
Reyhan dan Kenzi keluar dari dalam lift dengan tangan yang saling bertautan. Pasangan suami istri itu semakin lengket setelah 'kejadian' tadi malam.
"Yang lain pada kemana?" tanya Kenzi saat mereka sudah sampai di parkiran dan tidak ada satupun keluarganya yang nampak.
"Semuanya udah pulang tadi pagi" sahut Reyhan seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya. Meski dengan wajah bingung, Kenzi tetap masuk kedalam mobil dan memakai seatbelt dengan benar.
Reyhan memutari mobilnya dan beralih duduk di kursi kemudi. Ia mulai menjalankan mobil itu meninggalkan area gedung. Panas terik dan macet kendaraan menemani perjalanan mereka kali ini. Reyhan fokus menyetir sedangkan Kenzi fokus dengan layar ponselnya. Satu jan lamanya mereka hanya sibuk dengan keterdiaman masing-masing hingga kepala Kenzi melirik kearah jendela. Kening perempuan itu mengerut bingung saat menyadari jalanan itu bukanlah jalanan yang biasa mereka lewati.
"Kita mau kemana?. Ini bukan jalan ke rumah aku, ke rumah kamu pun juga bukan" tanya Kenzi seraya menolehkan kepalanya kearah Reyhan.
Reyhan tersenyum tipis tanpa mengalihkan atensinya dari depan.
"Nanti kamu juga tau" Kenzi hanya mendengus kesal saat mendengar jawaban Reyhan yang selalu seperti itu. Selalu mengundang rasa ingin tempe.
40 menit perjalanan berlalu hingga akhirnya mobil itu berhenti didepan sebuah gerbang yang tinggi. Reyhan mengklackson mobilnya berulang kali hingga seorang security membukakan pintu gerbang itu. Pria itu menjalankan mobilnya untuk masuk lebih dalam. Sedangkan Kenzi terus menatap bingung kearah luar jendela yang menampakkan halaman rumah yang luas itu.
Mobil berhenti, mereka kompak keluar dari mobil Tersebut dan berdiri bersebelahan di depan bagasi.
"Ayo!" Reyhan meraih pergelangan tangan Kenzi, mengajak perempuan itu untuk masuk ke dalam sebuah rumah megah berlantai tiga yang sudah terpampang di depan mereka.
Reyhan mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya, memasukkan kunci itu lalu membuka perlahan pintu tersebut hingga terbuka sempurna.
Senyuman di bibir Kenzi tak dapat disembunyikan saat melihat isi rumah yang sudah didekorasi dengan sangat indah. kelopak bunga mawar bertebaran di lantai membentuk sebuah jalan yang kini mereka pijaki. Bunga-bunga itu tersebar sampai ke ujung tangga. Kenzi menggenggam tangan Reyhan dengan erat saat merasakan perasaan senang yang tak terbendung dihatinya.
Pria itu masih terus menggandeng tangannya, mengajaknya untuk memasuki rumah lebih jauh lagi. Kaki mereka mulai menapak di anak tangga satu persatu. Rumah ini begitu indah, cat putih yang mendominasi membuat rumah ini terlihat nampak seperti istana modern di negri dongeng. Hingga sampailah mereka di lantai tiga. Reyhan membuka sebuah pintu kaca yang terhubung dengan balkon. Angin yang berhembus kencang langsung menyambut kedatangan mereka disana.
Reyhan merangkul bahu Kenzi dan mengajak perempuan itu untuk berjalan kearah pembatas balkon itu. Senyuman Kenzi kembali terbit setelah melihat sebuah tulisan yang terbentuk dari bunga-bunga dibawah sana yang bisa ia lihat dari ketinggian.
Welcome in the new house My Wife
Kenzi langsung memeluk Reyhan dari samping saat tak tahan merasakan rasa haru dihatinya. Ingin rasanya ia berteriak kencang untuk menyuarakan pada dunia bahwa ia sangat bahagia memiliki seorang Reyhan Alexander, seorang pria yang selalu membuat hidupnya dipenuhi oleh warna.
"Ini rumah kita" bisik Reyhan di telinga Kenzi. Ia meraih kepala perempuan itu dan menangkup kedua pipinya dengan lembut.
"Kamu suka?" tanya Reyhan yang langsung dibalas anggukan semangat oleh perempuan itu. Senyum di wajah keduanya mengembang dengan sempurna saat menikmati waktu bersama seperti saat ini.
"Kamu kapan nyiapin ini semua?" tanya Kenzi disela-sela langkah mereka menyusuri setiap jengkal ruangan yang ada di rumah itu. Ruangannya sangat banyak dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghafal satu persatu.
"Udah lama, bahkan sebelum kamu kembali. Aku sengaja nyiapin Rumah ini untuk keluarga kecil kita nanti. Biar Rumah ini jadi saksi perjalanan hidup keluarga kita, mulai dari sekarang sampek anak-anak kita dewasa nanti. Aku pengen kita selalu bersama, melewati semuanya sama-sama, dan aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia dengan cara apapun. Ini semua buat kamu" Rangkulan di bahu Kenzi semakin ia eratkan saat kata-kata itu ia ucapkan dari mulutnya.
Sebelah tangan Reyhan membuka sebuah pintu besar, saat pintu terbuka nampak sebuah tanah lapang yang luas dihiasi pohon-pohon dan kursi-kursi kecil di pinggirnya. Mulut Kenzi terbuka lebar, Ia tidak menyangka jika Reyhan akan benar-benar membuat tempat ini di dalam rumah.
"Ini.....?" Kepala Kenzi menoleh, menatap kearah Reyhan dan bertanya kepada pria itu lewat ekspresi wajahnya.
"Suprise.....!!!" bukannya menjawab, Reyhan malah berlari ke tengah lapangan basket itu sambil meretangkan kedua tangannya.
"Sesuai omongan aku waktu itu, aku buat lapangan ini di area rumah kita. Jadi kalo tim basket aku udah jadi, aku nggak perlu repot-repot cari lapangan" ucap Reyhan sambil tersenyum penuh arti.
Kenzi tersenyum kikuk, Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mengingat ucapan Reyhan waktu itu.
"Punya anak sebelas, buat dijadiin tim basket?!. Enggakkkkk, satu aja belum tentu sanggup apalagi sebelas!!!" jerit Kenzi dalam hati
"Sayang....." panggilan itu keluar dari mulut Reyhan dengan suara manja yang mendayu di telinga. Ia berjalan mendekat kearah Kenzi sambil memasang senyum malaikatnya. Kenzi yang menyadari arti dari senyuman Reyhan itu mendadak mundur, alarm bahaya muncul dari dalam dirinya saat ini juga.
"APA?!" desis Kenzi dengan suara yang sedikit kencang. Reyhan terkekeh geli, sangat gemas melihat tingkah Kenzi yang malu tapi mau.
"Buat tim basket yuk!!" goda Reyhan sambil menaikturunkan alisnya. Ia semakin mendekat dan perempuan itu semakin mundur.
"Nggak mau!!!. Tadi malem kan udah!!" tolak Kenzi. Wajahnya memanas sekarang. Ia yakin, pasti pipinya sudah memerah layaknya kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.
Kenzi menggeleng cepat, Ia berbalik badan, membuka pintu lalu berlari menghindari Reyhan.
"YANG, KALO DAPET KU GIGIT KAMU YA!!" teriak Reyhan dengan kencang sambil mengejar Kenzi yang sudah berlari jauh di depan sana.
"YANG, BERHENTI NAPA!!!" teriak Reyhan yang mulai ngos-ngosan mengejar Kenzi.
"NGGAK MAU!!!. KAMU AJA YANG BERHENTI!!!" teriak balik Kenzi tanpa menghentikan lariannya.
"DIHH, KAMU KOK NYURUH!!!"
"KAMU JUGA NYURUH TADI!!!"
Kenzi menoleh ke kiri dan ke kanan saat melihat ada persimpangan jalan yang menunju ke dua lorong.
"Kiri apa kanan ya?!. Aaa gue lupa lagi jalannya" gerutu Kenzi seraya mengacak rambutnya frustasi saat tidak mengingat jalannya masuk tadi.
Happp
Reyhan mengangkat tubuh Kenzi dari belakang, kedua tangannya melingkar di perut perempuan itu dengan sempurna. Ia memutar-mutarkan tubuh Kenzi hingga membuat perempuan itu memekik kaget.
"REYHAN BERHENTI!!!" seru Kenzi seraya memukul-mukul lengan Reyhan yang berada di perutnya.
"Nggak mau sebelum kamu mau aku ajak gituan" sahut Reyhan tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Kepala aku pusing!!!" desis Kenzi sambil terus memukul lengan Reyhan dengan kesal.
"Mau apa nggak?!" sepertinya Reyhan tidak mau berhenti sebelum mendapat jawaban 'iya' untuk melakukan hal yang iya-iya. Nunggunya udah bertahun-tahun masak jatahnya cuma sekali, nggak adil dong. Harus minta lagi!!!. Begitulah prinsip seorang Reyhan.
"Oke, oke aku mau" Reyhan sontak menurunkan Kenzi setelah mendapat jawaban yang ia inginkan. Senyuman bahagia mengembang di bibir pria itu, tak peduli kondisi kepala istrinys yang sudah berputar sejak tadi.
"Gitu kek dari tadi, kan nggak perlu muter-muter" ucapan itu mengundang tabokan dari Kenzi dipantatnya. Perempuan itu mendengus kesal dengan tangan yang masih memegangi kepalanya, takut ngegelinding:v.
Tak peduli dengan raut wajah Kenzi yang tak bersahabat. Reyhan mendekatkan tubuhnya kearah Kenzi dan mendempetkan tubuh perempuan itu ke tembok. Semakin menghimpit hingga tidak ada celah diantara mereka.
"Dia udah berdiri lo Yang" Kenzi menelan ludahnya dengan susah payah setelah mendengar ucapan pria itu. Ada yang berdiri tegak tapi bukan tiang listrik apalagi antena, sesuatu yang agak keras itu sangat terasa dipangkal pahanya.
"A-aku tadi nggak se-serius loh" sepertinya bakat Aziz Gagap kini melekat di tubuh Kenzi. Disaat seperti ini, lidahnya terasa sangat kaku untuk digerakkan.
"Tapi aku serius" tanpa pikir panjang, Reyhan mengangkat Kenzi dalam gendongannya. Membawa tubuh perempuan itu ke sebuah kamar yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.
Pintu tak bersalah ia tendang dengan menggunakan sebelah kaki. Reyhan menurunkan tubuh Kenzi di depan pintu. Ia menutup pintu itu dan menguncinya. Ia kemudian berbalik badan, menatap Kenzi yang juga sedang menatapnya dengan tatapan berbeda.
Reyhan mendekat, dan ciuman itu datang. Lebih cepat dan sedikit menuntut. Tangannya ia letakkan di pinggul Kenzi, menekan tubuh perempuan itu untuk semakin mendempet kepadanya. Tanpa melepas pagutan mereka, Reyhan membaringkan tubuh Kenzi diatas ranjang besar dikamar itu. Nafas mereka sama-sama memburu, menandakan jika mereka sama-sama menginginkan lebih.
"Anggep aja ini sebagai perkenalan kamu sama rumah ini" begitulah ucapan konyol Reyhan sebelum aktifitas itu mereka lakukan. Rumah baru menjadi saksi dimana Reyhan meminta haknya dan Kenzi melakukan kewajibannya. Biarlah mereka bermain kuda lumping sejenak ya guys, kalian nggak perlu tau nanti otaknya riweh. Kita tinggal menunggu berita Reyhan dan Kenzi junior aja:v.
**Reyhan Saputra Alexander
Kenzia Nastasya Aleskey
Maaf baru up ya guys, otakku tiba-tiba macet di tengah jalan:v. Up lagi besok yaa, jangan lupa tinggalkan jejakkk. Silahkan masuk Grub Chat bagi yang berminat bergabung.
Happy Reading😘**