
Seperti biasa, Reyhan memimpin meeting kali ini dengan aura dinginnya. Tak ada senyum ataupun keramah-tamahan disana. Hanya ada wajah datar tanpa ekspresi, bicarapun hanya seadaanya.
"Jadi, bagaimana kelanjutan dari ajakan kerja sama kita untuk proyek Mall itu?, apa sudah di Acc?" tanya Reyhan pada staf yang berpartisipasi. Suasana ruangan nampak hening mencekam, seluruh staf selalu gemetar dan berkeringat dingin saat Reyhan yang memimpin meeting. Pertanyaan dan pernyataan dari Reyhan yang terkadang terlontar secara tiba-tiba seakan sengaja membuat jantung mereka tak bisa dibiarkan tenang.
"Persaingan untuk memenangkan tender ini sangat ketat Pak. Kemungkinan kita untuk menang hanya 65%, pesaing dari perusahaan lain tidak bisa dianggap remeh. Apalagi perusahaan tersebut adalah perusahaan terbesar se-Asia Tenggara, pasti kualitas penilaian mereka terhadap kinerja perusahaan yang akan mereka ajak kerja sama juga tinggi" jawab salah satu Staf dengan gamblang.
Reyhan hanya duduk diam menyimak sambil menyandarkab punggung nya di sandaran kursi. Menatap tajam kearah seluruh karyawannya dengan tatapan tajam seolah ingin menguliti mereka hidup-hidup.
"Minggu depan, saya sendiri yang akan menghadiri rapat itu. Siapkan proposal sebaik mungkin, kita tidak boleh kalah dalam tender ini!!. Hasil kerja kalian saya tunggu hari ini, dan berikan kepada Faiz. Saya akan memeriksa sendiri semuanya, dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun!!!. Kalian mengerti?!!!" tegas Reyhan
"Iya, Pak" sahut mereka serempak
"Meeting selesai!!" seru Reyhan sambil berdiri dari duduknya. Ia membenahi jas-nya yang sebenarnya tak berantakan sama sekali. Ia berjalan keluar diikuti Faiz yang selalu setia mengekor di belakangnya. Setelah kepergian Reyhan, seluruh Staf langsung menghela nafas lega. Berada satu ruangan bersama Reyhan selalu saja membuat jantung mereka maraton dan badan basah keringat dingin.
-
-
Reyhan memasuki sebuah ruangan yang pintunya sudah dibukakan oleh Faiz. Ruangan luas bernuansa abu-abu itu terlihat sangat elegan dengan barang-barang yang sudah tertata rapi. Kursi kebesaran seorang Reyhan Alexander terpampang jelas di depan sana.
Reyhan menatap seluruh isi ruangannya, tak ada yang menarik. Ia kemudian berjalan kearah rak buku, menekan sebuah tombol disana dan rak itu bergeser dengan otomatis. Foto Kenzi berjejer rapi disana, dilengkapi dengan berbagai macam hiasan hingga membuat kumpulan foto itu terlihat lebih cantik. Namun ada satu yang mencolok. Diantara semuanya, ada sebuah lukisan Kenzi yang berukuran paling besar. Gadis itu terlihat sangat cantik dengsn senyum manis mengembang di wajahnya.
Reyhan tersenyum lalu menyentuh lukisan itu dengan lembut. Faiz masih setia berdiri dibelakangnya tanpa berniat untuk berpindah tempat. Sudah biasa baginya untuk melihat Reyhan seperti ini, dan dia hanya diam tanpa berkomentar. Entah dalam hati.
"Aku udah berhasil, Ken. Aku berhasil bangun semua ini, dan itu untuk kamu" ucap Reyhan dengan senyum hangatnya. Menatap lukisan wajah Kenzi dengan tatapan penuh cinta seakan lukisan itu adalah Kenzi yang sebenarnya.
"Pak, maaf Nyonya besar menelfon" ucap Faiz secara tiba-tiba seraya menyerahkan ponsel Reyhan yang ia bawa. Reyhan berbalik badsn kemudian menerima ponsel itu. Menggeser ikon hijau yang ada disana, lalu menempelkan benda itu ditelinganya.
"Ada apa, Ma?" tanya Reyhan to the point. Sampai saat ini ia belum berdamai dengan orang tuanya, lebih tepatnya kepada sang Papa. Bukan karena dendam atau benci, tapi ia hanya muak jika melihat keegoisan sang papa yang selalu mengatur dan menuntutnya untuk melakukan ini itu meskipun ia taj menghendaki.
"Papa sakit, Rey. Kamu pulang ya...."
Ucapan Raisa sukses membuat Reyhan tertegun.
"Papa sakit apa Ma?, udah dibawa ke Rumah Sakit belum?, sejarang keadaannya gimana?" tanya Reyhan dengan nada cemas. Jelas ia khawatir, bagaimana pun pria itu adalah ayahnya. Semarah apapun Reyhan saat ini, kesehatan dan kebahagiaan orang tuanya tetap menjadi hak yang utama.
"Papa nggak mau dibawa ke Rumah Sakit, katanya dia cuma pengen ketemu kamu. Kamu pulang ya, Nak"
"Iya Ma, Reyhan pulang sekarang" sahut Reyhan. Ia mematikan telfonnya sepihak lalu meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja.
"Saya mau pulang ke rumah sebentar, titip kantor. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi saya" pesan Reyhan yang langsung diangguki oleh Faiz.
Reyhan langsung bergegas mengambil mobilnya di area parkir khusus petinggi perusahaan. Mengemudikan mobilnya dengan kencang agar cepat sampai tujuan, pikirannya kalut saat ini. Banyaknya pengendara tak membuat pria itu mengurangi kecepatan mobil yang ia kendarai. Masa bodo dengan polisi, pikir Reyhan.
Hanya butuh waktu 25 menit, mobilnya sudah terparkir di area mansion tempatnya tinggal dulu. Tak ada yang berubah dari tempat ini, semuanya masih sama seperti saat terakhir ia kemari delapan tahun yang lalu.
"Ma..." ucap Reyhan sambil berjalan mendekat.
Mata Raymond yang tadinya terpejam langsung terbuka lebar saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Senyum cerah terpancar di wajah tua pria itu. Ia melambaikan tangannya menyuruh Reyhan untuk mendekat, Reyhan berjalan mendekat dan ia segera memeluk ayahnya erat-erat.
"Papa cepet sembuh ya" ucap Reyhan setelah pelukan mereka terlepas. Menatap lembut kearah pria yang dulu menjadi panutannya untuk menjalani hidup.
"Maaf Rey. Maaf, karens keegoisan papa kamu jadi menderita" ucap Raymond sambil menunduk sedih.
"Lupain aja pa, yang terppenting sekarang papa harus sehat dulu!!" sahut Reyhan sambil memaksakan senyumnya. Menyuruh orang tuanya untuk melupakan padahal dia sendiri belum bisa lupa, aneh memang.
"Papa nggak akan maksa kamu lagi. Silahkan kamu berhubungan dengan perempuan yang kamu cinta, papa nggak akan melarang" ucap Raymond.
Reyhan tersenyum kecut duantara kejolak yang ada di Hatinya.
"Percuma Pa, semuanya sudah terlambat. Perempuan yang aku cintai cuma Kenzi, sampek kapanpun. Dan nggak akan pernah ada yang bisa gantiin posisinya Kenzi, cuma dis yang ada di hati Reyhan untuk selamanya" ucso Reyhan yang membuat kedua orang tuanya terdiam.
**************
Ciudad Juárez, Mexico
"Mom, aku belum siap untuk pulang" ucap Kenzi pada orang disebrang telfon
"Kamu nggak kangen sama kita?, kamu udah nggak sayang sama mommy?"
"Mom ngomong apa sih!!!, ya jelaslah aku kangen"
"Ken, kamu udah terlalu lama untuk menghindar!!. Pulang ya sayang, ikuti aja alur tuhan. Dia pasti apa tau yang terbaik untuk kamu"
Kenzi menghela nafas berat. Desakan sang ibu selalu berhasil membuat hatinya bimbang. Sejak seminggu yang lalu, Allia selalu mendesaknya dan itu berhasil membuat perasaan Kenzi tak karuan.
"Oke, besok Ken pulang. Mommy tunggu Kenzi ya" putus Kenzi setelah menimang banyak hal. Dan akhirnya pulang menjadi keputusan yang ia ambil. Ia juga rindu keluarga, biarlah tuhan yang mengatur akan seperti apa hidupnya setelah ini.
Panggilan terputus setelah mereka bertukar beberapa ucap. Kenzi mendesah berat kemudian menatap kearah Langit-langit kamarnya.
"Besok aku pulang, kembali ke negara itu. Tempat dimana semua kisah tentang kita terjadi. Berharap tuhan bisa menguatkan hatiku kalo sewaktu-waktu aku bertemu sama kamu dan dia. Berharap agar rasa itu nggak sesakit dulu, dan berharap semoga perasaan ini nggak memberontak untuk ditekan saat aku ketemu sama kamu. Dan semoga harapan itu terkabulkan, supaya aku nggak terlalu sakit saat ngeliat kamu berdampingan sama perempuan lain selain aku"
************
Hy guys......author comeback dong..., maaf ya aku udah lama nggak up:( Aku ada jadwal USEK jadi harus bener-bener fokus, belum lagi praktek ini itu yang bener-bener menyita waktu. Tugas harianku juga numpuk menanti untuk dikerjain. Jadi maaaaffff banget kalo aku telat up, dan aku juga nggak bisa buat nurutin permintaan kalian untuk double up or crazy up, aku cuma bisa up 1 hari 1 eps, itupun kalo nggak sibuk.
Harap maklum ya guyss, aku cuma seorang pelajar yang belum mengerti apa-apa:v Thanks buat dukungan kaliannnnnn, up lagi besok yaa. Makasih udah nunggu:))
Like nya ditambah yaa, coment nya jangan lupa, vote juga bila perlu. Thank you, salam hangat dari si pembuat halu 😘