Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Happy Family



Kenzi mengerjapkan matanya berulang kali saat cahaya matahari tiba-tiba menerobos masuk menembus tirai kamarnya. Ia spontan langsung terduduk saat melihat tak ada kehadiran si kembar di box bayi mereka. Mata perempuan itu memindai ke semua penjuru ruangan, mencari kehadiran tiga orang terspesial di hidupnya.


"Pasti Reyhan deh...."


Ia sudah bisa menebak siapa pelaku dari semua ini. Tiga minggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, setiap pagi Reyhan selalu rutin berjemur dengan Twins di taman belakang.


Kenzi turun dari tempat tidur dengan perlahan. Rambut acak-acakan serta muka bantal khas bangun tidur masih menghiasi wajah perempuan itu. Ia keluar dari kamar, berjalan kearah ruang makan sembari mengucek matanya.


"Reyhan mana Mbak?" tanya Kenzi saat tak sengaja berpapasan dengan Mbak Ratna.


"Bapak ada di taman belakang Bu!"


"Sama kembar?" tanya Kenzi lagi.


"Iya"


Kenzi mengangguk beberapa kali. Ia kemudian meneruskan langkahnya kearah pintu kaca yang menjadi pembatas ruang tengah dengan taman belakang.


Angin sedang langsung menerpa wajahnya saat ia membuka pintu itu. Bibir perempuan itu membentuk sebuah senyuman saat ia melihat tiga orang paling berharga tengah berjemur di bawah sinar matahari.


"Masa' berjemur Mamanya nggak diajak sih?!" kelakar Kenzi seraya mencium pipi Kairen dan Raizel yang tengah berbaring diatas tubuh Reyhan. Kaca mata hitam yang menghiasi wajah kedua bayi itu benar-benar membuat mereka semakin lucu.


"Mama kelamaan cih" sahut Reyhan dengan suara yang menirukan suara anak kecil.


Kairen menggeliat pelan dan Kenzi langsung mengambilnya dan beralih memangku bayi itu.


"Kailen ganteng..... abis jemul cama papa ya?"


Sebuah hal tak terduga terjadi. Kairen menarik sebelah sudut bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman yang sangat manis. Reyhan dan Kenzi terpukau. Ini adalah senyuman pertama yang mereka dapatkan.


"Manis banget....." Kenzi tak henti-hentinya menciumi pipi bayi itu. Namun Kairen tak terusik. Ia hanya diam, sesekali menggerakkan kepalanya hingga membuat rambut cokelatnya berterbangan saat terkena angin.


"Yang, Rai ngompol!!" seruan itu spontan membuat Kenzi menoleh. Ia menatap kearah paha Reyhan, basah. Bayi itu memang benar-benar buang hajad.


"Gantiin sana!! Sekalian belajar mandiin. Aku aja udah bisa, masa' kamu enggak?!" desisnya sebagai jawaban.


Memang benar, ia sudah bisa memandikan twins seorang diri. Allia yang turun tangan langsung untuk mengajari. Ia tidak mau cucunya terus-menerus diurus orang lain.


**************


Dan disinilah mereka sekarang. Berkumpul di kamar mandi layaknya orang ngambil sembako. Dengan perasaan gugup setengah hidup, Reyhan mulai membasuh tubuh bayi mereka dengan perlahan. Raizel yang menjadi korban aksi percobaan bapaknya.


"Kupingnya tutupin dulu sayang!. Kasian Raizelnya!!" Kenzi yang bertugas menjadi pengawas berdiri di ambang pintu. Sedari tadi ia tak henti-hentinya berkomentar, membuat Reyhan yang mendengar jadi blingsatan.


"Bismillahirohmanirohim, Aminn" katanya berdoa sebelum melakukan sesuatu itu wajib. Jadi Reyhan mempraktekkannya sekarang. Sengaja disingkat, biar cepet. Yang penting yakin.


Raizel menatap kearah Kenzi, seakan meminta pertolongan meskipun penglihatannya masih belum jelas. Sedangkan Kairen masih anteng di wadah mandinya. Memainkan lidah sembari menunggu giliran di laundry sang ayah.


Pelan tapi pasti, Reyhan mulai membasuh tubuh Raizel dengan air hangat. Setetes demi setetes sampek yang nungguin ilernya ikutan netes. Mata Kairen bahkan nyaris terpejam karena kelamaan nungguin bapaknya yang mandiin bayi aja udah kayak orang keraton. Kalem ee cak.


"Bisa-bisa kita tidur di kamar mandi kalo kamu kayak gitu caranya!!" oceh Kenzi dengan nada kesal. Disuruh kalem kekaleman, disuruh cepet malah kecepatan, untung gue sayang.


"Kamu ajalah yang mandiin!. Aku takut" sang bapak akhirnya angkat tangan. Memandikan bayi ternyata lebih sulit dari perkiraannya. Salah dikit langsung kena tabok katananya Kenzi.


"Dasar, Bapak gaada akhlak!!" gerutu perempuan itu. Ia ikut masuk ke kamar mandi. Berjongkok di samping wadah mandi Kai dan Rai.


"Minggir!!"


Reyhan beranjak dari posisinya. Berdiri di belakang Kenzi dan ikut melihat aktivitas yang dilakukan perempuan itu.


"Siapa suruh tadi nyuruh gue!"


**************


8 Bulan kemudian.......


"Kai.... Rai.... papa pulang...."


Seruan dari arah pintu membuat dua anak yang tengah duduk di lantai dengan beragam mainannya menoleh. Tawa bahagia menghiasi keduanya saat melihat ada sosok pria yang kehadirannya selalu mereka nantikan.


Reyhan berjongkok sembari merentangkan kedua tangannya. Dengan tawa lucu dan nada bicara khas bayi, Kai dan Rai berlomba-lomba merangkak menuju sang ayah yang menunggu di depan sana.


Reyhan tersenyum bahagia. Melihat kedua putranya tertawa riang membuat rasa lelahnya setelah seharian bekerja hilang seketika.


"Pappa..." Kairen lebih dulu sampai. Ia merentangkan tangannya, meminta digendong. Dan Reyhan langsung menuruti. Ia mengangkat bayi itu ke dalam pangkuannya, menciumi pipinya hingga membuat sang putra tertawa geli.


Raizel yang melihat itu mengerucutkan bibirnya, merasa terabaikan. Reyhan yang menyadari itu terkekeh kecil. Ia mengulurkan tangan kanannya kepada bayi itu diiringi senyuman.


"Ayo....."


Ia kembali merangkak menuju sang ayah dan ikut naik ke gendongan pria yang menjadi superhero pertamanya.


"Baru pulang bukannya mandi dulu malah langsung pegang anak!" tegur Kenzi yang baru kembali dari dapur sembari membawa beraneka ragam makanan ringan di tangannya.


"Mau ada tamu?" Bukannya menjawab, pria itu malah melontarkan pertanyaan lain hingga membuat Kenzi mendengus kesal.


"Bang Devan mau kesini katanya. Mungkin bentar lagi nyampek!"


"ADEKKK, ABANG DATENG NIHH!!" teriakan dari teras membuat semua orang yang ada disana menoleh. Kenzi hanya geleng-geleng kepala, tentu dia tau siapa pelakunya.


"Tuh orang makin tua malah makin oke aja gilanya!"


"Awas Yang, ati-ati digigit!" peringat Reyhan dengan nada seolah waspada.


"Kakak aku bukan serigala berkepala onta!"


"Siapa yang ngatain gue onta?!" Devano yang tiba-tiba masuk membuat semua orang menatap kearahnya. Tak terkecuali Kai dan Rai yang tengah berpegangan pada kedua bahu sang ayah.


"Kenzi yang ngatain Bang!" tuding Reyhan dengan cepat.


"Dih, Kok aku sih?!" Kenzi melotot tak terima. Nama baiknya terasa tercoreng karena lakinya sendiri.


"Kan emang kamu yang bilang kalo Bang Devan mirip onta!" Reyhan tetap meneruskan aksinya, jurus ngibul no-jutstu.


"Wahh, minta dipecat jadi adek orang terganteng se-RT nih anak!" timpal Devano sambil geleng-geleng kepala. Menatap kearah adiknya dengan wajah pongah.


"Bodo lahh, sebel deh gue!!"


"Rai, Kai ikut mama aja yuk!. Gausah dengerin papa kamu yang lagi ketempelan naruto goyang. Entar ikutan gila!!"


"Ehh, ponakan gue mau lo bawa kemane?!. Gue bawain ikan malah anaknya lo ajak minggat!" seruan Devano membuat tindakan Kenzi tang hendak mengambil alih Kai dan Rai terhenti. Ia melirik kearah tangan kakaknya, terdapat dua buah kantung plastik berisi ikan hias warna biru dan merah.


"Abang ihh, kok lo kasih mereka ikan lagi sih!!. Lo tau sendiri kan, Kairen sama Raizel tuh demen bikin ikan mabok!!" cerocos Kenzi panjang lebar, namun Devano tak peduli.


Ia meletakkan kedua kantong plastik di lantai dan beralih mengambil Kai dan Rai dari gendongan sang Ayah.


"Baby, liat deh. Ikannya bagus kan?, nggak mati dalem aer" Jiwa Om sesat meronta-ronta, membuat Kenzi dan Reyhan tepuk jidat.


"Lo sendirian Bang?, Via mana?" tanya Reyhan sembari celingak-celinguk mencari kehadiran sosok peremouan berambut cokelat yang biasa ikut kemanapun Devano pergi.


"Di rumah, lagi main sama Satya"


Di tengah obrolan orangtuanya, Raizel mengambil kantong plastik berisi ikan berwarna merah. Ia mengocok kantong itu ke atas dan ke bawah dengan cepat hingga membuat ikan di dalamnya terhuyung mengikuti arah gerak air.


"Tuh kan..... abang sih!!" desis Kenzi dengan kesal. Dari dua hari yang lalu Devano selalu membawakan ikan hias untuk Kai dan Rai, dan ikan hias itu pasti akan menemukan ajalnya jika sudah bertemu dengan dua bocah kesayangan Reyzi.


Seakan tak mau kalah dengan sang adik, Kairen ikut mengambil kantong plastik yang satunya lagi. Ia meletakkan kantong itu di depannya.


"Itan..." suara imut seorang Kairen kembali terdengar. Dengan gerakan penuh semangat, bayi itu memukul-mukul plastik tadi menggunakan tangan kecilnya. Memang tidak terlalu keras, tapi jika terus-menerus bisa dipastikan jika plastik itu akan pecah.


"Yang, anak kamu tuh!!" tukas Kenzi sembari menatap pasrah kearah Reyhan. Pria itu mengangkat kedua alisnya, seakan ikut tidak bisa berbuat apa-apa.


pyarrr


Bunyi dari arah Kairen membuat semua orang spontan menoleh. Anak kecil itu hanya diam sembari menatap ke lantai, tepat pada air yang menggenang. Plastiknya pecah, ikannya terkapar goyang-goyang kayak orang kesurupan dan Kairen tertawa senang melihat ikan itu. Sedangkan Raizel, Ia menatap intens kearah ikan di dalam kantong yang sudah tak bergerak. Padahal dia masih asik main kocok air.


Kenzi langsung tepuk jidat saat melihat kelakuan dua putranya, sedangkan Devano dan Reyhan hanya geleng-geleng kepala.


"Anak lo gini Ken!" Devano mengacungkan jari jempolnya kearah Kenzi sedangkan perempuan itu hanya tertawa garing.


"Ma.... ati" Raizel mengangkat kantong plastiknya, seakan menunjukkan ikan yang sudah mati itu kepada sang mama. Perempuan itu tersenyum sebagai jawaban. Ia mengelus rambut Raizel menggunakan tangan kanannya.


"Nggak papa, besok di beliin Om lagi" ucapnya dengan nada halus. Mulut bilang gapapa tapi di hati serasa pengen jungkir balik dari bulan ke kerak bumi.


Reyhan segera mengangkat Kairen dan Raizel kegendongannya saat melihat banyak genangan air di dekat mereka.


"Basah ya Nak?. Mandi bareng Papa yuk!" tawaran itu langsung diangguki oleh Kai dan Rai dengan semangat. Menikmati waktu berdua dengan sang ayah adalah hal yang paling mereka sukai.


...**Bagi yang nanya aku selama ini kemana, aku disini kok guys. Memantau kalian dengan estetik dari rumah. Dan kalo kalian nanya kenapa aku lama nggak up, aku bener-bener nggak ada waktu buat buka NT apalagi nulis. Nggak sempet. Selesai daring jam 4 sore, belum ngerjain tugas ini itu yang rata-rata deadline. Bisa-bisa malem aku baru selesai semuanya, itupun sama ortu nggak dibolehin pegang HP lagi, katanya takut mataku minus....


...Apalagi kinerja NT nggak kayak dulu lagi. Aku mau buka aplikasinya aja harus nunggu lama banget, belum lagi kalo ada ngebug or kadang keluar sendiri dari platform. Kalo nggak mengingat ada kalian dan popularitas novel yang udah oke, mungkin aku bakal pindah ke platform lain. Yang lebih menguntungkan dan yang pasti nggak banyak kendala kayak NT versi sekarang....


...Aku mau ngucapin makasihhhh banget buat kalian yang udah mau nunggu, yang udah ikutin cerita ini dari awal sampek sekarang, dan yang udah ngasih like, coment, vote, dan gift dengan ikhlas. Aku bener-bener ngucapin makasih. Novel ini nggak akan sesukses sekarang tanpa kalian guys**:)...


...Happy reading, jangan lupa like, comentnya, stay happiness for you all, and I love you😍...