
"KEN.....!!!" seruan itu berhasil membuyarkan lamunan Kenzi. Ia menengok kearah Reyhan dan Justin yang tengah menghampirinya dengan wajah cemas.
Kenzi menungkikan alisnya bingung, buru-buru ia berbalik badan. Mata gadis itu langsung membulat sempurna saat melihat ada sebuah pisau tengah mengayun kearahnya.
Spontan Kenzi memundurkan diri. Namun naas, kakinya terpentok ujung kolam hingga membuatnya tak bisa bergerak. Saat pisau itu kian mendekat, Kenzi menutup kedua matanya menggunakan siku, bersiap merasakan rasa sakit yang mungkin akan segera ia rasakan.
Cukup lama Kenzi berada di posisi seperti itu. Hingga perlahan, ia membuka matanya saat rasa sakit itu tak kunjung terasa. Jantung gadis itu berdetak dengan kencang saat ia melihat ada sebuah punggung kekar terpampang di depannya. Dari kemeja putih itu, Kenzi dapat melihat darah segar mengalir dari sana dengan deras.
"Reyhan......" lirih Kenzi dengan tubuh bergetar hebat.
Tubuh Reyhan perlahan merosot ke tanah dan langsung di tahan oleh Kenzi menggunakan kedua tangannya. Ia kemudian meletakkan kepala Reyhan di Pahanya
"Rey.... Reyhan...." ucap Kenzi seraya menepuk pipi Reyhan berulang kali dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Justin berdiri mematung di tempat saat ia melihat kejadian yang tak pernah ia lihat selama hidupnya. Orang yang hendak menusuk Kenzi tadi memundurkan langkahnya hingga akhirnya ia berlari dari sana. Justin yang melihat itu sontak ikut berlari mengejar.
"Rey, Reyhan... Please, please open your eyes boy...." lirih Kenzi diiringi air matanya yang terus menetes. Ia mengelus kepala Reyhan berulang kali, berharap pemuda itu mau membuka matanya.
Perlahan tapi pasti, kelopak mata tajam Reyhan terbuka sedikit demi sedikit. Pemuda itu tersenyum lemah dengan mata yang menatap lekat kearah Kenzi yang tengah memangku kepalanya.
"Hay.... sayang" lirih Reyhan dengan suara lemah namun bibirnya masih mencoba untuk tersenyum. Tangan kirinya ia gunakan untuk memegangi luka tusuk di dada kirinya. Kenzi menggapai tangan pemuda itu dan ikut memegang lukanya dengan lembut.
"Kamu bertahan ya, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Kenzi dengan tangis tersedu-sedu.
"Kamu jangan nangis, jelek Loh!!. Tuh,,, ingus kamu hampir netes" ucap Reyhan sambil terkekeh kecil. Ringisan itu keluar dari bibir pemuda itu saat rasa perih dan sakit itu kian terasa di luka tusuknya.
Kenzi tak menjawab apapun, hanya air mata yang mewakili perasaan hatinya saat ini.
"Maaf....." lirih Reyhan lagi.
"Maaf karena..... aku.... selalu buat kamu nangis. Aku pernah... buat kamu kecewa... dan.... aku belum bisa buat kamu bahagia selama aku hidup" ucap Reyhan dengan suara terbata-bata.
Kenzi menggeleng dengan air matanya yang kian mengalir deras.
"Sttt, jangan bahas itu lagi oke?!" sahut Kenzi seraya menutup bibir Reyhan menggunakan jari telunjuknya.
"Kamu jaga diri kamu baik-baik ya sayang..." Reyhan mengulurkan tangan kanannya untuk memegang pipi Kenzi yang basah dengan air mata.
"Aku harap.....kamu selalu bahagia setelah ini. I Love You Forever, Dear....." pegangan tangan itu melemah seiring dengan mata Reyhan yang kembali terpejam. Hingga akhirnya, tangan Reyhan terkulai lemas di tanah saat mata pemuda itu terpejam sempurna.
Kenzi menggelengkan kepalanya dengan tangis yang kian mengeras hingga dadanya naik turun menahan rasa sesak.
"Nggak,,,nggak... Please, please Rey. Bangun, please buka mata kamu...." teriak Kenzi dengan kencang sambil memeluk kepala Reyhan dalam dekapannya.
"Yaaa... yaaa, aku masih sayang sama kamu. Aku masih cinta sama kamu, REYHAN!!!. Please, bangun aku mohon" ucap Kenzi dengan terisak.
Dari kejauhan, nampak Reza, Vicky, dan Ariel keluar dari Gedung. Mata mereka langsung membulat sempurna saat melihan Reyhan terbaring lemah dengan tubuh bersimbah darah. Dengan setengah berlari, mereka kompak menghampiri Reyhan dan Kenzi yang berada di tempat yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ken, ini kenapa bisa jadi begini?!!" tanya Ariel dengan nada cemas sambil berjongkok di samping Reyhan diikuti Vicky dan Reza.
"Reyhan... dia kena tusuk" jawab Kenzi dengan air mata yang belum berhenti.
"Please cari bantuan cepetan....!!" desak Kenzi sambil mendekap tangan Reyhan yang mulai dingin.
"Gue cari mobil, Za ayo ikut!!" ucap Vicky seraya bergegas bangkit dari duduknya diikuti oleh Reza.
Justin tiba-tiba datang dengan nafas yang memburu layaknya orang habis maraton. Ia mengelap dahinya menggunakan punggung tangannya yang kering. Rasa lelah yang tadi ia rasakan karena mengejar sang pelaku seketika sirna saat matanya melihat Reyhan terbaring lemah dengan Kenzi yang menangis histeris.
"Ken, Reyhan..." ucap Justin dengan nada menggantung.
Kenzi sontak menatap kearahnya dengan tatapan tajam seolah siap mengulitinya hidup-hidup.
"Reyhan gapapa!!!, dia pasti kuat!!. Reyhan gue itu nggak lemah!!" bentak Kenzi dengan kencang.
Tinnn.....
Sebuah bunyi klackson mobil membuyarkan suasana panas yang tercipta. Reza dan Vicky keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa, mereka kemudian bergegas menghampiri Kenzi dan yang lainnya.
"Mobilnya udah siap, Ayo kita ke rumah sakit sekarang!!!" seru Reza yang langsung diangguki oleh semuanya.
Mereka menggotong Reyhan untuk masuk ke dalam mobil dengan hati-hati. Kenzi masuk terlebih dahulu untuk menemani Reyhan di kursi penumpang. Mobil kemudian melaju kencang untuk segera menunju Rumah Sakit. Reza menyetir mobil dengan cepat namun hati-hati. Keselamatan seseorang kini bergantung pada seberapa lihainya ia berkendara.
Kenzi menatap wajah Reyhan yang berada dalam pangkuannya. Mata pemuda itu terpejam rapat dengan wajah yang mulai memucat. Darah dari luka tusuk itu pun belum berhenti sampai sekarang.
"Kamu bertahan ya, Rey. Aku tau kamu kuat, kamu pasti bisa bertahan" ucap Kenzi dengan nada meyakinkan. Bukan meyakinkan orang lain, namun ia meyakinkan dirinya sendiri. Meyakinkan bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
XX HOSPITAL
Dua orang perawat berlari kearah luar rumah sakit sambil mendorong sebuah brankar. Reza dan Ariel membopong tubuh Reyhan untuk keluar mobil dan meletakkan pemuda itu diatas brankar rumah sakit.
Perawat tadi dengan sigap membawa Reyhan masuk diikuti Kenzi dan yang lain.
Raut kekhawatiran jelas tergambar di wajah semua orang. Belum lagi saat dokter menyatakan bahwa Reyhan harus menjalankan operasi besar karena fatalnya luka yang ia derita, hal itu sukses membuat dunia Kenzi terasa terguncang. Rasa sakit yang ia rasakan kini melebihi sakit hati. Rasa takut kehilangan itu muncul begitu saja dan langsung membuat dadanya terasa teriris saat mengetahui Reyhan harus berjuang diantara hidup dan mati. Dan itu semua terjadi karena dirinya.
"Luka tusuk itu sangat dalam. Bahkan hanya kurang beberapa inchi saja, pisau itu sudah berhasil menyayat jantungnya. Kita harus melaksanakan operasi besar untuk memperbaiki sel dan pembuluh darah yang terputus. Kita Serahkan semua pada tuhan, bantulah berdoa agar dia berhasil melewati Semua ini" ucapan itu terus terngiang di kepala Kenzi seperti dejavu. Gadis itu meringkuk di lantai sambil menyembunyikan wajah rapuhnya diantara lutut yang ia tekuk. Menangis tanpa suara, dan berusaha bersikap tegar diantara kekhawatiran, itulah yang ia rasakan sekarang.
"Kalo kamu sampek kenapa-napa, aku nggak bisa maafin diri aku sendiri. Ini salah aku, harusnya aku yang kena. Kenapa kamu ngelakuin itu Rey?!!!. Harusnya aku, harusnya aku yang terluka. Bukan kamu!!!" racau Kenzi sambil terus memukul kepalanya menggunakan telapak tangan.