Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Aleskey Sibling



Kenzi mengerjapkan matanya berkali-kali saat mendengar dering ponselnya berbunyi. Dengan pandangan sedikit buram, ia melihat kearah jam dinding. Pukul 00.15.


"Siapa sih telfon malem-malem" cebik Kenzi dengan kesal. Ia meraba-raba nakasnya untuk mencari benda pipih itu. Ketemu. Kenzi langsung menggeser ikon hijau tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Kenapa?" tanya Kenzi dengan nada malas sambil kembali memejamkan matanya.


"Ken, markas diserang!!!"


Sontak Kenzi membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar ucapan orang di sebrang telfon. Ia juga mendengar suara gaduh dan suara senjata yang diadu di sebrang sana. Ia kemudian melihat ID name di ponselnya, Kenzi langsung memukul jidatnya berulang kali karena kecerobohannya ini.


"Kenapa bisa diserang?!!" tanya Kenzi dengan tak sabaran.


"Nanti gue jelasin, sekarang lo...


Dorr


"Akhhh"


"Han, Hanzo!!!!" ucap Kenzi setengah berteriak. Tiba-tiba panggilan terputus, hal itu membuat Kenzi mengacak rambutnya frustasi.


"Shit!!!" umpat Kenzi dengan kesal. Ia bangkit dari tidurnya dengan tergesa-gesa. Ia kemudian menyambar jaket kulitnya beserta kunci mobil yang terletak di meja rias.


"Bodo amat rambut gue acak-acakan" gumam Kenzi sambil berjalan dengan memakai sepatu. Ia menuruni tangga sambil mengendap-endap seperti maling. Kalau sampai keluarganya tau, habis sudah riwayatnya di dunia ini.


Ia tersenyum lega saat dirinya sudah berada di dekat pintu. Tangannya hendak membuka pintu tersebut.


"Mau kemana lo?!" suara bariton yang begitu dikenal Kenzi mengacaukan segalanya. Kenzi mematung di tempat dengan tangan yang masing menempel di gagang pintu.


"Lo budeg?!" tanyanya lagi. Kenzi membalikkan badannya perlahan, Ia menatap sang kakak sambil memasang senyum terbaiknya saat ini. Sedangkan Devano, pemuda itu hanya menatap Kenzi dengan wajah datar seolah tak terpengaruh dengan senyum menawan itu.


"Bang, gue izin keluar bentar ya" pinta Kenzi sambil tersenyum manis memamerkan gigi-giginya yang rapi.


"Kemana?" tanya Devano dengan sebelah alis yang terangkat.


"Guee, gueee mauuu. Itu, anu, gue adaaa tugas kelompok. Yaaa tugas kelompok" sahut Kenzi sedikit gelagapan.


Devano tersenyum tipis mendengar jawaban adiknya.


"Lo jam segini mau kelompok?!!, kelompok nangkep tuyul?!!!" tukas Devano dengan nada mengejek. Ia kemudian melihat penampilan Kenzi dari bawah sampai atas.


"Geng?" tanya Devano yang sebenarnya adalah pernyataan. Jelas ia tau kebiasaan adiknya. Kemana lagi Kenzi jam segini kalau tidak ke markasnya.


Kenzi berdecak kesal. Percuma juga ia berbohong, toh Devano sudah tau segala bentuk kebiasaannya. Dari yang baik sampai yang bobrok, dari yang bobrok sampai benar-benar ambyarrr pun Devano tau semuanya.


"Ayolahh bang, bolehin gue keluar yaa. Markas gue diserang. Nggak mungkin gue biarin anak-anak ngadepin mereka sendiri!!. Boleh ya...please" mohon Kenzi sambil menguncupkan kedua tangannya di depan wajah. Memasang wajah seimut mungkin dengan senyum secerah matahari adalah senjata ampuh yang selalu ia gunakan jika berhadapan dengan sang kakak.


Devano menghela nafas panjang. Ia menatap lekat kearah Kenzi yang sedang memasang wajah malaikatnya.


"Gemes dehh, jadi pengen goreng pipinya!!" batin Devano bergejolak, tapi ia menahan itu semua. Jual mahal dikit jadi abang.


"Oke, tapi gue ikut. Lo tunggu bentar!!" ucap Devano memberi peringatan. Ia kemudian bergegas naik ke atas untuk menuju kamarnya. Sedangkan Kenzi, gadis itu masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Mulutnya bahkan menganga karena terkejut.


"Sumpah demi apaa?!!!. Bang Devan ikut!!!!" sorak Kenzi pelan. Senang?, tentu saja. Kapan lagi ia bisa mengajak Devano main beginian. Kenzi ingat betul kapan terakhir kali Devano ikut gengster bersamanya, sekitar 2 tahun yang lalu. Dan hal itu belum pernah terulang kembali, mungkin baru sekarang.


"Ayo!!" Devano berjalan menghampiri Kenzi, ia sudah siap dengan pakaiannya. Celana jeans warna hitam, kaos hitam, dan jaket kulit berwarna coklat gelap. Sederhana memang, tapi orang ganteng pake apa aja pasti bakal tetep ganteng, Devano contohnya.


"My handsome brother" ucap Kenzi sambil tertawa ringan, Devano ikut tersenyum kecil.


Mereka berjalan beriringan keluar dari mansion. Devano mengambil motornya di garasi. Ia mendorong motor itu keluar gerbang diikuti Kenzi di belakangnya.


"Mau kemana, Tuan?" tanya penjaga itu dengan heran. Tak biasanya Devano ikut keluar malam. Kalau Kenzi, seluruh penjaga pasti sudah hafal. Sering kali gadis itu keluar malam, namum tak ada dari mereka yang berani memberitahu Allia dan William. Takut dibantai mulutnya oleh Kenzi.


"Mau keluar bentar. Jangan bilang ke mom and dad ya Bang. Tenang, besok saya kenalin ke Janda kembang komplek sebelah" sahu Devano seraya memakai helmnya. Kenzi melakuksn hal yang sama, ia naik ke atas motor dengan bantuan pundak kakaknya.


Sang satpam yang mentang-mentang perjaka kadaluarsa pun mengacungkan dua jempolnya pertanda setuju.


"Beres Tuan" jawab satpam itu dengan semangat. Devano menyalakan mesin motornya.


"Duluan ya Pak" ucap Kenzi.


"Iya, Non. Hati-hati!!" sahut satpam itu. Motor Devano pun melaju meninggalkan kawasan mansion. Devano melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar lekas sampai tujuan. Kenzi sudah nampak gelisah sejak tadi. Bagaimana kalau anggotanya mati semua?, bagaimana kalau markasnya di bakar?, ohh noooo, Kenzi menggeleng-gelengkan kepalanya saat fikiran negative itu tiba-tiba muncul.


Kenzi dan Devano menatap intens bangunan yang ada di depannya. Banyak motor yang terparkir di depan sana. Namun Kenzi tau, itu bukan motor kebesaran milik anggota Red Rose.


Dengan langkah penuh keyakinan, Kenzi berjalan kearah pintu diikuti Devano di belakangnya. Gadis itu menyibak jaket yang ia gunakan kemudian mengeluarkan katananya dari sana. Devano membelalakkan matanya tak percaya, kapan dia mengambil katana itu?, mungkin itu yang ada di fikiran Devano saat ini. Namun beberapa saat kemudian, wajah terkejut itu berubah menjadi seringaian iblis yang menyeramkan.


"Ternyata cara bertarung lo mssih sama ya!!" ucap Devano tanpa menghentikan langkahnya. Kenzi tersenyum miring mendengar ucapan pemuda itu.


"Yaa begitulah. Mari bersenang-senang boy!!" sahut Kenzi dengan senyum bengis du wajah cantiknya.


Brakkk


Kenzi menendang pintu dengan keras hingga pintu itu terbuka lebar. Ia mengamati sekeliling, sudah banyak yang tumbang. Entah pihak Red Rose, ataupun pihak lawan. Di sebrang sana, ia melihat Hanzo tengah diapit oleh dua orang bersenjata. Mereka hendak menusukkan belatinya ke dada pemuda itu.


"Hanzo" lirih Kenzi dengan nafas tercekat di tenggorokan. Ia tak mau pemuda itu mati. Dengan langkah lebar, Kenzi berjalan mendekat kearah Hanzo berupaya untuk menolong pemuda itu.


Dorrr....dorrr


"Selesai" ucap Devano sambil menyeringai iblis, Kenzi pun melakukan hal yang sama.


"Goodboy!!" ucapnya dengan licik.


"Waspada lady, gue jagain lo dari sini!!" ucap Devano yang di balas anggukan semangat oleh Kenzi.


Gadis itu kembali menatap ke depan. Lima orang berbadan kekar mendekatinya. Tanpa aba-aba, orang-orang itu menyerang Kenzi secara bersamaan.


Sringgg....sringggg


Katana Kenzi bertautan dengan senjata yang mereka bawa. Lima orang bukanlah hal yang sulit bagi gadis itu.


Bughhh


Gadis itu menendang wajah seorang pria hingga membuat pria itu tersungkur ke lantai.


Dorr....dorrr....dorrr....dorr


Tembakan Devano mengenai kepala orang-orang sisanya. Kenzi berdecak kesal.


"Bang....gue baru main!!!!" cebik Kenzi dengan kesal karena mangsanya dihabisi Devano.


"Oke, oke. Satu orang buat lo!!" sahut Devano sambil terkekeh. Dan Kenzi pun kembali bertarung dengan lawan yang entah siapa itu.


Bughhh


Seseorang menendang punggung Devano hingga membuat pemuda itu mengeram marah. Ia berbalik badan dan menatap tajam kearah sekumpulan orang yang tak bisa di bilang sedikit.


"Pengecut lo!!!, beraninya main belakang!!" hardik Devano dengan kesal. Namun orang yang ia ajak bicara malah menyeringai. Mereka menyerang Devano secara bersamaan yang tentunya dilayani oleh pemuda itu.


Bughh, bughh


Tendangan dan pukulan Devano layangkan kearah rivalnya. Beberapa sudah terkapar lemas saat Devano menendang aset berharga mereka.


Dorrr....dorrr...dorr


"Shit!!!" umpat Devano dengab kesal saat pelurunya habis disaat yang tidak tepat.


"Peluru gue habis, mainnya pake tangan kosong aja oke!!" Dan dia mulai menyerang lagi.


Bughhh


Tendangan telak ia layangkan tepat pada dada 8 orang secara bersamaan hingga orang-orang itu tersungkur secara bersamaan. Saat beberapa dari mereka mencoba bangkit, sebuah peluru seketika tertancap di kepala mereka hingga membuatnya langsung terkapar di lantai.


"Bang Dev, gue bantu lo!!!" seru Hanzo dari kejauhan.


"Thanks bro!!!" sahut Devano dengan senang.


Pertempuran masih terus berlanjut meskipun waktu hampir menjelang pagi. Hingga akhirnya, Red Rose berhasil memukul mundur mereka untuk keluar dari area kekuasaan Red Rose. Kehadiran Devano membuat kekuatan geng itu bertambah berkali-kali lipat.


Dan disinilah mereka sekarang, duduk berkumpul di sebuah ruangan yang di khususkan untuk anggota inti Red Rose. Kenzi duduk di samping Devano. Ia menatap tajam kearah Hanzo, Soffia, dan Reno yang duduk di depannya.


"Ceritain ke gue, kenapa bisa sampek kayal gini sih?!!!. Kalian nggak buat masalah kan!!!" gertak Kenzi dengan tegas.


"Mereka Anggota Dead Cobra" ucap Soffia yang membuat raut wajah Kenzi berubah seketika.


"Pengganti Black Angel?" tanya Kenzi memastikan.


"Ya. Salah satu anggota kita berhasil dapetin informasi tentang ketua baru geng itu. Tapi...."Soffia menggantungkan kalimatnya. Ia menarik nafas panjang.


"Dia terbunuh di pertarungan ini. Bahkan sebelum dia bilang tentang informasi yang dia dapet" lanjut Soffia dengan suara berat. Kenzi tertegun cukup lama setelah mendengar kabar ini.


Devano menyentuh bahu Kenzi untuk menenangkan gadis itu.


"Kita pulang ya, lo tenangin diri lo dulu" ajak Devano dengan lembut.


*********


Kenzi berbaring di ranjangnya dengan mata terbuka. Masalah terlalu banyak hingga menahan matanya untuk tidak terpejam.


"Siapa dia sebenernya" gumam Kenzi sambil menatap langit-langit kamarnya.


Ting....


Ponselnya berdering pertanda pesan masuk. Kenzi membukanya dengan segera.


🗨+62......


~Bersiaplah untuk kehilangan milik lo girl!!!


Kenzi mengetatkan gigi-giginya setelah membaca pesan itu.


"Nggak akan ada yang bisa mengambil sesuatu yang udah jadi milik gue, apapun itu!!!"