Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Masih Honeymoon



Cahaya matahari yang redup menemani perjalanan pasangan Reyhan dan Kenzi menuju bandara. Setelah menghabiskan waktu singkat di Negara yang terkenal dengan industri hiburannya, hari ini mereka akan pergi meninggalkan Kota Seoul untuk menuju ke Negara mode dunia, Prancis.


"See you next time Seoul" gumam Kenzi sebelum masuk ke dalam pesawat yang akan mereka tumpangi. Ia menarik nafas panjang kemudian masuk ke dalam pesawat mengikuti Reyhan dari belakang.


**************


Siang hari terasa tetap sejuk di Negara Prancis. Dua pasang kaki dari dua manusia yang berbeda perlahan menapak di jalanan sebuah negara yang baru mereka singgahi kemarin. Dengan berbekalkan jaket tebal dan sarung tangan yang menutupi tubuh, Reyhan dan Kenzi berjalan beriringan untuk menikmati suasana di Negara yang terkenal dengan mode merk ternamanya.


Para turis dan juga penduduk setempat ramai berkumpul atau bahkan hanya untuk berjalan-jalan di sekitar sebuah tempat yang akan mereka singgahi. Reyhan menggandeng tangan Kenzi dengan erat saat ada banya bule pria yang menatap kagum kearah istri cantiknya.


"Nggak di Indo, nggak disini, sama aja!!. Sama-sama jelalatan!!!" Kenzi yang masih sibuk memandangi sekitar tidak menyadari gerutuan yang Reyhan lontarkan. Matanya masih terus meneliti setiap sudut tempat yang terkenal sebagai tempat pertemuan jodoh ini.


Hingga langkah mereka terhenti di sebuah titik. Tembok Cinta atau Le Mur Des Je T'aime . Berlokasi di Abbesses, Montmarte, tembok dengan sebutan “le mur des je t’aime” ini merupakan hasil karya Claire Kito dan Frederic Baron, yang merupakan sebuah dinding berukuran 40 meter persegi (4×10 meter) dan dibangun tahun 2000. Tembok ini berupa 511 lempengan yang bertuliskan “I love you” yang diulang-ulang dari 250 bahasa di seluruh dunia. Kabarnya, tempat ini adalah tempat pasangan dari seluruh dunia bertemu.



"Kami bisa baca tulisan itu kan?" tanya Reyhan seraya merangkul bahu Kenzi dengan mesra. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan, menatap tembok cinta di depan mereka dengan tatapan kagum.


"I love you, Bunny" ucap Kenzi dengan senyum manisnya.


"Aku suka panggilan itu, I love you more" sebuah kecupan Reyhan hadiahkan di bibir Kenzi, tak peduli ada banyak pengunjung yang ada di sekitar mereka. Benar-benar tidak tau malu.


Setelah berfoto ria dan melihat setiap lempengan yang ada di tembok cinta itu, Reyhan dan Kenzi memutuskan untuk 'bertamasya' ke tempat lain. Menikmati angin yang sejuk dan juga salju yang berjatuhan, Reyhan menggendong Kenzi dipunggungnya saat perempuan itu mengeluh pegal.


Banyak pasang mata yang menatap mereka, tapi Reyhan tidak peduli. Asal Kenzi senang, berenang di air comberan pun ia lakukan.


"Kamu berat juga ya ternyata" Ucap Reyhan dengan nada bercanda. Tidak mungkin Kenzi berat, makannya kan cuma 1 sendok.


"Gapapa berat, yang penting tetep cantik" Reyhan hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat penyakit narsis Kenzi yang tidak pernah sembuh, justru malah semakin menjadi-jadi.


"Pokoknya nanti malem kamu harus pijitin aku!!!" seru Reyhan sambil tersenyum penuh arti yang pastinya tidak bisa dilihat oleh Kenzi yang berada di belakang.


"Pijit plus-plus..." batin Reyhan sambil terkikik geli


"Iya... aku mah istri solehah, selalu nurut sama suami" sahut Kenzi.


Reyhan tersenyum menang. Ia terus berjalan, tak peduli kakinya yang nyaris copot. Yang penting nanti malem di pijit.... plus-plus, begitu pikir Reyhan.


Mereka akhirnya berhenti di sebuah cafe. Reyhan menurunkan Kenzi di teras. Mereka berdua masuk, memesan cokelat panss kemudian duduk di sebuah kursi.


"Ken, besok kita harus pulang. Faiz tadi ngabarin, di kantor ada masalah jadi aku harus pulang cepet buat handle semuanya" ucap Reyhan secara tiba-tiba.


Kenzi yang sedang meminum cokelat panasnya sontak berhenti. Ia menatap Reyhan, dengan mata memicing pertanda tidak suka.


"Kok gitu?!. Kita honeymoon aja masih 4 hari loh!!" desis Kenzi dengan nada jengkel.


Reyhan meraih tangan Kenzi, menggenggamnya dengan lembut saat perempuan itu menunjukkan wajah cemberut.


"Iya, aku tau. Tapi mau gimana lagi, di perusahaan ada korupsi besar-besaran. Nggak mungkin aku biarin Faiz handle semuanya sendiri, ini masalah serius Yang" Ucap Reyhan dengan lembut. Dia tau, istrinya sedang kecoa. Ehh?


Kenzi menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk.


"Oke, besok kita pulang" ucap Kenzi sambil memaksakan senyumnya.


"Makasih ya kamu udah ngertiin aku" ucap Reyhan disertai senyuman.


***********


Kota Paris memang tidak pernah sepi. Sebagai pusat dari mode dunia dan juga kediaman bagi rumah mode terkemuka dan bergengsi, tentunya Paris selalu ramai akan orang-orang yang sibuk dengan urusan dunianya.


Reyhan dan Kenzi turun dari sebuah taksi tepat di depan sebuah destinasi di Paris, Champ Elysees


Kota Paris juga memiliki kawasan elite, yaitu Champ Elysees. Di malam hari, cahaya lampu dan kendaraan yang berlalu lalang akan membuat tempat ini semakin memukau. Di sepanjang area ini, berjajar cafe dan toko-toko, mulai dari parfum, tas, hingga barang dengan merek ternama lainnya.


Kenzi menarik tangan Reyhan untuk memasuki toko-toko yang berjajar rapi disana. Jiwa perempuannya bergejolak saat melihat banyaknya tas branded dan juga pernak-pernik lain di depan mata. Kenzi sibuk memilih dan memilah sedangkan Reyhan dengan setia mengekor di belakangnya.


Beberapa tas dan baju keluaran rumah mode Saint Lauren, brand ambassador Rose Blackpink sudah di kantongi Kenzi untuk di bawa pulang. Kini tatapannya tertuju pada kumpulan jam tangan yang berjajar rapi. Hasrat ingin membeli pun muncul saat itu juga. Buru-buru ia menggeret tangan Reyhan, mengajak pria itu untuk melihat-lihat.


"Bunny, bagusan yang mana?" tanya Kenzi seraya memamerkan dua buah jam tangan bermerek sama dengan warna hitam dan cokelat itu.


"Yang item bagus" jawab Reyhan seadanya.


Dahi Kenzi mengerut. Di tatapnya dua jam tangan itu sekali lagi untuk memastikan.


"Tapi menurut aku bagusan yang cokelat" ucapnya yang membuat Reyhan ingin jungkir balik.


"Terus kenapa tadi nanya ke gue Neng?!!!" desis Reyhan dalam hati.


"Yaudah, beli yang cokelat aja" sahut Reyhan mengalah. Kurang sabar apa coba?!!


"Emmm kalo gitu beli dua aja deh. Yang cokelat kamu, yang warna item aku" semakin keriting saja rambutnya Reyhan. Pengen ngecaci tapi istri sendiri, jadi nggak jadi.


"Serahh lo deh Ken, TERSERAHHH. Yang penting nanti malem pijet plus-plus" jerit Reyhan dalam hati.


"Yaudahlah terserah kamu" jawab Reyhan yang membuat Kenzi bersorak senang. Kini waktunya tugas para suami, bayar membayar. Reyhan mengeluarkan blackcard dari dalam dompetnya. Untuk bisa membawa pulang barang pilihan istri tercintah, Ia harus mengeluarkan ratusan juta untuk barang-barang itu. Gapapa, sayang istri itu namanya.


Acara belanja-belanja pun telah usai. Saat di Kota Paris, tak lengkap rasanya jika tidak singgah di sebuah destinasi fenomenal yang ada disana, Menara Eiffel.


Menara besi dengan tinggi 30 meter itu terlihat memukau di tengah Kota. Menara yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris ini telah menjadi ikon global Prancis dan salah satu struktur terkenal di dunia. Apalagi saat malam hari, lampu-lampu yang terdapat di menara semakin menambah keindahan menara itu.


Reyhan dan Kenzi berdiri berhadapan di depan menara dan seorang fotografer bertugas memotret pasangan bahagia itu. Satu buah foto berhasil di cetak. Kini berganti pose, Kenzi naik ke pundak Reyhan dengan kedua kakinya menggantung di depan dada pria itu. Senyuman bahagia terbit di wajah keduanya. Ini adalah makam terakhir dan malam terindah yang mereka lalui selama berbulan madu.


**************


Reyhan menggiring Kenzi masuk ke dalam kamar tanpa melepas tautan bibir mereka. Tangannya mulai melucuti baju yang melekat di tubuh perempuan itu satu persatu. Dengan perlahan dan penuh hati-hati, Ia membaringkan tubuh Kenzi di ranjang. Nafas mereka memburu, sama-sama menginginkan lebih dari ini.


"I want you" bisik Reyhan tepat di telinga Kenzi. Mata pria itu menghitam, perasaan itu tidak dapat ia pendam lagi.


Kenzi mengangguk sebagai jawaban. Lampu hijau sudah di dapat, adik kecil Reyhan yang memang sudah berdiri tegak layaknya bambu bersorak senang. Olahraga malam akhirnya di mulai.


Di luar hujan salju, namun hawa di ruangan ini terasa sangat panas akibat pergulatan dua manusia beda jenis yang belum usai. Keringat membasahi tubuh Reyhan dan Kenzi, nafas mereka sama-sama terengah-engah, bahkan lebih dari orang yang habis lari maraton dari sabang sampai merauke.


Reyhan membaringkan tubuhnya di samping Kenzi saat pelepasan itu tiba. Ia mengeluarkannya di dalam, berharap jika benih itu bisa tumbuh dan berkembang menjadi makhluk kecil yang menghiasi kehidupan mereka kelak.


****************


**Jangan lupa tinggalkan jejak!!!!. Maaf ya guys aku baru up:(


Kalian nggak ngambek kan?, nggak kan?, ya enggak lah pastinya (͡° ͜ʖ ͡°**)