Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
25 Hari Menuju Pertemuan



Mata Reyhan dan Kenzi mengamati pergerakan dua buah bongkahan yang sudah terlihat jelas di layar monitor USG dengan seksama. Transduser diputar dengan teratur di atas perut Kenzi yang sudah membesar, mencari visual si bayi untuk di tampilkan di layar monitor.


"Semuanya bagus. Janinnya sehat dan berkembang dengan sangat baik" sang dokter memberikan penjelasan dengan senyuman ramah yang tercetak jelas di wajahnya.


"Wajahnya mirip siapa ya Dok?" Kenzi mencubit pinggang Reyhan saat pria itu melontarkan sebuah pertanyaan dengan bodohnya. Ia meringis seraya mengusap pinggangnya yang terasa perih akibat cubitan Kenzi.


"Sakit Yang!!!. Kamu kenapa sih?!, cemburu?. Ya ampun Ken, aku kan cuma nanya ke Dokternya, kamu nggak usah cemburu. Toh Dokternya sama kamu masih cantikkan kamu" makin gila aja si calon bapak. Ngomong nggak dipikir dulu. Dia nggak tau aja kalo si Dokter udah masang wajah siap tarung egrang.


"Untung ada bininya, kalo nggak udah gue cekokin kiranti nih bujank" desis Dokter Veyna dalam hati.


"Kamu nihhh, kalo ngomong kadang-kadang suka bener" sahut si bumil dengan wajah tengilnya, lalu pasangan sableng tertawa bersama, mengabaikan sang dokter yang sedang mengelus dadanya yang fleksibel,


Rata maksudnya


tephos tau nggak?!


Kalo nggak tau, tanya ke aki.


"Lahirannya kira-kira kapan ya Dok?" tanya Reyhan saat mereka sudah duduk berhadapan di meja dokter Veyna. Kenzi ikut bergabung sembari dituntun oleh suster setelah di tensi dan lain-lain. Diusia kehamilan tua membuatnya kesulitan bergerak dan mudah lelah. Berat badannya pun bertambah drastis, tapi emang dasarnya dia nggak bisa gemuk jadi bentukan tubuhnya ya cuma segitu.


"Sekitar 3 mingguan lagi, atau perkiraan saya 25 hari. Terkadang, waktu persalinan ibu hamil itu berbeda-beda. Ada yang tepat waktu, lebih dari perkiraan, bahkan ada yang prematur karena suatu hal yang mendesak. Dan disini, saya lihat kandungan Ibu Kenzia bagus, semuanya sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jangan banyak pikiran ya Bu, hindari stres dan aktifitas yang berat-berat. Biasakan jalan-jalan pagi karena itu bagus untuk kesehatan, bisa mencegah bengkak, dan juga mempermudah sewaktu prosesi persalinan nanti" jelas Dokter itu panjang lebar yang disimak oleh Reyhan dan Kenzi dengan seksama.


"Pasti sakit banget ya Dok?" tanya Kenzi dengan wajah cemas. Perasaan takut tiba-tiba melingkupi hatinya, apalagi setelah mendengar cerita kerabat-kerabatnya yang sudah pernah melahirkan, membuat nyalinya menciut. Belum lagi berita yang pernah ia lihat di televisi, 'Seorang perempuan meninggal setelah melahirkan anaknya' atau 'Seorang bayi baru lahir meninggal dunia, menyisakan duka bagi orangtua dan sanak saudara'. Perasaannya semakin tak karuan.


Reyhan menggenggam tangan Kenzi yang berada diatas paha. Menyalurkan ketenangan dan juga kekuatan agar perempuan itu tidak terlalu khawatir. 'semua pasti baik-baik aja' begitulah sebuah isyarat yang dapat Kenzi tangkap dari sorot mata yang Reyhan berikan.


Dokter Veyna tersenyum simpul saat melihat rona kecemasan yang hadir di wajah Kenzi dan Reyhan. Sepuluh tahun menjadi dokter kandungan sudah membuatnya hafal dan paham akan perasaan yang dirasakan sebuah pasangan saat si perempuan akan melahirkan. Bahagia itu pasti, tapi rasa cemas dan takut itu pasti ada dan tidak bisa dipungkiri jika perasaan itu membuat seseorang yang merasakannya menjadi tidak tenang.


"Bukannya setiap kebahagiaan itu butuh perjuangan ya Bu?. Dan ini adalah perjuangan seorang perempuan yang sebenarnya, saya yakin Ibu bisa!!"


***************


Kenzi berjalan bolak-balik tanpa alas kaki di taman belakang rumahnya, menikmati sinar matahari pagi yang katanya baik untuk kesehatan. Sedangkan Reyhan, pria itu duduk di kursi taman dengan laptop yang berada di pangkuannya. Saat kehamilan Kenzi sudah memasuki trimester akhir, Ia memang lebih memilih untuk bekerja di rumah. Takut sewaktu-waktu ada hal yang tak diinginkan terjadi. Meeting pun dia hadiri via zoom dan berkas-berkas semua dikirim oleh Hanzo dan Faiz lewat email atau mereka antar ke rumahnya.


Reyhan mengalihkan atensinya dari angka-angka yang ada di laptop ke wajah sang istri. Ia ingat, hari ini memang akan ada tukang dekor yang akan mendekorasi kamar untuk Twins Boy.


"Iya, tadi Via udah telfon, katanya mereka dateng agak siangan" sahutnya yang dibalas anggukan oleh Kenzi.


Perempuan itu melanjutkan langkahnya dengan tangan yang setia mengelus perutnya yang sudah besar. Banyak yang bilang dia beruntung karena tidak seperti ibu hamil lain yang rata-rata mengalami morning sicknes di kehamilan pertama, dan ia mengakui hal itu. Tidak ada muntah atau yang lain, semua berjalan seperti biasa. Pengecualian untuk Reyhan yang harus pusing tujuh keliling gara-gara bingung menuruti permintaan anaknya.


"Aku kok takut ya kalo nginget-nginget tiga minggu lagi mau lahiran. Aku takut...-


Kenzi menggantungkan ucapannya, dan hal itu mengundang Reyhan untuk kembali mengentikan pekerjaan yang sedang pria itu kerjakan. Ia meletakkan laptopnya di kursi kemudian berjalan menghampiri Kenzi yang tengah menunduk. Memeluk perempuan itu dari belakang dan melingkarkan lengannya di perut Kenzi yang sudah tidak ramping lagi.


"Percaya sama aku, semua pasti baik-baik aja. Kamu perempuan hebat, perempuan tangguh yang pernah aku temuin. Kamu pasti bisa lewatin semuanya, ngelahirin anak-anak kita dengan selamat terus kita besarin mereka sampek mereka tumbuh jadi anak hebat kayak mamanya"


"Tapi aku takut. Gimana kalo...." suara serak keluar dari mulutnya. Rasa takut yang ia rasakan bukan main-main.


"Kamu harus positive thingking, jangan bayangin hal yang buruk-buruk. Tuhan nggak jahat. Dia pasti ngasih jalan yang terbaik buat kita. Dan kamu harus inget, kamu nggak sendirian. Ada aku, mama papa, daddy sama mommy yang selalu setia dampingi kamu disaat apapun"


Sebuah motivasi yang membuat perasaan Kenzi sedikit tenang. Ia berbalik badan, memeluk Reyhan dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


"Kalo nanti ada sesuatu hal terjadi, aku mohon sama kamu, please jaga mereka dan terus lanjutin hidup kamu ya. Dan satu yang perlu kamu inget, aku sayang kalian"


Hati Reyhan terasa sakit saat mendengar ucapan yang Kenzi ucapkan. Perasaan tidak tenang mulai menggerogoti hatinya, namun sekuat tenaga ia berusaha menepis hal itu. Asumsi bahwa semua akan baik dan akan tetap baik-baik saja ia terapkan dalam hatinya. Bahunya sebentar lagi akan menjadi sandaran tiga orang, mentalnya tidak boleh lemah dan Ia harus berusaha setegar mungkin untuk menguatkan keluarga kecionya yang sebentar lagi akan lengkap.


"Aku benci kamu ngomong gitu. Tapi aku tetep mengiyakan ucapan kamu. Hidup aku akan terus berlanjut, bersama kamu, bersama anak-anak kita"


...**Kasih konflik nggak ya?, Enaknya happy ending nggak ya?........


......Bikin readers darting nggak ya?......


Emmm, biar inces pikir-pikir dulu😆**