
Reyhan terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit karena teriakan Reza yang menggema memenuhi setiap sudut kamar. Reyhan semalam memang menginap di rumah pemuda itu. Ia malas pulang ke rumah jika hanya harus mendengar celotehan sang ayah.
"Apaan sih lo?!.Berisik deh!!" desis Reyhan seraya menutup mukanya menggunakan bantal. Ia ingin tidur, semalaman ia tidak tidur karena terus memikirkan Kenzi. Ia butuh pemulihan.
"Rey, lo harus liat ini!!!" seru Reza dengan nada tak sabaran. Ia menarik bantal yang digunakan oleh Reyhan hingga pemuda itu mau tak mau terbangun dari tidurnya.
"Apa?" ucap Reyhan dengan nada malas. Ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
Reza tak menjawab. Ia mengambil remote TV dan menyalakan TV yang sedang menayangkan sebuah siaran berita. Meski dengan mata yang berat, Reyhan dapat melihat dan mendengar dengan jelas apa yang reporter itu siarkan.
"Pesawat W612 Air, tujuan Indonesia-Mexico yang lepas landas pada pukul 14.00 dikabarkan jatuh di perairan Pulau S. Pesawat diperkirakan jatuh pukul 18.26, 4 jam 26 menit setelah pesawat tersebut lepas landas. Menurut pihak maskapai penerbangan, pesawat disinyalir terjatuh akibat kerusakan mesin dari pesawat itu sendiri. Proses evakuasi korban juga sudah dilakukan sejak kemarin malam. Demikian informasi dari Suci Aulia, BBG Tv melaporkan"
Tubuh Reyhan lemas seketika setelah melihat siaran itu. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ini nggak mungkin!!" lirih Reyhan dengan suara tak bertenaga. Reza menghampiri Reyhan dan menepuk bahu pemuda itu pelan.
"Yang sabar ya Rey!!" ucap Reza dengan nada prihatin. Reyhan menolehkan kepalanya dan menatap tajam kearah pemuda itu.
"Kenzi nggak kenapa-napa!!!. Dia pasti baik-baik aja sekarang!!" desis Reyhan dengan amarah.
"Tapi emang ini kenyataannya Rey!!!, lo liat sendiri kan beritanya!!!" sahut Reza dengan suara sedikit keras.
"Reporter itu bohong!!!, dia nggak tau apa-apa!!!. Gue akan buktiin sendiri kesana!!!" tegas Reyhan masih dengan nada yang sama. Ia bergegas berdiri lalu berjalan keluar rumah dengan langkah lebar, mengabaikan teriakan Reza yang sedari tadi memanggil namanya. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Kenzi, tak ada yang lain.
"Ini semua nggak mungkin!!!" batin Reyhan menjerit membayangkan segala kejadian yang mungkin terjadi. Ia mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai tujuan.
**********
Reyhan memarkirkan mobilnya dengan sembarangan. Ia menutup pintu mobil dengan asal dan segera berlari kearah kerumunan orang yang berada di sisi samping bandara. Mereka semua terlihat khawatir, bahkan ada yang menangis setelah mendengar penjelasan dari salah satu Tim SAR dan pihak maskapai.
Reyhan menghampiri salah satu dari anggota tim SAR dengan tergesa-gesa. Masa bodo dengan penampilannya yang awut-awutan.
"Pak dimana Kenzi?!!, dia baik-baik aja kan?!!!. Jawab saya Pak!!!" tanya Reyhan dengan tak sabaran. Ia berbicara menggunakan nada tinggi sehingga membuat orang itu terlonjak kaget.
"Maaf mas, harap tenang dulu!!" anggota yang lain menghampiri seraya berucap dengan nada sopan agar Reyhan mau mengecilkan volume suaranya.
"Gimana saya bisa tenang...?!!!, Kenzi ada di dalem pesawat itu bangsattt!!!" bentak Reyhan dengan kesal. Ia bahkan tak bisa mengondisikan mulutnya yang terus saja mengeluarkan sumpah serapah kepada anggota yang bertugas disana.
"Iya mas saya mengerti. Tapi harap jaga sikap, ini tempat umum!!" anggota tim SAR itu memberikan pengertian dengan nada yang masih sama.
"Maaf kalau boleh tau, nama orangnya siapa ya mas?" Salah satu pihak maskapai bertanya kepada Reyhan seraya mengotak-atik Ipad di tangannya.
"Kenzia Nastasya Aleskey" sahut Reyhan dengan segera. Orang itu menggeser layar Ipad di tangannya. Ia kemudian berhenti lalu menatap kearah Reyhan dengan tatapan sayu.
"Menurut catatan, ada penumpang yang bernama Kenzia di dalam pesawat tersebut. Kemungkinan besar ia juga ikut terjatuh bersamaan dengan jatuhnya pesawat. Kami dan anggota tim SAR sudah melakukan proses evakuasi korban di tempat kejadian, dan diperkirakan tak ada yang selamat. Kami akan menghubungi pihak keluarga jika ada hal yang kami temukan tentang Nona Kenzia" jelas orang itu panjang lebar.
Reyhan membeku di tempat. Ia menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Nggak, ini nggak mungkin Pak!!!. Kalian pasti salah!!!!, Kenzi pasti baik-baik aja!!!" seru Reyhan seraya mengguncang tubuh pihak maskapai itu kuat-kuat.
"Mas, harap jaga sikap anda!!!" seru seorang security yang memisahkan mereka.
Tubuh Reyhan luruh ke lantai. Ia memukul lantai itu berulang kali hingga tangannya sendiri berdarah.
"Akhhh!!!!" teriak Reyhan dengan keras.
"Ini nggak mungkin!!!!, ini pasti cuma mimpi!!!" Reyhan memukul pipinya sendiri berulang kali dengan amat keras. Ia merasakan sakit, berarti ini bukan mimpi.
Reyhan menangis, meratapi perpisahan yang ternyata adalah perpisahan untuk selamanya. Ia tak menyangka semua ini akan terjadi.
Tiba-tiba tubuhnya ditarik bangkit dengan paksa oleh seseorang.
Bughhh
Sebuah bogeman mendarat di pipi kiri Reyhan hingga membuat pemuda itu tersungkur ke lantai karena belum siap menerima serangan. Reyhan mengelap sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan itu. Ia kemudian menatap kearah orang yang memukulnya dengan tatapan sayu.
"Bangsattt!!!!!" umpat Devano dengan kesal seraya menarik kerah baju Reyhan.
Bughhhh
Satu pukulan kembali pemuda itu layangkan ke pipi Reyhan.
"Gara-gara lo adek gue meninggal!!!!" marah Devano sambil terus memukuli Reyhan. Pemuda itu tak menunjukkan perlawanan. Ia hanya diam menerima setiap perlakuan Devano.
"Andai lo nggak nyakitin adek gue, dia nggak akan pergi dan naik pesawat itu!!!!. Dasar keparat sialan!!!!" maki Devano seraya menghempas tubuh Reyhan yang sudah babak belur ke lantai.
"Kalo gue tau semuanya bakalan kayak gini, gue nggak akan pernah sudi buat ngerestuin hubungan lo sama Kenzi!!!"
"Lo cuma laki-laki pecundang yang nggak punya pendirian!!!!, sampah!!!"
"Sekarang puas lo hah?!!!!, adek gue mati!!!!, dan itu semua gara-gara lo!!!" teriak Devano dengan amarah sambil menunjuk Reyhan tepat di depan wajahnya.
Reyhan tak menjawab atau melawan. Ia hanya diam sambil menunduk. Dalam hati ia memaki dirinya sendiri karena semua ini, benar kata Devano. Ini semua terjadi karena dirinya.
"Devan, tahan diri kamu!!" William datang seraya menahan bahu Devano yang hendak menyerang Reyhan lagi. Di sebrang sana, Allia menyaksikan itu semua sambil beruraikan air mata. Disini dia lah yang paling terluka. Ia ibunya, dia yang melahirkan dan membesarkan Kenzi. Betapa hancurnya perasaan seorang ibu saat mendengar kabar kematian putrinya sendiri.
"Dia nggak pantes buat hidup!!!!, gara-gara dia Kenzi meninggal Dad!!!" seru Devano masih dengan amarah menggebu.
"Lalu kalau Reyhan juga mati, apa Kenzi bisa kembali?!. Apa Kenzi bisa kembali sama kita hah?!!" bentak William sambil meneteskan air mata. Ia juga sedih, ia juga merasa kehilangan. Putrinya, putri kecilnya sudah pergi. Pergi untuk selamanya.
Tubuh Devano luruh ke lantai. Ia menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana. Ia terisak menahan kepedihan. Baru kemarin. Baru kemarin ia memeluk Kenzi. Namun kini adik kecilnya sudah pergi meninggalkan semua.
"Kenzi....." lirih Devano dengan isak tangisnya.
-
-
-
-
-
************
20 hari setelah jatuhnya pesawat, Tim SAR mengumumkan bahwa hanya ada 20 mayat yang ditemukan. Itupun dengan tubuh yang sudak terbentuk. Sejak awal, Tim SAR sudah megkonfirmasi bahwa seluruh korban meninggal saat kejadian.
Dan hari ini, seluruh keluarga korban di bawa menggunakan kapal ke tengah laut. Tepat dimana tragedi itu terjadi. Mereka semua akan melakukan prosesi tabur bunga itu mengenang jiwa korban yang ikut hancur dalam kecelakaan tersebut.
Seluruh keluarga Kenzi hadir dalam prosesi tersebut. Mereka kompak memakai baju serba hitam yang mendakan kesedihan. Allia sudah histeris sejak tadi. Devano dan William berusaha menguatkannya meski mereka juga terluka.
Reyhan juga hadir disana. Ia mengenakan baju serba hitam dan kaca mata hitam, tak lupa dengan sekeranjang bunga mawar di tangannya. Ia berjalan ke pinggiran kapal seraya menatap lurus ke depan.
Reyhan mengulurkan tangannya dan melepas kelopak-kelopak bunga mawar yang ia genggam ke laut lepas. Mengenang segala kisah bersama Kenzi malah membuatnya semakin tak rela melepas kepergian gadis itu.
"Kamu benar-benar pergi. Pergi untuk selamanya sambil membawa semua kisah tentang kita. Kamu juga membawa hatiku ke alam yang sekarang kamu tempati. Aku masih mencintaimu, sayang. Dan hati ini masih milikmu. Tapi sekarang kamu pergi, pergi meninggalkanku. Mengikut sertakan hatiku bersamamu keatas sana. Kamu nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun, sampai kapanpun. My Love, My Kenzi" ucap Reyhan dalam hati. Hati yang mungkin sebenarnya sudah tidak ada. Karena hatinya sudah pergi, pergi bersama Kenzi dan tak mungkin bisa kembali. Untuk selamanya.