Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Cobaan batin



Reyhan menatap fokus kearah layar laptopnya. Hari ini hari Rabu, waktu sudah menjelang siang dan pemuda itu belum beranjak dari kursi kerjanya. Cacing di perutnya sudah mendemo minta diisi, namun pekerjaan yang masih menumpuk membuatnya mengurungkan niat untuk makan. Dua minggu lagi peresmian mall hasil kerjasamanya dengan perusahaan Kenzi akan dilakukan, dan pada hari itu pula ia akan membuat kejutan yang tak terduga untuk kekasihnya itu.


"Sayang...." sebuah panggilan dari seseorang berhasil membuat Reyhan mendongak. Jelas ia sangat menghafal suara ini, suara merdu yang selalu membuatnya dimabukkan oleh cinta. Bibir pemuda itu melengkung membentuk sebuah senyuman. Dengan segera, ia bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menghampiri Kenzi yang tengah berdiri di ambang pintu.


Cup


Sebuah kecupan manis ia hadiahkan di pelipis gadis itu. Dengan senyuman yang masih merekah, Reyhan merangkul bahu Kenzi dan mengajaknya untuk duduk di sofa


"Tumben dateng..." Ucap Reyhan setelah mereka duduk berdampingan.


Kenzi mengangkat tangan kanannya, memamerkan sebuah paper bag berisi makanan yang ia bawa tadi.


"Aku bawain makan siang buat kamu" masih dengan senyuman manis, Kenzi menjawab ucapan Reyhan dengan suara manja yang mendayu hingga membuat semua orang terjerat akan pesonanya. Tak terkecuali Reyhan, pemuda itu selalu dibuat jatuh ke dalam lubang bernama cinta setelah ribuan kali ia terperangkap oleh pesona seorang Kenzia.


"Kamu yang bikin?" pertanyaan Reyhan membuat gerakan Kenzi yang tengah menyusun makanan di atas meja terhenti. Gadis itu menoleh, memamerkan cengirannya sambil tersenyum kikuk.


"Emm, aku tadi beli di Restoran deket kantor kamu. Kan kamu tau sendiri, aku nggak bisa masak" ucap Kenzi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Reyhan tersenyum tipis, Ia tau itu. Dan ia tidak mempermasalahkan perihal Kenzi tidak bisa memasak karena baginya Kenzi adalah pendamping bukan pembantu.


"Gapapa, aku ngerti kok. Tapi aku masih berharap bisa rasain gimana masakan kamu" Ucap Reyhan yang secara tak langsung meminta Kenzi untuk belajar memasak. Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia tau, sebagai perempuan memang sudah seharusnya untuk bisa memasak. Tapi mau bagaimana lagi, sejak kecil Ia sudah terbiasa hidup serba ada, semua serba siap dan langsung pakai. Jika lapar pun ada pembantu. Jadi dia tidak pernah dipusingkan untuk memasak atau melakukan hal lain selain belajar, nongkrong, dan tawuran.


"Aku akan coba" sahut Kenzi yang membuat Reyhan ikut tersenyum. Ia mangambil piringnya di atas meja dan mulai menikmati makanan yang sudah disiapkan gadis itu.


"Habis ini kamu mau kemana?" tanya Reyhan disela-sela aktifitas makannya.


"Aku mau....


Drttt....drttt


Ucapan Kenzi terhenti tatkala ponselnya yang berada diatas meja berdering. Ia mengambil ponsel itu, tertera nama Marco disana. Dengan segera, Kenzi menggeser ikon hijau yang ada disana lalu menempelkan benda pipih itu di telinga.


"Lady, kami datang" ucap orang itu dari sebrang sana


"Goodboy, tunggu gue disana. Jangan kemana-mana" sahut Kenzi. Setelah mengucapkan hal itu, Ia memutuskan panggilan secara sepihak.


Kenzi memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Ia kemudian berdiri hingga membuat kening Reyhan mengerut bingung.


"Rey, maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu. Aku udah di tunggu" Ucap Kenzi dengan mimik wajah bersalah.


"Mau aku anter?" Reyhan ikut berdiri. Menawarkan jasa antar-mengantar secara cuma-cuma yang langsung dibalas anggukan semangat oleh Kenzi.


Mereka berjalan berdampingan keluar ruangan. Semua karyawan menunduk hormat. Selain karena Reyhan adalah atasannya, mereka juga mengetahui siapa sosok gadis di samping pemuda itu. CEO muda yang namanya sudah melambung tinggi di dunia pebisnisan, siapa yang tidak mengenal Kenzia.


Reyhan dan Kenzi sudah sampai di luar gedung. Reyhan menukikan alisnya bingung, Ia kemudian memutar kepalanya untuk menatap Kenzi.


"Kamu pake motor?" tanya Reyhan setelah hanya melihat sebuah motor sport merah di depannya.


Kenzi mengangguk sambil tersenyum.


"Iya"


Reyhan membuang nafas kasar. Ia mengangkat tangannya, menjentikkan jarinya beberapa kali di udara hingga beberapa bodyguard datang mendekat.


"Siapkan satu motor untuk saya!!" seru Reyhan tanpa berbalik badan.


"Baik Tuan" salah satu dari mereka menyingkir dan berjalan menuju garasi khusus petinggi perusahaan. Tak lama setelahnya, bodyguard itu datang sambil menuntun sebuah motor KLX warna hitam kehadapan bos-nya.


"Ini Tuan" ucap Bodyguard itu dan Reyhan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Mau adu kecepatan?" tanya Reyhan disertai senyuman manis kepada Kenzi. Sangat berbeda dengan sikapnya yang terlihat acuh tak acuh kepada orang lain.


"Dengan senang hati" sahut Kenzi dengan senyum penuh keyakinan.


"Nggak boleh curang!!"


Mereka berjalan ke motor masing-masing, memasang helm dengan benar dan mulai menyalakan mesin motor itu. Tanpa aba-aba, Kenzi berjalan terlebih dahulu hingga membuat Reyhan geleng-geleng kepala. Ia ikut menjalankan motornya dan mengejar gadis itu dengan kecepatan penuh.


Mereka berlomba-lomba mengadu kecepatan seperti balapan sungguhan. Reyhan hendak menyalip, dan Kenzi menghalangi, begitu pula seterusnya.


"Kamu curang!!!" seru Reyhan dengan suara yang beradu dengan angin.


"Aku cuma butuh kemenangan" jawab Kenzi disertai kekehan


Dorrr


Suara tembakan dari arah belakang menarik perhatian Reyhan dan Kenzi. Mereka kompak melihat lewat kaca spion, sebuah mobil hitam mengejar di belakang.


Dorrrr.....dorrrr


Timah panas itu terus menerus diluncurkan dan dengan gesitnya mereka bisa menghindar. Sebuah debu sialan tiba-tiba masuk ke dalam mata Kenzi hingga membuat mata gadis itukelilipan dan tidak fokus melihat ke jalan.


"Ken, fokus!!!" seru Reyhan yang menyadari ketidakfokusan Kenzi. Ia menengok sebentar lalu kembali menatap ke depan.


"Mana tangan kamu!!!"


"Hah?!" pekik Kenzi dengan raut wajah bingung. Reyhan tak menjawab. Tanpa aba-aba, Ia menendang motor Kenzi menggunakan kakik kirinya dan menarik tangan kanan gadis itu. Dan kini, Kenzi sudah berada diatas motornya. Mereka duduk berhadapan dengan posisi Kenzi duduk di depan Reyhan. Sungguh posisi yang sangat tidak etis.


"Ini memalukan" gumam Kenzi yang masih bisa di dengar oleh Reyhan.


"Mereka masih ada?" tanya Reyhan yang langsung membuat lamunan Kenzi buyar. Gadis itu mendongak, menatap Reyhan dengan seksama dalam jarak sedekat ini.


"Masih" jawab Kenzi tanpa mengalihkan pandangannya.


Reyhan mendadak gugup. Ia menelan ludahnya hingga jakunnya ikut naik turun seiring pergerakan yang ia lakukan. Kenzi melihat itu semua. Hanya ada satu kata dalam benaknya, sexy.


Oh ayolah... Kenzi menggelengkan kepalanya dengan cepat saat pikiran liarnya berkelana.


"Ken.... jaga otak lo!!!" gerutu Kenzi dalam hati


"Ken, cari senjatanya!!" seru Reyhan mengalihkan suasana.


Kenzi mengangguk mengerti. Ia meraba punggung Reyhan, mencari apakah disana ada senjata yang bisa mereka gunakan untuk menyelamatkan diri. Dan sialnya hal itu malah membuat desiran aneh dalam tubuh Reyhan muncul karena sentuhan Kenzi. Jantung pemuda itu memompa dengan cepat, tubuhnya bahkan memanas sekarang. Ia bahkan harus menahan napas saat tangan Kenzi mulai meraba pahanya, lebih tepatnya saku.


Ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan, dan Kenzi merasakan itu karena kakinya memang melingkar di pinggul Reyhan karena posisi mereka berhadapan.


"Rey...."lirih Kenzi saat merasakan sesuatu menonjol diantara pahanya.


"Biarin aja, cepetan cari!!" sahut Reyhan dengan nada tak sabaran. Ia pria normal, tentu dia tidak bisa menahan lama dalam posisi seperti ini. Adik kecilnya sudah menjerit di bawah sana.


"Tahan diri lo Rey!!!. Fokus... fokus... fokus..." jerit Reyhan dalam hati. Dalam situasinya seperti ini, Ia membutuhkan konsentrasi penuh agar tak ada nyawa yang melayang.


Kenzi menurut, Ia kembali meraba-raba paha Reyhan dan pemuda itu kembali menahan nafasnya. Ketemu, Kenzi bersorak dalam hati lalu mengambil sebuah pistol dari saku Reyhan.


Reyhan bernafas lega saat tangan Kenzi sudah keluar dari area yang 'rawan' itu.


"Keselamatan kita ada di tangan kamu, lakukan yang terbaik"


Kenzi merapatkan tubuh mereka dengan dagu yang ia tempelkan di pundak Reyhan dan kedua tangannya melingkar dibahu pemuda itu hingga seakan-akan mereka sedang berpelukan. Dan lagi-lagi Reyhan harus menahan nafasnya saat sesuatu yang empuknya melebihi bantal tengah menempel di dadanya. Pemuda itu hanya bisa pasrah dan menahan umpatan dalam hati saat naluri laki-lakinya datang disaat yang tidak tepat.


Kenzi menatap lurus ke depan. Tatapannya menajam kearah mobil dibelakangnya. Ada tiga pilihan, tembak ban, pengemudi, atau tangki bensinnya. Dan akhirnya gadis itu memilih pilihan pertama dan ketiga. Untuk pilihan kedua, ia menyingkirkan hal itu. Bisa saja kacanya anti peluru, begitu pikir Kenzi.


Dorrr....dorrrr....dorrrr


Tiga peluru ia luncurkan, dan nice. Dua peluru tepat mengenai dua ban depan hingga mobil itu oleng dan satunya lagi tepat mengenai tangki bensin. Tinggal menunggu beberapa detik.


*Satu.....


Dua....


Ti.....


Dorrrr


Mobil meledak hebat di pinggir jalan setelah tangki bensinnya bocor. Reyhan dan Kenzi sama-sama tersenyum licik, mereka saling beradu tatapan satu sama lain dengan seringaian iblis yang mengerikan.


"You are the Best" bisik Reyhan di telinga Kenzi dengan senyum penuh arti


Motor terus berjalan hingga suara Kenzi membuat suasana berubah.


"Rey, bisa berhenti dulu nggak?. Posisi ini, bener-bener memalukan" Kenzi yang tak tahan melihat tatapan aneh yang orang-orang tujukan kepadanya pun akhirnya bersuara. Reyhan tak menjawab tapi ia memelankan kaju motornya lalu menghentikan motor itu di pinggir jalan.


Kenzi segera turun dari boncengan depan, Reyhan pun melakukan hal yang sama. Mereka kompak diam membisu sambil berdiri di pinggir jalan layaknya orang menunggu angkot. Rasa canggung tiba-tiba menyelimuti keduanya. Terutama Reyhan, rasa malunya muncul saat ia mengingat kejadian beberapa menit yang lalu saat adik kecilnya tiba-tiba bangun di saat yang tidak tepat. Benar-benar memalukan.


Drttt.....drttttt


Bunyi ponsel Kenzi menarik perhatian keduanya, dan mereka bersyukur akan hal itu karena terbebas dari suasana canggung. Kenzi mengambil ponselnya. Panggilan dari Marco, dan ia segera mengangkatnya.


"Hmm?"


"Anda dimana?" terdengar nada yang agak kesal dari orang disebrang telfon, dan Kenzi menyadari hal itu. Mungkin mereka kesal karena terlalu lama menunggu.


"Tunggu disana, gue masih di jalan" Kenzi segera mematikan panggilannya setelah mengucapkan hal yang begitu singkat.


"Mereka sekarang bener-bener cerewet" gerutu Kenzi setelah melihat ternyata ada banyak chat yang masuk di ponselnya.


"Mereka siapa?" tanya Reyhan yang penasaran dengan sosok 'mereka' yang dikatakan Kenzi.


Kenzi mendongak, menatap Reyhan dengan senyum penuh arti di bibirnya.


"Mereka, orang yang mau kita temui. Big Seven"


*Untuk Reyhan, harap bersabar ini ujian:v*


Hay guys, atas nama aku pribadi, aku mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Minal aidzin walfaidzin semuaa. Maaf kalo sekiranya ada kata, tindakan, atau ucapan aku yang menyinggung atau tidak mengenakan hati. Aku minta maaf sebesar-besarnya, sekali lagi minal aidzin walfaidzin semuaa. Happy Reading😘