
Reyhan melangkahkan kakinya memasuki sebuah mansion besar. Ini pertama kalinya ia kembali menapakkan kaki di rumahnya sejak meninggalnya Kenzi 2 bulan yang lalu.
Reyhan menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Ia meraih gagang pintu lalu mendorongnya hingga pintu terbuka sempurna. Reyhan berjalan dengan langkah lebar menuju anak tangga dan mengabaikan kehadiran keluarganya di ruang tengah. Ia terus berjalan seolah tak ada seorang pun disana.
"Reyhan!!!" seruan sang papa sukses membuat langkah Reyhan yang sudah berada di ujung tangga berhenti. Ia berdiri membelakangi orang tuanya tanpa berniat untuk berbalik badan.
"Masih ingat pulang kamu?!!!"desis Raymond dengan nada tinggi yang pasti tak mendapat jawaban dari putranya. Pemuda itu hanya diam mendengarkan tanpa mau menjawab.
"Minggu depan pertunangan kamu dan Sella akan kembali dilakukan. Jangan sampai kamu kembali buat malu keluarga karena tingkah bodoh kamu itu!!!!" tegas Raymond. Sedangkan Raisa hanya diam menyimak dengan perasaan harap-harap cemas tanpa mau ikut campur.
"Aku nggak mau!!" tukas Reyhan tanpa membalikkan badannya.
Raymond mengeram kesal. Ia bangkit dari duduknya dan menatap tajam kearah Reyhan.
"Terus apa yang kamu mau?!!!. Kamu mau menunggu pacar kamu yang sudah mati itu hah?!!!. Papa nggak mau tau, minggu depan kamu harus bertunangan dengan Rosella!!!" seru Raymond.
Reyhan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia berbalik badan dan menatap tajam kearah sang ayah. Ini pertama kalinya ia berani bersitatap dengan Papanya, apalagi dengan tatapan menantang seperti ini.
"Andai papa nggak membuat perjodohan gila ini, aku nggak mungkin nyakitin Kenzi dan dia nggak bakalan pergi kayak sekarang!!!. Ini semua terjadi karena keegoisan papa!!. Dan asal papa tau, Kenzi itu jauh lebih baik daripada Sella!!!, cewek nggak berguna yang selalu papa bela-belain itu!!. Sampek kapanpun, nggak akan ada yang bisa gantiin Kenzi, apalagi cewek sampah kayak Sella!!!" sarkas Reyhan dengan lantang.
"Tutup mulut kamu Reyhan!!" bentak Raymond sambil menunjuk Reyhan yang berdiri disebrang sana.
"Aku nggak akan diem sebelum papa berhenti berbuat seenaknya sama hidup aku!!!" sahut Reyhan tanpa takut. Ia berbalik badan untuk kembali menuju ke kamarnya.
"Kalo kamu nggak mau bertunangan dengan Rosella, keluar kamu dari rumah ini!!!" Reyhan kembali berhenti setelah mendengar ucapan sang ayah.
"Pah...!!" Raisa yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Ia menatap suaminya dengan tatapan memohon dan wajah yang beruraikan air mata. Ia tak ingin keluarganya retak seperti ini.
Reyhan berbalik badan untuk menatap orang tuanya di bawah sana.
"Oke kalo itu yang papa mau. Reyhan pergi!!!" sahut Reyhan dengan wajah datar.
"Rey...." cicit Raisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Ma" sahut Reyhan dari atas sana. Ia bergegas masuk ke kamar untuk memberesi semua barang-barangnya. Tak banyak yang ia bawa. Hanya beberapa stel baju, ponsel yang ia beli sendiri, ATM yang berisi uang tabungan hasil usahanya selama ini, dan juga sebuah gelang yang sangat berharga. Gelang kayu pemberian Kenzi.
Dengan langkah lebar Reyhan berjalan menuruni tangga sambil menyeret koper yang ia bawa. Raisa segera berdiri dari duduknya, ia mencekal lengan Reyhan dengan lembut berharap putranya tak pergi dari sini.
"Maaf Ma, Reyhan harus pergi" sahut Reyhan dengan lembut. Ia meraih tangan mamanya dan mencium punggung tangan wanita itu cukup lama. Jika boleh jujur, Reyhan tak tega melihat mamanya menangis. Karena perempuan dihadapannya ini adalah ibunya, cinta pertamanya sejak ia belum mengenal aksara dan dunia.
Reyhan kemudian menatap kearah sang Ayah yang tak mau melihatnya. Pria itu duduk di sofa sambil mengarahkan pandangannya kearah lain. Berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi di depannya.
Perlahan, Reyhan melangkahkan kakinya untuk menjauh. Genggaman tangan Raisa perlahan terlepas seiring dengan kepergian putranya.
"REYHAN!!!" teriak Raisa diiringi isak tangisnya. Namun Reyhan berusaha untuk tidak terpengaruh. Ia terus berjalan ke luar dan mengambil mobil miliknya sendiri yang ada disana. Ia menyalakan mesin mobil lalu melenggang pergi meninggalkan mansion itu.
************
Deburan ombak dan juga angin pantai yang sejuk menyapu wajah tampan seorang Reyhan Alexander. Langit biru kini telah berganti dengan langit kemerahan mengiringi sang fajar yang akan mengistirahatkan dirinya.
Reyhan duduk termenung di bibir pantai sambil mengamati sepasang kekasih yang tengah bermain-main air di sebrang sana. Mereka tampak sangat bahagia, sama seperti dirinya dan Kenzi dulu. Sebelum semuanya rumit, sebelum rencana papanya menghancurkan semuanya, dan sebelum Kenzi pergi. Pergi untuk selamanya meninggalkan dia bersama kesepian.
Reyhan kemudian menatap sebuah gelang yang saat ini ia pakai. Gelang yang saat ini menjadi benda paling berharga dalam hidupnya. Reyhan mengusap gelang itu perlahan diiringi senyum tipis di sudut bibirnya.
"Gue emang bodoh, lemah, pengecut!!. Bahkan Gue nggak pantes di sebut laki-laki!!" maki Reyhan pada dirinya sendiri.
"Andai semuanya nggak serumit ini, mungkin kita masih bersama. Kita masih bahagia bersama dan menikmati hari berdua"
"Tapi semua berubah"
"Berubah seiring dengan rencana tuhan yang nggak terduga"
"Bener kata orang, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Dan aku benci perpisahan ini!!. Perpisahan dimana aku nggak bisa ngeliat kamu lagi, nggak bisa menikmati senyuman kamu lagi, dan nggak bisa denger suara kamu lagi!!"
"Dalam hati, dulu aku bersumpah. Setelah aku berhasil batalin perjodohan konyol itu, aku akan cari kamu sayang, dan aku harap kita bisa kembali bersama"
Reyhan tersenyum getir sambil mengepalkan tangannya sendiri.
"Tapi ternyata kamu pergi ninggalin aku. Jauh dari aku dan jauh dari semuanya. Perpisahan ini nggak pernah aku bayangkan sebelumnya, semuanya terjadi begitu aja. Bahkan aku yakin, saat itu pasti kamu benci banget sama aku. Tapi percaya sama aku baby, aku nggak pernah ada fikiran buat berpaling dari kamu. Bahkan sampai saat ini, nama kamu masih menetap di relung hati aku yang paling dalam. Dan itu nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun, sampek kapanpun itu. Itu janjiku"
Bersambung.....