
"Thanks ya Le, udah nganterin gue pulang" ucap Kenzi seraya menyerahkan helm kepada Leon.
"Santai aja, kita kan temen" sahut Leon dengan senyuman. Kenzi ikut tersenyum.
"Lo nggak mampir dulu?" tawar Kenzi.
"Nggak deh, lain kali aja. Udah sore banget soalnya, kalo gue mampir dulu bisa keburu hujan lagi entar" tolak Leon dengan halus.
"Oh oke. Sekali lagi makasih ya" sahut Kenzi.
"Iya. Kalo gitu gue pulang dulu!!" pamit Leon seraya menyalakan mesin motornya.
"Oke, hati-hati" jawab Kenzi. Leon mengangguk sebagai jawaban. Perlahan, motornya melaju menjauh dari kawasan mansion Kenzi. Setelah memastikan Leon benar-benar pergi, Kenzi berbalik badan untuk memasuki mansionnya. ia menempelkan sidik jarinya di sebuah alat yang terletak di samping gerbang. Tak lama, pintu gerbang terbuka secara otomatis. Kenzi segera masuk ke dalam mansion dan gerbang itu kembali tertutup setelah Kenzi memasukinya.
Kenzi mengedarkan pandangannya saat melihat tak ada seorang pun di ruang tengah. Hanya ada asisten rumah tangga yang nampak mengerjakan tugas masing-masing.
"Bi....! Bang Devan, Mommy, sama Daddy nggak ada di rumah ya?" tanya Kenzi pada kepala pelayan di rumahnya, Bi Lili.
"Nyonya sama Tuan sedang pergi Non. Kalau Tuan Devan ada di kamarnya" jawab Bi Lili dengan sopan.
"Oh yaudah. Kalo gitu Ken ke kamar dulu ya Bi" sahut Kenzi.
"Nona tidak makan dulu?" tanya Bi Lili
"Nggak bi. Lagi nggak laper" jawab Kenzi sambil tersenyum. Padahal ia belum makan sejak siang. Namun sebuah rasa yang mengganjal di hatinya membuat perutnya kenyang seketika. Setelah mengucapkan itu, Kenzi menaiki tangga dan segera masuk ke kamarnya.
Kenzi melempar tas dan sepatunya ke sembarang arah. ia lalu menghempas tubuh lelahnya ke ranjang. Tangan kanan ia gunakan sebagai bantalan. ia menatap langit-langit kamarnya yang bernuansa putih. Bayangan Reyhan yang sedang memayungi Sella di bawah guyuran air hujan tadi sore kembali terngiang di kepalanya. Kenzi segera menggeleng-gelengkan kepalanya saat fikiran-fikiran buruk terlintas di benaknya.
Kenzi merubah posisinya menjadi duduk. ia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Tangannya sudah sibuk memeriksa room chat-nya bersama Reyhan.
"Dia aja nggak ngehubungin gue" gumam Kenzi sambil menatap chat terakhir Reyhan yang dikirim tadi malam.
"Ini kenapa sih astagaaaa!!!!!" ucap Kenzi frustasi. Ponsel yang tidak bersalah pun menjadi korban. Ponsel itu di lempar Kenzi dengan kasar ke lantai hingga remuk.
Kenzi berjalan mondar-mandir di depan cermin sambil bersendekap dada.
"Dia selingkuh gitu?" ucapnya pada bayangannya sendiri di cermin.
"Nggak, nggak, nggak!!. Nggak mungkin dia kayak gitu. Gue udah kenal dia lama!!. Lo jangan ngada-ngada deh!!" sahutnya sendiri sambil menunjuk pantulan diri di cermin.
"Tapi tadi dia kok gitu sih?!. Aaa terus gue harus gimana dong?!!!!" gelisah Kenzi sambil mengacak rambutnya frustasi.
Tokkk....tokkk
"KEN.....BUKA PINTUNYA!!" teriak Devano dari luar seraya menggedor pintu kamar Kenzi. Kenzi berdecak kesal. Dengan gerakan malas, ia melangkah kearah pintu dan membukakan pintu untuk kakaknya tercintahh.
"Apaan?!" ucapnya dengan malas sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.
Devano tak menjawab. ia malah menempelkan punggung tangannya ke kening Kenzi.
"Lo masih waras kan?" tanya Devano dengan wajah serius.
"Lo apa-apaan sih?!" kesal Kenzi sambil menghempas tangan Devano dari jidatnya.
"Ya habisnya lo dari tadi ngomong-ngomong sendiri, teriak-teriak sendiri. Kan gue cuma mau mastiin, kali aja lo ketempelan kolor ijo di jalan" jawab Devano dengan santainya.
"Lo ada masalah?" tanya Devano. Jelas ia hafal bagaimana kebiasaan adiknya ini. Gadis itu pasti akan membanting sesuatu untuk menjadi peluapan amarahnya. Terkadang Devano ngeri saat berada di dekat Kenzi yang sedang marah, ia takut dibanting oleh Kenzi.
"Nggak" jawab Kenzi seadanya. Devano menghela nafas panjang, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil menatap lekat kearah adiknya.
"Lo nggak usah boong sama gue. Lo nggak mungkin asal banting barang kalo nggak ada sesuatu yang ngeganjel di otak lo" ucap Devano dengan nada santai. Kenzi membalikkan tubuhnya untuk menatap pemuda itu. Memang benar, ia tak pernah bisa berbohong kepada Devano. ia kemudian berjalan mendekat dan duduk di samping kakaknya.
"Lo dulu pernah su'udzon sama pacar lo nggak sih Bang?" tanya Kenzi tanpa menatap Devano.
"Pernah" jawab Devano dengan santai.
"Tentang apa?" tanya Kenzi sambil menoleh kearah kakaknya.
"Banyak. Salah satunya, perselingkuhan, kejujuran, dan masih banyak lagi" jawab Devano
"Terus, apa yang lo lakuin buat ngehilangin fikiran buruk itu?" tanya Kenzi lagi. ia merubah posisi duduknya menjadi menghadap kearah pemuda itu
"Satu-satunya cara ya cuma nanya buat mastiin apakah fikiran kita itu benar atau salah. Kalo kita cuma menduga-duga, masalah nggak akan selesai dan fikiran buruk itu justru akan semakin bertambah dan menyebar. Semua itu butuh kepastian, jangan cuma berandai-andai atau sekedar 'jangan-jangan'. Kita harus cari kebenaran dan jalan keluarnya. Iya kalo fikiran kita itu bener, kalo salah?!, justru fikiran itu yang bisa ngehancurin semuanya" jawab Devano dengan lugas. Kenzi terdiam memikirkan ucapan kakaknya.
Devano menoleh kearah Kenzi yang nampak diam tak seperti biasanya. Senyum tipis terpatri di wajah pemuda itu.
"Kalo lo ada masalah sama Reyhan, selesain!!. Sebelum masalah itu yang nyelesain hubungan lo sama dia. Jangan cuma bertanya sama diri lo sendiri, karna itu nggak akan membantu. Yang lo butuhin adalah jawaban. Jawaban dari sudut pandang lo dan sudut pandang Reyhan supaya kalian bisa dapet jalan keluar yang baik." tambah Devano
"Thanks ya Bang. Masukan lo bener-bener membantu" ujar Kenzi sambil tersenyum. Devano ikut tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus kepala adiknya dengan sayang.
"Gue tau lo bisa nyelesain masalah lo!!. Jangan cuma ngebantingin barang mulu. Bisa habis entar barang satu mansion kalo lo bantingin!!" ucap Devano yang berujung cibiran untuk Kenzi.
"Ck, omongan lo bener-bener ngerusak suasana!!" cebik Kenzi dengan kesal. Devano terkekeh dibuatnya.
Kemudian hening. Tak ada lagi percakapan antara kakak beradik yang biasanya seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar. Kini mereka berdua hanya diam entah memikirkan apa.
"Ken, dulu waktu lo pertama kali suka sama Reyhan, rasanya gimana?" tanya Devano memecah keheningan.
"Gimana apanya?" tanya balik Kenzi dengan dahi mengkerut bingung.
"Ya, itu. Saat pertama kali lo suka sama Reyhan, lo ngerasain apa?" tanya Devano lagi.
"Awalnya sih cuma sekedar penasaran. Terus rasa penasaran itu berubah menjadi rasa nyaman saat gue deket sama dia. Dan entah sejak kapan perasaan itu berubah menjadi rasa suka" jawab Kenzi. ia tersenyum saat mengingat kesan pertamanya saat bertemu Reyhan. Cowok yang selalu ia panggil rabun karena hobby menabraknya. Dan sekarang, cowok rabun itu yang sedang menempati hatinya. Tempat yang amat spesial di hati seorang Kenzia.
"Lo lagi suka sama cewek ya...." ucap Kenzi sambil menunjuk Devano tepat di depan hidung pemuda itu.
"Kepo lo!!" tukas Devano seraya mengacak rambut Kenzi dengan gemas.
"Yeee ditanyain malah nyolot. Gue doain semoga cewek yang lo suka nggak tertarik sama lo!!" cebik Kenzi dengan kesal.
"Gue doain semoga doa lo nggak diijabah" sahut Devano sambil bergegas melangkah keluar dari kamar Kenzi.
"ABANG!!!" teriak Kenzi kesal
"Jangan teriak!!!, nanti gunung bisa meletus!!" sahut Devano dari kamarnya sendiri. Kenzi berdecak kesal.
"Untung abang gue!" gumam Kenzi sambil ngelus dada. Otak abang-nya emang setengahnya ketuker sama otak ayam, makanya kalo mikir kadan bener kadang keder. Itu sebabnya Kenzi jarang meminta saran kepada abangnya, takut jika masalahnya bukannya selesai malah makin terbengkalai.