
"Yang, besok pagi bangunin aku ya!!. Soalnya besok mau check lapangan"
Ucapan Reyhan tadi malam terus terngiang di kepala Kenzi. Perempuan itu meletakkan sendok kopi di genggamannya.
"Mbak, saya tinggal sebentar ya. Mau bangunin Reyhan dulu" pamit Kenzi yang tentunya langsungg dibalas anggukan oleh Mbak Ratna sebagai jawaban.
Ia kemudian berbalik badan, meninggalkan area dapur dan berjalan menuju kamarnya dan Reyhan. Semenjak hamil, Reyhan memang memindahkan kamar mereka ke lantai bawah untuk mengurangi resiko dan memudahkan Kenzi saat bepergian.
Pintu kamar terbuka, menampakkan Reyhan yang masih terlelap dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Kenzi berjalan mendekat, Ia berdiri di sisi ranjang seraya mengguncang tubuh pria itu berulang kali.
"Yang, bangun!!. Katanya mau kerja!!. Ini udah jam tujuh loh., jam delapan kan kamu udah harus sampek!!" seru Kenzi dengan suara agak keras. Tapi bukannya bangun, Reyhan hanya menggeliat kecil sambil merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.
Hembusan nafas panjang keluar dari bibir perempuan itu. Dengan tangan yang berkacak pinggang, Ia menatap kearah suaminya dengan tatapan jengah.
"Yang, buruan bangun!!. Nanti kamu telat loh!!"
"Hmmm" seruan itu hanya dibalas gumaman kecil oleh Reyhan, membuat emosi Kenzi yang sedang tidak stabil naik sampai ubun-ubun.
"Akh yaudah lah terserah kamu!!. Yang penting aku udah bangunin, kamunya aja yang kebo!! " desis Kenzi bersungut-sungut.
Perempuan itu kemudian berbalik badan, meninggalkan area kamar dengan perasaan dongkol yang masih bersemayam. Bibirnya saja masih komat-kamit aktif mencibir, mencibir suaminya yang tidur sudah mirip ikan dugong terdampar.
"Loh, bapak belum bangun ya Bu? " tanya Mbak Ratna saat tidak menyadari keberadaan Reyhan yang biasanya selalu mengekor di belakang Kenzi seperti anak ayam.
"Belum, di bangunin susah dia tuh. Tapi kalo berangkat kerja telat pasti aku yang disalahin, padahal dia yang susah dibangunin" cerocos Kenzi seraya membantu menata roti dan selai di meja makan.
"YANG, KOK KAMU NGGAK BANGUNIN AKU SIH!!!" teriakan Reyhan menggema dari dalam kamar, membuat para ART kompak mengamankan kuping mereka masing-masing.
"Tuh kan, baru juga diomongin!!" Mbak Ratna tertawa kecil melihatnya tingkah bos-nya. Mereka selalu saja seperti itu, berdebat karena hal kecil kemudian bermesraan lagi beberapa menit setelahnya.
Kenzi menghela nafas panjang. Ia meletakkan sewadah selai di tangannya keatas meja kemudian kembali masuk ke dalam kamar untuk mengurus 'bayi besarnya '
Tak ada seorang pun di kamar, namun terdengar ada suara gemricik air dari dalam kamar mandi. Bisa dipastikan jika pria itu sedang mandi di dalamnya.
Ia membuka pintu lemari, memilihkan setelan kerja untuk suami tercinta. Satu stel jas dengan kemeja dan juga dasi ia letakkan diatas ranjang, kini tinggal menunggu si tuan keluar dari kamar mandi.
Tak berselang lama, Reyhan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di kepala. Wajah pria itu nampak di tekuk, menandakan jika mood-nya sedang hancur.
"Marah?! " tanya Kenzi yang tentunya tidak dibalas oleh pria itu. Reyhan hanya menggambil pakaian yang disiapkan oleh Kenzi kemudian kembali masuk kedalam kamar mandi.
Perempuan itu mendesah berat. Tak mau ambil pusing, ia lebih memilih duduk di sofa sembari menunggu Reyhan selesai ganti baju. Tangan kanannya mengelus perutnya sendiri, mengusap dengan lembut dan penuh hati-hati.
"Liat deh dek, Papa kamu kalo lagi marah lebih judes dari perawan PMS. Nanti kamu jangan kayak gitu ya, masak cowok ngambekan!!. Kan nggak balance" gumamnya seorang diri.
Pintu kamar mandi kembali terbuka, menampakkan tubuh Reyhan yang sudah lengkap dengan setelan kerjanya. Pria itu berjalan ke sisi ranjang, mengambil sepasang sepatu dan memakainya sembari duduk.
"Aku tadi udah bangunin kamu tapi kamu nggak denger" meski Reyhan tak mengungkapkan kemarahannya, tapi Kenzi menyadari ada sorot kekesalan yang hadir di sorot mata pria itu sehingga tanpa diminta pun, ia tetap menjelaskan kesalahan yang sebenarnya bukan pure kesalahannya.
Reyhan yang sudah selesai memakai sepatu meluruskan kakinya. Hembusan nafas berat kembali keluar dari bibir pria itu.
"Kan kamu bisa bangunin aku pake cara lain!!. Siram pake air kek atau apa gitu!!. Aku kemarin kan udah bilang ke kamu, rapat ini penting dan aku nggak boleh telat!!. Tapi liat sekarang, mau ditaruh dimana muka ku nanti?!" ucapnya dengan nada kesal.
Mood Kenzi yang akhir-akhir ini berubah-ubah langsung teroancing emosi. Ia bangkit dari duduknya, sambil bersendekap dada, perempuan itu menatap kearah suaminya dengan tatapan sengit.
"Kan tadi aku juga udah bilang, aku udah bangunin kamu tapi kamunya yang nggak denger!!. Kok sekiranya kamu kayak nyalahin aku sih?!!" serunya tak kalah kesal.
"Aku nggak nyalahin kamu, tapi seandainya kamu lebih berusaha buat bangunin aku, aku nggak mungkin telat kayak sekarang!!" desis pria itu sembari menata berkas di dalam tasnya.
Kedua alis Kenzi menungkik semakin dalam. Emosinya kembali tak terkontrol, mungkin karena efek kehamilan.
"Itu artinya kamu nyalahin aku!!. Udah aku bilang berkali-kali kan, aku udah bangunin kamu dari tadi. Kamunya yang nggak percayaan. Sekarang malah ngomong sekiranya aku yang salah, aku yang paling salah, dan aku yang bikin kamu telat!!" mulut Kenzi sudah dengan terampil mengoceh panjang lebar. Sembari berkacak pinggang, perempuan itu memulai kegiatan khotbahnya di pagi hari.
Reyhan tak menjawab, tangannya masih sibuk menyusun berkas-berkas di dalam tas. Ia tau, jika dia menjawwb ucapan Kenzi, maka masalah sepele ini akan berbuntut panjang dan ujung-ujungnya ia tidak boleh tidur di kamar.
"Ini juga, kalo habis mandi handuk tuh dibalikin ke tempatnya!!. Jangan ditaruh di kasur!!. Nanti kalo basah, istri yang disalahin!!. Pulang malem, bangunnya susah sok-sokan nyuruh nyiram pake aer, pas disiram beneran ngatain istri nggak punya adab!!. Giliran telat istri juga yang disalahin!!" Kenzi masuk ke kamar mandi dan menggantungkan handuk Reyhan disana dengan mulut yang terus mengoceh.
Matanya memindai kesetiap sudut ruangan, mencari kesalahan meskipun cuma seujung kuku agar dia bisa meneruskan kegiatan ceramahnya.
"Aku berangkat!!" tidak menimpali atau lebih tepatnya tidak mau menimpali celotehan sang istri, Reyhan lebih memilih untuk segera pergi meninggalkan rumah.
Langkahnya sudah sampai di ambang pintu, tangannya bahkan sudah meraih knop pintu hingga pintu terbuka.
"Salaman nggak?!. Jangan sampek aku denger ada yang ngatain aku istri durhakim gara-gara nggak salaman ama lakinya!!"
Reyhan membuang nafas berat setelqh mendengar ucapan Kenzi. Ia kembali memutar tubuhnya, berjalan kearah perempuan itu sambil memasang wajah biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ati-ati" Kenzi menyalami tangan Reyhan seperti biasa seraya berucap meski dengan nada yang sedikit ketus.
Sebuah kecupan Reyhan hadiahi di kening dan perutnya seperti biasa. Wajah pria itu masih berusaha untuk datar, menahan perasaan kesal yang ia tahan sejak tadi.
"Kabarin aku kalo ada apa-apa!"
Sebuah acara pamit-pamitan yang mengawali pagi mereka hari ini. Dalam mobil, Reyhan berulang kali menarik nafas panjang untuk mengurangi emosinya yang hampir terpancing. Rapat berantakan, klien marah, istri ngoceh terus, otak siapa yang nggak puyeng coba?!.
Setelah beberapa menit perjalanan, kini mobilnya sudah terparkir rapi di depan gedung KNA Company. Ya, hari ini adalah jadwal ia mengecek perusahaan Kenzi. Keberadaan Hanzo sebagai assisten sedikit meringankan bebannya dalam mengurus perusahaan, namun begitu ia masih punya rasa tanggung jawab dan empati hingga menyempatkan hadir seminggu dua kali.
Sapaan dari karyawan terlontar saat dirinya memasuki area gedung. Dengan wibawa yang begitu kuat, Reyhan berjalan membelah kerumunan orang kemudian masuk ke dalam lift menunju lantai paling atas gedung.
Lift terbuka saat benda persegi itu sudah sampai di lantai 35. Reyhan membuka sebuah pintu menggunakan card yang ia bawa, card khusus yang hanya dimiliki oleh dirinya, Kenzi dan Hanzo.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan Hanzo yang sudah sibuk dengan dokumen dan laptop di depannya.
"Gue kirain lo nggak jadi dateng!!" seru pria itu dengan nada mencibir.
Reyhan meletakkan tas-nya di meja. Ia sedikit melonggarkan simpul dasi kemudian menjatuhkan dirinya keatas sofa.
"Tadi gue kesiangan!!" jawabnya dengan nada malas. Ia mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam. Membuat Hanzo yang melihat geleng-geleng kepala.
"Lemes amat bos, nggak dikasih colokan ya sama bini?!" ledek Hanzo seraya meneruskan pekerjaannya.
"Itu mulu omongan lo!!. Nikah sono, biar tau gimana arti enak yang sebenernya!!" desis Reyhan seraya melempar bantal sofa kearah Hanzo yang tentunya dapat ditangkap oleh pria itu.
"Iya iya kalo lo udah senior!!.Gue yang masih alim mah cukup iyain aja!!" sahut Hanzo dengan nada seolah tersakiti kayak di sinetron suara hati seorang istri. Jahat kamu mas!!.
"Dih, jijay!!" desis Reyhan sambil bergidik ngeri. Menatal geli kearah Hanzo yang sedang memasang wajah imoet seperti babii ngepet.
Drttttt......drttttt
Bunyi ponsel berdering. Hp Reyhan pelakunya. Pria itu segera merogoh saku, mengambil benda pipih yang tadi ia selipkan disana.
Tertera nama 'Ibu Negara', perempuan yang menyandang jabatan tertinggi di rumah.
Kenzi membuat panggilan telepon, entah karena apa. Sebelum menjawab, Reyhan berdoa dulu dalam hati, takut-takut jika taring Kenzi kembali muncul. Sumpah demi apapun, hati abang belum siap neng.
"Iya, kenapa?" tanyanya tanpa basa-basi setelah panggilan terhubung.
"Bunny......"
Panggilan itu kembali terucap, membuat bulu kuduk Reyhan perlahan berdiri. Firasatnya mengatakan jika ini bukan pertanda baik.
"Kamu mau apa?" tanyanya lagi dengan hati harap-harap cemas. Please Ken, please, jangan sekarang!!!.
"Pengen sushi" rengek Kenzi dengan suara manja. Entah hilang kemana taring yang ia gunakan tadi pagi. Mungkin sudah di pinjam oleh Digo, buat shooting GGS season 6.
Ada perasaan lega yang hinggap di hari Reyhan setelah mendengar ucapan Kenzi. Mungkin hari ini dia selamat.
"Yaudah, nanti pulang dari kantor alu beliin di resto depan sana ya" jawabnya diiringi senyuman.
"Nggak mau sushi yang itu!!. Yang aku maksud bukan sushi itu!!"
Jantung Reyhan kembali menggila, badfeeling kembali hadir dalam dirinya.
"Terus yang kamu mau sushi yang gimana?!"
"Yang di jepang!!"
Ingin sekali Reyhan tenggelam ke segitiga bermuda sekarang juga. Ia lebih baik mengurus proposal daripada harus menuruti permintaan Kenzi yang ingin sushi asli dari Jepang. Dikira Jepang kayak Jakarta-Depok kali ya?!.
Hanzo terkikik geli melihat wajah pucat Reyhan setelah mendapat telepon dari Kenzi. Ia yakin seribu yakin, pasti pria itu habis mendapat titah dari Si Ratu Annabelle.
"Yang sabar ya Rey. Anggep aja sayang anak-istri" ucapnya dengan nada meledek.
"Gue serasa pengen tobat"
******************
... **Maaf ya guys aku baru up. Hp ku baru rusak, dan baru beberapa hari ini bisa makanya baru sempet up. Maaf ya karena kalian nunggu lama, makasih juga yang masih setia nunggu....
... Likenya di tambab yok, comentnya jangan lupaaa. Happy Reading semuaaa**...