Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
With You



Pukul 01.40 dini hari, helikopter mendarat dengan sempurna di lapangan luas yang terletak tepat di belakang markas Red Rose. Semua orang turun dari sana dengan wajah lelahnya. Reyhan menuntun Kenzi untuk turun diikuti Hanzo dan Big Seven di belakang.


"Kalian semua silahkan kembali ke rumah masing-masing. Terimakasih sudah membantu" ucap Reyhan sambil tersenyum ramah.


"Siap Master" sahut mereka dengan serempak. Mereka semua membubarkan diri, menyisakan anggota inti dan juga Big Seven disana.


"Gue pulang duluan sama Kenzi, dia kayaknya capek banget" pamit Reyhan seraya melirik kearah Kenzi yang sedang bersandar di bahunya dengan mata terpejam.


"Hati-hati di jalan" sahut Hanzo yang dibalas anggukan oleh Reyhan.


"Ken, jangan tidur dulu" Ucap Reyhan dengan nada rendah seraya menepuk pipi Kenzi.


"Hmm" gadis itu hanya menjawab dengan gumaman kecil tanpa merubah posisi ataupun membuka matanya.


Reyhan menghela napas berat. Tak ada pilihan lain, Ia sedikit membungkuk dan meraih kaki Kenzi. Ia menggendong gadis itu ala bridal style untuk menuju kearah mobil.


"Aaa so sweet!!" pekik Soffia seraya menelungkupkan wajahnya menggunakan telapak tangan.


"Kalo lo mau, gue bisa gendong lo kayak gitu sekarang juga" sahut Hanzo sambil menatap kearah Soffia penuh arti.


Sontak gadis itu menengok, menatap Hanzo sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Jangan ngaco deh lo!!!" desis Soffia.


"Gue nggak ngaco, gue serius" ucap Hanzo lagi.


"Ogah!!" tukas Soffia dengan segera.


"Kalo lo nggak mau sama dia, gue mau kok gendong lo" Gilbert tiba-tiba menimpali hingga membuat semua mata menatap kearahnya.


"Marc, bocah itu ternyata udah mulai dewasa" bisik Frans pada Marco.


Marco tersenyum miring dengan mata yang tak lepas menatap interaksi antara Gilbert dan Soffia.


"Ya, Gilbert ternyata udah besar" sahut Marco disertai kekehan.


Soffia mengerutkan keningnya bingung, Ia kemudian menepuk jidatnya sendiri sambil geleng-geleng kepala.


"Kalian sama-sama gila!!!"


**********


Reyhan mendudukkan tubuh Kenzi dengan hati-hati di kursi samping kemudi. Gadis itu benar-benar tertidur saat Ia menggendongnya tadi. Reyhan memasangkan seatbelt pada tubuh Kenzi, dan gadis itu tidak merasa terganggu sama sekali.


"Kanu capek banget ya" gumam Reyhan sambil tersenyum hangat. Dengan posisi yang masih membungkuk, Ia mengecup dahi Kenzi sejenak. Menatap lekat kearah wajah gadis itu sebelum akhirnya ia menutup pintu mobil dan beralih duduk di kursi kemudi.


Reyhan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik kearah Kenzi yang masih tertidur pulas. Kondisi yang sudah dini hari membuat jalanan kota menjadi senggang dan Reyhan bisa leluasa mengemudikan mobilnya tanpa perlu terjebak macet.


40 menit perjalanan, kini mobilnya sudah berhenti di depan gerbang mansion keluarga aleskey. Reyhan melirik kearah Kenzi, gadis itu masih tertidur dan belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Ia ingin membangunkan tapi tidak tega. Matanya melihat kearah arlojinya, sudah pukul 02.20 dini hari.


"Nggak mungkin gue mulangin Kenzi dalam kondisi kayak gini, jam segini pula, apa kata keluarganya nanti. Terus gimana dong?!!" gumam Reyhan bingung. Apalagi melihat kondisi Kenzi seperti ini, pasti keluarganya berfikiran yang iya-iya.


Setelah berpikir ribuan kali, dengan sedikit ragu Reyhan memutar balik mobilnya. Perlahan, Ia mengendarai mobil itu menjauh dari kawasan Mansion Keluarga Aleskey. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobilnya kini berhenti di depan gedung apartemen. Reyhan keluar dari mobilnya lalu berjalan ke kursi samping. Ia membuka pintu, membuka seatbelt yang melingkar di tubuh Kenzi dan mulai menggendong gadis itu dengan hati-hati.


"Pak Reyhan ternyata ganas juga ya... Kasian mbaknya" gumam satpam itu.


*******


Reyhan keluar dari lift dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya. Ia berjalan cepat kearah Apartemennya. Saat tiba di depan pintu, Reyhan segera menempelkan sidik jarinya di sebuah alat, dan pintu terbuka secara otomatis.


Reyhan berjalan masuk, ditatapnya Kenzi yang masih tidur dengan tenang tak menghiraukan tubuhnya yang basah karena keringat.


"Kamu cantik-cantik ternyata kebo yaa" gumam Reyhan sambil geleng-geleng kepala saat melihat kekasihnya yang tidur seperti orang pingsan.


Ia membuka pintu kamarnya. Kamar bernuansa abu-abu dan hitam itu nampak sangat elegan untuk ukuran kamar laki-laki. Reyhan berjalan kearah ranjang. Dengan hati-hati Ia merebahkan tubuh Kenzi disana.


Pemuda itu berkacak pinggang dengan nafas yang masih terengah-engah. Sesekali ia mengusap keringatnya yang masih tersisa di dahi.


"Di Sinetron pas adegan gendong-gendongan kok kayak enteng banget yaa.... Tapi pas di Realita, punggung gue serasa mau copot" gumam Reyhan.


Ia memutar kepalanya untuk menatap kearah jam. Sudah pukul setengah tiga pagi. Malas rasanya untuk mandi, tapi rasa lengket di tubuhnya sangat membuatnya tidak nyaman. Meski dengan langkah ogah-ogahan, Reyhan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya seusah olahraga angkat beban.


Tak berselang lama, Reyhan sudah keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar. Rambutnya yang basah ia usap-usap menggunakan handuk kecil, perempuan yang melihatnya pasti langsung memekik kegirangan.


Ia kemudian berjalan kearah ranjang dan mendudukkan dirinya disana. Ia menatap wajah Kenzi lekat-lekat. Gadis itu nampak sangat imut saat sedang tidur. Reyhan menggigit bibirnya sendiri saat tangannya terasa sangat gatal dan ingin menyentuh wajah Kenzi yang putih mulus.


Tak tahan dengan godaan, tangan Reyhan meraba wajah Kenzi dengan perlahan. Ia mengelus pipi Kenzi, kemudian beralih pada hidungnya. Reyhan mengetuknya pelan sambil tertawa kecil, namun Kenzi sama sekali tidak terganggu. Jari telunjuknya beralih pada bibir gadis itu. Reyhan mengusapnya pelan dengan senyum tipis yang tersungging di wajah tampannya.


"Semua ini sebentar lagi akan jadi milikku"


***********


Sinar matahari yang menembus gorden membuat mata Kenzi mengerjap karena merasakan silau. Saat matanya sudah terbuka sempurna, Ia segera merubah posisinya menjadi duduk karena terkejut. Ia mengamati sekeliling, dan merasa tidak mengenal tempat ini sama sekali. Namun saat kepala menengok kesamping, gadis itu menyunggingkan senyum manisnya saat melihat Reyhan tidur di sofa yang juga terdapat di kamar itu.


Kenzi turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Reyhan. Ia berjongkok di samping pemuda yang masih tidur itu.


"Kamu kok gemesin sih kalo kayak gini" gumam Kenzi sambil tersenyum kecil.


Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Reyhan. Mengusapnya pelan dan penuh cinta, hingga jarinya berhenti di hidung. Kenzi menyentilnya beberapa kali hingga membuat mata Reyhan terbuka sempurna.


"Pagii" sapa Kenzi dengan senyum manisnya.


Reyhan ikut tersenyum meskipun rasa kantuk itu masih menyerang.


"Kamu udah bangun?" tanya Reyhan yang mendapatkan anggukan dari gadis itu sebagai jawaban.


"Aku suka pagi ini, karena saat aku bangun tidur aku langsung bisa menatap wajah kamu" ucap Reyhan dengan senyuman.


"Jangan gombal deh!!" cebik Kenzi sambil menyembunyikan pipinya yang merona.


Reyhan tak menjawab. Ia meraih tangan Kenzi dan menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.


"Ken, menikahlah dengan ku"