
"Bima" gumam Kenzi, Rossa dan Lena secara bersamaan.
Seorang lelaki yang diketahui bernama Bima masuk ke dalam ruangan bersama Reyhan dan Marco di belakangnya. Sedangkan Big Seven yang lain sedang di luar untuk mengamankan tempat. Dahi Reyhan mengerut bingung melihat reaksi yang ditunjukkan tiga gadis itu.
"Mereka saling kenal?" gumam Reyhan dalam hati.
"Bim, itu lo?" cicit Kenzi dengan wajah seolah tak percaya. Pemuda itu tersenyum manis sambil menatap Kenzi dengan tatapan lembut.
"Yaa, ini gue. Lo masih inget gue kan?" Bima semakin berjalan mendekat kearah Kenzi hingga seruan Sella menghentikannya.
"Berhenti atau dia gue tembak!!!" Selka menodongkan pistolnya kearah Kenzi hingga membuat semua orang memekik kaget. Bima menghentikan langkahnya begitu juga dengan Reyhan. Mereka tak ingin gadis itu semakin terancam.
"Turunin pistol lo!!!" seru Reyhan seraya menatap tajam kearah Sella yang sedang menyeringai puas.
"Kenapa?, lo takut dia mati?!" sinis Sella tanpa merubah posisinya sedikitpun. Kenzi menghentak-hentakkan tubuhnya, berusaha sekuat tenaga agar ikatan itu bisa terlepas meskipun mustahil.
"Gue bunuh lo Sell!!!" Reyhan hendak maju namun Marco menahan bahunya. Memberi isyarat agar ia tidak gegabah dalam mengambil tindakan. Nyawa Kenzi taruhannya disini.
"Tahan diri lo" bisik Marco yang membuat Reyhan berdecak. Ia mendengus kesal seraya mengalihkan pandangannya kearah lain. Kekasihnya disekap, bisa-bisanya dia disuruh menahan diri. Sehat nggak ngana?!.
"Boleh nggak sih gue bilang kalo lo itu bodoh?!" tanya Bima dengan nada sinis kepada Sella. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya, menatap kearah Bima dengan tatapan membunuh.
"Ada yang salah?!. Gue ngelakuin ini buat saudara gue, apa itu tindakan bodoh?!" tanya balik Sella sambil tersenyum licik.
"Dengan berat hati gue harus bilang kalo lo itu bodoh!!. Lo itu cuma orang baru yang nggak tau apa-apa dan bersikap seolah sok benar hanya karena mendengar cerita nggak bermutu dari saudara sialan lo itu!!. Apa lo tau kebenarannya?!, apa lo tau gimana asal-usul saudara yang lo bela-belain sekarang?!" Bima mengetatkan gigi-giginya dengan kesal saat pandangan beralih kepada Rossa yang sedang memasang wajah polos-polos bangsatt.
"Gue percaya sama saudara gue. Gue yakin, dia bicara apa adanya!!" sahut Sella dengan penuh keyakinan.
Bima tersenyum miring, seolah meremehkan apa yang barusan gadis itu ucapkan.
"Apa lo punya bukti?!" pertanyaan itu sukses membuat Sella bungkam.
"Apa dia pernah nunjukin bukti dan juga saksi kalo selama ini dia memang korban dan Kenzi adalah pelakunya?!" Sella tetap bungkam saat Bima terus melontarkan pertanyaan untuknya. Dia tidak bisa menjawab.
Keterdiaman gadis itu membuat Bima melebarkan senyumannya.
"Kenapa lo diem?!, nggak bisa jawab kan?!" ledek Bima sambil menyeringai puas. Ia kemudian mengalihkan atensi nya kearah Kenzi yang juga sedang menatapnya.
"Kali ini biarin gue ngelakuin suatu hal yang berarti buat lo, Ken" gumam Bima dalam hati sambil tersenyum tulus menatap Kenzi yang tengah terikat.
Pemuda itu kemudian kembali menatap tiga orang gadis di depannya. Ia bersendekap dada, menatap mereka seolah menantang.
"Gue harus bilang kenyataan ini ke lo semua. ROSSA ITU PEMBOHONG, DIA PENGKHIANAT, DIA JUGA YANG UDAH NYEBABIN ANDRE MENINGGAL!!!"Sarkas Bims dengan lantang seraya menunjuk marah kearah Rossa.
"Lo ngomong apa sih, Bim?!" desis Lena yang bingung dengan situasi ini. Sebenarnya siapa yang salah?!.
"Seperti yang gue bilang tadi Len, lo salah mempercayai orang!!" sahut Bima yang membuat Lena semakin bingung. Ia menengok kearah Rossa, meminta penjelasan lewat sorot matanya.
"GUE NGGAK SEPERTI YANG LO OMONGIN BANGSATT!!!" seru Rossa dengan wajah pias.
"DIEM LO J*LANG!!!!" bentak Bima dengan tatapan tajamnya. Andai Kenzi tidak dalam situasi seperti ini, mungkin dia sudah membunuh gadis itu saat ini juga.
Ia kemudian menatap kearah Sella yang sedang menatap bingung kearah Rossa. Sepertinya mereka benar-benar berhasil Diperdayai oleh gadis itu.
"Gue harus nyampein ini. Sebelum kesalah pahaman ini semakin berlanjut dan kalian semakin dibeggo-beggoin sama Rossa" ucap Bima sambil menatap kearah Sella dan Lena bergantian.
Flashback On
"Terima.....!!!! terima.....!!!! terima.....!!!!" sorakan dari seluruh pengunjung Mall memenuhi tempat itu saat seorang remaja laki-laki sedang berlutut di depan seorang gadis yang begitu dicintainya. Senyuman pemuda itu tak luntur sama sekali meskipun lututnya sudah pegal sejaj tadi. Ia tidak akan berdiri sebelum mendengar jawaban 'iya' dari gadis itu.
"Sekali lagi gue tanya sama lo Ken, Will you be my girlfriend?" tanya pemuda tampan itu sekali lagi, Andre.
Andre Fransisco, anak pertama dari seorang pengusaha tambang. Ia memiliki seorang adik perempuan, Lenatalia Fransisca.
Gadis itu mengangguk dengan senyum bahagia di bibirnya.
"Iyaa, gue mau" sahut Kenzi yang membuat Andre bersorak senang. Pemuda itu berdiri, memeluknya dengan erat seolah tak membiarkannya pergi dari sisinya.
"Thanks, My Be. I Love You" bisik Andre ditelinga Kenzi. Gadis itu tersenyum senang, pemuda yang ia cintai akhirnya membalas cintanya.
Tepuk tangan para pengunjung yang ada disana mengiringi dua orang remaja yang tengah dimabuk asmara itu. Andre merangkul bahu Kenzi dengan mesra, mengajak gadis itu untuk berkeliling dan menikmati waktu bersama.
Ditengah kerumunan orang yang ikut berbahagia atas jadiannya Andre dan Kenzi, seorang gadis menatap penuh kebencian kearah mereka.
"Kenapa lo selalu dapetin apa yang gue mau Ken?!. Kenapa lo selalu rebut apapun milik gue?!. Gue benci sama lo!!!" desis Rossa seraya menatap tajam kearah Kenzi yang sedang berbahagia.
.
.
.
Tiga bulan lamanya hubungan Kenzi dan Andre berjalan dengan lancar. Pemuda itu selalu bisa membuatnya merasa bahagia dengan kejutan-kejutan kecil yang selalu ia berikan.
Malam itu, langit malam nampak cerah dengan bintang-bintang kecil yang bergelantungan. Kenzi berjalan beriringan dengan Bima di taman kota, pemuda yang menjadi sosok teman terdekatnya itu selalu mengajaknya untuk jalan-jalan. Apalagi saat malam minggu seperti ini.
"Gimana hubungan lo sama Andre?!" tanya Bima disela-sela langkah mereka.
Kenzi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Pandangannya lurus ke depan, menatap banyaknya orang yang datang di taman saat itu.
"Ya gitu dehh. Dia itu sweet banget ya amplop!!!. Gue jadi makin cinta dehhh" sorak Kenzi dengan alaynya.
"Dih, alay lo!!!" cibir Bima sambl melirik sekilas kearah Kenzi.
"Yee, biarin aja kali!!. Bilang aja lo iri!!" sahut Kenzi acuh. Ia terus berjalan dan Bima dengan setia mengikuti disampingnya.
"Kurang kerjaan banget gue iri sama lo!!" tukas Bima tanpa beban sama sekali.
"Oh ya, si Lena udah tau kalo lo pacaran sama abangnya?" tanya Bima lagi.
Kenzi tiba-tiba berhenti berjalan yang tentunya membuat Bima ikut berhenti.
"Belom. Dia kan masih di Swiss, gue bingung mau ngasih tau gimana" Gadis itu menoleh kearah Bima. Meminta saran lewat sorot matanya.
"Kalo gitu kasih taunya nunggu dia pulang aja" sahut Bima enteng tanpa beban.
"Bimaa..-
"Kakak!!!" ucapan Kenzi terhenti saat Bima memotong ucapannya.
"Lo harus manggil gue kakak!!. Gue itu lebih tua lima tahun dari lo ya!!. Sopan dikit dong" desis pemuda itu.
Kenzi memutar bola matanya jengah. Bima selalu saja menyuruhnya memanggil kakak. Namun dia tidak pernah melakukan hal itu.
"Iya, iya. KAKAK BIMA YANG JELEK" ledek Kenzi sambil menekan kata di akhir kalimatnya.
Bima hanya mendengus malas, sudah biasa baginya menghadapi sikap Kenzi yang terkadang membuat orang ingin bunuh diri. Hingga mata pemuda itu tiba-tiba menyipit saat matanya tak sengaja menangkap sosok seseorang yang ia kenali di sebrang sana.
"Ken...." lirih Bima tanpa mengalihkan pandangannya dari sana.
"Apa?" tanya Kenzi dengan nada malas.
"Itu....." Kenzi memutar tubuhnya untuk menatap sesuatu yang ditunjuk oleh Bima. Darah ditubuhnya mendidih seketika saar melihat ada Andre dan Rossa yang tengah berciuman mesra ditengah taman.
Plakkk
Sebuah tamparan keras Kenzi hadiahkan di pipi Andre hingga membuat pemuda itu terlonjak kaget. Matanya langsung membulat sempurna saat melihat kehadiran Kenzi. Ia segera berdiri, menggeggam tangan gadis itu namun langsung ditepis olehnya.
"Ken, aku bisa jelasin" ucap Andre dengan lirih.
"Apa yang mau lo jelasin heh?!. Gue nggak butuh penjelasan apa-apa dari lo!!!. Cowok brengsekk kayak lo emang pantesnya dibuang!!!" maki Kenzi sambil menunjuk wajah Andre menggunakan jari telunjuknya.
"Kita putus!!!!" serunya lagi.
Ia kemudian menatap kearah Rossa yang tengah termenung menatapnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Kini ia sadar, Ia salah memilih teman.
"Gue nggak nyangka Ros, ternyata lo sebusuk ini" desis Kenzi sambil menatap nanar kearah Rossa.
Kenzi meraih tangan Bima, mengajak pemuda itu pergi dari sana. Mengabaikan Andre yang masih terus memanggil namanya, Ia terlanjur kecewa.
Flashback Off
"Setelah itu, Kenzi mutusin untuk nenangin diri Ke Mexico. Selama itu pula gue tinggal di Kota B. Sampai suatu ketika gue denger kalo Andre meninggal. Rumornya dia mati karena bunuh diri, tapi gue nggak yakin kalo Andre ngelakuin hal sebodoh itu. Sampek suatu saat, gue tau kalo Kenzi udah balik ke Indonesia. Gue pun berinisiatif buat ngunjungin dia dan ngasih tau tentang kabar kematian Andre. Malem itu, gue berangkat ke Kota J naik motor. Tapi saat di tengah jalan gue malah mengetahui sebuah kenyataan yang nggak pernah gue duga sama sekali" Bima menjeda ucapannya untuk mengambil nafas panjang.
Kenzi diam membisu di posisi terikatnya. Ia menatap Bima dalam diam, membiarkan pemuda itu menyelesaikan kegiatan 'mendongengnya'
Flashback Again
Udara malam yang dingin menembus jaket kulit yang dikenakan Bima. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali matanya melirik ke kanan dan kiri untuk melihat pemandangan kota di malam hari.
Rasa haus yang begitu menyiksa membuat Bima menghentikan laju motornya. Di depan sebuah pedagang kaki lima, Bima membuka helm-nya lalu turun dari motor sport itu.
"Mas, air mineral satu" ucap Bima pada penunggu dagangan itu. Selembar uang sepuluh ribu ia keluarkan dari dalam dompet.
"Pas ya mas" Sebotol air mineral sudah berada dalam genggaman. Bima membuka tutup botolnya lalu meminum air itu sampai tersisa setengah.
"Perjalanan ke Kota J masih satu jam lagi" gumamnya seorang diri saat melihat jam yang tercantum di layar ponsel.
Ia kembali menaiki motornya, namun saat hendak memakai hel ia berhenti. Alis pemuda itu menyatu saat melihat sosok seorang gadis yang begitu ia kenali tengah berbincang dengan seorang pria.
"Rossa" gumam Bima dalam hati.
Entah mendapat bisikan dari mana, Ia berjalan mendekat kearah dua orang itu. Jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa meter, dan Bima dapat dengan jelas mendengar apa yang dua orang itu ucapkan.
"Gue kasih 100 juta. Tapi lo harus hapus semua rekaman CCTV dan juga barang bukti yang ada di gedung itu. Gue nggak mau dipenjara" ucap Rossa dengan nada tinggi.
"Kalo nggak mau dipenjara, kenapa lo bunuh dia?!. Sekarang lo tanggung sendiri kan akibatnya" sahut pria itu seolah tak peduli.
"Ayolah Ris. Gue nggak sengaja, gue nggak bermaksud buat Andre jatuh dari atas gedung itu, waktu itu kita sama-sama emosi. Please lah Ris, bantuin gue" mohon Rossa dengan gusar. Terlihat dari wajahnya, gadis itu benar-benar ketakutan.
"Gue nggak mau 100 juta" ucap pria yang bernama Aris itu sambil bersendekap dada.
"Terus lo mau berapa?!" desis Rossa dengan tatapan jengkel kearah pria di depannya.
Pria itu tersenyum senang. Ia mengangkat lima jarinya seraya berkata.
"500 juta"
Rossa menganga tak percaya. Bisa-bisa pria itu memerasnya.
"Lo gila ya?!. Itu banyak banget!!" pekik Rossa
"Mau atau nggak?!. Pilihan ada di tangan lo" Aris masih bersikap acuh. Seolah dia lah yang paling berpengaruh disini.
Rossa mendesah berat. Tak ada pilihan lain.
"Oke. 500 juta. Tapi pastiin semua barang bukti aman dan nggak ada yang menyeret nama gue"
"JADI LO YANG UDAH NYEBABIN ANDRE MENINGGAL?!" seruan itu sontak membuat Rossa dan Aris menengok. Mata mereka langsung membulat sempurna saar melihat Bima tengah berdiri di belakangnya.
"Bima...." lirih Rossa dengan wajah pias.
"Lo bener-bener gila Ross!!!. Gue bakal laporin lo ke polisi!!!"
Bima berbalik arah. Ia berlari kencang kearah motornya dan langsung mengendarai motor itu.
"BIM.... BIMA!!!" teriak Rossa yang pastinya tak digubris sama sekali. Ia menengok kearah Aris disampingnya.
"Beresin dia!!" titah Rossa yang langsung diangguki pemuda itu. Ia mengejar Bima menggunakan mobil. Menabrak pemuda itu dari belakang hingga membuatnya koma selama 4 tahun.
Flashback Off
Lena terduduk di lantai saat mendengar sebuah fakta yang baru ia ketahui. Kakinya terasa lemas seketika saat tau bahwa seseorang yang mengajaknya kerja sama adalah musuh yang sebenarnya. Kenzi dan yang lain pun juga sama terkejutnya. Karena mereka benar-benar tidak mengetahui hal ini. Hanya Bima yang mengetahuinya.
Sella menjatuhkan pistol yang ia genggam. Ia menunduk dengan nafas yang naik turun. Apa-apaan ini?, dia dibohongi setelah semua yang ia lakukan untuk Rossa?, jadi selama ini usahanya salah?!.
"Ross, bilang ke gue kali cerita itu bohong" cicit Sella sambil menatap nanar kearah Rossa yang tengah menunduk takut.
Gadis itu masih terus menunduk dengan wajah ketakutan saat semua orang menatapnya. Hingga beberapa saat, seringaian iblis terpatri di wajahnya. Ia mendongak, menatap semua orang dengan wajah bengis seolah tak berdosa.
"YA, SEMUA ITU BENER!!!" seru Rossa dengan lantang hingga membuat semua orang menatapnya tak percaya.
"Ross" cicit Sella sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu semua bener!!. Gue, gue yang udah buat Andre mati!!!. Dan lo tau Ken, gue ngelakuin itu semua gara-gara lo!!!"
"Gara-gara lo, gue kehilangan anak gue!!!"
Mulut Kenzi menganga tak percaya. Rossa punya anak?!.
"Andai lo nggak pernah ada di hidup Andre, pasti dia mau tanggung jawab atas anak yang gue kandung saat itu!!!. Tapi karena lo, dia nggak mau tanggung jawab dan malah dorong gue sampek gue keguguran!!!"
Nafas Rossa terengah-engah saat meluapkan kenangan pahit itu. Kenzi hanya mampu diam, otaknya terlalu sulit untuk mencerna ini semua.
"Tapi gue lega. Si brensekk itu udah mati!!!. Dia udah mati setelah jatuh dari atas gedung itu!!!. Dendam anak gue udah terbalaskan!!" tawa jahat keluar dari bibir Rossa hingga membuat semua orang tercengang menatapnya. Reyhan bahkan tak bisa berkutik. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Dan sekarang adalah saatnya untuk membalas dendam gue!!, gue benci lo Ken!!" Rosa mengambil pistol Sella yang tergeletak di lantai. Ia mengarahkan pistol itu kearah Kenzi. Mata semua orang langsung membola seketika. Tubuh Reyhan membeku, jantungnya seolah berhenti saat ini juga.
"Selamat tinggal, Kenzi" pelatuk pistol itu mulai ia tarik. Kenzi yang tak bisa berbuat apa-apa pun hanya bisa diam. Jika dia harus mati hari ini, dia ikhlas.
"KENZI!!!" Reyhan berlari kearah Kenzi dengan cepat. Kenzi menggelengkan kepalanya dengan wajah gusar. Jangan sampai Pemuda itu berkorban lagi untuknya.
Dorrrr
Timah panas itu meluncur dengan sempurna setelah pelatuk di lepaskan. Tubuh semua orang membeku di tempat setelah melihat kejadian itu. Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat hingga membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Bughhh
Dada Kenzi terasa sesak seketika saat melihat sebuah badan ambruk di depannya. Tenggorokannya terasa sangat sakit karena menahan tangisan. Kenapa ini harus terjadi?!.
*********
Ehm, cek.... cek.... satu dua tiga. Berhubung Bab ini banjir, saya sebagai ketua RT ingin bertanggung jawab. Setelah baca, coment, dan like, segera matikan hp, tarik selimut lalu tidur. Tidak usah terlalu difikirkan, ini cuma Novel ya semuaaa. Tapi kalo kalian baper, ya alhamdulillah. Berarti saya berbakat membuat mental orang down.🤣
Jangan lupa tinggalkan jejak, hapoy reading😘