
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Kenzi diperbolehkan untuk pulang setelah kondisinya kian membaik meskipun mentalnya tidak. Dan pagi itu, Ia berkunjung ke markasnya untuk membahas sesuatu bersama Hanzo dan Soffia.
Tiga anggota inti Red Rose itu kini tengah berkumpul di sebuah ruangan luas yang diyakini adalah ruangan ketuanya, Kenzia. Mereka masih diam membisu ditempat duduk masing-masing dengan fikiran yang berkelana entah kemana. Hembusan nafas kasar tak jarang keluar dari mulut tiga orang itu saat tak kunjung mendapat jawaban dari apa yang mereka pikirkan.
"Baru kali ini gue kesulitan buat nemuin petunjuk" keluh Soffia seraya menyandarkan punggungnya disandaran kursi dengan lesu. Sebelah tangannya ia letakkan diatas kepalanya yang tengah mendongak.
"Yang masih gue bingungin dari sekarang itu, apa tujuan mereka ngelakuin ini semua?!. Secara gue aja nggak kenal sama ketua geng itu, tapi berulang kali mereka selalu mencoba untuk nyelakain gue bahkan geng kita" ucap Kenzi dengan nada gusar.
Hanzo yang masih menatap layar ponselnya tiba-tiba terkejut. Dengan ekspresi yang masih sama, Ia menyerahkan ponselnya kepada Kenzi agar gadis itu dapat melihat apa yang barusan dia lihat.
Mata Kenzi langsung membulat sempurna setelah melihat laporan dari pihak intelegen yang ditugaskan oleh Soffia untuk menangani kasus kecelakaannya kemarin. Pandangannya kemudian beralih pada Hanzo, meminta penjelasan pada pemuda itu lewat sorot matanya. Hanzo yang menyadari hal itu langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tubuh Kenzi lemas seketika, dengan lesu ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menatap nanar ke depan.
"Gue jadi semakin ngerasa bersalah" cicit Kenzi
"Apaan sih?!" Soffia yang sedari tadi diam langsung meraih ponsel Hanzo yang ada di atas meja untuk melihat hal apa yang membuat sikap dua orang dihadapannya berubah seketika. Ekspresi terkejut dan tak percaya muncul di wajah cantik gadis itu setelah melihat isi laporan dari salah satu anak buahnya.
"What the f*uck!!!!. Bom?!" pekik Soffia sambil menatap kearah Hanzo dan Kenzi bergantian.
"Menurut penyelidikan salah satu anak buah lo, ternyata ada bom di bagian bawah mobil Kenzi. Itu sebabnya mobil itu bisa meledak" ucap Hanzo
"Dan beruntungnya Kak Bintang waktu itu membekap mulut gue dan nyeret gue untuk menjauh. Kalo enggak, mungkin gue nggak akan ada disini sekarang" timpal Kenzi dengan suara tercekat di tenggorokan. Hanzo dan Soffia hanya diam sambil menatap sendu kearah Kenzi. Mereka tau apa yang tengah dirasakan gadis itu saat ini. Sebuah rasa bersalah tak berujung terus melingkupi hati Kenzia hingga membuatnya selalu merasa tertekan.
Sesaat kemudian, otak cerdas Soffia menangkap sebuah kesimpulan dari semua peristiwa yang terjadi. Ia menjentikkan jarinya hingga atensi Kenzi dan Hanzo beralih kearahnya.
"Apa cuma gue yang berfikir kalo Bintang itu tau sesuatu?. Tentang rencana orang yang mau nyelakain elo" ucap Soffia dengan wajah serius.
Kenzi berfikir sejenak hingga sebuah kata dalam memorynya tiba-tiba muncul.
"Kak Bintang waktu itu bilang ke gue kalo dia selalu ngikutin gue kemanapun gue pergi, bahkan sejak SMA" ucap Kenzi tiba-tiba
"Itu berarti Bintang tau saat orang itu naruh bom di mobil lo" sahut Soffia
"Dan peledakan ban mobil itu adalah rencana Bintang supaya mobil lo berhenti dan dia bisa bawa lo pergi untuk menjauh dari mobil itu" timpal Hanzo dengan mimik wajah mengintruksi bahwa dugaannya pasti benar.
Mereka kemudian saling pandang dan kompak membuang nafas kasar sambil menyandarkan punggung masing-masing disandaran kursi.
"Ini terlalu rumit!!!. Kita sama sekali nggak punya petunjuk!!" desis Soffia sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Satu-satunya petunjuk yang kita punya cuma dia seorang perempuan yang berwargakenegaraan Filiphina. Sedangkan gue yakin 1000% kalo gue nggak pernah punya masalah atapun nyinggung seseorang di negara itu. Tapi kenapa dia terus-terusan ngerecokin gue seakan-akan gue sama dia punya dendam kesumat Yang belum terbalaskan" cebik Kenzi dengan kesal. Otaknya down saat ini. Apalagi setelah satu nyawa melayang karenanya, itu semakin membuat otak cerdasnya serasa buntu.
Soffia tiba-tiba bangkit dari duduknya, dan itu membuat Hanzo dan Kenzi mengernyit bingung. Ia kemudian berjalan kearah laptop besar yang berada di ruangan itu dan mulai berkutat dengan benda canggih yang satu ini. Kenzi memandang Hanzo dengan ekspresi bingung, begitu juga sebaliknya.
Menit berganti dengan jam, dan gadis cantik itu belum beranjak dari tempat duduknya. Kenzi menopang dagunya seraya menatap punggung Soffia setelah pertanyaannya tak dijawab satu pun oleh gadis itu, Ia tau jika Soffia sedang sangat serius saat ini.
Kenzi dan Hanzo sama-sama mendekat, ikut menatap layar komputer Soffia meski mereka belum paham apa maksudnya.
"El....!!" ucap Soffia dengan mimik wajah yang tidak bisa dideskripsikan. Ia menatap tajam kearah Kenzi yang dibalas tatapan bingung oleh gadis itu.
"El....?" tanya Kenzi dengan ekspresi bingung dan dahi mengerut heran.
Soffia menghela nafas berat saat melihat ketelmian Kenzi yang tidak biasanya. Ia kemudian menunjuk sebuah tulisan yang ada di baris kedua, sebuah tulisan yang di tulis dengan abjad lama dan menggunakan bahasa tagalog.
"Setelah gue telusuri lewat penyadapan data sosial yang ada disana, informasi tentang nama ketua geng itu cuma diketahui kalo namanya 'El' untuk nama lengkap, foto, dan latar belakang, gue belum bisa mecahin semuanya. Di bener-bener pinter mengunci privasinya sampek-sampek koneksi gue cuma bisa membobol sampek situ" jelas Soffia panjang lebar.
Kenzi diam dalam kebisuannya. Pikirannya berkelana mencari jawaban atas teka-teki yang lebih sulit dari teka-teki silang. Dalam hati ia mulai menyusun rencana-rencana pembalasan dendan atas nama Bintang kepada geng yang tak jelas asal usulnya itu.
Setelah menimang banyak pilihan dan presepsi, Kenzi bergegas mengambil ponselnya yang ada diatas meja. Mencari kontak seseorang yang ada disana, lalu menekan usernumber itu untuk melakukan panggilan suara.
"Yes Lady?!" terdengar sahutan suara berat seorang pria dari sebrang sana setelah panggilan terhubung
"Bawa mereka ke Indonesia, secepatnya!!" titah Kenzi dengan segera. Setelah mengucapkan itu, Ia langsung mematikan panggilan tersebut bahkan ia tak membiarkan orang di sebrang sana menyahuti ucapannya.
"Lo manggil mereka?!" tanya Hanzo dengan wajah dinginnya.
"Nggak ada pilihan lain, mereka yang paling bringas diantara kita dan cocok untuk hancurin sampah-sampah itu" sahut Kenzi sambil mengindikkan bahunya acuh.
***********
Segelas wine diatas meja sudah tandas dalam satu tegukkan oleh gadis berjaket hitam di ruangan itu. Gadis itu bermain ponsel sambil sesekali menyesap rasa manis dari filter rokok di tangannya. Seorang pria berkepala plontos mendekat kearahnya sambil membawa sebuah Ipad. Gadis itu mendongak, menatap pria itu sambil menaikkan sebelah alisnya, meminta penjelasan.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada datar tanpa emosi.
"Maaf Nona, satu privasi berhasil dibobol" lapor pria itu sambil menunduk takut, takut jika bos-nya marah dan membunuhnya saat ini juga.
Gadis itu tersenyum licik. Ia melempar putung rokok yang sudah habis ke tempat sampah. Mengambil rokok yang baru dan menyalakkannya menggunakan pemantik. Ia kembali menyesap rokoknya dengan tenang, sesekali gadis itu membuang asap beracun itu dari mulutnya.
"No problem, itu hanya sebuah hal kecil. Kita lihat, sampai dimana mereka bisa melangkah" sahut gadis itu dengan seringaian liciknya.
************
'Thor, kok baru up?'
~Maaf ya guys karena kalian kelamaan nunggu. Ada beberapa hal yang buat aku jadi sering telat update. Salah satunya mood yang hancur akhir-akhir ini. Kalian tau kan rasanya badmood kayak gimana?!!. **Mau ngapa-ngapain rasanya nggak niat. Jadi harap maklum ya guys, aku usahain up terus sampek cerita ini tamat
Thank you so much udah mampirrr, jangan lupa tinggalkan jejakk. Happy reading😘**