
Kaki jenjang itu menapak di sebuah tanah lapang yang luas. Angin yang berhembus kencang menyapu lembut wajah cantik seorang Kenzia. Mata indahnya mengamati sekitar, menatap kearah banyaknya orang yang turun dari pesawat sambil menyeret koper masing-masing, sama seperti dirinya. Suasana disini masih sama seperti delapan tahun yang lalu, tak ada yang berubah.
Perlahan ia membawa langkahnya ke area depan bandara untuk mencari sosok yang ia kenali disana. Kenzi yang sekarang sudah tumbuh dewasa menjadi gadis yang cantik nan anggun. Penampilan modis membuat dirinya semakin menawan dan terlihat paling mencolok diantara kerumunan orang.
"Pak Asep?" ucap Kenzi seraya menepuk bahu seorang pria paruh baya yang sedang bersandar disebuah mobil.
"Iya Non" jawab supir itu dengan sopan. Pak Asep langsung berjalan kearah belakang dan membukakan pintu untuk Kenzi.
Gadis itu masuk lalu mendudukkan dirinya di kursi penumpang. Setelah memastikan majikannya duduk dengan nyaman, Pak Asep beralih masuk ke kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil itu.
Kenzi terus menatap keluar jendela selama perjalanan. Gedung-gedung pencakar langit dan panas matahari yang terik menemani perjalanannya menuju rumah.
"Kota ini masih sama seperti dulu, saat kita masih bersama" batin Kenzi
"Pak, kita mampir ke Love Destiny Cafe sebentar ya" ucapnya pada sang supir.
"Iya, Non" sahut supir itu.
Pak Asep memutar arah mobil yang tadinya berarah ke jalan menuju rumah kini beralih menuju Love Destiny Cafe.
Kenzi tersenyum tipis melihat pemandangan kota J yang khas dengan polusinya, macet adalah makanan sehari-hari bagi penduduk kota ini. Tinggal di pusat kota sejak lahir membuat mereka terbiasa dengan keadaan sekitar yang panas dan padat.
Mobil berhenti di depan sebuah Cafe. Kenzi mengamati sekeliling, tempat ini masih sama. Hanya ada sedikit tambahan hiasan sehingga membuat cafe ini semakin indah. Ia membuka pintu lalu keluar dari mobil tersebut. Semua mata langsung tertuju padanya. Seperti biasa, sosok Kenzia selalu mendominasi. Perlahsn ia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk dan mengabaikan pandangan kagum orang-orang terhadap dirinya.
*************
Reyhan duduk di sebuah kursi sambil menatap pertunjukkan band akustik di depannya. Kondisi sekitar tampak ramai dengan pengunjung yang kian berdatangan, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Cafe ini memang selalu ramai pengunjung. Entah karena dekorasinya, pelayanan, atau hidangan, semua memuaskan jadi tak heran jika banyak yang datang kemari. Mulai dari yang jomblo, couple, suami istri, bahkan jomblo kadaluwarsa pun ada.
Reyhan bangkit dari duduknya sambil meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan di meja. Ia berjalan kearah sang vokalis dan membisikkan sesuatu pada pemuda berambut gondrong itu. Vokalis itu mengangguk sambil tersenyum. Ia menyerahkan gitarnya pada Reyhan lalu turun dari panggung menyisakan Reyhan bersama gitaris dan pianis.
"Selamat siang semuanya. Maaf mengganggu waktu kalian sebentar. Saya hanya ingin menyanyikan sebuah lagu. Untuk seseorang terspesial. Meski dia tidak ada disini, tapi saya harap dia bisa melihat ini dari atas sana" Reyhan memberikan sedikit pembukaan sebelum ia bernyanyi, dan hal itu sudah mampu membuat seluruh orang yang ada disana tersentuh. Ini pertama kalinya ia mau bernyanyi setelah delapan tahun berita kematian Kenzi tersebar. Ia mulai memetik gitar diikuti anggota band yang berada di belakangnya.
Tak pernah terbayang
Akan jadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati
Bersama nya tlah hilang dan sirna
Hitam putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati
Tuk dapatkan semua jawaban ini
Reff:
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Memang tak mudah
Tapi ku tegar menjalani kosongnya hati
Buanglah mimpi kita yang pernah terjadi
Tersimpan tuk jadi histori
Hitam putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita least I
Tuk dapatkan semua jawaban ini
Reff:
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Reyhan begitu menghayati lagu yang ia nyanyikan. Pemuda itu masih menunduk dengan tangan yang memegang mike. Menahan sesak yang terasa di dadanya, merindukan tanpa adanya sebuah pertemuan untuk menjadi penawar. Ia hanya bisa mengenang dan menyimpan segala kenangan tentang Kenzi.
"Rindu itu berat, apalagi merindukan seseorang yang tak bisa untuk digapai, bahkan tak bisa untuk disentuh.
Mencintainya itu indah, sampai akhirnya sebuah kebodohan datang dan membuat saya menyakiti hatinya yang tak ternoda.
Penyesalan itu selalu di akhir. Dan penyesalan itu datang saat dia sudah pergi, pergi sambil membawa mimpi yang ingin saya gapai bersamanya. Tapi nyatanya, mimpi akan tetap menjadi mimpi. Menjadi bunga tidur yang tak mungkin menjadi nyata. Tapi bangun dari mimpi adalah sebuah kemungkinan, dan saya harap semua ini hanya mimpi. Kepergiannya hanya mimpi, dan perpisahan ini hanya mimpi" Reyhan mendongak untuk menatap semua orang yang ada di depannya. Hingga mata tajamnya tak sengaja menatap sosok gadis yang tengah berdiri mematung di dekat pintu. Gadis dengan mata indah dan senyum manis yang begitu ia rindukan.
Refleks Reyhan berdiri dengan tatapan tak lepas dari gadis itu. Ia menjatuhkan mike yang tadi ia pegang hingga mike itu menggelinding di lantai.
"Kenzi...." gumam Reyhan dengan lirih.
Kenzi tertegun, buru-buru ia mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh di pipi. Gadis itu lekas berbalik badan hendak pergi dari tempat ini.
"KENZI....." Reyhan berteriak dengan kencang sehingga membuat para pengunjung terfokus kepadanya dan juga kearah Kenzi. Pemuda itu menuruni panggung lalu berlari kearah Kenzi.
Kenzi bergegas membuka pintu cafe lalu berjalan cepat untuk keluar dari tempat itu. Namun gerakannya terhenti saat lengan kekar Reyhan melingkar di perutnya.
"I miss you baby" ucap Reyhan dengan lirih telat disamping telinga Kenzi.
"Kenapa kamu pergi?, kenapa kamu bohongin semua orang?,kenapa kamu bohongin aku?" ucap Reyhan dengan terus menerus namun tak mendapat respon apapun. Gadis itu hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya. Berusaha sekuat tenaga agar air mata itu tak menetes. Tenggorokannya bahkan terasa sakit karena menahan isak tangis.
"Aku masih mencintai kamu, sayang. Dari dulu sampek kapanpun, semuanya nggak akan berubah"
Kenzi melepas paksa lengan Reyhan yang melingkar di perutnya. Ia menarik nafas panjang untuk menekan hatinya yang seakan ingin memberontak. Perlahan ia memutar tubuhnya untuk menatap kearah pemuda itu.
"Tolong jaga sikap anda!!" ucap Kenzi dengan nada datar.
"Ken, please maafin aku" mohon Reyhan seraya menggenggam lembut tangan Kenzi.
"Kita tidak saling mengenal!!" seru Kenzi dengan tatapan tajamnya. Ia melepas genggaman tangan Reyhan lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Mengabaikan pemuda itu yang terus saja meneriaki namanya. Mobil berjalan setelah Kenzi memberi perintah.
"KEN......" teriakan Reyhan menggema seiring dengan mobil itu yang kian menjauh. Reyhan berteriak sambil meninju sebuah pohon yang tak bersalah, menyuarakan kekesalan hatinya yang tak terbendung.
"Aku yakin itu kamu. Sekuat apalun kamu menghindar, aku akan tetap cari kamu. Dan kita akan kembali bersama"