Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Dinner With Camer



Matahari sudah berganti dengan rembulan. Langit cerah dengan warna yang indah berganti dengan langit gelap yang penuh dengan bintang-bintang kecil yang bergantungan.


Reyhan membukakan pintu mobilnya untuk Kenzi saat mobilnya sudah terparkir rapi di depan Mansion keluarganya sendiri, Alexander.


Kenzi turun dari mobil itu dengan perlahan . Dress di bawah lutut berwarna peach dengan sepatu heels ber-hak tinggi membuatnya sedikit kesulitan. Reyhan mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan. Gadis itu tersenyum lalu menyambut uluran tangan Reyhan dengan senang hati.


"Kamu gugup?" tanya Reyhan saat merasakan tangan Kenzi dingin dalam genggaman.


Gadis itu mengangguk lesu sambil memaksakan senyuman.


"Aku takut papa kamu nggak suka sama aku" lirih Kenzi


"Mana mungkin papa nggak suka kalo punya calon mantu secantik kamu. Udah, nggak usah deg-degan. Enjoy aja, Papaku nggak gigit kok" lawak Reyhan yang mencoba mencairkan suasana. Kenzi tertawa kecil lalu memukul bahunya pelan.


"Papa kamu denger bisa berabe loh!!" peringat Kenzi seraya mengacungkan jari telunjuknya kearah Reyhan.


Pemuda itu terkekeh. Ia menyisir rambutnya ke samping menggunakan telapak tangan, dan sialnya ia terlihat sangat tampan meskipun keadaan lumayan gelap karena terbatasnya pencahayaan diarea depan.


"Nggak bakal denger kalo aku ngomongnya nggak sambil teriak. Ayo kita masuk, mereka pasti udah nunggu!!" ajak Reyhan, Ia meraih tangan Kenzi, menggenggam jemari gadis itu untuk ikut masuk bersamanya.


"Eh tunggu bentar!!" Kenzi melepas tangannya dari pegangan Reyhan hingga membuat kening pemuda itu mengernyit bingung. Matanya melihat kearah Kenzi yang kembali membuka pintu mobil, tapi yang bagian belakang. Setelah beberapa saat, gadis itu keluar dari sana sambil meneteng sebuah bingkisan di tangannya.


"Kamu bawa apa?, kok aku nggak tau tadi kamu masukin itu disana?" tanya Reyhan penasaran.


"Ini cuma hadiah buat Mama sama Papa kamu. Tadi kamu tuh yang keasyikan bengong sampek-sampek aku masukin ini ke mobil kamu nggak tau!!" jawab Kenzi yang membuat Reyhan menyengir dibuatnya.


"Kamu baik deh, nggak salah aku pilih calon istri" puji Reyhan seraya mencubit hidung gadis itu pelan. Kenzi mendengus kesal dengan tangan yang mengelus bekas cubitan Reyhan di hidungnya.


Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama. Saat di depan pintu, Kenzi menarik nafas panjang sekali lagi. Rasa gugupnya tidak dapat ditutupi. Ini adalah pertama kalinya ia berkunjung ke rumah Reyhan setelah sekian lama menjalin hubungan, tentu saja ia gugup.


Reyhan membuka pintu itu. Ia sedikit menarik tangan Kenzi untuk ikut masuk bersamanya. Ruangan nampak sepi. Kenzi mengedarkan pandangannya menyapu seluruh isi Mansion yang tak jauh berbeda dari Mansionnya.


"Ma.....!!" Reyhan berteriak kencang untuk mencari keberadaan ibunya.


"Iya!!!" sebuah sahutan berasal dari ruang tengah. Reyhan segera menuju kesana dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Kenzi.


"Mama...." sapa Reyhan seraya mencium punggung tangan Raisa diikuti oleh Kenzi.


Perempuan paruh baya itu tersenyum hangat menyambut kedatangan putra dan calon menantunya.


"Akhirnya kalian dateng, duduk dulu yuk. Papa lagi mandi di kamar" ajak Raisa dengan tangan yang menuntun Kenzi dan Reyhan untuk duduk di Sofa bersamanya.


Mereka duduk bertiga dalam satu sofa panjang yang terdapat di ruangan itu. Kenzi berdehem sejenak. Ia meraih bingkisan yang ia letakkan di sampingnya.


"Emm, Tante. Ini Ken ada bingkisan buat Tante sama Om. Semoga suka ya, Tan" Kenzi mengulurkan tangannya dan menyerahkan bingkisan itu kepada Raisa. Wanita itu tersenyum lalu menerima bingkisan itu dengan senang hati.


"Makasih loh Ken. Tante jadi ngerepotin deh...." ucap Raisa


"Nggak repot kok Tan. Tadi Kenzi di Mall, nggak sengaja ketemu barang itu jadi sekalian Kenzi beli aja buat Om sama Tante" jelas Kenzi dengan sopan. Senyumannya masih terus terpancar sempurna meskipun jantungnya serasa ingin lepas sekarang juga.


"Wahh, ada tamu ternyata....!!" sebuah seruan dari arah tangga membuat mereka kompak mengalihkan atensinya ke sumber suara.


Raymond menuruni tangga dengan gagah meskipun umurnya tak lagi muda. Pria itu masih terlihat segar bugar, sama seperti ayah Kenzi.


Kenzi dan Reyhan kompak berdiri saat melihat kedatangan Raymond dihadapan mereka.


"Ma... malam, Om" sapa Kenzi gugup. Ia mengulurkan tangannya, hendak menyalami pria itu.


Raymond tersenyum kecil. Ia menyambut uluran Kenzi dan gadis itu segera mencium punggung tangannya. Saat Kenzi hendak melepas genggamannya, Raymond malah menahan tangan gadis itu hingga membuatnya kebingungan.


"Tangan kamu dingin. Kamu sakit?" tanya Raymond dengan nada rendah namun berhasil membuat jantung Kenzi semakin berpacu cepat. Gadis itu menggeleng dengan segera tanpa mau membalas tatapannya. Ia menunduk.


"Eng...enggak kok Om. AC-nya ke...kedinginan" jawab Kenzi terbata-bata.


Raymond mengalihkan pandangannya kearah AC yang terletak di pojok ruangan .


"AC-nya mati kok" ucap Raymond yang membuat Raisa dan Reyhan menahan tawanya.


"Apa-apaan sih gue!!!" maki Kenzi pada dirinya sendiri. Imagenya anjlok di depan calon mertua dihari pertama pertemuan.


"Udahlah Pa.... nanti mantu Mama kapok loh dateng kesini" Kenzi bernafas lega saat Raisa menyelamatkan dirinya dari rasa malu, berbeda dengan Reyhan yang malah terkikik geli menatapnya. Ia menatap tajam kearah pemuda itu. Ingin rasanya ia memenggal kepala Reyhan sekarang juga.


Raymond tertawa kecil. Ia mengangkat sebelah tangannya lalu meletakkannya di pundak Kenzi. Ia merangkul bahu gadis itu dan mengajaknya untuk kembali duduk.


"Om cuma bercanda. Maaf ya udah buat kamu nggak nyaman" ucap pria itu yang dibalas senyuman kaku oleh Kenzi.


"Dapet hadiah dari calon mantu" Raisa memamerkan bingkisan pemberian Kenzi pada suaminya. Pria itu tersenyum lalu menatap kearah Kenzi.


"Terimakasih ya"


"Sama-sama Om, semoga suka" sahut gadis itu dengan tulus.


Setelah berbincang dan saling mengadaptasikan diri, prosesi makan malam pun dilakukan. Reyhan duduk disamping Kenzi, berhadapan dengan Raymond dan Raisa. Mereka makan dalam diam, hanya suara dentingan sendok yang bertautan dengan piring yang terdengar.


"Kenzi dulu kuliah dimana?" tanya Raymond disela-sela makan mereka.


Kenzi mendongak menatap pria itu.


"Aku kuliah di Mexico Om" sahut Kenzi.


"Jurusan apa?" tanya Raymond lagi


"Fakultas Management Bisnis, sesuai dengan bidang aku" sahut Kenzi


"Berapa lama kamu kuliah?"


"Aku kuliah cuma dua tahun, dan aku udah menyandang gelar S3"


"Wow" satu kata itu sudah cukup menunjukkan pujian dari seorang Raymond Alexander. Rasa kagumnya tak dapat ia tutupin saat mendengar ucapan gadis jenius dihadapannya.


"Aku nggak salah pilih calon kan Pah?" tanya Reyhan sambil menaik turunkan alisnya menggoda.


"Ya ya ya, kali ini selera kamu bukan kaleng-kaleng" mereka tertawa bersama mendengarnya.


Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang tengah dan menceritakan kisah-kisah mengesankan di masa lalu. Kenzi tertawa saat mendengar cerita dari Raisa bahwa dulu Reyhan pernah berlari dan terjatuh sampai giginya lepas tiga karena tidak mau di sunat. Ia juga baru menyadari bahwa Keluarga Reyhan memiliki awalan yang sama, yaitu R. Dan ia tertarik untuk menamai anaknya dengan awalan yang sama kelak.


Dan kini, ditangannya sudah terdapat sebuah album foto yang berisi foto-foto lama Reyhan mulai dari bayi sampai remaja. Kenzi tak henti-hentinya tertawa saat melihat ada foto yang menurutnya lucu.


"Rey, ini kamu?" tanya Kenzi sembari menunjuk sebuah foto balita yang tengah tengkurap, Ia nampak tak memiliki rambut.


"Iya" jawab Reyhan dengan nada malas. Percayalah, dia sedang sangat malu sekarang.


"Kok botak?!" ucap Kenzi sambil tertawa ngakak.


"Kamu nanya apa ngeledek?!. Itu beneran aku!!" ucap Reyhan kesal.


"Aku nggak ngeledek, cuma heran aja. Kok bisa sih ada tuyul di dalem foto" tawa gadis itu semakin tak terkondisikan. Entah hilang kemana urat malunya saat ini. Raymond dan Raisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.


"Mahhh, kok ditunjukin sih foto yang itu. Reyhan malu tau" cebik Reyhan sambil menatap jengkel kearah Raisa yang tengah tertawa puas.


"Apanya yang perlu di maluin?!, emang dulu kamu botak kok. Itu faktanya"


Reyhan hanya bisa berdecak kesal saat mendengar ledekan Kenzi dan ucapan mamanya yang tak ada pembelaan sama sekali. Nasib, nasib!!.


**************


**Hy, semua. Maaf ya aku baru up, sebenarnya mau up kemarin taoi berhubung lampu mati dan baru nyala jadi terpaksa baru up sekarang . Jangan lupa like dan coment-nya ya. Cepat lambatnya up aku tergantung seberapa banyak apresiasi kalian. Aku orangnya gampang kecewa, jadi please tolong hargai usaha aku ngetik.


Mampir juga ke 'Someone You Loved'


FYI, adegan atau scene yang nggak ada di Beautiful Bad Girl, akan ada di Someone you loved. Karena cerita SYL itu berasal dari sudut pandang lain yaitu, Devia dan tokoh lain yang nggak tercantum disini. Misalnya cerita saat Kenzi hilang 8 tahun, di SYL akan menceritakan kehidupan para tokoh selama Kenzi nggak Ada.


Jadi, kalian tau endingnya belum berarti kalian tau ceritanya kayak apa ya guys. Maka dari itu, yuk buruan mampir. Usahakan tinggalkan jejak setelah membaca. Nggak maksa kok, tapi aku harap kalian tau gimana caranya menghargai usaha orang lain.


See you next time, and happy reading😘**