
Kenzi menatap jam dinding di ruang tengah tempatnya menonton televisi. Sudah pukul 22.00, namun Reyhan belum menunjukkan batang hidungnya memasuki rumah. Ia kemudian mengambil ponsel, mengetikan sesuatu untuk dikirim kepada pria itu.
Anda
~Kamu dimana?. Pulang telat lagi?
5 menit
10 menit
30 menit....
Kenzi mendengus kesal saat Reyhan tak kunjung membalas pesannya. Ia kembali meletakkan ponselnya di meja, dengan perasaan jengkel ia meneruskan menonton sebuah siaran pertandingan sepakbola yang ia lihat tadi.
"Kalo pulang telat ngabarin kek!!. Seneng banget bikin istri kesel" gerutunya dengan wajah ditekuk.
Kondisi Rumah sudah sepi. Para ART sudah pulang sejak sore dan hanya satu yang tinggal. Sedangkan dua security dan tukang kebun tinggal di paviliun depan rumah.
Tepat pukul 23.30, Reyhan baru sampai dikediamannya dengan wajah lelah. Mengurus dua perusahaan benar-benar membuatnya ketar-ketir, yang satu beres yang satu bermasalah, otaknya serasa ingin resign saat ini juga.
Ia membuka pintu dengan perlahan lalu kembali menutup dan menguncinya setelah masuk. Lampu-lampu sudah dimatikan, itu berarti istrinya sudah tidur. Hingga langkahnya sampai pada ruang tengah, televisi masih menyala. Reyhan mengalihkan pandangannya pada sofa, ternyata Kenzi tertidur disana.
"Tumben Kenzi nonton bola..." gumam Reyhan dalam hati saat melihat siaran sepakbola yang masih ditayangkan di TV. Kenzi nonton bola?, itu mustahil. Dia tau betul jika istrinya tidak terlalu menyukai olahraga tendang-tendangan itu. Tapi malam ini, entah mendapat wangsit darimana perempuan itu mau menonton sepakbola.
"Yang....." Panggil Reyhan dengan sedikit menggoyangkan bahu Kenzi.
Mata perempuan itu perlahan terbuka. Ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan pandangannya yang sedikit kabur.
"Kamu udah pulang?" tanya Kenzi dengan suara serak.
Reyhan mengangguk disertai senyuman.
"Iya, maaf ya tadi lupa nggak ngabarin kamu. Pindah ke kamar yuk, disini dingin"
"Gendong...." Kenzi merentangkan kedua tangannya, meminta gendong layaknya anak kecil.
Reyhan terkekeh melihat tingkah manja istrinya yang sedang kambuh. Ia meraih tangan Kenzi, membawa perempuan itu dalam gendongannya menuju kamar. Entah hilang kemana rasa lelah yang tadi ia rasakan.
"Kamu udah makan belum?. Di bawah ada Capcay tadi Bibi buat, kalo kamu mau biar aku panasin dulu" tawar Kenzi disela-sela langkah Reyhan.
"Nggak usah, aku tadi udah makan sama Faiz di kantor" tolaknya yang dibalas anggukan oleh Kenzi.
Pintu kamar terbuka, Reyhan membawa Kenzi masuk dan menurunkan perempuan itu di samping ranjang.
"Aku mau mandi dulu" Reyhan masuk kedalam kamar mandi setelah mendapat persetujuan. Meskipun pulang larut malam, Ia selalu menyempatkan waktu untuk mandi. Ia benar-benar tidak nyaman jika tidur tanpa mandi terlebih dahulu.
15 menit berlalu, pria itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Setelah meletakkan handuk, Ia beralih menatap Kenzi yang juga menatapnya sambil memeluk guling.
"Kok belum tidur?" Ia mendekat, ikut membaringkan tubuhnya di samping perempuan itu.
"Nungguin kamu" jawab Kenzi dengan manja.
Dua guling yang berada di tengah ia singkirkan. Ia menggeser tubuhnya, mendempet dengan Reyhan dan menjadikan lengan pria itu sebagai bantalan.
"Tumben manja banget" cibir Reyhan dengan nada bercanda. Ia mengulurkan tangan kanannya, mengusap rambut Kenzi dengan lembut.
Kenzi melingkarkan tangannya di pinggang Reyhan dan menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Tempat ternyaman yang ia miliki saat ini.
"Lagi pengen aja" sahut Kenzi enteng tanpa beban.
"Tidur gih, besok aku juga harus berangkat pagi, mau review lokasi soalnya"
Tak menunggu waktu lama, dua orang itu sudah menjelajah ke alam mimpi masing-masing. Lampu redup dan suara dentingan jam dinding mengisi kesunyian malam saat semua orang beristirahat setelah satu hari penuh beraktivitas.
************
Kenzi tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia merubah posisinya menjadi duduk dengan mata yang melihat kearah jam dinding.
"Kamu kenapa?" Reyhan yang merasa ada pergerakan di tempat tidurspontan ikut bangun dan ikut duduk di sebelah Kenzi.
"Laper..." sahut perempuan itu dengan nada manja.
"Mau makan?. Yuk aku temenin"
"Terus kamu maunya makan apa?" tanyanya lagi.
"Mau pecel lele" sahut Kenzi seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya genit.
Reyhan beralih melihat jam dinding, sudah pukul 01.15 dini hari.
"Ini udah malem banget loh Yang, mau nyari dimana pecel lele jam segini?!" keluhan itu akhirnya terlontar dari mulut Reyhan. Pasalnya, istrinya itu meminta disaat yang tidak tepat.
"Di depan komplek sana ada. Sayang.... ayo beli" rengek Kenzi lagi. Bahkan kali ini Ia bergelayut manja di lengan Reyhan sambil mengeluarkan puppy eyesnya, senjata ampuh yang pasti membuat pria itu enggan berkata tidak.
Reyhan membuang nafas kasar sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
"Iya, kita beli. Aku ngambil mobil dulu, kasian Pak Bambang kalo harus dibangunin"
"Kita jalan kaki aja, nggak usah pake mobil" cegah Kenzi dengan segera.
Reyhan menaikkan sebelah alisnya, semakin bingung dengan sikap Kenzi yang menurutnya aneh.
"Kamu kenapa sih Yang?" tanyanya heran.
"Gapapa.... Aku pengennya begitu, ayo buruan Yang nanti keburu tutup!!!"
Meskipun masih dengan perasaan bingung, Reyhan tetap menuruti permintaan Kenzi untuk berjalan kaki demi makan pecel lele tengah malam. Dan disinilah mereka sekarang, berjalan beriringan menyusuri jalanan yang sudah sepi.
Berbekalkan jaket yang menutupi badan, Kenzi menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan dengan posesif.
"Kita lama loh Yang nggak jalan gini. Mungkin terakhir kali pas SMA dulu" ucap Kenzi secara tiba-tiba sambil tersenyum kecil.
"Iya ya, waktu berjalan cepet banget ternyata. Bahkan aku terkadang masih nggak nyangka kalo kita udah nikah" sahut Reyhan.
"Yaa, semua emang selalu terjadi tanpa terduga di waktu yang nggak pernah kita duga. Aku bahkan nggak percaya kalo kamu yang jadi suami aku sekarang"
Sampainya mereka di warung pecel lele pinggir jalan menyudari percakapan 'nostalgia' mereka. Reyhan dan Kenzi duduk di sebuah kursi, lalu seorang perempuan paruh baya datang mendekat.
"Pesen apa Mbak Mas?" tanya perempuan itu dengan sopan.
"Pecel lelenya dua sama teh anget dua ya Bu. Sama air putihnya sekalian" sahut Reyhan yang langsung diangguki oleh sang penjual.
"Baik, tunggu sebentar ya" orang itu kemudian pergi membantu rekannya membuatkan pesanan Reyhan dan Kenzi.
"Aku baru tau kalo disini ada warung" Reyhan mengamati sekeliling, memindai warung sederhana yang terletak di bawah pohon itu.
"Aku juga baru tau kemarin" sahut Kenzi. Matanya menatap penjual itu, merasa tak sabar menunggu pesanannya datang.
"Sabar lah Yang, itu masih dibuatin!!" Reyhan terkekeh kecil sast menyadari raut wajah Kenzi yang nampak tak sabaran. Perempuan itu mendengus kesal namun tetap diam, enggan menjawab ledekan suaminya yang kadang sableng.
Pesanan datang. Kenzi memekik senang dan langsung memakan pesanannya hingga membuat Reyhan geleng-geleng kepala.
"Pelan-pelan Yang, nanti keselek" peringat Reyhan dengan lembut.
Penjuam itu tersenyum simpul melihat interaksi Reyhan dan Kenzi.
"Awal-awal emang gitu Mas, suka minta aneh-aneh. Sebagai suami harus sabar aja, yang penting diturutin biar keluarnya nggak ngeces terus"
Reyhan yang gagal fokus dengan ucapan perempuan itu hanya bisa tersenyum lalu mengangguk.
"Iya Bu, terimakasih sarannya" ucapnya dengan sopan.
**************
Pagi sudah datang di Kota J. Seperti biasa, Kenzi selalu membantu Reyhan bersiap menuju kantor.
"Yang ihh, parfum kamu ganti ya?. Baunya kok nggak enak!!" desis Kenzi seraya menutup hidungnya. Niatnya ingin memakaikan dasi pun ia urungkan saat mencium bau Reyhan yang menurutnya sangat menyengat di hidung.
"Nggak kok, ini parfum yang biasanya. Kqn kamu sendiri yang milihin" sahut Reyhan dengan kening mengkerut.
"Nggak suka ihh baunya. Kamu ganti baju sana!!. Parfumnya paku punyaku aja, nanti aku beliin lagi!!" seru Kenzi masih dengan posisi yang sama. Ia berjalan kearah lemari, mengambilkan kemeja dan jas baru untuk pria itu.
"Baunya sama kok!!" Reyhan masuk ke kamar mandi dengan perasaan bingung. Ia bahkan mengendus ketiaknya berulang kali untuk memastikan baunya sendiri.