Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
I will be a father!!



Pagi sudah tiba di Kota J. Seperti biasa, Kenzi selalu mengantar Reyhan ke depan rumah sebelum pria itu berangkat kerja. Sebuah rutinitas yang selalu ia lakukan setiap pagi.


"Oh ya, nanti aku mau ke rumah Mama. Boleh kan?" seraya menyerahkan tas Reyhan di tangannya, Kenzi bertanya demikian, lebih tepatnya meminta izin. Setelah menikah, kemanapun dia pergi, dia akan meminta izin terlebih dahalu kepada Reyhan untuk menyempurnakan predikat istri sholehah yang selalu ia bangga-banggakan.


"Mau ngapain?" tanya balik Reyhan sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Mau liat kucing. Mama bilang kemarin dia habis beli kucing anggora Yang, pasti lucu banget deh. Aku pengen liat, boleh ya?" jawab Kenzi dengan wajah yang sangat antusias.


"Boleh, tapi nanti siang ke kantor ya. Kita lunch bareng" sahut Reyhan yang membuat Kenzi memekik senang. Perempuan itu mengangguk beberapa kali diiringi senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.


"Oke Pak Bos"


"Aku berangkat dulu" Kenzi segera mencium punggung tangan Reyhan, dan kecupan pria itu hadiahi di dahinya. Sebuah moment yang selalu menjadi mood booster bagi mereka di pagi hari.


"Hati-hati di jalan" peringat Kenzi yang dibalas anggukan oleh pria itu.


Mobil Reyhan perlahan menghilang dari area rumah seiring dengan pintu gerbang yang ditutup oleh security. Kenzi kembali memasuki rumah untuk mengambil kunci mobilnya. Terlihat beberapa ART sedang membereskan rumah dan salah satu dari mereka sedang memasak di dapur.


"Mbak Ratna, nanti siang nggak usah nyiapin makan siang ya. Soalnya saya sama bapak mau makan di luar" perempuan yang berumur berkisar 34 tahun dan biasa dipanggil 'Mbak' oleh Kenzi itu mengangguk diiringi senyuman saat mendengar pesan yang diberikan oleh seorang perempuan yang beberapa bulan ini menjadi bos-nya.


"Iya Bu" sahutnya dengan patuh.


"Saya mau keluar dulu, kalo kalian laper, sarapan dulu aja. Beres-beresnya dilanjut habis sarapan"


Itulah sifat yang disukai semua pekerja dari Bos-nya ini. Meskipun cantik dan mapan, Kenzi tidak pernah berbuat semena-mena kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Perempuan itu selalu memperlakukan mereka dengan baik tanpa memandang derajat.


"Iya Bu, terimakasih" sahut Mbak Ratna dengan tulus.


Kenzi mengangguk diiringi senyuman. Ia kemudian naik ke lantai atas untuk mengambil kunci dan juga jaket. Setelah selesai, Ia bergegas turun menuju garasi untuk mengambil mobilnya.


Mobil BMW putih menjadi pilihannya kali ini. Dengan kecepatan sedang, Kenzi melajukan mobilnya melesat diantara kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan kota.


Di depan lampu merah, Kenzi menghentikan mobilnya di belakang garis zebracross. Dua anak kecil tiba-tiba datang sambil membawa kaleng biskuit. Ia menyanyi di samping kaca jendela mobil Kenzi. Pakaian anak itu nampak kusam dan lusuh, sangat terlihat jika kehidupannya jauh dari kata layak.


Kenzi membuka kaca mobilnya, Ia meletakkan selembar uang seratus ribuan di kaleng anak itu hingga membuat mereka memekik kegirangan.


"Nggak terlalu banyak Tante?" tanya anak kecil perempuan itu dengan polosnya.


"Buat kalian beli jajan ya. Habis ini langsung pulang terus istirahat ya sayang" sahut Kenzi dengan lembut diiringi senyuman.


"Terimakasih tante" ucap dua anak itu bersamaan. Terlihat jelas wajah mereka nampak sangat senang menerima uang itu.


Setelah mendapat anggukan dari Kenzi, dua anak itu bergegas pergi ke trotoar pinggir jalan. Mereka duduk berdampingan seraya meletakkan kaleng itu dipangkuannya, menghitung uang hasil mengamen setengah hari ini.


"Wah kita dapet banyak dek, kita bisa makan hari ini" sang kakak laki-laki yang selesai menghitung uang berucap demikian. Adiknya bersorak senang sambil bertepuk tangan beberapa kali. Mereka kemudian berdiri, berlari dengan semangat menuju warung nasi yang tak jauh dari tempat mereka duduk untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan sejak kemarin.


Pandangan mata Kenzi tak lepas dari gerak-gerik dua bocah itu. Ada perasaan iba yang muncul dari dalam hatinya saat melihat ada dua anak yang masih berumur sangat kecil harus bekerja susah payah untuk menghidupi diri mereka sendiri.


Hidup memang terkadang terdengar sangat ironis. Butuh perjuangan untuk bisa melewati kehidupan di dunia yang jauh dari kata indah. Orang-orang kecil yang tidak memiliki pangkat dan kasta terus menerus ditindas, seolah kebahagiaan hanya berpihak kepada orang yang berada. Jiwa kemanusiaan lambat laun mulai lenyap dari peradaban seiring dengan waktu yang bergulir dan sikap serakah yang kian menguasai diri manusia.


Hingga sebuah klackson mobil dari arah belakang membuyarkan lamunan Kenzi. Ia menengok, ternyata lampu sudah berubah menjadi hijau. Perempuan itu kembali menekan pedal gas-nya untuk meneruskan perjalanan menuju rumah sang mertua.


30 menit berlalu, mobil milik istri Reyhan Alexander itu berhenti di area depan Mansion besar milik keluarga suaminya. Kenzi turun dari mobil, nampak dua ekor kucing gembul dengan bulu lebat berwarna cokelat dan abu-abu tengah di panaskan oleh seorang pria paruh baya.


"Ya ampun, ini lucu banget!!" pekik Kenzi. Ia mendekat, menyentuh kepala kucing yang berada dalam kandang itu dengan telapak tangannya.


"Non istrinya Mas Reyhan ya?" tanya pria itu dengan ramah.


"Iya. Bapak baru ya disini?, kok saya nggak pernah liat?" jawab Kenzi sekaligus bertanya.


"Iya Non, saya baru kerja disini seminggu yang lalu buat ngurusin si Lulu sama Lala" sahut pria itu.


"Lulu Lala?" tanya Kenzi heran seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Itu" pria itu menunjuk dua kucing menggunakan jari telunjuknya.


"Namanya Lulu, sama Lala. Tuan yang ngasih nama" tambahnya disertai kekehan.


Kenzi ikut tertawa kecil, merasa geli dengan nama yang diberikan oleh ayah mertuanya.


"Bapak namanya siapa?. Nama saya Kenzia, kita kan belum pernah ketemu"


"Nama saya Tatang Non" sahut pria itu


"Rantang?"


"Bukan Rantang Non. TATANG, bukan Rantang" ralat pria itu


Kenzi menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merutuki kupingnya tang lagi sableng.


"Hehee, maaf Pak tadi saya salah denger. Salam kenal ya Pak, saya mau ke dalem dulu nemuin mama"


Setelah berucap demikian, Kenzi segera masuk ke dalam mansion mertuanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rumah itu nampak rapi, masih sama seperti terakhir kali ia kesini dulu.


"Maa....." panggil Kenzi seraya terus masuk kian ke dalam.


"Iya, sini sayang!!" sebuah sahutan dari arah ruang makan menuntun Kenzi untuk melangkah kesana.


Terlihat Raisa sedang makan seorang diri di meja seluas itu. Semenjak Reyhan menikah, rumah ini terasa kian sepi saat penghuninya pergi satu padahal isinya hanya tiga orang. Dulu perempuan itu menawari putranya untuk tinggal disini setelah menikah, namun Reyhan menolak. Ingin mandiri adalah alasan yang pria itu ucapkan saat itu.


Kenzi menyalami mertuanya lalu duduk di samping kursi perempuan itu.


"Mama makan apa?" tanya Kenzi


"Bubur ayam, kamu mau?" jawab Raisa sekaligus bertanya.


"Enggak deh Ma, lagi nggak pengen" sahut Kenzi yang dibalas anggukan oleh Raisa.


Perempuan itu kembali memakan buburnya. Ia mengaduk rata antara bubur, ayam, dan juga sambal yang ada disana lalu memakannya. Perut Kenzi tiba-tiba terasa bergejolak saat melihat Raisa terus-menerus mengaduk bubur itu. Rasa mual tiba-tiba muncul dan memaksanya untuk berlari ke kamar mandi.


Kening Raisa mengerut bingung saat melihat Kenzi berlari masuk ke dalam kamar mandi dekat dapur. Ia berjalan mendekat, menyusul ke kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi dengan menantunya.


"Ken, kamu kenapa?" tanya Raisa seraya mengetuk pintu kamar mandi berulang kali. Tak ada jawaban dari dalam, hanya suara muntahan dan juga kran air yang terdengar.


Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Kenzi keluar dari sana dengan wajah pucat dan tangan yang memegangi perut. Raisa segera merangkul bahu Kenzi, mengajak perempuan itu untuk duduk di sofa.


"Kamu sakit?" tanya Raisa seraya menempelkan punggung tangannya di kening Kenzi. Perempuan itu menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Nggak kok Ma, paling cuma masuk angin" jawab Kenzi mencoba menenangkan.


"Kamu tiduran dulu di kamar ya, biar nanti Reyhan mama yang kasih tau" saran Raisa namun Kenzi menolaknya dengan segera.


"Nggak usah ma, Ken gapapa kok. Ini juga aku mau ke kantor Reyhan buat makan siang bareng" tolak Kenzi dengan halus.


"Tapi badan kamu kan kurang Vit, nggak usah dipaksain lah sayang. Nanti kalo kenapa-napa di jalan gimana?!" Raisa yang masih keukeuh dengan kecemasannya tetap memaksa Kenzi untuk tinggal, namun menantu cantiknya itu memang kepala batu.


"Ma, aku gapapa kok, masih kuat kalo cuma nyetir mobil. Ken pamit ya, udah jam setengah sebelas, bentar lagi Reyhan mau istirahat. Dadah mamah" Tak menunggu persetujuan ataupun penolakan, Kenzi segera ngacir keluar dari mansion hingga membuat mertuanya geleng-geleng kepala. Menantunya memang lain dari yang lain.


**************


"Sayang....." sebuah panggilan itu mengalihkan atensi Reyhan dari layar laptop di depannya. Pria itu mendongak, menatap kearah pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan benar saja, istrinya sudah hadir di depan mata sembari memasang senyum manis semanis gula aren.


Kenzi berjalan mendekat, Ia berdiri di samping Reyhan kemudian mencium pipi pria itu dengan mesra.


"Belum jam makan siang ya?" tanya Kenzi.


Reyhan menatap kearah arloji di tangannya, masih pukul 10.50.


"Kurang 10 menit lagi. Kamu nunggu bentar gapapa kan?. Gak enak sama karyawan yang lain kalo aku istirahat duluan" ucap Reyhan yang dibalas anggukan oleh Kenzi. Perempuan itu mengerti, sangat mengerti jika seorang atasan harus menjadi contoh yang baik untuk bawahannya, dan itulah yang dilakukan Reyhan sekarang.


Kenzi kemudian berjalan kearah rak, mengambil sebuah majalah yang ada disana kemudian membawanya ke sofa. Ia memilih untuk membaca sejenak sembari menunggu Reyhan bekerja.


Dua orang itu sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga waktu 10 menit tak terasa telah berlalu. Reyhan menghampiri Kenzi yang nampak serius dengan bacaannya.


"Ayo berangkat sekarang"


Kenzi segera meletakkan majalah itu di meja setelah mendengar ajakan Reyhan. Ia spontan langsung berdiri tegak di samping pria itu.


"Awss" ringis Kenzi saat merasakan kepalanya tiba-tiba berkunang-kunang. Ia memegangi kepalanya, dan hal itu berhasil membuat Reyhan khawatir.


"Kamu sakit?" tanya Reyhan dengan nada cemas.


Kenzi tak menjawab. Pandangannya menggelap, tubuhnya hampir jatuh namun segera ditahan oleh Reyhan. Perempuan itu tak sadarkan diri.


"Ken.... Kenzi!!!" Reyhan membaringkan tubuh Kenzi di sofa seraya menepuk-nepuk pipi perempuan itu beberapa kali namun tak ada reaksi yang ditunjukkannya.


Ia meraih telepon darurat yang langsung terhubung dengan Faiz.


"Panggil dokter ke ruangan saya sekarang!!!" seru Reyhan dengan nada tak sabaran.


Pikirannya kalut, perasaan cemas yang berlebihan membuatnya terus berfikiran negatif.


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan menampakkan Faiz yang masuk diikuti seorang dokter perempuan di belakangnya.


"Siapa yang sakit Pak?" tanya Faiz dengan polosnya.


"Mata kamu nggak liat istri saya lagi pingsan?!" bentak Reyhan dengan kesal. Sekertarisnya ini memang terkadang suka membuat orang darah tinggi.


"Dok, buruan periksa!!. Malah ngelamun!!!" bentaknya lagi pada sang dokter yang hanya diam melongo melihat perdebatannya dengan Faiz.


"Akh iya" sahut dokter itu gelagapan.


Ia mendekat kearah Kenzi, bertepatan dengan perempuan itu membuka matanya. Reyhan bergegas mendekat, berjongkok di samping Kenzi seraya mengelus rambut perempuan itu.


"Kamu bikin aku khawatir tau nggak!!!" desis Reyhan dengan kesal.


"Aku gapapa kok Yang" sahut Kenzi seraya memaksakan senyumnya. Reyhan berdecak pelan, perempuan ini memang selalu menguji kesabarannya.


"Gapapa kok sampek pingsan?!. Dok cepetan periksa!!!" Reyhan yang kali ini benar-benar mirip eemak-emak komplek. Apa-apa marah-marah.


Dokter itu menjalankan tugasnya, memeriksa tubuh Kenzi tanpa terkecuali. Sedangkan Kenzi hanya diam menurut, tak berani membantah saat mood Reyhan sedang seperti ini.


"Bu Kenzi gapapa kok Pak" ucap dokter itu yang sudah selesai dengan proses periksa-memeriksanya.


"Tapi istri saya kok sampek pingsan?!. Kamu kali yang salah meriksanya!!" desis Reyhan dengan nada jengkel.


Dokter itu membuang nafas kasar, mencoba sabar untuk mengahadapi Reyhan si kepala batu.


"Keadaan itu wajar dan sering terjadi di trimester pertama kehamilan Pak. Tidak perlu di khawatirkan, itu kondisi yang sering terjadi pada ibu hamil" jelas dokter itu.


Mata Reyhan dan Kenzi membulat seketika, begitu juga dengan Faiz. Otak pintar tiga orang itu masih mencerna apa yang dokter itu katakan.


"HAMIL?!" pekik Reyhan dan Kenzi bersamaan.


Dokter itu menatap bingung.


"Iya" sahutnya sembari mengangguk.


"Wahhh selamat Pak Bos!!!" ucap Faiz dengan senyum bahagianya.


Mulut Reyhan ternganga tak percaya. Ia beralih menatap Kenzi, perempuan itu juga melakukan hal yang sama.


"Yang, kita bakal jadi orangtua" ucap Reyhan dengan lirih.


Kenzi tersenyum haru, air mata kebahagiaan tak dapat ia bendung lagi. Sebuah nyawa kini bersemayam dalam rahimnya yang akan ia jaga sepenuh hati dan segenap jiwa.


"Anak kita" lirih Kenzi dengan isak tangisnya. Mata Reyhan ikut berkaca-kaca. Tangannya terulur untuk menyentuh perut Kenzi, mengusap dengan lembut tempat anaknya berada saat ini.


"Aku bakal jadi ayah" gumam Reyhan dengan penuh kebahagiaan.


Ia kemudian berlari keluar. Berdiri di pembatas tangga, Reyhan menatap semua karyawannya yang tengah bekerja di bawah sana.


"GUYS. GUE BAKAL JADI AYAH!!!" teriaknya dengan sangat kencang hingga suaranya memenuhi gedung. Entah hilang kemana rasa malu dan wibawanya selama ini. Yang ia rasakan saat ini hanya kebahagiaan, tidak ada yang lain.


Sorak semurai dari bawah terdengar saat bos mereka mengumumkan kabar bahagia ini. Sang penerus akan segera hadir, menghiasi kehidupan mereka dan menciptakan sebuah kisah yang baru.