
Lima kali sudah mereka mengelilingi area taman untuk mencari keberadaan Raizel, tapi hasilnya nihil. Kenzi berulang kali mengumpat kesal, antara khawatir dan bersalah, dia menyalahkan dirinya sendiri akan hal ini.
Kairen diam dalam gendongan Reyhan. Otak kecilnya masih belum mampu berkoneksi dengan hal apa yang terjadi di sekitarnya.
Semua orang kalut dalam kekhawatiran. Sebagian anggota Dark Dragon Reyhan kerahkan untuk mencari anaknya. Jika tidak mengingat ada Kairen dan Kenzi yang harus ia jaga, mungkin dia sudah pergi mencari Raizel seorang diri. Mencari penculiknya dan membunuh orang itu saat itu juga.
Kenzi berjongkok di tanah. Ia menelungkupkan wajahnya di antara lutut. Menangis disana dan meluapkan kekhawatiran yang tengah ia rasakan. Sudah terbayang di otaknya bahwa peristiwa ini akan terjadi saat mendengar kabar bahwa Rossa lepas dari Rumah Sakit Jiwa, tapi dia tidak mengira bahwa kejadian ini akan terjadi begitu cepat.
"Kita ke rumah dulu ya, kamu tenangin diri kamu dulu" Reyhan berusaha membujuk Kenzi, berharap perempuan itu mau menurut dan menunggu di rumah sesuai keinginannya.
"Tapi Rai...?"
"Biar aku yang urus. Percaya sama aku, malem ini Rai bakal balik dalam keadaan selamat"
************
Sore hari yang seharusnya dihabiskan oleh Reyhan dan keluarganya untuk berlibur kini harus berantakan karena sebuah masalah. Sore itu aura markas Dark Dragon kembali terasa mencekam saat sang ketua kambali memasuki area kekuasaannya.
Jiwa lama Reyhan yang sudah lama tertidur dipaksa bangun karena ulah seorang sampah. Rongga dadanya dipenuhi oleh kemarahan. Dalam hati dia bersumpah, jika terjadi sesuatu pada putranya, jalan kematian akan dia tunjukkan kepada orang itu.
Hacker andalan Dark Dragon, Zayn. Menyadap semua CCTV di sekitar taman, berharap menemukan petunjuk meski hanya secuil. Empat komputer terpapang jelas, menampilkan area jalanan dan toko-toko yang terletak di sekitar taman.
"Ketemu Boss!!" seruan dari Zayn membuat semua orang mengerumuninya. Mereka kompak menatap ke layar komputer yang menampakkan Taman sebelah timur.
Disana terlihat jelas saat Raizel mengambil bola dan dihampiri oleh seorang perempuan berpakaian suster. Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya perempuan itu menarik paksa Raizel menjauh dari Taman.
"Rossa!!" Reyhan mengeram kesal sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga jari-jarinya memutih. Mata pria itu menajam dengan sorot mata penuh kilatan amarah. Dia benar-benar murka.
"Sadap semua CCTV di kota. Pastiin lo dapetin lokasi dia hari ini juga!!. Kita liat, sebarapa kuat dia lari dari gue" seringaian iblis yang sudah lama tidak terlihat, kembali terpatri di wajah seorang Reyhan Alexander. Disaat iblis di tubuhnya terbangun, disaat itu pula dapat dipastikan tidak akan ada yang bisa lolos.
*************
Reyhan dan sepuluh anggota Dark Dragon yang lainnya mengawasi sebuah gudang kosong di sebelah pabrik korek api. Raizel ada disana. Di dalam sana bersama perempuan gila yang membuat Reyhan benar-benar muak.
Pria itu mengangkat tangannya, memberi intruksi kepada anggotanya untuk maju. Mereka berjalan mengendap-endap tanpa menimbulkan suara. Nyawa seorang anak taruhannya disini.
Reyhan berdiri di depan pintu, diikuti beberapa anggota Dark Dragon di belakang. Terdengar jelas suara tangisan anak kecil dari dalam, dan hal itu membuat Reyhan semakin murka.
Rahang pria itu mengeras, sorot matanya sangat tajam dan mengerikan. Tanpa pikir panjang, Reyhan menendang pintu kayu itu hingga roboh. Tampak dengan jelas wajah Rossa yang terkejut melihatnya.
"Papa!!" tatapannya kemudian beralih pada Raizel yang tengah meringkuk di pojok ruangan, anak itu nampak sangat ketakutan.
"Lo bener-bener nguji kesabaran gue, Ross!!"
Rossa hanya terpaku di tempat, menatap semua orang dengan wajah pias. Tubuhnya bergetar hebat, pikirannya kacau dan kepalanya terasa berdenyut. Ambisi dan akal sehatnya yang hanya sebiji jagung tidak sinkron. Setitik akal baiknya meyuruh untuk berhenti, tapi ambisinya untuk menghancurkan kehidupan Kenzia lebih besar.
Keringat bercucuran membasahi tubuh Rossa, wajahnya pucat pasi, rambut acak-acakan dengan lingkar hitam di bawah mata membuatnya terlihat seperti orang tak terurus.
Reyhan berjalan cepat kearah Raizel, namun ucapan Rossa menghentikkan langkahnya.
"Berhenti atau dia mati!!"
Perempuan itu menodongkan pisau ke arah Raizel yang ia dapat entah dari mana. Anggota Drak Dragon hendak maju, tapi Reyhan melarang. Dia benar-benar mempertimbangkan setiap gerakan yang akan dia ambil, apalagi mengingat jika orang di depannya ini bukanlah orang yang waras. Dia takut Rossa benar-benar nekad dan hilang kendali sehingga menusuk Raizel.
"Jangan mendekat" Rossa memberi peringatan seraya menarik Raizel kearahnya. Anak itu menangis sesenggukan dengan tatapan mengiba menatap sang ayah, berharap ayahnya bisa menyelamatkannya dari perempuan gila ini.
Rossa memiting Raizel dengan pisau yang ia letakkan di depan leher anak itu, seakan memberi isyarat kepada Reyhan bahwa ucapannya tidak main-main.
Tak ada yang berani mendekat, takut-takut jika perempuan itu nekad dan benar-benar melancarkan aksinya. Hal itu Rossa gunakan untuk mencari celah untuk kabur. Dengan posisi yang masih sama, Ia berjalan mundur keluar dari gudang itu sambil membawa Raizel. Tak ada yang berani bergerak saat itu, sampai Ia melangkah agak jauh dan berlari, disitulah Reyhan mulai melangkah.
Mereka semua berlari kencang dan menyebar untuk mengejar Rossa. Reyhan mengeluarkan pistol dari sakunya, jika perlu, dia akan membunuh perempuan itu sekalian.
Dorrr
Sebuah tembakan ia arahkan ke udara bebas, membuat suaranya begitu nyaring di telinga. Rossa sudah mulai terlihat. Perempuan itu berhenti saat dirinya terkepung oleh anggota Dark Dragon yang berjaga dari arah depan.
Saat itu pula seringaian Reyhan kembali muncul, hidup atau mati tergantung bagaimana perempuan itu bersikap.
"Mau lari kemana lagi, Rossa?" tanya Reyhan dengan nada licik. Rossa kebingungan. Ia menengok kesana-kemari, mencari celah namun nihil. Dia terkepung, bergerak atapun tidak hanya mati pilihan yang akan dia dapatkan.
"Serahin anak gue!!" seru Reyhan seraya menatap tajam kearah Rossa, jangan sampai dia kehabisan kesabaran saat ini juga.
"Nggak!!. Gue udah kehilangan anak gue, dan kalian juga harus kehilangan anak kalian!!!"
Rossa mengarahkan pisaunya ke leher Raizel, sengaja sedikit menggores leher anak itu hingga mengeluarkan darah dan membuatnya menangis perih. Dan disitulah kesabaran Reyhan ada di titik terakhir. Tanpa babibu ia mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan pistol itu ke kepala Rossa.
"Lo bener-bener nantangin gue!!" pria itu mencengkram kuat pistol di tangannya, siap menarik pelatuk.
"Tembak, dan anak ini juga akan mati!!" Rossa tersenyum licik. Pisaunya masih di posisi yang sama, sedikit ia gores-goreskan hingga membuat suasana semakin memanas.
"ROSSA!!" sebuah panggilan dari arah samping membuat semua orang menoleh. Seorang laki-laki dan perempuan berdiri menatap mereka.
"Kakak" bibir Rossa bergetar saat melihat kehadiran kakak dan kakak iparnya. Tubuhnya bergetar hebat, tapi ambisinya menolak untuk berhenti.
Rossa tertawa renyah mendengar ucapan Deny seraya menggeleng beberapa kali.
"Nggak, mereka harus ngerasain apa yang aku rasain!!" Ia kembali mendekatkan pisaunya, hendak menusuk Raizel.
"ROSS, ENGGAK!!!" Deny berlari kearahnya.
Dorrrr
Sebuah suara tembakan membuat semua orang tertegun. Bukan Reyhan pelakunya, dan bukan Rossa korbannya. Semua kompak menatap ke belakang. Mata semua orang terbelalak saat melihat tubuh Deny sudah terkapar di tanah. Tatapan mereka kemudian tertuju pada seseorang yang berdiri di ujung sana.
"Kenzi...." lirih Reyhan. Perempuan itu datang sembari membawa senapan. Berkat GPS yang terkonek antara ponselnya dan ponsel Reyhan membuatnya berhasil sampai di tempat ini. Niat hati ingin menembak Rossa, tapi kakak perempuan itu tau dan berlari ke punggung Rossa, berusaha melindungi adiknya dan akhirnya dia yang tertembak.
Rossa menjatuhkan pisaunya saat melihat hal itu. Tubuhnya ambruk ke tanah. Dengan tangan yang gemetaran, Ia menyentuh wajah sang kakak yang sudah pucat pasi.
"Kak...." cicit perempuan itu.
Bianca, istri Deny menangis histeris. Ia mendekati suaminya, mencoba membangunkan walau hasilnya nihil.
"Mass" panggilnya diiringi isak tangis, tapi Deny sama sekali tak bereaksi.
Reyhan segera mengamankan Raizel yang sudah lemas. Ia membawa anak itu ke dalam pelukannya.
"Are you oke, Boy?" tanyanya yang dibalas isakan tangis oleh Raizel.
"Kita ke rumah sakit sekarang"
***************
Ruang rawat Raizel dipenuhi semua anggota keluarga. semua orang khawatir dan terkejut saat mendengar anak itu masuk rumah sakit dan harus dirawat karena luka di lehernya.
Kenzi juga ada disana, bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Deny meninggal, dan keluarganya menuntut dan melaporkannya ke polisi atas tuduhan pembunuhan. Tapi Reyhan maupun Kenzi tidak takut. Mereka tidak bersalah, mereka tidak berniat membunuh Deny sama sekali.
"Selamat Siang...." seseorang masuk dan memberi sapaan, membuat semua orang melihat kearah pintu.
"Siang Pak Bagas!!" sahut Reyhan dengan ramah.
Bagas datang bersama istri dan anaknya. Mereka tersenyum ramah, menyapa semua orang tanpa terkecuali.
"Gimana keadaannya Raizel?" tanya Cindy. Mereka duduk di sofa sembari berbincang. Sedangkan para anak-anak duduk di ranjang Raizel, entah membicarakan apa.
"Lehernya harus dijahit beberapa kali, tapi kata dokter itu bukan luka serius. Nggak ada yang perlu dikhawatirin" jawab Kenzi diiringi senyuman.
"Lalu Deny?" kini giliran Bagas yang bertanya, membuat raut wajah Reyhan dan Kenzi berubah seketika.
"Dia mati. Keluarganya nuntut kami, tapi kami nggak takut. Kami nggak betniat bunuh dia, dia sendiri yang jadiin dirinya tameng buat Rossa. Lagian kalo bukan karena Rossa, kami juga nggak akan ngelakuin hal itu" Reyhan menjawab panjang lebar, membuat Bagas dan Cindy mengangguk beberapa kali.
"Saya bisa bantu kalian" ucapan itu membuat Reyhan dan Kenzi tersenyum. Mereka setuju, apalagi mengingat bahwa Bagas adalah seorang pengacara internasional.
Sedangkan di ranjang Raizel, tiga anak berbeda gender itu saling tatap dalam diam. Kairen dan Raizel menatap kearah gadis kecil di hadapan mereka, begitupun sebaliknya.
"Namaku Kai" Kai lebih dulu mengajak berkenalan. Sembaru memasang senyum terbaik, anak itu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
Gadis kecil itu menerima uluran tangan Kairen dengan senang hati. Senyumnya mengembang dengan sempurna, membuat pipi chubby-nya terlihat sangat menggemaskan.
"Kimyora, panggil aja Kimy" sahut gadis dengan rambut sepunggung itu.
"Aku Rai" Raizel ikut mengulurkan tangannya, dan Kimy menerima dengan senang hati.
"Wajah kalian cama" komentar itu akhirnya Kimy ungkapkan. Sedari tadi ia memendam rasa penasaran saat melihat dua wajah yang sama persis itu.
"Aku lebih ganteng" Kairen menyombongkan dirinya, membuat Raizel mendesis kesal.
"Muka kita aja cama!!" tukas Raizel dengan segera.
"Kamu yayang ikut-ikutan wajah aku!!" cebik Kairen
"Gimana cala bedain kalian?" tanya Kimy penasaran.
Kairen memiringkan duduknya dengan posisi membelakangi Kimy.
"Aku punya tahi lalat dicini!!" Ia menunjukkan tahi lalat miliknya yang terletak di belakang telinga, Kimy mengangguk mengerti.
"Sekalang kita teman?"
"Teman!!!"
...Like, coment-nya turun banget😰...
...Ditambah yuk guys. Pencet jempol dan tinggalkan komentar positif yaa:>. Thankyou, happy reading and stay happiness for you😍...