
Pagi ini matahari bersinar dengan cerah. Menyinari seluruh muka bumi tanpa terlewat satupun.
Kenzi membuka pintu mobilnya. Ia turun dari mobil sport biru itu dengan anggun. Helaan nafas panjang keluar dari bibir gadis itu saat dirinya melihat area sekolah yang sudah ramai.
"Ayo kita perbaiki semuanya" gumam Kenzi dengan penuh keyakinan. Ia berkaca sebentar untuk membenahi rambut dan riasannya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.
Perlahan tapi pasti, Kenzi melangkahkan kakinya menuju kelas. Sapaan demi sapaan terlontar dari siswa laki-laki yang ia lewati. Namun hal itu hanya di balas dengan senyuman tipis oleh Kenzi.
Ia meraih knop pintu lalu memutarnya hingga pintu terbuka sempurna. Matanya masih melirik kearah seorang pemuda yang nampak mencoba untuk tidak perduli dengan kehadirannya di kelas ini.
"Lo baru dateng?" tanya Renata saat Kenzi sudah duduk di kursinya sendiri. Anggukan kepala Kenzi berikan sebagai jawaban. Ia sangat malas hari ini, untuk berbicarapun rasanya sangat enggan.
"Selamat pagi anak-anak!!!" sapa Pak Rohman yang baru datang sambil meneteng tas miliknya.
"Pagi Pak!!" sahut mereka bersamaan.
"Saya minta tolong salah satu dari kalian untuk mengambil buku di perpustakaan, kita akan bahas materi yang akan digunakan untuk ujian kalian bulan depan!!" seru Pak Rohman. Semua siswa saling pandang, mencoba untuk menyuruh temannya lewat tatapan yang mereka berikan.
"Biar saya aja Pak!!" Reyhan tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berucap demikian.
"Silahkan!!" sahut Pak Rohman. Setelah mendapat persetujuan, Reyhan segera berjalan keluar kelas untuk menuju perpustakaan.
Ia berjalan dengan langkah cepat seiring dengan degup jantungnya yang tak menentu. Mencoba mengalihkan konsentrasi, Reyhan semakin mempercepat langkahnya. Ia masuk ke dalam perpustakaan dan mulai mengambil buku sesuai dengan perintah Pak Rohman.
Setelah mengisi daftar pinjam, Reyhan meraih knop pintu untuk membuka pintu tersebut. Gerakannya terhenti tatkala dirinya terkejut melihat Kenzi yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu perpustakaan.
Mereka saling tatap dalam diam tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan. Di menit berikutnya, Reyhan mengalihkan tatapannya kearah lain sambil menjilatt bibirnya sendiri yang mendadak kering.
"Minggir!!" seru Reyhan dengan nada dingin tanpa mau menatap kearah Kenzi.
Gadis itu belum beranjak dari posisinya. Ia masih terus menatap kearah Reyhan tanpa berkedip. Jika boleh jujur, ia sangat merindukan pemuda ini. Seorang pemuda yang membuatnya sangat kesulitan untuk melakukan yang namanya 'melupakan'.
"Kamu nggak denger aku ngomong apa?!" desis Reyhan lagi. Kali ini ia berani menatap Kenzi, namun hanya sebentar lalu kembali menatap kearah lain.
"Nanti malem jam 7, aku tunggu di taman kota. Aku harap kamu dateng" Reyhan langsung menoleh kearah Kenzi setelah mendengar apa yang gadis itu ucapkan. Dan pandangan mereka kembali bertemu. Kali ini Kenzi yang lebih dulu memutuskan kontak mata, Ia berjalan menjauh dari Reyhan tanpa mau mendengar jawaban dari pemuda itu. Reyhan menatap punggung Kenzi yang kian menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
********
Kenzi sudah tampil cantik dengan dress selutut berwarna peach. Di tangannya sudah terdapat sebuah kotak kecil yang entah apa isinya. Udara malam yang dingin seakan tidak berpengaruh terhadap gadis itu. Ia melihat kearah arlojinya, pukul 18.58
"Please dateng Rey" gumam Kenzi dengan gelisah sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Mencari keberadaan seorang pemuda yang begitu ia harapkan kehadirannya saat ini.
***********
Reyhan mengerjapkan matanya berkali-kali. Tubuhnya sangat lelah hari ini hingga ia ketiduran sampai malam. Ia meraih ponsel yang sedari tadi ia matikan. Matanya langsung membulat sempurna setelah melihat angka jam yang tertera disana.
Dengan gerakan kilat, Ia bergegas pergi menuju kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandi bebeknya. Hanya butuh beberapa menit, Reyhan keluar dari kamar mandi. Ia memakai pakaian dan juga sepatunya dengan asal.
Dengan tergesa-gesa, Reyhan menuruni anak tangga rumahnya. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran kedua orang tuanya di ruang keluarga saking terburu-burunya ia melangkah.
"Mau kemana kamu, Rey?!!" tanya Raymond yang berhasil menghentikan langkah Reyhan yang sudah hampir mendekati pintu.
"Reyhan mau keluar sebentar, Pa. Ada urusan penting" jawab Reyhan dengan nada tak sabaran.
"Kesini kamu!!!, papa mau bicara" seru Raymond sambil menatap serius kearah putranya. Reyhan semakin gelisah, ia melihat kearah arlojinya. Sudah pukul 19.45
"Dia pasti lagi nungguin gue" batin Reyhan dengan perasaan tak karuan.
"Tapi pa, Reyhan mau keluar sebentar. Nggak lama kok" sahut Reyhan berusaha membujuk.
"Rey...." tegur Raisa dengan nada lembut. Ia tak mau putranya dimarahi. Reyhan mengusap rambutnya frustasi. Dengan langkah berat, ia berjalan kearah orang tuanya dan mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang terletak paling ujung.
************
Kenzi berdecak sambil mondar-mandir di depan kursi taman yang ia duduki sejak empat jam yang lalu. Ia sudah mempersiapkan segalanya, ia ingin semuanya kembali seperti semula. Ia kembali mengamati sekeliling, tak ada tanda-tanda Reyhan muncul. Para pengunjung yang lain silih berganti pergi meninggalkan taman karena waktu sudah menjelang malam. Kenzi menatap kearah jam tangannya sekali lagi, sudah pukul 23.30
"Kamu kemana sih Rey!!!" gumam Kenzi gelisah. Ia kembali duduk di kursi tersebut sambil mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Reyhan namun panggilannya tak terjawab.
Petir mulai bergemuruh seiring dengan tetesan air yang mulai berjatuhan. Kenzi menengadahkan kepalanya untuk melihat langit yang gelap, gelap seperti hatinya. Ia kemudian menunduk, air matanya mengalir tanpa izin bercampur dengan air hujan yang membasahi wajah.
"Kamu bener-bener udah nggak peduli" racau Kenzi dengan isak tangisnya. Ia membiarkan tubuhnya basah terkena air hujan.
"Aku masih untuk kamu Rey, kenapa kamu berubah?!!!" tangisnya semakin menjadi-jadi. Kenzi mengelap kasar wajahnya yang basah menggunakan telapak tangannya. Ia menatap kearah kotak yang berada di pangkuannya. Mengelusnya perlahan kemudian meletakkan benda itu di kursi.
Kenzi berlari meninggalkan tempat itu. Tak peduli rasa sakit di kakinya karena berlari menggunakan heels. Rasa sakit di hatinya melebihi apapun sekarang.
*********
Reyhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan resiko yang ia dapat. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Dengan setengah berlari, Reyhan menyusuri taman kota meskipun ia yakin orang yang ingin ia temui sudah pergi dari sana.
Hingga mata tajamnya terfokus pada sebuah kursi. Ia menghampiri kursi tersebut dan mengambil sebuah kotak yang terdapat disana.
**For my dear
Aku harap kamu dateng, meskipun itu rasanya mustahil
~Kenzia**
Reyhan meremas kertas itu kuat-kuat. Ia terduduk lemas di kursi taman meskipun saat ini hujan deras.
"Maaf" gumam Reyhan sambil menunduk lesu.
**Tandai typo.....
yuk like-nya ditambah guys.....coment-nya jangan lupaa
Happy Reading 😘**