
Garis keturunan Aleskey memang tak pernah menghasilkan produk gagal. Kenzi dan Devano contohnya. Terlahir dari ayah dan ibu yang menawan membuat Kenzi dan Devano mewarisi paras rupawan orang tuanya. Jika Kenzi saja mampu membuat kaum adam tergila-gila, sama hal-nya dengan Devano. Mempunyai wajah baby-face membuat Devano digilai oleh banyak wanita. Mulai dari junior, senior, bahkan dosen muda juga kepincut dengan pesona seorang Devano Aleskey.
Kakak dari Kenzi itu sudah rapi dengan segala keperluan kuliahnya. Hanya menggunakan celana hitam, serta kaos hitam yang ia rangkap dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah dan hitam sudah mampu membuat aura ketampanannya keluar. Kemeja-nya sengaja tak ia kancingkan hingga penampilannya benar-benar memukau.
"Morning Baby girl..!" Devano mencium pipi kiri Kenzi yang sedang duduk di meja makan bersama orang tua mereka.
"Morning my brother..!" ucap Kenzi sambil tersenyum manis. Devano kemudian duduk di samping Kenzi lalu menyambar roti tawar dan selai yang ada di depannya.
"Tumben akur" celetuk Allia dengan wajah heran. Devano dan Kenzi kompak menengadahkan kepalanya setelah mendengar ucapan mommy mereka.
"Akur salah, berantem lebih salah. Emang ya, jadi anak itu selalu salah!" ucap Kenzi dan Devano bersamaan yang membuat mulut William dan Allia menganga. Menyadari situasi, William berdehem sebentar untuk mengurangi rasa canggung.
"Kuliah pagi, Dev?" tanya William mengalihkan suasana.
"Iya dad" sahut Devano. William mengangguk mengerti.
"Mom, Dad, Bang, Ken berangkat duluan ya. Jam-nya udah mepet!" pamit Kenzi seraya menyalami mereka satu persatu.
"Sekolah yang bener!, jangan pacaran mulu!" ucap Devano yang dihadiahi putaran bola mata malas oleh adiknya.
"Suka-suka gue lah. Gue yang pacaran kenapa lo yang sewot!" sahut Kenzi dengan nada tak bersahabat.
"Dih, lo kali yang sewot!. Gue tadi ngomong baik-baik lah elo nyautnya ngegas banget kek orang mau lahiran!" tukas Devano tak mau kalah.
William dan Allia melihat pertengkaran putra-putrinya. Mereka kemudian saling pandang satu sama lain.
"Pasti Dev yang menang!" yakin Allia sambil menatap suaminya.
"Nggak lah. Pasti Ken yang menang!" elak William.
"Pasti Dev yang menang, Dad!. Liat aja kalo nggak percaya!" kekeh Allia.
"Ken itu pasti selalu menang, aku yakin 100%" ucap William ngotot.
"Kalo Dev yang menang, kamu beliin aku tas baru ya?!" ujar Allia dengan wajah tengilnya.
"Oke. Tapi kalo Ken yang menang, nanti malem kita 10 ronde. Gimana?" tantang balik William sambil tersenyum miring yang membuat Allia terdiam sejenak.
"Oke. Deal!" mereka kemudian saling berjabat tangan. Lihatlah betapa somplaknya keluarga ini. Anaknya lagi debat bukannya di lerai malah buat taruhan. Ciri-ciri orang tua patut dicontoh:/
"Hello....lagian lo ngapain ngurusin urusan pribadi gue!. Suka-suka gue dong mau ngapain aja!" sahut Kenzi.
"Selagi lo masih berpredikat sebagai adek gue, gue berhak dong mau ikut campur apa aja dalam hidup lo!" ucap Devano.
"Dih, ya nggak bisa gitu lah. Bilang aja lo iri karena lo jomblo!" cibir Kenzi.
"Eh eh eh, siapa tadi yang lo bilang jomblo?!" tanya Devano dengan nada tak bersahabat.
"Elo. Lo yang jomblo, nggak laku, ngenes!" ledek Kenzi.
"Heh, gue bukannya nggak laku ya. Kalo gue mau, bisa-bisa satu kampus jadi pacar gue semua!" sahut Devano.
"Kalo lo emang banyak yang suka, kenapa lo sampek sekarang masih jomblo?!. Alahh bilang aja lo emang nggak ada yang mau!. Tenang bang, entar gue bantu cariin kok. Banyak waria pinggir jalan, entar gue bungkusin 10 buat lo kalo perlu!" ucap Kenzi sambil tertawa yang membuat Devano kesal.
"Lo...."
"Cantik, oh makasih loh ya. Udah ah, gue mau berangkat. Bye bye semua mwahh" ucap Kenzi kemudian langsung pergi meninggalkan Devano yang sedang dongkol.
"Tuh kan, Ken yang menang. Jangan lupa, nanti malem 10 ronde Oke?!" bisik William di telinga Allia yang membuat wanita itu merengut kesal.
******
Devano memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Para mahasiswi yang sudah sangat familiar dengan mobil Devano langsung memfokuskan pandangan mereka kearah pemuda itu. Devano turun dari mobil dengan gagah. Kaca mata hitam yang bertengger manis dihidung mancung miliknya menambahkan kesan cool pada dirinya. ia berkaca sebentar untuk membenahi rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.
"KAK DEVAN.....!" para mahasiswi itu berteriak histeris saat melihat Devano.
"Hay ladies!" seru Devano sambil tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya genit. Hal itu membuat para mahasiswi semakin menyoraki dirinya.
Mengabaikan mereka, Devano berjalan memasuki kampus. Disana ia bisa melihat ketiga temannya sedang duduk di salah satu kursi yang terletak di koridor.
"Oii bro!!" sapa Devano sambil ber-tos ala lelaki dengan mereka.
"Tumben lo baru dateng?" heran Juan karena tak biasanya Devano datang saat jam kuliah sedikit lagi akan di mulai. Biasanya Devano akan datang lebih awal, bahkan ia selalu berada di kampus lebih dulu dari pada teman-temannya.
"Biasa....harus perang dunia dulu sama adek gue. Tuh anak makin gede bukannya makin manis malah makin bawel" jawab Devano seraya mendudukkan dirinya disamping Azka.
"Eh adek lo kok nggak pernah kesini lagi sih?" tanya Andra dengan antusias.
"Kalo adek gue kesini dia mau ngapain coba?!. Nggak ada kepentingan juga" jawab Devano.
"Ck, lo mah nggak asik!. Punya adek cantik bukannya di kenalin ke gue malah disimpen sendiri. Kan kali aja kita bisa saudaraan gitu Dev" cebik Andra.
"Kagak bakalan gue restuin lo sama adek gue. Kasian dia entar kalo harus dapet lo yang kayak buaya cap kadal" sahut Devano dengan sinisnya yang membuat Andra mendengus kesal.
"Untung temen. Kalo bukan udah gue cincang lo sekarang juga!" ucap Andra kesal.
"Sebelum lo cincang gue, gue giling lo lebih dulu!" tukas Devano dengan santainya.
"Lo pikir gue cowok apaan?!" tukas Juan seraya menggeplak kepala belakang Azka.
"Sakit ngab!!" pekik Azka sambil mengelus kepala belakangnya yang terasa panas.
"Sukurin!!" hardik Devano dan Andra bersamaan dan membuat Azka merengut kesal. Devano kemudian beranjak dari duduknya dan membuat ketiga temannya menatapnya bingung.
"Mau kemana lo?. Kelas kan baru mulai 15 menit lagi." tanya Juan.
"Mau ke toilet bentar" jawab Devano dan langsung pergi ke tempat tujuannya, toilet.
Devano berjalan sambil memainkan ponselnya. Menstalking medsos milik artis idolanya dan mengabaikan sapaan-sapaan para mahasiswi yang terus terlontar sejak tadi.
Brukk
Karena tidak fokus, Devano menabrak seseorang hingga ponsel yang ia bawa terlempar ke lantai bersamaan dengan buku orang itu yang juga terjatuh.
"Kalo jalan tuh liat-liat dong!." omel Devano sambil mengambil ponselnya dan memeriksa apakah ponsel itu lecet atau tidak. Orang itu masih berjongkok sambil memberesi bukunya yang berserakan. Setelah selesai, ia berdiri sambil menatap lekat kearah Devano.
Emosi Devano yang tadi memuncak sampai ke ubun-ubun langsung padam seketika setelah menatap mata teduh milik gadis di depannya. Gadis itu tampil sederhana berbalutkan celana hitam, kaos putih dan jaket jeans warna abu-abu. Rambutnya ia kuncir kuda menunjukkan bawa ia bukan gadis yang feminim. Itu saja sudah membuatnya tampil memukau. Tak bisa dipungkiri jika gadis itu memiliki paras yang cantik.
"Lo tadi ngomong apa?. Jalan liat-liat?. Sehat nggak lo?!. Jelas-jelas yang nabrak tadi lo dodol!. Napa gue yang disalahin. Makanya kalo jalan tuh pake kaki, liat pake mata biar nggak nabrak orang seenak jidat!. Lo pikir ini jalanan punya nenek moyang lo?!" sewot gadis itu dengan garangnya yang membuat Devano terjingkat.
Devano mendehem sebentar kemudian tersenyum manis ke gadis itu.
"Emm sorry ya, tadi emang gue yang salah" ujar Devano dengan lembut selembut kapas segelan.
"Bagus kalo lo sadar diri!" ketus gadis itu kemudian langsung pergi melewati Devano begitu saja.
Devano menatap punggung gadis itu dengan heran. Pasalnya, setelah mengeluarkan senyum malaikatnya gadis itu malah tak memberikan respon seperti yang diharapkan Devano.
"What?!, gitu doang?" monolog Devano heran. Tak sengaja kakinya menginjak suatu benda, ia mengambil benda itu yang ternyata adalah sebuah ID card. Devano menyunggingkan senyum tipis disudut bibirnya setelah melihat dan membaca identitas yang tertera di kartu itu.
"Zevia Clarissa, fakultas designer interior. Hmm menarik" ucap Devano sambil senyum nggak jelas. ia kemudian menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin menjauh.
"Neng manis, A'a Devan dateng!!" seru Devano sambil berlari menyusul gadis itu.
Saat sudah berjalan disampingnya, Devano terus menatap gadis itu yang terus saja menatap kedepan seolah tak melihat kehadirannya sama sekali.
"Lo cantik-cantik kok galak banget sih" ucap Devano yang tak direspon sama sekali oleh gadis itu.
"Lo percaya nggak?. Gue itu bisa ngeramal lho!" tak ada jawaban.
"Gue ramal, nama lo Zevia Clarissa. Dan lo anak fakultas desain" dan berhasil. Gadis itu langsung berhenti lalu menatap tajam kearah Devano.
"Tau darimana lo nama gue?!" tukas gadis itu. Devano tersenyum lebar sambil memamerkan ID Card di tangannya. Mata gadis itu langsung membulat saat melihat ID card miliknya ada padz Devano.
"Itu punya gue....!. Balikin nggak?!" seru gadis itu.
"Nggak", jawab Devano dengan santainya. Gadis itu berdecak kesal. ia mencoba mengambil kartu itu namun Devano malah mengangkat kartu itu tinggi-tinggi hingga membuatnya kesusahan.
Tingginya yang tak setinggi Devano membuatnya semakin sulit untuk menggapai benda itu. Gadis itu melompat-lompat, tak sengaja kaki kanannya menginjak kaki kirinya sendiri hingga ia terjatuh dan menubruk tubuh Devano sehingga pemuda itu ikut terjatuh bersamasn dengannya. Gadis itu terjatuh tepat diatas Devano. Benar-benar posisi yang tidak menguntungkan.
Dalam posisi seperti ini, mereka saling tatap dalam diam hingga suara Devano mengacaukan segalanya.
"Lo agresif juga ya ternyata" bisik Devano dengan senyum jahilnya. Gadis itu melotot kesal, ia segera menyambar ID card-nya kemudian segera bangkit dari tubuh Devano. Saat Devano juga berdiri, tanpa disangka-sangka gadis itu menampar pipi kiri Devano hingga membuat pemiliknya terjingkat.
"DASAR COWOK GILA!!!!" pekik gadis itu dengab kesal. Devano hanya diam mematung melihat apa yang dilakukan gadis itu terhadapnya. Gadis tersebut kemudian langsung pergi meninggalkan Devano yang masih diam. Hingga kesadaran pemuda itu kembali, ia memegangi pipi kirinya sendiri yang masih terasa panas karna tamparan gadis tadi.
"Itu tadi nyata kan?" tanya Devano pads dirinya sendiri.
******
Devano memasuki ruang kelasnya masih dengan wajah bingung. Hal itu membuat teman-temannya mengernyit heran.
"Kenapa lo Dev?" tanya Azka bingung. Belum berniat menjawab, Devano meletakkan tasnya di kursi miliknya. Hingga ia teringat sesuatu, ia langsung menengok menatap Andra.
"Ndra, lo tau mahasiswi yang namanya Zevia Clarissa nggak?" tanya Devano.
"Yang anak fakultas desain itu?" tanya balik Andra yang dibalas anggukan oleh Devano.
"Tau sih. Nama panggilan dia Via. Dia mahasiswi baru disini, pindahan dari kota B. Gue denger-denger, dia disini itu dapet beasiswa" ucap Andra.
Devano tersenyum kecil mendengar ucapan andra.
"Lo suka sama cewek itu?" tanya Juan. Devano mengendikan bahunya saat mendengar pertanyaan temannya.
Devano Edward Aleskey
Zevia Clarissa