Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Putrinya William



Sudah dua minggu sejak kehadiran Sella di kelas XI Ipa 1. Semua berjalan dengan normal tanpa kendala. Dan seperti biasa, gadis satu ini selalu menguji kesabaran guru penunggu ruang Bk. Dengan tampang garangnya, Pak Jamal menatap Kenzi yang sedang duduk santai sambil memainkan kuku cantik yang ia milikki


"Jadi, bisa kamu jelaskan tentang kejadian ini?" tanya Pak Jamal dengan santai namun tegas.


Kenzi menghela nafas panjang. ia menatap balik Pak Jamal dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.


"Nggak" ucap Kenzi dengan singkat namun menjengkelkan.


Pak Jamal memijit pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak terasa pening saat menghadapi siswi satu ini.


"Apa kamu tau?, siswa yang kamu patahin tangannya tadi itu adalah putra dari salah satu donatur sekolahan ini!!. Kalau sampai mereka mencabut dana yang sudah mereka tanamkan di sekolah ini, kamu mau tanggung jawab, hah?!" geram Pak Jamal sambil mengetatkan gigi-giginya.


"Mungkin.....enggak" jawab Kenzi dengan wajah tengilnya yang membuat Pak Jamal ingin sekali memanggang gadis ini hidup-hidup.


Tiba-tiba, pintu ruangan dibuka kasar oleh seseorang. Kenzi dan Pak Jamal menoleh secara bersamaan kepada seseorang yang baru saja masuk ruangan.


Terlihat seorang wanita dan pria paruhbaya masuk dengan wajah merah padam. Pak Jamal langsung menundukkan kepalanya saat melihat orang ini. Lain halnya dengan Kenzi, gadis itu malah menatap mereka dengan wajah tanpa dosa.


"Pak, kenapa anak saya bisa sampai seperti ini?!. Dimana tanggung jawab kalian sebagai guru?!, Apa kalian tidak mengawasi semua siswa kalian sampai-sampai anak saya menjadi korban pembullyan hah?!" geram wanita itu dengan mata yang melotot tajam ke arah Pak Jamal.


"Maaf atas kelalaian kami, Nyonya" ucap Pak Jamal sambil menunduk.


"Siapa yang sudah berani mencelakai putra saya?, biar kami memberi pelajaran yang setimpal kepada bocah sialan itu!!" tukas pria itu.


Pak Jamal hanya diam. ia melirik kearah Kenzi yang sedang duduk santai seperti orang tidak memiliki kesalahan apapun. Menyadari jika ada yang melihatnya, Kenzi menatap balik Pak Jamal. Sebuah putaran bola mata gadis itu berikan kepada guru tersayangnya satu ini.


"Saya" ucap Kenzi seraya berdiri dari duduknya dan menatap dua orang ini tanpa rasa takut.


"Oh, ternyata hanya seorang gadis ingusan. Berani sekali kamu mencari masalah dengan keluarga kami!" desis wanita itu dengan senyum meremehkan.


Kenzi ikut tersenyum miring saat mendengar cibiran yang ditujukan untuk dirinya. Dengan wajah angkuh, ia menatap dua orang itu secara bergantian.


"Keluarga anda sangat tidak pantas untuk saya takuti!" lihatlah, betapa jiwa songong seorang Allia sangat melekat dalam diri Kenzi. Sedikit berucap saja, dua orang itu sudah terpancing emosi.


"Dasar tidak punya sopan santun!!... anak berandal!!. Saya yakin, kamu pasti bisa sekolah disini karena mendapat beasiswa. Secara, mana mungkin orang amburadul seperti kamu bisa sekolah di tempat elite kayak gini." cibiran terus terlontar dari mulut wanita itu.


"Saya anggap itu sebuah pujian" sahut Kenzi acuh. ia kembali duduk dengan kedua kaki yang ia letakkan diatas meja. Melihat tingkah Kenzi membuat sepasang suami istri ini semakin kesal. Mereka kompak menatap Pak Jamal yang sedang sibuk memelototi Kenzi.


"Pak!" sentak pria itu. Pak Jamal yang agak terkejut langsung menoleh kearah pria yang memanggilnya.


"Saya ingin bertemu dengan kepala sekolah ini. Saya mau gadis ini dikeluarkan sekarang juga!" seru pria itu. Kenzi menaikkan sebelah alisnya dengan bibir yang tersenyum miring. Orang ini benar-benar menantangnya ternyata.


Tak ingin menjadi sasaran amukan, Pak Jamal keluar ruangan dan pergi menuju ruang kepala sekolah. Kenzi duduk sambil mengetuk-ngetukkan kuku jarinya di pegangan kursi. Setiap gerakannya tak lepas dari sorot mata tajam emak-emak yang sedang satu ruangan dengannya ini.


"Bu, kemaren tetangga saya ada yang matanya ngegelinding di tengah jalan gara-gara sering melototin orang. Ibu nggak takut kalo nanti mata ibu jatoh disini?, saya nggak mau bantu masangin ya bu kalo beneran kejadian" ucap Kenzi sambil terkekeh.


"Kamu....-


Ucapan wanita itu terhenti tatkala pintu ruangan terbuka dan masuklah Pak kepsek dengan diikuti Pak Jamal dibelakangnya. Pak kepsek sedikit terkejut saat melihat kehadiran Kenzi. Namun ia berusaha bersikap santai.


"Tidak perlu berbasa-basi!, kedatangan kami kesini adalah untuk menanyakan dimana tanggung jawab kalian sebagai guru?!. Sampai-sampai anak saya terluka. Saya nggak mau tau, pokoknya gadis ini harus dikeluarkan dari sekolah ini sekarang juga!!" ucap pria itu dengan tegas.


Pak kepsek menatap Kenzi yang juga menatapnya. Kepala sekolah itu kemudian beralih menatap kedua orang itu.


"Maaf atas kelalaian kami Tuan, Nyonya. Tapi, saya tidak bisa jika harus mengeluarkan gadis ini dari sekolah" ucap Pak kepsek.


"Kenapa tidak bisa?!. Hanya untuk mengeluarkan seorang gadis seperti ini kalian tidak sanggup?!. Jangan lupa jika saya menanam saham disini, bisa saja saya mencabut saham itu jika kalian tidak menuruti permintaan kami" ucap pria itu dengan angkuh.


"Kenapa anda sangat menyombongkan saham anda yang hanya 8% itu, Tuan Fendi" Kenzi menurunkan kakinya. ia lalu berdiri dengan wajah songong yang ia pasang sejak tadi. Pak kepsek menundukkan kepala saat melihat Kenzi ikut bicara. Pak Jamal yang melihat itu heran dibuatnya.


"Darimana kamu tau nama saya?" ucap Pak Ferdi bingung.


"Lagipula, meskipun saham kami hanya 8% disini, itu sudah kebih dari cukup jika hanya untuk mengeluarkan seorang siswi seperti kamu!" tambah istrinya.


"Sepertinya, kita harus menyelesaikan sedikit kesalahpahaman" ucap Kenzi.


"Kalian memiliki saham 8% disini. Sedangkan keluarga Rossa, Prisilla, Sonya, dan Siska masing-mansing memiliki saham 5%. Dan jika dijumlahkan, ada 28% saham yang dipunyai. Untuk sisanya, ada 72% saham disini. Dan apa kalian tau siapa pemiliknya?" ucap Kenzi.


"Jelas pemiliknya adalah Keluarga Aleskey" jawab wanita itu dengan cepat. Meski masih bingung, namun ia masih tetap menjawab pertanyaan Kenzi.


Kenzi tersenyum miring saat mendengar jawaban wanita dihadapannya.


"Perkenalkan, nama saya Kenzia Nastasya Aleskey. Putri kandung dari William Aleskey dan Allia, pemilik sah sekolahan ini. Dan yang perlu kalian tau, 72% saham itu sudah Daddy saya berikan kepada saya dan kakak saya. Kakak saya memiliki saham disini sebesar 30%, sedangkan saya memiliki saham 42%. Jauh......lebih besar dari yang anda miliki Nyonya. Jadi, siapakah yang harus keluar dari sini, saya atau putra anda?" ucap Kenzi sambil tersenyum licik.


Semua orang terkejut bukan main, kecuali Pak kepsek yang memang mengetahui siapa Kenzi sebenarnya. ia hanya diam membiarkan anak bossnya bertingkah sesuka hati.


"A-al-aleskey?" gumam Pak Fendi gugup.


"Non-nona, saya mohon maafkan saya. Saya benar-benar tidak tau jika Anda adalah putri Pak William. Saya sangat-sangat minta maaf atas kelancangan mulut saya" ucap istri Pak Fendi memelas sambil memegang lengan Kenzi.


Kenzi hanya menatap sinis otang dihadapannya ini.


"Dasar penjilat!!"


"Pak, saya mau putra dari nyonya ini dikeluarkan dari sekolah ini. Sejarang juga!!" titah Kenzi.


"Baik, Nona" sahut Pak kepsek dengan patuh. Kenzi bisa melihat sorot mata kekhawatiran yang terpancar dari mata wanita dihadapannya. Namun ia tak peduli, ia paling benci dengan hinaan. Dan dengan lancangnya orang ini malah menghina Kenzi.


Jelas sepasang suami istri ini bingung saat mendengar bahwa putranya dikeluarkan dari sekolah. Karena siapapun yang dikeluarkan secara tidak hormat dari SMA Dharma Bangsa, pasti tidak akan bisa diterima di sekolah manapun. Itu sebabnya semua orang sangat menjaga sikap jika berada dilingkungan sekolah ini, minus Reyhan dan Kenzi dkk.


Setelah mengucapkan itu, Kenzi keluar ruang Bk untuk menemui teman-temannya yang menunggunya diluar.


"Gimana?" tanya Reyhan saat melihat Kenzi datang menghampiri.


"Beres....." jawab Kenzi sambil menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya sehingga membentuk huruf O.


"Anaknya Pak William dilawan" timpal Reza yang disusul tawa teman-temannya.