrolnya nanti aja!!. Sekarang kita berangkat dulu, mau sampek kapan disini!!" seruan dari Renata mengakhiri percakapan singkat mereka. Empat perempuan itu kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing untuk menuju ke tempat tujuan mereka, Mall.
***********
Sedangkan di tempat lain, Reyhan sedang mengamati sebuah map berisi berkas yang diberikan oleh Faiz beberapa menit yang lalu. Pria itu berulang kali membuang nafas kasar saat melihat isi laporan yang benar-benar kacau.
"Ini" Reyhan mengangkat map di tangannya.
"Siapa yang buat?!" lanjutnya lagi dengan nada bertanya.
Faiz menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Reyhan yang memancarkan sorot mata tak suka.
"Departemen keuangan Pak" sahut sekretaris itu.
"Panggil dia kesini!!" seru Reyhan yang langsung dipatuhi oleh Faiz. Dengan terburu-buru, pria itu keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintah bos-nya.
Reyhan memijit pangkal hidungnya yang terasa pening. Mengurus dua perusahaan sekaligus benar-benar menguras tenaganya, bahkan ia menjadi sering pulang larut karena hal itu.
Bughh
Map tebal berwarna biru itu ia layangkan tepat mengenai wajah seorang pria yang berdiri di sebelah Faiz.
"Apa maksud isi laporan itu?!. Kamu mau menipu saya?!" bentak Reyhan dengan amarah.
Pria itu menunduk takut, takut melihat sorot mata tajam yang bos-nya berikan.
"Ma....maksud Bapak?" tanya pria itu dengan suara bergetar.
Pertanyaan itu berhasil membuat darah Reyhan mendidih seketika. Ia berdecih kesal seraya mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kamu pikir saya orang bodoh?!" desis Reyhan sambil tersenyum sinis.
"Laporan yang kamu buat itu benar-benar fantastik. Kemana uang 1 milyar milik perusahaan?!. Kamu mau menguji saya?!" bentak Reyhan yang membuat orang itu semakin menunduk takut.
Tatapan tajam setajam pisau dapur itu ia tujukan kepada seseorang di depannya. Ia kemudian beralih menatap Faiz, memberi kode lewat sorot mata yang ia berikan.
"Urus dia!!" seru Reyhan yang langsung diangguki oleh sekretaris itu.
"Baik Pak"
Faiz menyeret dengan kasar orang yang sudah membuat pekerjaannya bertambah. Orang itu mencoba memberontak, menolak untuk dibawa pergi.
"Pak... Pak Reyhan... saya mohon ampuni saya Pak!!!" mohon orang itu dengan tatapan mengiba saat Faiz terus menariknya keluar, namun Reyhan seolah tuli. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain, bersikap acuh kepada seseorang yang sudah bermain di belakangnya.
Pintu ruangan tertutup seiring dengan hilangnya dua orang dari depan mata. Reyhan mendengus kesal. Ia meraih telepon khusus yang ada di mejanya untuk menghubungi Reta, sekretarisnya yang lain.
"Siapkan ruang meeting dan kumpulkan semua direktur dan juga pemegang saham. Sepuluh menit lagi semua harus siap!!"
Tanpa menunggu jawaban dari orang yang ditelfonnya, Reyhan segera menutup panggilan telepon itu yang pasti membuat seseorang diseberang sana mendesis kesal.
"Untung ganteng, kalo nggak udah gue cakar tuh muka si Bos" cebik Reta dengan kesal.
Reyhan mendudukkan dirinya di Sofa panjang yang ada di ruangan itu. Ia mendongakkan kepalanya dan memijit pelan panggal hidungnya untuk mengurangi rasa suntuk yang ia rasakan. Kepalanya terasa sangat berat saat pagi sampai sore harus ia habiskan dengan setumpuk dokumen diatas meja.
Sepintas pikirannya tertuju pada seseorang yang selalu mengisi hatinya setiap saat. Reyhan kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku dan mulai mencari nomor seseorang yang ia beri nama 'Ibu Negara'
"Hay Sayang...."
Sebuah sapaan yang sudah sering ia dengar namun terasa tetap spesial terlontar dari orang diseberang telepon saat panggilan video terhubung.
Reyhan merubah posisinya menjadi berbaring.
"Kamu lagi ngapain?" tanyanya.
Kenzi mengangkat ponselnya tinggi-tinggi untuk menunjukkan sedang dimana dia sekarang..
"Ngabisin uang kamu" sahutnya disertai kekehan.
Reyhan ikut tertawa kecil, sejenak pikirannya teralihkan saat melihat wajah istri tercinta.
"Jangan pulang malem-malem!!. Udah makan belum?" tanyanya lagi mengingat jika saat ini sudah jam satu siang dan ini pasti sudah lewat jam makan siang.
"Ini baru mau makan. Kamu sendiri udah makan belum?" sahut Kenzi sekaligus bertanya.
"Belum" jawab Reyhan dengan cepat
"Makan dulu!!. Jangan terlalu gila kerja, badan kamu juga butuh diperhatiin. Kalo sakit kan kamu sendiri yang susah!!"
"Iya bawel" sahut Reyhan diiringi tawa kecil.
"Dihh, gitu ya sekarang!!. Awas aja, nanti malem nggak usah tidur di kamar!!"
"Dihh, gitu doang ngambek" ledek Reyhan yang masih betah menggoda istrinya.
"Kamu nyebelin ihh" rengek Kenzi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya-iya sayang. Habis ini aku makan sesuai perintah nyonya. Nanti malem giliran makan kamu"
"Kamu mesum dehh!!!. Udah akh aku mau jalan-jalan lagi. Bye bye sayang"
Panggilan dimatikan oleh Kenzi secara sepihak yang membuat Reyhan geleng-geleng kepala. Yang nelfon siapa, yang matiin siapa.
*****************
Empat orang perempuan itu sudah duduk berjajar di sebuah restoran yang ada di dalam Mall. Makanan sudah dipesan, kini tinggal menunggu pesanan itu datang.
"Laki lo yang telfon?" tanya Tasya yang membuat atensi Kenzi beralih dari ponsel.
"Iyalah, masak laki lo" sahutan itu membuat Tasya menyesal sudah bertanya. Pengen nonjok tapi temen sendiri, yaudahlah nggak jadi.
"Mbak ini pesanannya" seorang pelayan datang sambil membawa nampan ditangan dan meletakkan makanan-makanan itu diatas meja.
"Terimakasih" ucap Renata mewakili semuanya.
Setelah pelayan itu pergi, empat perempuan itu langsung memakan makanan masing-masing dengan damai.
"Ken, bukannya lo nggak suka kepiting ya?" tanya Andien keheranan. Pasalnya, setahu dia Kenzi memang paling anti dengan makanan berbau kepiting.
"Gue lagi pengen" sahut Kenzi dengan singkat. Ia memakan kepiting asam manis yang ia pesan dengan lahap dan hal itu sukses membuat semua temannya semakin keheranan.
"Tapi dulu lo sendiri kan yang bilang kalo lo itu anti makan kepiting" tanya Andien lagi yang masih dengan rasa penasarannya.
"Emang nggak boleh kalo gue makan kepiting?!. Udah deh, lo urusin aja makanan lo, nggak usah liatin gue" desis Kenzi tanpa menghentikan aktivitasnya.
Andien hanya bisa geleng-geleng kepala, begitu juga dengan Renata dan Tasya. Temannya ini memang terkadang ajaib.
Bersambung.......