
Mata elang itu masih mengawasi seorang gadis di sebrang sana. Gadis itu turun dari motor ojek online yang ditumpanginya. ia lalu menyodorkan uang sekaligus helm kepada sang driver.
"Makasih ya mas" ucapnya sambil tersenyum.
Setelah driver itu pergi, gadis itu mengibas-ngibaskan rambut sebahunya untuk sedikit merapikan rambutnya yang berantakan diterpa angin.
"Cantik" gumam Devano sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. ia menyandarkan tubuhnya di dinding koridor. Jakunnya naik turun seiring dengan ia menelan ludah. Banyaknya mahasiswi yang menyapa tak dihiraukan oleh pemuda itu. Matanya masih fokus menatap ciptaan tuhan yang menurutnya sempurna.
Via membenahi letak buku di tangannya. ia memasuki kawasan kampus dengan santai. Tak ada TP-TP seperti perempuan lain, karena menurutnya itu tidak penting. Yang terpenting baginya saat ini adalah bisa cepat lulus dengan nilai memuaskan agar dirinya dapat membantu keluarga.
Ting....
Ponsel Via berdering. ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya dari sana.
🗨Nasya
~Vi, gue tunggu di depan perpus ya. Buruan!!
Pesan singkat dari temannya, Nasya. Anasya Aprilia. Satu-satunya sahabat yang dimiliki Via disini. Kampus ini elite, jadi penghuninya pasti anak-anak dari kalangan orang berada. Posisi Via yang bersekolah lewat jalur beasiswa kerap kali dipandang sebelah mata karena dianggap miskin or nggak mampu. Dan hanya Nasya yang mau berbaur dengannya sampai saat ini.
Bughhh
Karena tidak fokus berjalan, Via menabrak seseorang hingga ponsel ditangannya terjatuh tepat di samping kaki orang itu.
"Sorry, gue nggak sengaja!!" ucap Via pada orang itu. Orang itu berjongkok untuk mengambil ponsel Via yang terjatuh di bawahnya.
"Gapapa kok, santai aja" jawab Devano sambil tersenyum manis.
"Lo...!!!" seru Via dengan wajah kaget sekaligus kesal.
"Cieee, yang inget sama gue..., gue kenapa?, ganteng ya?, jelas....itu mah udah dari dulu" sahut Devano dengan PD-nya. Tangannya sudah sibuk mengetikkan sesuatu di ponsel Via tanpa gadis itu sadari.
"Dih, PD banget lo!!. Siniin hp gue!!" tukas Via sambil menyodorkan tangan kanannya. Devano hanya menatap tangan itu sambil tersenyum tipis.
Drttt....drttt
Suara sebuah ponsel membuyarkan adu tatap antara dua orang itu. Anehnya, Devano malah tersenyum lebar saat mendengar ponselnya berdering. Hal itu membuat Via mengerutkan dahinya bingung.
"Malah senyam-senyum...!, balikin hp gue!,,,lo siapa sih, ganggu tau nggak!!" desak Via lagi. Devano mendekatkan dirinya ke telinga gadis itu, Via yang kaget sontak memundurkan tubuhnya menjauh dari Devano.
" Gue Devan, Devano. Biasa di panggil sayang" bisik Devano sambil memasukan ponsel ke saku gadis itu. Via mematung di tempat setelah melihat apa yang dilakukan Devano terhadapnya.
"Gue udah catet nomer hp gue, jangan lupa nanti malem telfon ya sayang" goda Devano sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"Lo....!!" tunjuk Via dengan marah tepat di depan wajah pemuda itu.
"Sayang..!" ralat Devano seraya menepis halus telunjuk Via di depan wajahnya.
Via mengetatkan gigi-giginya karena geram.
"DASAR COWOK GILA!!!" teriak Via dengan kesal.
"Sayang, jangan teriak-teriak dong. Nanti kalo budeg semua gimana?" Devano semakin gencar menggoda Via yang terlihat sangat kesal karena ulahnya.
Via berjalan diiringi perasaan dongkol di dalam hatinya. ia menghentak-hentakkan kaki ke lantai lantaran kesal karena sikap Devano.
"Dasar cowok gila!!!!. Ya tuhan....kenapa sih gue harus ketemu cowok sinting kayak dia. Ganteng sih iya, tapi otaknya nggak ada satu ons" gerutu Via dalam hati.
Devano terus menatap kepergian Via dari kejauhan. ia terkekeh saat melihat Via yang sedang menghentak-hentakkan kaki dengan kesal.
"Imut banget kalo marah" gumam Devano sambil tertawa kecil. ia kemudian melihat kearah ponselnya. Nomer Via sudah dia simpan dengan nama 'Jodoh di tangan Devan'
"Please, tangan tuhan jangan ikut campur dulu ya. Biar tangan Devan aja yang ikutan" gumam Devano dengan goblokknya.
.
.
.
Via melangkahkan kakinya ke area taman kampus. ia duduk seorang diri sambil menatap mahasiswa lain yang sedang asik mengobrol dan bersenda gurau bersama temannya. Perasaan kesalnya belum hilang sejak tadi. Jadi dia lebih memilih kesini untuk menghirup udara segar.
"Vi...!!" seseorang tiba-tiba datang sambil menepuk bahu Via hingga membuat gadis itu terlonjat kaget.
"Astaga, Sya. Lo ngagetin gue tau nggak!!" cebik Via sambil menatap sebal kearah Nasya
"Abisnya lo gue tungguin sampek jamuran di depan perpus malah nggak dateng-dateng!!, ya gue susul kesini lah. Gue hafal kalo lo pasti bakal kesini!!" sahut Nasya dengan nada tak kalah kesal.
"Ya sorry, gue lupa kalo lo nungguin gue. Ini semua tuh gara-gara si cowok gila itu tuh. Pagi-pagi udah mau bikin orang hipertensi!!" sungut Via. Nasya mengerutkan alisnya bingung.
"Cowok?,, siapa?" tanya Nasya penasaran.
"Dev, Devi?, Devo, atau akhh tau lah. lupa gue namanya. Nggak penting juga!!" tukas Via yang membuat Nasya memutar bolq matanya malas.
"Lo mah kalo kayak ginian pasti lupa, tapi kalo rumus satu buku pun lo pasti inget. Heran deh gue" ucap Nasya sambil geleng-geleng kepala.
"Cowok tuh mikir belakangan, ya perlu di pikir sekarang adalah gimana caranya kita bisa terus berprestasi dan membanggakan kedua orang tua. Jangan pacaran mulu yang dipikirin, kayak lo!!" hardik Via.
"Heheee, tapi pacaran itu bisa bikin gue lebih semangat jalanin apapun. Lo sih nggak pernah pacaran, makanya nggak tau!!" jawab Nasya tak mau kalah.
"Dih, nggak tertarik gue sama drama percintaan" jawab Via jengah.
"Gue sumpahin semoga nanti lo jadian sama orang yang ppaling lp benci!!. Kan savage nya berasa kalo kayal gitu" celetuk Nasya.
"Amit-amitttt, gue doain semoga doa lho nggak dijabah!!" tukas Via kesal.
Devano Edward Aleskey
**Tandai typo....maaf ya guys baru up. Tugas aku udah numpuk menanti untuk dikerjakan, jadi harap maklum ya kalo up-nya lama.
Jangan lupa like, coment, and rate-nya ya. Happy Reading 😍**