
Malam itu, Reyhan bersama anggota Dark Dragon yang lain menelisik tempat yang diduga adalah tempat terjadinya penculikan Kenzi tadi siang. Para Hacker membawa alat pelacak untuk berusaha melacak keberadaan Kenzi lewat ponsel gadis itu.
Disana tak banyak bangunan, hanya beberapa toko-toko kecil dan swalayan, itupun dengan jarak yang lumayan jauh.
"Master, ketemu!!" pekik salah seorang Hacker yang membuat semua anggota tak terkecuali Reyhan berkumpul kearahnya. Ia menunjukkan alat lacak yang ia bawa, di layar itu tergambar jalur dan posisi dimana Kenzi berada.
"Jalan B, Nomer 20" ucap Hanzo setelah melihat GPS itu dan kebetulan ia hafal arah jalannya.
"Kita kesana sekarang!!" tanpa pikir panjang, Reyhan segera memerintahkan anggotanya untuk segera menuju ke tempat dimana Kenzi berada.
"Tunggu aku, Ken"
**********
Sebuah fakta mencengangkan membuat Kenzi terdiam seribu bahasa. Selama ini, Ia tidak pernah menyadari jika Bintang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi bahkan sejak ia dikeluarkan dari SMA Dharma Bangsa kala itu. Pemuda itu juga selalu mengambil gambar wajahnya tanpa ia sadari.
Rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan membuat sikap Bintang berubah 180°. Kini perasaan yang pemuda itu rasakan bukan cinta, namun sebuah obsesi. Obsesi yang membuat mentalnya sendiri tersakiti dan kejiwaannya terguncang. Obsesi itu menguasai akal sehat Bintang hingga membuat pemuda itu tidak bisa berfikir jernih.
Bintang membuka bungkus makanan di tangannya. Ia menyendokkan nasi goreng itu lalu mengarahkannya kepada Kenzi.
"Kamu makan ya...." ucap Bintang dengan lembut, sesendok nasi itu masih terpampang jelas di depan mulut Kenzi.
Gadis itu menggeleng cepat sambil memalingkan kepalanya kearah lain.
"Gue mau pulang" cicit Kenzi dengan suara seraknya. Ia takut disini, apalagi satu ruangan bersama Bintang yang tidak bisa dibilang waras. Meskipun pemuda itu tidak menyakitinya, tapi tatapan dan juga sikapnya membuat nyali Kenzi menciut.
"KAMU HARUS MAKAN!!!" bentak Bintang marah hingga membuat Kenzi terjingkat kaget. Jantungnya sudah berdegup kencang sejak tadi. Marah, tertawa, lalu menangis. Sejak tadi siang Bintang menunjukkan tiga sikap dan ekspresi yang berbeda dalam waktu yang sama.
"Kakkk.... lepasin gue... Gue mau pulang.. gue takut" Kenzi menangis sesenggukan berharap Bintang mau melepaskannya.
Pemuda itu mundur beberapa langkah dengan tubuh bergetar entah karena apa. Ia menggigit jari-jarinya sendiri seperti orang ketakutan yang malah membuat Kenzi semakin merinding.
"Kamu nangis, sayang?" lirih Bintang ketakutan dengan mata ikut berair.
"Reyhan......" Kenzi menangis semakin kencang seraya memanggil nama Reyhan, berharap jika pemuda itu mendengar teriakannya dan datang menolong meski terbilang mustahil.
"JANGAN SEBUT NAMA DIA!!!" bentak Bintang dengan kencang yang langsung membuat Kenzi terdiam meski isakan kecil masih terdengar dari mulut gadis itu.
"Aku nggak mau denger nama dia" Bintang berjongkok meringkuk di lantai sambil menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangan.
Kenzi memukul-mukulkan tangannya ke kursi berusaha agar rantai yang mengikat tangannya bisa lepas hingga tangannya sendiri terluka dan mengeluarkan darah.
"Kakk... please lepasin gue" lirih Kenzi dengan wajah memelas. Bintang mengangkat kepalanya dan menatap tajam kearah gadis itu.
"Nggak,,kamu nggak boleh pulang. Kamu punya aku. Kamu harus disini!!!. Disana banyak orang jahat, mereka mau nyakitin kamu!!. Cuma aku yang bisa jagain kamu, bukan dia!!" tegas Bintang dengan mata memerah.
"LO GILA KAK!!!, LO BENER-BENER GILA!!!. GUE BENCI SAMA LO!!" Kenzi meluapkan kekesalannya dengan berteriak kearah pemuda itu yang malah membuatnya tertawa.
"Aku gila? ha..ha..haa, Yaaa. Yaaa aku emang udah gila!!. Aku gila karena kamu, karena kamu sayang" ucap Bintang sambil tertawa layaknya orang tak berdosa.
Brakkkk
Pintu yang didobrak oleh seseorang membuat Kenzi dan Bintang menoleh dengan cepat. Lalu segerombol laki-laki masuk ke dalam ruangan itu. Mereka tidak bisa dikatakan sedikit, jumlahnya kira-kira lebih dari 40 orang karena Reyhan mengajak seperempat dari anggotanya.
"BNGSAT!!!" umpat Reyhan dengan kesal dan langsung melayangkan tinjunya ke pipi Bintang hingga membuat pemuda itu tersungkur ke lantai.
Bintang hendak bangkit, namun dengan cepat Reyhan kembali memukulinya dengan brutal.
Bughh....bughhh...bughh
Entah sudah berapa pukulan yang ia layangkan kearah Bintang. Kini pemuda itu sudah terbaring lemah di lantai dengan hidung dan mulut yang mengeluarkan darah.
Pandang Reyhan kemudian beralih pada Kenzi yang masih terikat dengan wajah ketakutan. Cepat-cepat ia menghampiri gadis itu dan segera memeluknya agar tenang.
"Kamu jangan takut oke?!, ada aku" ucap Reyhan dengan lembut yang diangguki oleh gadis itu meskipun tangisnya masih terdengar.
Kenzi bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Reyhan erat. Reyhan dapat merasakan tubuh gadis itu dingin, mungkin saat ini ia benar-benar takut.
"Kita pergi dari sini yaa" ucapnya yang langsung diangguki oleh Kenzi.
Ia berjalan didepan bersama Kenzi diikuti anggota Dark Dragon dan Hanzo di belakang, meninggalkan tempat itu dan Bintang disana.
Semua sudah masuk di mobil masing-masing, tinggal Reyhan, Kenzi dan Hanzo yang masih di luar. Mereka menunggu Reyhan yang sedang menghubungi psikolog untuk mengurus Bintang.
"KENZI!!!!" teriakan dari ambang pintu berhasil membuat mereka menengok.
Bintang berdiri disana dengan muka babak belurnya. Pemuda itu tersenyum hangat. Sesaat kemudian, senyuman itu berubah menjadi wajah takut. Tanpa aba-aba, Bintang berlari kencang kearah Kenzi yang membuat gadis itu bingung sekaligus cemas.
Jlebb
Sebuah anak panah tertancap sempurna di dada kiri Bintang hingga membuat semua orang terkejut. Kenzi menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, begitu juga dengan Reyhan dan Hanzo.
"Kak...." lirih Kenzi dengan nada tercekat di tenggorokan. Pemuda itu melindunginya, Dia mengorbankan nyawanya untuk keselamatannya. Anak panah itu untuknya, tapi Bintang menjadi tameng untuknya. Untuknya, dan karenanya.
Tubuh Bintang ambruk, dan langsung di tahan oleh Kenzi. Kenzi meletakkan pelan tubuh pemuda itu di tanah. Tatapannya sayu, namun bibirnya tersenyum. Senyuman yang menurut Kenzi berbeda.
"Aku udah jadi pahlawan" lirih Bintang sambil tersenyum tulus.
"Kenapa lo ngelakuin ini" isak Kenzi sambil menggenggam tangan pemuda itu.
"Karena aku nggak mau kamu terluka" jawab Bintang disertai ringisan saat darah semakin banyak keluar.
"Tapi nggak gini caranya!!" bentak Kenzi marah tapi menangis. Reyhan dan Hanzo masih berdiri mematung, sedikit tercengang dengan apa yang dilihatnya.
"Aku sayang sama kamu. Sayang banget. Aku udah kehilangan semuanya, jadi nggak masalah kalo mati" racau Bintang
"Tutup mulut lo kak!!. Lo nggak boleh ngomong gitu!!. Gue nggak mau lo mati, apalagi kalo itu gara-gara gue!!" bentak Kenzi dengan tangis yang semakin keras.
"Aku pengen kamu selalu aman dan bahagia. Meskipun harus ada yang berkorban, aku rela" ucapan melankolis itu berhasil menyayat hati siapapun yang mendengarnya, apalagi saat suara pemuda itu mulai tercekat seakan tak bisa keluar.
"Boleh aku, cium kamu Ken?..... untuk.... terakhir kali" nafas pemuda itu mulai terengah-engah dan Kenzi hanya bisa mengiyakan.
Ia mengangkat kepala Bintang di pahanya, dan kecupan singkat itu ia dapatkan di pipi. Pemuda itu tersenyum senang, namun perlahan pandangannya mulai meredup.
"Kalo di dunia ini kita cuma bisa ketemu sebentar, aku berharap disana nanti kita bisa ketemu lagi. Entah itu kapan tapi aku akan selalu nunggu dan jagain kamu dari sana. Aku pengen kamu selalu bahagia,,,, selamat..... tinggal.... sayang" mata Bintang terpejam sempurna dan langsung membuat semua orang cemas.
Reyhan mendekat dan menempelkan jari telunjuknya di hidung pemuda itu untuk memeriksa nafasnya. Reyhan kemudian menggeleng, pertanda jika hal buruk telah terjadi.
Kenzi menangis histeris. Ia meringkuk disamping tubuh dingin Bintang dengan kedua lutut yang ia tekuk. Reyhan mengusap punggung gadis itu dengan pelan,, sedangkan Hanzo menghubungi ambulance untuk mengevakuasi Bintang.
"Kamu tenang dulu yaa" Reyhan menarik Kenzi ke dalam pelukannya dan mengusap punggung gadis itu pelang, berharap jika itu bisa membuatnya sedikit tenang namun nyatanya tidak.
"Dia meninggal karena aku, dia begini karena ngelindungin aku, ini semua salah aku!!" racau Kenzi sambil terus menangis di dada Reyhan. Membiarkan kaos pemuda itu basah karena air matanya.
"Ini semua udah takdir sayang" lirih Reyhan dengan lembut.
Mata Kenzi kemudian melirik kearah anak panah yang masih tertancap di dada Bintang. Anak panah yang terbuat dari kayu dan ujungnya terbuat dari tembaga lancip. Di tengah-tengah ada ukiran DC disana.
"Dead Cobra"
*********
*Kok gue nyesek yakkk😫. Ngenes amat dah si Bintang, gue kasian tapi gimana yaa...alurnya kan emang gini. Jadi yaudahlah, tega nggak tega ditega-tegain aja:(
Yok gaesss like-nya mana nihhh, coment-nya jgn lupa. Kuy ke 'Someone you loved'. Bang Devan nungguin kalian tuhh, katanya mau diajak main karambol:v*
Jangan lupa like, coment, and rate yaa. Happy reading 😘