Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Gone:(



Mata Kenzi berair saat menatap Reyhan yang perlahan dikebumikan. Air matanya menetes begitu saja saat ia mengingat wajah pucat Reyhan yang ia lihat untuk terakhir kalinya tadi pagi.


Tragedi itu, merenggut nyawa Reyhan Alexander dengan cepat.


Perpisahan terjadi begitu saja tanpa ia duga. Perpisahan yang dulu begitu ia inginkan sekarang berubah menjadi hal yang paling ia sesali.


Tubuh Reyhan sudah terkubur sempurna dalam tanah dengan batu nisan yang sudah tertancap di ujung atas dan bawah. Nama Reyhan tertulis dalam batu bercat putih itu dengan sangat rapi. Kelopak bunga mawar merah sudah di taburkan diiringi tangisan keluarga dan orang terdekat yang hadir disana.


Kenzi berjongkok di samping makam Reyhan dan menangis keras seraya menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Devano mendekat kearah Kenzi, Ia mengusap punggung adiknya dengan lembut berharap gadis itu sedikit tenang, namun hasilnya nihil.


Raisa terduduk lemas di tanah didampingi suaminya saat melihat pemakaman putra tercinta. Tangisannya dan tangisan Kenzi terdengar sangat pilu dan menyayat hati hingga membuat orang-orang yang hadir disana ikut merasakan kesedihan.


"Kenapa kamu pergi!!!" lirih Kenzi sambil menunduk sedih. Tangannya meremas kuat-kuat tanah kuburan Reyhan diiringi air matanya yang terus mengalir deras.


"Kenapa kamu ninggalin aku disaat cinta itu kembali hadir?!!!"


"Kenapa, kenapa Rey?!!!" racau Kenzi sambil menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala kesedihan yang ia pendam sejak lama seorang diri. Devano mengusap ujung matanya yang ikut berair, hatinya tersayat saat melihat adik kecilnya begitu rapuh. Sekalipun ia tak pernah melihat Kenzi serapuh ini, mungkin baru sekarang.


"INI SEMUA TERJADI KARENA KAMU!!!" Raisa tiba-tiba berteriak seraya menunjuk wajah Kenzi menggunakan jari telunjuknya. Wanita itu menatap tajam kearah Kenzi meskipun air matanya belum berhenti.


Kenzi mempererat pegangannya pada lengan Devano, Ia menggigit bibir bawahnya sendiri dengan mata yang masih terus menatap kearah batu nisan Reyhan. Tak berani menatap kearah Raisa yang sedang duduk di sampingnya.


"INI SEMUA GARA-GARA KAMU!!!. HARUSNYA KAMU YANG MATI, BUKAN ANAK SAYA!!!" teriak Raisa lagi dengan lebih keras.


"Mahh, udahh" Raymond berusaha menenangkan seraya mengelus bahu istrinya.


"Anak kita, Pah...." ucap Raisa dengan lirih.


Kenzi melepas paksa rangkulan Devano di bahunya. Ia berlari pergi menjauh dari tempat itu sambil menangis terisak. Ia berlari tanpa tujuan. Hatinya sakit, teramat sakit hingga tak bisa di definisikan dengan aksara. Hanya air mata yang bisa mewakili apa yang gadis itu rasakan saat ini.


"Ini semua karena gue!!!, ini semua salah gue!!!. Bener kata Tante Isa, Reyhan meninggal gara-gara gue!!!" jerit Kenzi dalam hati.


Ia menyalahkan dirinya sendiri dalam hal ini. Berulang kali Kenzi mengusap air matanya, namun air mata itu terus menetes tanpa aba-aba.


Tak fokus dengan segala hal, Kenzi berlari menyeberang ke jalan raya tanpa menengok kanan dan kiri. Saat ia sudah sampai di tengah jalan....


Tinn......


Suara klackson itu membuat Kenzi berhenti dan menengok ke kanan. Sebuah truk sudah melaju kencang kearahnya dengan jarak yang lumayan dekat. Gadis itu tertegun hingga membuat tubuhnya seakan kaku tak bisa bergerak. Truk itu kian mendekat, hingga.....


Brakkk


.


.


.


"Ken.... Kenzi....!!!" Kenzi membuka matanya dengan nafas yang memburu, peluh membasahi dahi dan leher gadis itu seakan dia baru saja melakukan kegiatan berat. Ia menatap kearah Leon di depannya


"Leon?" ucap Kenzi


"Lo kenapa?" tanya Leon dengan nada rendah.


Kenzi mengedarkan pandangannya ke segala arah, ini masih di rumah sakit, dan sekarang masih sore hari. Helaan nafas panjang keluar dari bibir gadis itu, Ia memegang dada kiri tepat pada jantungnya yang masih berdetak tak karuan.


"Cuma mimpi....." batin Kenzi lega


Kenzi menyandarkan kepalanya di dinding saat mulai menyadari semuanya. Ia tertidur dengan posisi duduk meringkuk di lantai karena kelelahan menjaga Reyhan. Sudah seminggu sejak pemuda itu dinyatakan koma, sejak itu pula Kenzi tak tidur dan makan tak teratur.


"Lo kapan dateng?" tanya Kenzi setelah beberapa menit terdiam. Ia bangkit kemudian berjalan dan duduk di kursi sebelah Leon.


Saat tiba di Rumah Sakit, Ia mencari ruang rawat inap Reyhan dan tak sengaja melihat Kenzi yang nampak tak tenang dalam tidurnya. Dan benar saja, gadis itu ternyata sedang bermimpi buruk yang Leon tak mengetahui mimpi apa yang baru saja dialaminya.


"Tadi siang" jawab Leon singkat yang dibalas anggukan oleh Kenzi.


"Yang lain pada kemana?" tanya Kenzi lagi seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Om Ray sama Tante Isa tadi pamit pulang buat ganti baju sama ambil keperluannya Reyhan, terus Justin tadi juga pamit mau cari makan bentar" jawab Leon menjelaskan .


Tiba-tiba, seorang perawat keluar dari Ruang Rawat Reyhan dengan wajah panik dan setengah berlari.


"Dok, Dokter..." panggilnya pada sang Dokter dengan tak sabaran.


Spontan Kenzi dan Leon bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri perawat itu.


"Sus, ada apa?!!" tanya Kenzi dengan raut wajah cemas.


"Kondisi pasien mendadak kritis dan detak jantungnya melemah, berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja" jawab Perawat itu seraya kembali masuk ke dalam ruangan setelah dokter hadir. Pintu ruangan tertutup rapat dengan gorden yang ikut di tutup hingga tak ada celah sedikitpun untuk melihat ke dalam.


Kenzi berpegangan pada dinding saat kakinya mendadak lemas tak berdaya. Ia menggeleng pelan sambil meremas baju yang dipakainya kuat-kuat.


"Nggak... mimpi itu nggak akan jadi kenyataan. Reyhan pasti baik-baik aja!!!" batin Kenzi


Kenzi mencoba yakin pada asumsinya bahwa semua pasti akan baik-baik saja seperti harapan semua orang. Namun entah mengapa, sebuah desiran dalam hatinya mengatakan hal lain. Rasa cemas dan tidak tenang itu muncul hingga membuat Kenzi benar-benar bimbang.


Sudah dua jam lamanya dan para tim medis tak ada satupun yang keluar dari ruangan Reyhan. Kenzi sedari tadi tak bisa diam dan terus mondar-mandir kesana kemari sambil menggigit jarinya sendiri layaknya setrikaan. Orang tua Reyhan sudah kembali kesini, mereka pun juga sama cemasnya menunggu keterangan dari dokter yang tak kunjung keluar.


Selang satu jam, dokter dengan jss putih khas-nya itu keluar dari rusngan Reyhan dengan wajah yang tak bisa di deskripsikan. Sontak Kenzi dan seluruh keluarga yang hadir datang menghampiri dokter tersebut.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Raymond mewakili rasa penasaran semua orang.


Dokter laki-laki paruh baya itu mendesah berat sambil membenahi kaca matanya yang sedikit miring. Ia kemudian menatap semua orang sambil menggelengkan kepalanya, pertanda jika sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi.


Raisa menangis histeris kemudian langsung ambruk ke lantai saat mengetahui kabar kematian putranya. Suasana sedih dan panik bercampur menjadi satu. Raymond dibantu oleh Justin membawa Raisa ke kamar sebelah untuk diperiksa.


"Nggak.. nggakk nggakk, ini pasti mimpi!!!. Ini cuma mimpi!!!!. Ini pasti mimpi yang tadi!!!!


Kenzi menampar pipinya sendiri berulang kali, dan rasa sakit itu terasa pertanda bahwa semua ini nyata. Ia menangis sambil menggeleng tak percaya.


"DOK, INI BOHONG KAN DOK!!!. REYHAN ITU KUAT, DIA PASTI SELAMAT!!!" seru Kenzi sambil mengguncang bahu dokter itu berulang kali.


"Ken, tahan diri lo!!" ucap Leon dengan nada rendah. Ia menatap sendu kearah Kenzi yang sedang menangis kencang sambil menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.


"Maaf, kami sudah berusaha. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Reyhan tidak bisa kami selamatkan" ucap dokter itu dengan wajah bersalah


"Gue mau liat Reyhan!!!" Kenzi melepas paksa pegangan Leon di bahunya. Ia menerobos masuk ke dalam ruangan itu tanpa izin tanpa permisi.


Ruangan dengan cat serba putih itu nampak sepi dan senyap. Kenzi berjalan masuk dengan perlahan, matanya kemudian menatap kearah seorang pemuda yang tengah terbaring di ranjang. Air mata itu menetes deras tanpa aba-aba, Kenzi berlari kearah Reyhan dan berdiri tepat di samping ranjang pemuda itu.


Reyhan menutup matanya rapat-rapat, wajahnya nampak sangat teduh meskipun rona pucat itu terlihat jelas. Tubuh pemuda itu di selimuti kain putih sampai sebatas dada dan membiarkan kepalanya tetap terlihat.


Kenzi memegang pipi Reyhan yang putih tak bernoda. Perlahan, Ia mendekat dan memeluk pemuda itu erat-erat, menumpahkan air Mata dan segala kesedihannya di dada bidang Reyhan.


"Kenapa kamu pergi?!!!" lirih Kenzi tanpa mengangkat kepalanya dari dada Reyhan.


"Kamu marah sama aku gara-gara aku nyuruh kamu pergi?!"


"Katanya kamu sayang sama aku, kenapa sekarang kamu ninggalin aku saat rasa itu kembali terasa?!!" Kenzi mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada Reyhan.