
Gadis cantik itu turun dari ojek online yang ditumpanginya. Seusai membayar, ia masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Rumahnya memang tak terlalu besar, namun rumah tersebut cukup nyaman jika hanya untuk ditinggali olehnya dan sang ibu. Gadis itu memutar knop pintu berwarna coklat itu. Saat pintu terbuka sempurna, nampak sosok wanita paruhbaya sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.
"Udah pulang, Vi?" ucap wanita itu sambil tersenyum hangat kearah putrinya.
"Iya, Bu" jawab Via sambil menyalami mencium punggung tangan sang ibu. Ia kemudian duduk tepat disamping ibunya lalu menyandarkan punggungnya disandaran sofa.
"Gimana kuliah kamu?" tanya ibu Via.
"Lancar kok bu, kalo butik ibu gimana?" jawab Via sekaligus bertanya.
"Butiknya juga lancar. Banyak pembeli yang dateng meskipun butik ibu terbilang masih baru!" jawab ibunya dengan senang. Via ikut tersenyum saat melihat wajah sang ibu yang terlihat gembira. Ia akan sangat senang jika ibunya juga senang.
"Sebenernya ibu bisa lho Vi buat nguliahin kamu tanpa lewat jalur beasiswa. Ibu takut kamu terbebani dengan prosedur yang ada disana. Pasti sebagai mahasiswi yang kuliah lewat jalur beasiswa diberi kewajiban yang lebih berat. Ibu takut kamu tertekan sayang" cemas sang ibu. Via tersenyum. Ia menggenggam hangat tangan ibunya berusaha agar ibunya tak terlalu khawatir.
"Aku gapapa kok bu. Aku nggak mau menambah beban ibu sama ayah. Kalian udah harus mikirin kesembuhannya Kak Bima, aku nggak mau kalian tambah terbebani kalo harus mikirin biaya kuliah aku. Aku tau biaya pengobatan Kak Bima itu nggak murah, jadi biar aku jalanin ini aja ya bu. Aku nggak masalah kok!. Lagian tujuan kita kesini kan buat pengobatannya Kak Bima, tapi ternyata tuhan kasih aku rezeki dengan aku dapet beasiswa. Mungkin ini emang jalan yang di kasih sama tuhan buat pendidikan aku, Bu." jelas Via dengan senyuman.
"Kamu memang anak baik" puji Gita sambil mengelus kepala Via dengan sayang. Via tersenyum manis kearah ibunya.
"Kalo gitu Via ke kamar dulu ya bu. Mau mandi" pamit Via yang dibalas anggukan oleh Gita.
Via beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya yang terletak paling ujung. Rumah mereka hanya terdiri dari satu lantai, namun rumah itu cukup luas jika hanya untuk ditempati oleh mereka sekeluarga.
Via merebahkan tubuhnya di ranjang. ia menatap langit-langit kamarnya yang bernuansa putih dengan tatapan sayu.
"Kuliah lewat jalur beasiswa emang berat. Tapi gue nggak mau nyusahin ayah sama ibu dengan harus biayain kuliah gue. Biayain pengobatan Kak Bima aja mereka harus putar otak, apalagi kalo harus tambah biayain kuliah gue." Via menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya disandaran ranjang. Tangan kanannya meraih sebuah bingkai foto yang selalu ia letakkan disamping tempat tidur. Sudut bibir Via tertarik membentuk sebuah senyuman saat melihat foto dirinya bersama keluarganya. ia memandangi sosok pemuda tampan yang berdiri disampingnya dalam foto itu.
"Kak, cepet sadar ya. Gue kangen....banget sama lo. Lo betah banget sih tidurnya...lagi mimpiin cewek cantik ya?!" Via terkekeh kecil dengan mata yang mengembun siap mengeluarkan air mata.
"Gue ngalah kak, demi lo. Demi keluarga kita. Lo cepet bangun ya. Nanti kita main kejar-kejaran lagi kayak dulu. Makan bareng, nongkrong bareng, terus nanti lo ajarin gue karate lagi ya?. Gue sayang lo kak, I miss you brother, I miss you so much" Via menangis terisak sambil memandangi foto sang kakak yang sedang tersenyum menghadap kamera. Hatinya mendesir saat mengingat bagaimana kondisi kakaknya kala itu. Sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawa kakaknya. Namun sepertinya tuhan masih memberikan kehidupan untuk sang kakak hingga kakaknya masih bisa hidup sampai sekarang meskipun dengan kondisi tertidur.