Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Ditutup dengan Indah



"KENZI!!!" Reyhan berlari kearahnya dengan cepat. Kenzi menggelengkan kepalanya dengan wajah gusar. Jangan sampai Pemuda itu berkorban lagi untuknya.


Dorrrr


Timah panas itu meluncur dengan sempurna setelah pelatuk di lepaskan. Tubuh semua orang membeku di tempat setelah melihat kejadian itu. Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat hingga membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa.


"REYHAN, NGGAK!!!" Sella tersadar dari lamunannya. Ia segera berlari kearah Reyhan yang sudah berdiri di depan Kenzi. Menghalau peluru agar tidak mengenai pemuda itu.


Bughh


Tubuh Sella langsung terjatuh saat peluru itu menembus dadanya. Darah gadis itu bahkan sampai muncrat mengenai wajah Reyhan. Reyhan terpaku di tempat saat melihat kejadian singkat yang terjadi di depan matanya.


"Sell...." lirih Reyhan dengan suara tercekat di tenggorokan. Ia kemudian berjongkok di samping gadis itu. Mengangkat kepalanya dan menepuk pipinya berulang kali.


Sella tersenyum miris melihat wajah Reyhan di depannya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menekan rasa sakit pada luka tembak itu.


"Maaf" Sella menarik nafas panjang setelah merasa sesak di rongga dadanya.


"Maaf atas....apa yang gue lakuin ke lo dan Kenzi. Gue..... bener-bener nggak tau. Cuma.... ini yang bisa gue lakuin buat kalian" Gadis itu meringis kesakitan saat darah keluar semakin banyak.


"Gue udah maafin lo" ucap Reyhan dengan tatapan sayu.


"Gue sayang sama lo Rey" Sella menutup kedua matanya setelah mengucapkan kata itu. Reyhan menggeleng tak percaya, Ia tidak menyangka gadis itu berkorban sejauh ini untuknya.


"SELL.... SELLA!!!" panggil Reyhan setengah berteriak seraya mengguncang tubuh gadis itu berulang kali. Ia meraih tangan kiri Sella, sedikit menekannya untuk memeriksa denyut nadi gadis itu.


"Semoga lo selalu tenang disana Sell" lirih Reyhan setelah memeriksa denyut nadi Sella di tangan kirinya. Denyut nadi gadis itu tidak ada, dia sudah meninggal.


Keringat dingin membasahi tubuh Kenzi. Tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangisan. Ia menatap nanar kearah Sella yang sudah terbaring tak berdaya di lantai.


"Kenapa ini harus terjadi lagi, tuhan?" gumam Kenzi dalam hati.


"LO UDAH BUNUH SELLA!!!" bentak Lena sambil menatap marah kearah Rossa yang tengah menatap pistol di tangannya.


"NGGAK, GUE BUKAN PEMBUNUH!!!" Rossa berteriak histeris sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"GUE BUKAN PEMBUNUH. DIA YANG PEMBUNUH!!!" teriak Rossa lagi dengan tangan yang menunjuk Kenzi di depannya.


"LO PEMBUNUH!!!. LO UDAH BUNUH KAKAK GUE!!!. LO YANG UDAH BUNUH SELLA!!!" Lena ikut berteriak kencang seraya mengguncang bahu Rossa berulang kali.


"NGGAK!!!"Rossa mendorong tubuh Lena hingga gadis itu tersungkur di lantai. Ia mundur beberapa langkah sambil menutup kedua telinganya sendiri menggunakan telapak tangan.


"Gue bukan pembunuh" gadis itu bergumam sendiri sambil terus melangkah mundur.


"DIA YANG PEMBUNUH. PEMBUNUH ITU HARUS MATI!!!" Rossa kembali berteriak. Ia menodongkan pistolnya kearah Kenzi.


"LO HARUS MATI KEN!!!"


Dorrr


Pistol di tangannya terlempar saat sebuah peluru tepat mengenai lengan kanannya. Gadis itu meringis kesakitan saat merasakan rasa nyeri itu.


Marco memasukkan pistolnya ke dalam saku lalu menghampiri Rossa. Ia memegang kedua tangan gadis itu dengan kencang tanpa rasa belas kasih sama sekali.


"Lo harus tanggung jawab atas apa yang udah lo lakuin!!!" pria itu menyeret Rossa keluar ruangan. Entah dia akan membawa gadis itu kemana.


"Kenzii" gumam Reyhan. Ia langsung berdiri dan berjalan kearah Kenzi yang ada di belakangnya.


"Kamu nggak papa kan?" tanya Reyhan seraya melepas ikatan di tubuh Kenzi.


Gadis itu mengangguk lesu. Ikatan sudah terlepas, Kenzi langsung berdiri dan memeluk Reyhan dengan erat.


"Semua udah selesai. Kamu tenang aja, oke?!" Kenzi mengangguk di dalam pelukan Reyhan. Kejadian ini, benar-benar mengguncang batinnya. Sebuah fakta yang tak pernah diketahui orang lain akhirnya terkuak.


*************


Pemakaman Sella dilangsungkan pagi ini. Semua kerabat dan orang terdekat turut hadir dalam prosesi pemakaman gadis itu. Dengan berbalutkan setelan baju berwarna hitam, Kenzi hadir di pemakaman itu bersama Reyhan yang mendampinginya.


Reyhan merangkul bahu Kenzi dengan erat saat tubuh Sella perlahan dikebumikan. Helaan nafas berat berulang kali keluar dari bibir pemuda itu, dan Kenzi dapat merasakannya. Ia mengusap bahu Reyhan dengan lembut. Saling menguatkan satu sama lain disaat ujian cinta mereka begitu berat.


Hari semakin siang dan orang-orang yang hadir di pemakaman perlahan mulai menjauh dari tempat itu. Sebuah tepukan ringan di bahu membuat Kenzi dan Reyhan menoleh. Lena menghampiri mereka dengan senyum hangat di bibirnya.


"Gue mau minta maaf sama kalian. Terutama lo Ken. Gue udah salah sangka sama lo selama ini. Gue udah jahatin lo padahal lo itu sahabat gue. Gue minta maaf, gue tau lo pasti benci banget sama gue" ucap Lena dengan tulus seraya menggenggam kedua tangan Kenzi.


Kenzi tersenyum lebar, Ia mempererat pegangan Lena di tangannya.


"Gue udah maafin lo. Gue tau, ini cuma kesalahpahaman. Gue seneng lo balik jadi Lena yang dulu"


Tanpa disangka-sangka, Lena memeluk Kenzi dengan erat. Ia menyesal, sangat menyesal karena pernah tidak mempercayai sahabat baiknya dulu.


"Makasih, makasih banget. Gue akan pergi dan menetap di Swiss. Gue janji nggak bakal ganggu hidup kalian lagi. Sekali lagi, makssih Ken. Makasih buat semuanya."


Kenzi melepas pelukan Lena dan menatap teduh kearah Gadis itu.


"Lupain semuanya. Kita anggep semua itu adalah pelajaran. Pelajaran bahwa kepercayaan itu penting dalam sebuah hubungan. Baik itu pertemanan, percintaan, ataupun keluarga. Gue udah maafin lo. Kita mulai lagi dari awal ya. Lo sahabat gue, minggu depan gue sama Reyhan bakal nikah. Gue harap lo bisa hadir disana" ucap Kenzi yang membuat Lena berkaca-kaca. Gadis itu mengangguk dengan senyuman.


"Pasti, gue pasti dateng" sahut Lena dengan segera.


**************


"LEPASIN GUE!!!. GUE BUNUH LO KEN!!!. GUE BAKAL KIRIM LO KE NERAKA!!!" Rossa berteriak kencang di sebuah kamar tanpa fentilasi itu. Ia meringkuk di lantai sambil memukul kepalanya sendiri.


"GUE BUKAN PEMBUNUH, LO YANG PEMBUNUH" Gadis itu terus meracau tak jelas hingga suara pintu terbuka mengalihkan atensinya ke sana.


"Nona, saatnya minum obat" seorang perawat masuk ke dalam ruangan iitu sambil membawa sebuah nampan di tangannya.


"Kenzi mana?" tanya Rossa dengan lirih layaknya anak kecil.


"Kenzi nya ada, kita minum obat dulu ya" perawat itu semakin mendekat dan Rossa semakin mundur.


"NGGAK MAU, GUE MAU KENZI!!" teriak Rossa seraya mendorong perawat itu hingga terjatuh. Perawat itu bangkit lalu menyuntikkan sesuatu di lengan Rossa. Mata gadis itu perlahan tertutup lalu terpejam sempurna.


"Kasian kamu, masih muda tapi udah gila" gumam perawat itu seorang diri.


**************


Like comentnya jangan lupa guys!!!!