Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Restu Keluarga



Acara peresmian Mall telah usai, kini adalah saatnya prosesi tanya bertanya antara Reyhan dan Keluarga Kenzi dilakukan. Kumpulan orang berpengaruh itu kini berkumpul dalam satu ruangan yaitu ruang tengah Keluarga Aleskey.


Reyhan duduk seorang diri di Sofa tunggal, dihadapannya sudah ada Kenzi yang tengah duduk diapit oleh Devano, Allia, dan William yang menatap tajam kearahnya. Sedangkan Via sudah masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, sebagai seseorang yang hanya berstatus 'menantu', Ia cukup sadar diri dengan tidak ikut campur berlebihan tentang permasalahan keluarga ini.


William menyandarkan punggungnya disandaran Sofa sambil bersendekap dada. Matanya menatap kearah Reyhan dengan tatapan mengintimidasi, tetapi pemuda itu tidak merasa tersudut sama sekali meskipun ditatap demikian. Karena menurutnya tindakannya tidak salah, jadi tidak ada alasan untuk takut apalagi mundur hanya karena tatapan horror yang diberikan calon ayah mertua.


"Jadi, apa maksud kamu melamar putri saya di depan umum seperti tadi?" tanya William dengan nada santai namun mengandung peluru di dalamnya.


"Seperti yang saya katakan tadi, Om. Saya mencintai Kenzi, bahkan sangat mencintai Kenzi. Dan tujuan saya melamar Kenzi seperti tadi adalah saya ingin menjadikan putri bungsu om ini sebagai istri saya. Pendamping saya untuk seumur hidup, dan saya berharap om mau berlapang hati merestuinya" Reyhan menjawab dengan lugas dan penuh keyakinan.


William masih diam tak bereaksi. Allia dan Devano apalagi, mereka hanya duduk diam dengan telinga yang setia mendengarkan.


"Apa yang bisa kamu beri untuk putri saya?" tanya William lagi.


Reyhan sedikit mencondongkan punggungnya, jemari-jemari tangannya saling bertautan dan ia letakkan di depan lutut.


"Saya tidak bisa menjanjikan apapun, karena saya takut kalau saya mengingkarinya. Tapi saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Putri Om dan selalu berusaha membuatnya bahagia. Om bisa pegang omongan saya" Pemuda itu kembali menjawab dengan nada tenang, tidak menunjukkan kegentaran sedikitpun didalam nada suaranya.


Kenzi menggenggam kuat lengan ibunya saat melihat Reyhan tengah di 'interogasi' oleh sang ayah. Allua yang mengerti situasi mengusap bahu Kenzi pelan, Ia tau putrinya sedang gugup.


"Apa lo bersedia mengorbanin hidup lo buat adek gue?!. Demi kebahagiaan dia?!" Devano ikut menyahut setelah sekian lama terdiam.Sebagai seorang kakak yang pernah dilukai kepercayaannya, tidak mudah untuk Devano melepas adiknya begitu saja.


"Saya bahkan udah pernah melakukannya" senyum tipis itu terbit di bibir Reyhan dengan sempurna, seolah tak merasa terancam dengan situasi yang mencekam padahal punggungnya sudah dibasahi oleh keringat dingin.


Devano ikut tersenyum. Tentu ia ingat hal itu. Saat dimana Reyhan menyelamatkan nyawa adiknya yang berada di ujung tanduk dengan cara yang sangat heroik.


Pandangan William kemudian beralih kepada Kenzi yang duduk disampingnya. Tatapan hangat itu ia tujukan kepada sang putri, berbanding terbalik dengan tatapan yang ia berikan kepada Reyhan.


"Daddy tanya sama kamu, jawab dengan jujur dan tegas. Kamu cinta sama Reyhan?!" tanya William


"Yes, Dad" Kenzi menjawab dengan segera tanpa ragu sama sekali.


"Kamu mau jadi pendamping hidup Reyhan tanpa ada paksaan?"


"Aku mau, dan keputusan itu berasal dari diri aku sendiri, dari hati aku. Tanpa ada paksaan dari orang lain"


"Ehmm" deheman William sontak membuat Reyhan menengok dan salah tingkah layaknya orang tertangkap basah mencuri daleman tetangga yang besok mau dipake kondangan. Ia tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenzi adalah Putri bungsu kami, dan tentunya kami tidak akan memilih calon sembarang untuknya. Kamu orang yang baik dan bertanggungjawab, saya akui itu. Kenzi mencintai dan juga menginginkan Kamu, kami sebagai orang tua tidak berkuasa untuk melarang. Saya restui hubungan kalian, jaga dia baik-baik. Ini restu yang pertama dan terakhir. Sekali kamu menyakiti putri saya, bukan hanya kamu, tapi kehidupan kamu juga bisa saya hancurkan!!" Ucap William panjang lebar. Ucapan yang mengandung restu dan ancaman berhasil membuat bulu kuduk Reyhan berdiri. Calon mertuanya memang beda.


"Gue percayain dia ke lo. Ini untuk yang kedua kalinya, dan gue harap kali ini lo nggak mengecewakan. Gue nggak butuh janji-janji lo yang muluk-muluk. Gue cuma butuh bukti kalo lo bener-bener bisa buat dia selalu bahagia. Gue percaya sama lo!!" Devano menepuk bahu Reyhan beberapa kali, tanda jika dia sudah memaafkan pemuda itu. Percuma dia menentang jika adiknya mencintai, lebih baik merestui dan memilih jalan berdamai.


"Pasti Bang, saya akan berusaha buat Kenzi selalu bahagia"


*************


Gadis itu tersenyum kecil saat melihat video dari layar lapton yang ditunjukkan anak buahnya. Mulut gadis itu terbuka sedikit lalu keluarlah asap beracun darisana.


"Prosesi lamaran yang romantiss" ucapnya sambil menyeringai iblis.


"Kenapa Nona El membiarkan lamaran itu berlangsung?, bukankah Nona itu-...


"Sstttt" gadis itu memotong ucapan anak buahnya sambil mengayunkan telunjuknya ke depan, pertanda menyuruh untuk anak buahnya diam.


"Ini bukan saatnya. Biarkan dia berbahagia lebih dulu. Tapi saat rencana ku berjalan, peri penolongnya pun tidak akan bisa berkutik!!!"


Ia berdiri dari duduknya. Berjalan mengelilingi ruangan yang bisa dikatakan luas. Matanya memindai ke setiap lukisan yang berjajar rapi di dinding. Hingga matanya terpaku pada sebuah lukisan, bibir gadis itu melengkung membentuk sebuah seringaian iblis yang menyeramkan.


"Sebentar lagi, semua akan terbalaskan. Ini semua buat kamu, untuk Kamu Sister!!!!" ucap gadis itu dengan penuh penekanan. Jari telunjuknya mengusap wajah sesosok orang yang ada di dalam lukisan itu dengan perlahan.


"Ini semua untuk kamu, buat kamu!!!"


*************


**Guys maaf ya baru up, otak aku lagi buntu banget nihhh. Maaf juga up nya dikit, imajinasi lagi nggak memadai. Jangan lupa tinggalkan jejakkkk. Like coment-nya juga yaa....


Up lagi besok malem, see you next time😘**