Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Kepergian Kenzi



Kenzi meletakkan baju yang kesekian kalinya ke dalam koper. Ia lalu menutup koper itu rapat-rapat dan meletakkannya di lantai. Ia mengamati kamarnya sekali lagi, hari ini dia akan pergi. Meninggalkan segala kenangan yang ada, meninggalkan semua kisah yang pernah terjadi, serta meninggalkan segala memory tentang 'Dia'.


Langit nampak tak secerah biasanya, seakan ikut merasakan kegelapan hati seorang Kenzia. Helaan nafas berat keluar dari bibir gadis itu. Mencoba menguatkan hatinya, Kenzi menggeret koper yang ia bawa menuju ke lantai bawah.


Disana seluruh keluarganya sudah berkumpul. Mereka kompak berdiri setelah melihat kedatangan Kenzi. Kenzi turun perlahan sambil menampilkan senyuman palsu di wajahnya.


"Kamu yakin mau ke tempat uncle, sayang?" tanya William dengan lembut. Jika boleh jujur, ia tak ingin putrinya pergi jauh kesana. Ia ingin semua anak-anaknya tetap berada disini. Berkumpul bersamanya menjadi keluarga yang lengkap dan utuh.


"Iya, Dad" sahut Kenzi sambil tersenyum manis untuk menutupi kesedihannya.


"Mommy udah hubungi uncle kamu, nanti kalo kamu udah sampek, jangan lupa kabarin dia ya!!. Biar uncle bisa jemput" ucap Allia yang dibalas anggukan oleh Kenzi.


"3 jam lagi pesawat lo berangkat, lo mau ke bandara sekarang atau nanti dulu?" tanya Devano di sela-sela pembicaraan.


"Sekarang aja, Bang" sahut Kenzi dengan segera. Ia ingin cepat pergi dari negara ini untuk menenangkan hatinya. Hati yang sebenarnya sudah remuk tak terbentuk, dan entah kapan bisa kembali seperti semula.


Devano mengangguk mengerti. Mereka berjalan keluar mansion dengan Kenzi berjalan di tengah-tengah. Supir sudah menyiapkan mobil yang akan mereka tumpangi. Supir itu membukakan pintu untuk mereka semua.


Sebelum pergi, Kenzi menengok ke belakang untuk menatap mansion tempatnya tinggal dan tumbuh besar. Tempat dimana ia memulai segala hal dari awal. Awal dari segala peristiwa yang terjadi di hidupnya. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Kenzi terus menatap kearah luar jendela selama perjalanan. Tak ada percakapan diantara mereka. Semua hanya diam membisu menahan segala gejolak dalam hati masing-masing.


"Hari ini aku pergi. Dan Hari ini juga kamu mulai menjalani kehidupan baru sama dia"


"Andai aku tau cinta akan sesakit ini, mungkin aku akan berfikir ribuan kali sebelum memutuskan untuk kembali jatuh cinta"


*************


Reyhan menatap kotak cincin di genggamannya, Ia sudah tampil menawan dengan setelan jas yang ia kenakan. Ruangan sudah di dekorasi dengan sangat cantik, para tamu undangan juga sudah berdatangan. Namun Reyhan seakan tak menikmati acara itu sama sekali.


Seorang MC naik ke atas podium untuk menyampaikan pembukaan.


"Selamat siang para hadirin sekalian. Atas nama Keluarga Alexander dan Keluarga Florenzo, saya mengucapkan terimakasih karena Anda sekalian berkenan hadir dalam acara pertunangan Putra dan Putri dari Tuan Raymond Alexander dan juga Tuan Daniel Florenzo"


"Pada hari yang cerah ini, mari kita semua menjadi saksi atas pertunangan Reyhan Saputra Alexander dengan Rosella Florenza" tepuk tangan para tamu undangan bergemuruh mengakhiri sambutan MC tersebut.


Acara pertunangan sudah mulai memasuki acara inti. Reyhan berdiri berhadapan dengan Sella. Gadis itu tampil menawan berbalutkan gaun panjang berwarna navy, selaras dengan jas yang Reyhan kenakan.


Reyhan berkali-kali menghela nafas berat. Ia menatap kearah Sella. Wajah gadis itu tiba-tiba berubah menjadi wajah Kenzi, gadis yang masih begitu ia cintai. Sekejap kemudian, wajah itu kembali semula. Kenangan indah bersama Kenzi terlintas dibenaknya hingga membuat Reyhan semakin berat untuk menjalani semua ini.


Sella mengucapkan ikrar pertunangan dengan wajah berseri, ia kemudian menyematkan cincin pertunangan di jari manis Reyhan. Senyuman mengembang di wajah keduanya. Bedanya, senyum di wajah Sella adalah senyuman tulus, sedangkan Reyhan adalah senyum yang dipaksakan.


Reyhan mengucapkan sebuah ikrar yang sebenarnya tak ingin ia ucapkan. Ia meraih jemari tangan gadis itu untuk menyematkan cincin pertunangan.


"BERHENTI!!!"


Gerakan tangan Reyhan yang hampir memasukkan cincin itu terhenti tatkala mendengar seruan dari arah pintu masuk. Seluruh keluarga dan tamu undangab kompak menengok kearah sumber suara.


"Leon?!!" gumam Reyhan yang masih bisa didengar oleh Sella.


Leon berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya ditahan oleh dua penjaga yang ditugaskan untuk menjaga keamaan di area gedung. Ia menatap tajam kearah Reyhan yang dibalas tatapan juga oleh pemuda itu.


"Gue nggak tau alesan kenapa lo ngelakuin semua ini!!!....Tapi gue sebagai seorang sahabat bener-bener nggak habis pikir sama apa yang lo lakuin ke Kenzi!!!"


" Gue nggak peduli sama apa yang mau lo lakuin selanjutnya, tapi gue cuma mau bilang. Hari ini Kenzi bakal pergi, jauh dari sini dan jauh dari lo!!!. Gue nggak tau isi hati lo kayak apa, meskipun gue yakin kalo lo masih mencintai dia!!!. Gue nggak peduli sama lo, tapi gue peduli sama Kenzi. Setelah ini, terserah lo mau ngelakuin apa!!. Tapi gue harap, lo sedikit punya akal sehat buat mikirin ini semua!!!" ucap Leon dengan lantang.


Reyhan terdiam cukup lama. Ia kemudian menatap kearah Sella yang sedang menatapnya dengan tatapan memohon. Memohon agar dia tidak pergi.


"Sorry, Sell!!" ucap Reyhan seraya meletakkan kotak cincin yang masih terdapat sebuah cincin di dalamnya, ia meletakkan cincin itu diatas meja kemudian berlari menghampiri Leon.


"Maaf, Pah. Reyhan nggak bisa!!" ucap Reyhan dengan wajah datarnya. Ia melanjutkan langkahnya kearah Leon.


"Please, anterin gue" mohon Reyhan dengan tatapan penuh harap. Leon mengangguk setuju. Mereka berjalan cepat keluar gedung, mengabaikan panggilan dan teriakan dari orang-orang yang ada disana. Sella menatap kepergian Reyhan dengan tatapan yang tak bisa di deskripsikan. Ia benci semua ini!!


**********


Bandara Internasional XX


"Kamu jaga diri baik-baik ya disana" pesan Allia seraya mengelus kepala Kenzi dengan sayang.


"Iya, mom" sahut Kenzi, wajahnya menampilkan senyuman hangat kepada seluruh keluarganya.


"Kalo ada apa-apa, cepet kabari Daddy ya!!" ucap William sambil memeluk putrinya erat-erat, Kenzi pun membalas pelukan itu dengan senang hati.


"Pasti Dad" sahut Kenzi di sela-sela pelukannya. Ia melepaskan pelukan itu dan beralih menatap kearah kakaknya yang sedari hanya diam.


"Lo nggak mau peluk gue, Bang?" goda Kenzi sambil menaik turunkan alisnya. Devano tersenyum kecil lalu mendekat dan memeluk Kenzi erat.


"Jaga diri lo, oke!!. Liburan semester nanti, gue jenguk lo kesana" ucap Devano setelah pelukan mereka terlepas. Kenzi mengangguk mengerti.


Audio center sudah mengumumkan informasi bahwa pesawat 1 jam lagi akan lepas landas dan penumpang dianjurkan untuk segera menuju ke boarding area. Kenzi menatap kearah keluarganya sekali lagi. Ia berusaha sekuat tenaga agar air mata itu tak menetes. Kenzi menutupinya dengan senyuman manis untuk menipu semua orang.


"Ken, pamit ya!!" ucap Kenzi dengan nada rendah.


"Hati-hati ya sayang" sahut Allia dengan senyum. Kenzi mengangguk mengerti. Ia menyeret kopernya untuk menuju tempat penerbangan dengan langkah berat.


"KEN!!!" teriakan seseorang sukses menghentikan langkah Kenzi yang sudah setengah jalan.


Kenzi mematung di tempat tanpa berniat untuk membalikkan badannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia meremass hoodie yang ia kenakan kuat-kuat saat menyadari suara siapa itu.


"Kenzi...." suara itu semakin mendekat dan memaksa Kenzi untuk membalikkan badannya. Perlahan, Kenzi memutar tubuhnya untuk menatap orang itu.


Reyhan berdiri dihadapan Kenzi dengan tatapan sayu. Sedangkan gadis itu belum menunjukkan ekspresi apapun pada wajahnya.


Devano mengeram kesal. Ia hendak menghampiri Reyhan namun ditahan oleh William. Ayah dua anak itu melarang Devano lewat sorot matanya. Devano mendengus kesal. Ia menuruti perintah ayahnya agar tetap diam dan tidak menganggu.


Reyhan dan Kenzi saling tatap dalam diam. Tak ada yang merubah posisi diantara mereka.


"Please, hug me baby" pinta Reyhan dengan mata teduhnya, namun Kenzi tidak bergeming. Hingga akhirnya Reyhan mendekat dan memeluk gadis itu erat-erat. Kenzi tak membalasnya, dan dia juga tidak menolak. Ia hanya diam membiarkan Reyhan bertindak sesuka hati.


"Maaf" ucap Reyhan disela-sela pelukannya. Ia melepas pelukan itu lalu menggenggam tangan Kenzi dengan lembut.


"Please, jangan pergi" pinta Reyhan yang sama sekali tak mendapat jawaban.


Kenzi menatap lekat kearah Reyhan. Tatapannya kemudian beralih pada cincin yang melingkar di jari manis pemuda itu. Ia menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.


"Aku pengen hubungan kita berakhir" ucap Kenzi dengan nada datar namun berhasil membuat Reyhan tertegun.


"Tapi....-


"Terima kasih untuk semuanya" Kenzi memotong ucapan Reyhan seraya melepas genggaman tangan pemuda itu. Ia menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak yang ia rasakan. Kenzi mengarahkan pandangannya keatas agar air matanya yang sudah menggenang tidak menetes. Ia sudah lelah menangis, dan dia tidak mau diperdaya oleh cinta.


"Selamat tinggal" Kenzi bergegas pergi meninggalkan semuanya tanpa mengizinkan pemuda itu untuk berucap. Ia melangkah lebar-lebar seraya menyeka air matanya yang dengan lancangnya menetes. Ia masih mendengar Reyhan tang berteriak memanggil namanya. Namun ia berusaha untuk tidak memperdulikannya. Semuanya sudah cukup. Sudah cukup segala rasa yang ia resapi. Kini saatnya ia untuk pergi, meninggalkan segalanya.


**************


"Aku pergi meninggalkan semua kisah dan masih membawa sebuah rasa. Satu tahun bersamamu adalah saat-saat terindah yang pernah terjadi, meskipun harus berakhir menyakitkan. Kehadiranmu menghadirkan sebuah warna, meskipun itu hanya sementara. Selamat berbahagia bersamanya Rey. Selamat tinggal" batin Kenzi sambil menatap awan-awan dari jendela pesawat yang ditumpanginya. Berat?, pasti. Sakit?, jelas. Namun apa boleh buat inilah takdir. Takdir yang harus ia jalani.