Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Aku diculik!!



Semua orang berkumpul dalam satu ruangan dengan perasaan cemas. Pesta pernikahan terpaksa dibubarkan karena kejadian yang tak terduga. Para orangtua pulang terlebih dahulu sesuai dengan perintah Reyhan. Ia tak ingin mereka bertambah bingung, biar ini menjadi urusannya. Hanya Via dan Devano yang masih tetap tinggal.


Anggota Big Seven duduk berjajar dihadapan Reyhan setelah mereka ditemukan tak sadarkan diri di dalam gudang. Gilbert sudah disibukkan dengan layar laptop di depannya. Sedangkan Reyhan sedari tadi mondar-mandir gak jelas hingga membuat semua orang pusing.


"Lo nggak naroh GPS apapun di tubuh atau aksesoris Kenzi gitu?" tanya Jack yang mulai jengah melihat tingkah Reyhan yang sudah mirip setrikaan.


Pemuda itu sontak berhenti. Ia memukul jidatnya berulang kali saat baru mengingat suatu hal yang pasti sangat membantu saat ini.


"Gue baru inget. Gue kemarin naroh GPS di kalung Kenzi" ingin rasanya mereka membunuh Reyhan sekarang juga. Mereka semua sudah kebingungan tapi pemuda itu malah dengan bodohnya berbicara 'lupa'


Reyhan membuka ponselnya lalu membuka sebuah maps yang sudah terhubung dengan GPS yang ada di kalung Kenzi.


"Disini, menunjuk ke gedung yang ada di pinggiran kota" ucap Reyhan setelah melihat keterangan yang ada disana.


"Gue berhasil dapetin rekaman CCTV-nya" ucap Gilbert secara tiba-tiba. Mereka semua kompak mendekat untuk melihat detik-detik kejadian itu berlangsung.


Ratusan peluru berisi obat bius ditembakkan ke semua penjaga yang ada di area depan gedung hingga membuat mereka terkapar di lantai. Tak lama setelahnya, tiga orang masuk ke dalam gedung. Mereka menyekap tiga orang pelayan dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Hingga beberapa menit, mereka keluar dengan mengenakan baju pelayan itu.


Seorang kepala pelayan memanggil, dan mereka mau tak mau harus ikut bersamanya. Mereka melayani beberapa tamu, salah satunya Big Seven. Minuman yang akan diberikan, mereka taburi sebuah serbuk yang diyakini adalah obat bius, dan disaat itulah mereka menyekap Big Seven dan mulai menjalankan aksinya menangkap Kenzi.


Tak ada penjagaan sama sekali membuat mereka bisa dengan leluasa menangkap Kenzi. Dan benar saja, hanya membutuhkan waktu beberapa menit mereka sudah berhasil membawa Kenzi.


"Bert, coba pause!!" seru Reyhan saat melihat ada hal ganjil disana. Gilbert menuruti perintah itu.


Mata Reyhan mengamati sebuah tatto yang terdapat pada leher belakang salah satu pria saat mereka menggendong Kenzi.


"Dead Cobra!!" desis Reyhan saat melihat ada lambang ular dan tengkorak di tatto pria itu.


"Mereka bener-bener menguji kesabaran gue!!" seru Reyhan dengan amarah. Ia berjalan ke pojok ruangan. Membuka Jas-nya dan mengganti jas itu dengan jaket hitam. Ia kemudian meraih senapan khusus yang ada disana. Hari ini, semuanya harus tuntas dan pelaku itu harus tertangkap.


"Marc, siapkan pasukan!!. Kita hancurin mereka malam ini juga!!" Marco mengangguk setelah mendapat perintah dari Reyhan. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi tangan kanannya.


"Gue ikut" salah seorang pemuda yang sedari tadi duduk diam disamping Via tiba-tiba berdiri hingga membuat semua orang yang ada disana menatapnya bingung.


"Tapi....." Reyhan menggantungkan ucapannya saat melihat tatapan memohon yang pemuda itu tunjukkan


"Please, izinin gue ikut" mohon pemuda itu yang membuat Reyhan dengan berat hati mengizinkannya.


"Semua udah siap" ucap Marco secara tiba-tiba setelah mendapat kabar dari tangan kanannya.


"Kita kesana sekarang!!. Bang, lo sama Kak Via nggak usah ikut ya"


"Tapi Kenzi adek gue!!" pernyataan keberatan itu akhirnya keluar dari mulut Devano. Adiknya hilang, mana mungkin ia diam saja.


"Please, Bang. Biar ini jadi urusan gue, lo pulang aja ya. Percayain ini semua ke gue" mohon Reyhan dengan wajah memelas.


Devano menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk.


"Please, bawa dia pulang dengan keadaan selamat"


"Pasti!!" sahut Reyhan dengan segera.


****************


Kenzi membuka matanya setelah merasakan cipratan air dingin di wajahnya. Gadis itu mengerjapkan matanya berulang kali, ia mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mengetahui dimana dia sekarang. Tubuhnya langsung menegang seketika saat melihat ada tiga orang pria di depannya. Ruangan ini sepi dan hanya ada dia dan tiga orang itu yang ada disana.


Kenzi menggoyangkan tubuhnya. Ia diikat di sebuah tiang besi dengan mulut yang ditutupi lakban. Sungguh kondisi yang sangat tidak menguntungkan.


"Emmmpp" Kenzi mencoba berteriak meskipun percuma. Hanya gumaman yang dapat terdengar.


Tiga orang itu tertawa licik seperti orang yang tidak bersalah. Kenzi muak melihat hal itu.


"Lihatlah, dia terlihat sangat tertekan" ucap salah satu dari mereka sambil tertawa kecil.


"Yaa, sebenarnya aku kasihan. Dia cantik, tapi Nona El membencinya" sahut pria yang satunya lagi.


"Jangan membicarakan dia disini, kalau dia mendengarnya kita bisa mati dibunuh!!" seorang pria yang paling gemuk memberi peringatan. Dan mereka semua langsung terdiam.


Tak....takk...takkk


Suara sepatu bertautan dengan lantai membuat suasana mendadak hening. Pintu ruangan terbuka, lalu masuklah seorang gadis dengan jubah yang menutupi wajahnya. Kenzi menatap gadis itu dengan wajah bingung, bertanya siapa sebenarnya gadis itu pada dirinya sendiri.


Gadis itu berdiri lurus tepat di depan Kenzi. Ia menengok kearah tiga orang dibelakangnya, memerintah orang itu untuk melepas lakban di mulut Kenzi menggunakan isyarat mata yang ia berikan. Salah satu dari mereka maju dan membuka lakban Kenzi dengan kasar.


"Akhhh" ringis Kenzi saat merasakan perih di bibirnya.


"Ciee yang gagal nikah..... Gimana-gimana, bagus nggak pertunjukan gue"


Mata Kenzi langsung membulat sempurna saat mendengar ucapan gadis itu. Tentu ia sangat mengenal suara ini, suara yang membuatnya merasa sangat muak.


"Sella!!!" seru Kenzi dengan lantang tanpa takut sama sekali.


Sella menyeringai iblis dibalik jubahnya. Ia membuka jubah itu dan terlihatlah wajah bengisnya yang tengah memasang senyuman licik.


"Lo hafal banget sama suara gue ya ternyata" desis Sella sambil tersenyum licik.


Kenzi mengepalkan tangannya yang tengah terikat. Andai tidak dalam kondisi seperti ini, Ia pasti sudah membunuh gadis itu sekarang juga.


"Apa maksud lo ngelakuin ini semua bangsatt!!!!" umpat Kenzi dengan kesal. Wajahnya memerah sekarang. Tatapan tajam membunuh ia tujukan kepada gadis di depannya.


"Balasan atas apa yang pernah lo lakuin!!!" bentak Sella sambil menunjuk Kenzi penuh amarah.


"Balasan apa maksud lo?!. Gue ngelakuin apa?!" bentak balik Kenzi tak kalah kencangnya.


Sella berdecak sinis sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Lo mungkin lupa, tapi mereka pasti masih inget semuanya!!!" tukas gadis itu yang membuat Kenzi semakin bingung.


Sella mengangkat kedua tangannya keatas. Menepuknya beberapa kali hingga pintu kembali terbuka. Lalu masuklah dua orang gadis yang sudah sangat familiar bagi Kenzi. Mereka kembali.


"Rossa, Lena" gumam Kenzi dengan lirih.


Lena dan Rossa berjalan beriringan lalu berdiri di sebelah Sella. Tak banyak yang berbeda dari dua gadis itu, namun perubahan di wajah Rossa terlihat paling mencolok bahkan membuat Kenzi hampir tak bisa mengenalinya.


"Lo inget mereka?!" tanya Sella sambil tersenyum sinis.


"Mereka yang udah lo hancurin hidupnya!!" lanjut gadis itu dengan amarah.


"Akhirnya kita ketemu lagi" ucap Rossa secara tiba-tiba yang membuat semua orang menatap kearahnya.


"Yaa, gue pikir lo udah mati. Ternyata lo panjang umur juga" sahut Kenzi dengan senyum meledek. Sifat badgirl-nya sedang mode on saat ini.


"Gue nggak akan mati sebelum gue balesin dendam gue ke lo!!" tukas Rossa sambil menunjuk Kenzi dengan amarah.


Gadis itu menukikkan kedua alisnya, merasa tak mengerti dengan apa yang Rossa katakan.


"Balea dendam apa maksud lo?!, Gue ngelakuin apa?!. Kita aja udah lama nggak ketemu, jangan ngaco deh!!" desis Kenzi


Rossa mengeram kesal. Ia menyampirkan rambutnya yang menutupi pipi kiri lalu menyelipkannya di belakang telinga.


"Lo liat ini?!" tujuk Rossa pada sebuah bekas luka sayatan yang masih terlihat jelas melintang di pipinya.


"Ini semua karena perbuatan lo!!!, gara-gara lo muka gue jadi cacat!!" Kenzi meneliti ke wajah gadis itu. Memang benar, wajah Rossa menjadi jauh berbeda. Bahkan dapat dikatakan setengah wajah gadis itu sudah cacat.


Kenzi ingat luka sayatan itu. Sayatan yang ia buat delapan tahun yang lalu saat ia menyekap Rossa bersama Lena dan Riko. Tapi dia tidak menyangka jika luka sayatannya akan bersifat permanen.


"Itu bukan salah gue, salahin diri lo sendiri yang selalu ganggu hidup gue disaat gue mencoba untuk diem" sahut Kenzi dengan wajah datarnya. Ia tak takut sama sekali.


"INI SEMUA SALAH LO!!!, LO YANG UDAH BIKIN LUKA INI SAMPEK GUE HARUS OPERASI PLASTIK DAN OPERASI ITU MALAH GAGAL!!. LO YANG UDAH BIKIN GUE CACAT!!!" marah Rossa sambil menatap tajam kearah Kenzi. Dadanya naik turun dengan nafas yang memburu, pertanda jika kemarahannya sudah memuncak.


"Kalo operasi lo gagal ya jangan nyalahin gue dong!!. Makanya pilih dokter tuh yang udah pro!!. Dokter magang lo suruh operasi, ya pasti gagal lah" sahut Kenzi sambil memutar bola matanya jengah.


"Tutup mulut lo!!!" seru Lena dengan kencang.


"Apanya yang perlu ditutup?!. Terus lo ngapain Disini?, mau bales dendam juga?!" ledek Kenzi dengan senyum tengilnya.


"Bukan buat gue, tapi kakak gue!!! sahut Lena, lebih tepatnya seruan.


Kenzi tersenyum miris mendengarnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain, merasa kecewa dengan ucapan seorang gadis yang dulu ia anggap sebagai teman.


"Lo masih percaya sama dia?!. Percaya kalo gue yang uda bikin Andre bunuh diri?!" tanya Kenzi pada Lena seraya menunjuk Rossa menggunakan dagunya.


"Yaa, karna emang itu kenyataannya. Lo pembunuh!!" ucapan itu bagai anak panah yang menusuk hati Kenzi. Ia menggenggam tangannya kuat-kuat hingga kukunya melukai kulitnya sendiri.


"Gue nggak pernah lakuin itu" lirih Kenzi sambil menatap nanar kearah Lena yang juga sedang menatapnya.


"LO NGELAKUIN ITU!!!. LO PEMBUNUH KAKAK GUE!!!. ANDRE MENINGGAL GARA-GARA LO!!!" bentak Lena dengan mata yang mulai berair.


"Lo nggak tau apa-apa!!" tukas Kenzi


"Gue tau semuanya" sahut Lena dengan segera.


"Lo tau apa?!. Lo cuma tau cerita dari bi*ch itu kan?!. Lo nggak tau apa-apa, lo nggak tau ceritanya Len!!" bentak Kenzi sambil menatap wajah mereka satu-persatu.


"Jaga ucapan lo!!!" bentak balik Sella sambil menunjuk wajah Kenzi.


"Kenapa?!, apa urusan lo?!!" sahut Kenzi dengan wajah menantang.


"Rossa saudara gue, apapun yang jadi urusan dia akan jadi urusan gue juga!!"


Kenzi tersenyum miring mendengarnya. Gadis itu menegakkan punggungnya, membenarkan posisi duduk yang menurutnya tidak nyaman.


"Jadi dia saudara lo?!, pantes sama beggo-nya" ucapan mencibir itu kembali keluar dari bibir Kenzi.


"Jadi sekarang kasih tau ke gue, ini alesan lo deketin Reyhan?!" tanya Kenzi dengan wajah santai namun serius.


Sella tersenyum miring. Ia bersendekap dada lalu menatap kearah gadis di depannya.


"Yaa, awalnya begitu. Tapi ternyata, cowok lo itu mempesona. Gue nggak mau menafik, gue tertarik sama dia"


Kenzi mendengus kesal saat mendengar jawaban to the point yang gadis itu lontarkan.


"Lo nggak mungkin bisa dapetin dia!!" hardik Kenzi dengan kesal.


"Kalo gue nggak bisa dapetin dia, berarti nggak boleh ada satu orang pun yang miliki dia. Termasuk lo!!"


Hawa semakin panas ditengah perseteruan antara empat gadis yang saling menyalahkan itu. Sella mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kuncir rambut. Ia mengucir rambutnya tinggi-tinggi untuk mengurangi gerah.


"El?" gumam Kenzi saat melihat tatto ular cobra dan tengkorak di leher gadis itu.


Sella tersenyum miring mendengarnya.


"Yahhh, keliatan ya?!. Padahal udah gue tutupin loh" ucap gadis itu dengan wajah sok polos hingga membuat semua orang muak melihatnya.


"Jadi El itu lo?!" tanya Kenzi sekali lagi dengan mata memicing.


Sella mengangguk beberapa kali.


"Yaaa, begitulah. Semua ini gue lakuin buat Rossa, gue nggak akan biarin seseorang yang udah nyakitin keluarga gue hidup dengan tenang. Termasuk lo!!!"


Rossa tersenyum senang mendengarnya, seolah mendapat perlindungan dari orang yang benar.


"Kalo misalnya gue bilang kalo saudara lo tercinta itu adalah seorang pembohong apa lo akan percaya?!!!"


"Nggak!!!. Karna gue tau, lo b*jingannya disini!!!" sahut Sella dengan segera.


"KENZI BENER!!!"


Sebuah seruan dari arah pintu sukses membuat mereka semua menoleh. Mata mereka langsung membulat sempurna setelah melihat siapa yang datang, kecuali Sella.


"Bima"


**************


**Siapa nihhh yang tebakannya benerrr?!!.


Greget nggak?, greget nggak?, ya greget lah masak enggak.


Huhhh, 2000 kata gaesss. Ngegas loh aku ini, kalian like coment-nya juga harus ngegas donggg.


Eps selanjutnya akan penuh dengan emosi. Siapkan hati dan pikiran. Mari emosi bersama;v


Jangan lupa pencet tombol like-nya, coment juga yaaa. Happy reading😘**