
"Tetap waspada, jangan sampai lengah!!" Kenzi memberi peringatan untuk kesekian kalinya pada seluruh Anggota Red Rose, Dark Dragon dan Big Seven yang ikut serta bersamanya. Hari ini, eksekusi akan dilakukan.
Seluruh anggota sudah menyebar ke semua titik. Boby dan Juga Andi yang mempunyai posisi sebagai sniper mengawasi dari atas gedung lain sambil membawa Rifle di tangan masing-masing. Sedangkan Gilbert dan Soffia, mereka memantau lewat monitor untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tak terduga teejadi. Gilbert juga sudah meretas semua cctv dan keamanan yang ada disana sehingga mereka bisa lebih senantiasa bergerak. Albert dan Frans bersembunyi di antara pohon sambil membawa panah di punggung mereka. Sedangkan Josh, Ia berjaga-jaga di dalam helikopter yang terbang tepat siatas gedung. Helikopter itu sengaja dipersiapkan untuk menanggulangi kemungkinan yang tak terduga. Alat komunikasi berupa tindik sudah terpasang di telinga semua anggota untuk berkoordinasi satu sama lain.
Di depan mereka, sudah ada sebuah bangunan yang diketahui adalah markas Dead Cobra. Kenzi, Reyhan, dan Big Seven sudah memantau tempat itu sejak seminggu yang lalu, dan penelusuran Gilbert memang benar adanya.
Reyhan, Kenzi, Hanzo, Marco, dan Jack berjalan memindik-mindik di depan bangunan. Di depan penjagaan tidak terlalu ketat, tapi entah jika di dalam. Reyhan dan Kenzi bersembunyi di balik tembok sisi timur, sedangkan Hanzo, Jack dan Marco bersembunyi di balik tembok sisi barat. Mereka saling pandang, kemudian sedikit mengintip ke dalam untuk melihat adakah penjaga disana. Kosong, tak ada seorang pun yang berjaga di depan.
Dorrrr
Jack menembakkan timah panas ke udara untuk membuat semua orang keluar. Dan benar saja, sebagian besar Anggota Dead Cobra keluar dari markas untuk melihat siapa penyusup yang berani masuk ke dapam wilayah mereka.
"WOY, SIAPA LO?!!!" teriak salah satu anggota dengan lantang pada Hanzo dan Marco.
"Kami?" tanya Hanzo seraya menunjuk dirinya dan Marco secara bergantian.
"Kita adalah tamu spesial untuk ketua kalian. Kalian nggak mempersilahkan kami untuk masuk?" timpal Marco dengan wajah tengilnya.
"JANGAN MIMPI!!!" bentak orang itu.
Mereka menyerang secara bersamaan yang tentunya dilayani dengan senang hati oleh Marco dan yang lainnya. Anggota Red Rose dan Dark Dragon yang sebagian bersembunyi di balik pohon dan semak-semak depan gedung kompak keluar hingga membuat kekuatan mereka semakin bertambah. Kini giliran Boby dan Andi yang beraksi. Dari atas gedung yang tinggi, sniper andalan Big Seven dan Dark Dragon itu menajamkan penglihatannya. Mata mereka menyipit sebelah untuk memfokuskan pandangan di tengah suasana malam yang gelap.
"Lo kanan, gue kiri" Boby memberi arahan sebelum mereka beraksi yang langsung mendapat anggukan dari Andi sebagai jawaban.
Shot.....dorrr
Rifle yang sebelumnya sudah diberi peredam suara meluncurkan peluru dengan sempurna. Satu persatu anggota Dead Cobra tumbang setelah mendapat tembakan dan pukulan dari Anggota Red Rose dan Dark Dragon.
Bughh.....sringg
Kenzi mengayunkan katananua kearah Anggota Dead Cobra, bahkan ia tak segan menebah tubuh anggota geng itu jika mereka berani menyentuh tubuhnya sekecil apapun. Didampingi oleh Reyhan, Kenzi melawan rivalnya dengan bringas tanpa ampun.
Dorrr....dorrr
Reyhan melepaskan pelurunya tepat di kepala Anggota Dead Cobra yang mencoba mendekat.
"Sekarang, Zi!!" seru Reyhan lewat alat komunikasi di telinganya.
"Bersiap Master" Zidan menyahut dari sebrang sana dengan segera.
"Sekarang!!!" arahan kembali ia berikan, dan seluruh Anggota Red Rose, Dark Dragon, maupun Big Seven yang ada disana langsung menutup wajah dan hidung mrreka menggunakan penutup yang memang sudah mereka persiapkan dari tadi.
Bommm
Sebuah benda Zidan lemparkan dari balik pohon hingga menimbulkan ledakan kecil. Ledakan itu memunculkan sebuah asap yang membuat semua orang terbatuk dan sakit mata jika tidak memakai pengaman.
Uhukkk....uhukkk
Suara batuk dan ringisan keluar dari seluruh anggota Dead Cobra yang ada di luar saat mata mereka tak bisa digunakan untuk melihat dan dada mereka terasa sesak. Itulah saat yang digunakan Kenzi, Reyhan, dan Anggota yang lain untuk menyelinap masuk ke dalam markas Dead Cobra.
Kenzi masuk terlebih dahulu bersama Reyhan, sedangkan Hanzo, Jack, Marco serta anggota yang lain mengikuti di belakangnya. Saat di ruang pertama, suasana nampak sepi seperti tak berpenghuni.
"Ini beneran nggak ada orang?" tanya Kenzi dengan lirih. Matanya masih terus menajam mengawasi sekitar, takut jika sewaktu-waktu ada serangan mendadak yang tak terduga.
Pintu ruang kedua sudah didepan mata. Tangan Kenzi terulur hendak membuka, namun Marco menghalangi.
"Biar gue aja" ucap Marco yang dibalas anggukan oleh Kenzi.
Ia maju ke depan, meraih gagan pintu lalu membukanya, dan....
Shot.....
"Jangan bertingkah layaknya seorang pengecut!!" desis Marco dengan amarah.
"SERANG!!" Hanzo yang sedari tadi diam benar-benar tidak tahan. Ia memberikan arahan secara tiba-tiba kepada seluruh anggotanya. Dan kini terjadilah pertarungan antar kubu dengan begitu sengit. Tak ada yang mau mengalah ataupun dikalahkan.
Sringgg.....sringgg
Kenzi mengayunkan katananya ke depan untuk menebas seluruh musuh yang mencoba menghalangi langkahnya. Ia terus maju, hingga langkahnya berhenti tepat di depan tangga. Kenzi kemudian berbalik badan, menatap semua orang yamg sedang bertarung disana.
"Aku ke atas dulu" pamit Kenzi lewat alat komunikasi di telinganya.
"Hati-hati" terdengar suara Reyhan menyahut dari sana.
Tak menunggu waktu lama, Kenzi menaiki tangga itu untuk menuju ke lantai 2. Ada sebuah pintu disana, dan ia membukanya dengan hati-hati.
Brakk
Pintu terbuka sempurna dan tak ada seorang pun disana. Kenzi terus berjalan maju dengan mata menelisik ke setiap sudut ruangan untuk mencari celah yang bisa digunakan Anggota Dead Cobra bersembunyi.
Tekk
Kenzi menghentikan langkahnya. Meski samar, tapi telinganya dapat dengan jeli menangkap suara benda yang sudah sangat familiar baginya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok orang meski di tempat sekecil apapun.
Shoot....
Sebuah anak panah meluncur dan tertancap di tembok belakang Kenzi. Andai ia tak menghindar, mungkin panah itu sudah mengenai dirinya. Kenzi mencabut panah itu dari tembok. Disana terdapat sebuah surat, dan Ia segera membukanya.
*Tidak semudah itu untuk bisa bertemu denganku girl. Kita belum bersenang-senang*!!
Kenzi membaca surat itu dengan kening mengerut. Tak lama sebuah panggilan terhubung di alat komunikasi yang dipakai semua anggota, ternyata itu adalah panggilan dari Gilbert.
"Ada sebuah bom di gedung itu. Cepat keluar dari sana!!. Bom akan meledak 3 menit lagi!!" seruan dari sebrang sana terdengar dengan nada gusar. Kenzi mengacak rambutnya frustasi.
"Shit!!!" umpat Kenzi dengan kesal. Ia segera turun ke bawah dengan tergesa-gesa, Ia tak mau ada banyak korban berjatuhan dari geng-nya.
"SEMUA, CEPAT KELUAR!!!" teriak Kenzi memberi intruksi saat dirinya sudah berada di tangga.
Semua anggota segera mengakhiri pertarungan. Mereka bergegas lari keluar bangunan, begitu juga dengan Kenzi, Reyhan, dan yang lain.
"Josh, turunkan helikopter!!" seru Reyhan pada Josh.
Tak lama, sebuah helikopter yang dikendarai oleh Josh mendarat di depan bangunan. Seluruh anggota segera masuk ke dalam beserta Kenzi dan yang lainnya. Setelah merasa semua masuk, helikopter itu melaju keatas.
Duarrrr
Sebuah ledakan hebat terjadi di dalam bangunan, dan ledakan itu diyakini berasal dari bom yang ada Disana . Kenzi menatap api yang ada disana lewat jendela helikopter. Ditangannya masih tergenggam surat dari orang tadi. Ia meremass surat itu kuat-kuat hingga tak terbentuk. Reyhan yang duduk di sebelah Kenzi langsung meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"No problem hari ini kita gagal. Kita susun rencana lagi, lalu kita hancurin mereka" ucap Reyhan mencoba menenangkan. Kenzi tersenyum tipis kemudian mengangguk. Matanya beralih menatap awan-awan dari jendela dengan sendu.
"Gue akan bales mereka buat lo Kak. Buat pengorbanan lo"