
Perasaan canggung tiba-tiba menyelimuti dua orang beda jenis yang ada di ruangan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.40 namun diantara Kenzi dan Reyhan belum ada yang memejamkan matanya. Mereka duduk di pinggiran ranjang dengan posisi bersebelahan. Sangat canggung seperti anak SMA yang menikah karena perjodohan.
"Ehmm" Reyhan berdehem seraya menegakkan punggungnya. Ia menengok kearah Kenzi, gadis itu menatap kearah lantai sambil memainkan jari kakinya.
"Ken..." panggilan itu sontak membuat Kenzi menoleh. Ia menatap kearah Reyhan yang juga sedang menatapnya. Mencari jawaban dari raut wajah pemuda itu.
"Tidur yuk" Jantung Kenzi mulai menggila saat mendengar ajakan Reyhan yang menurutnya sangat ambigu. Ia meremass baju tidur yang ia kenakan kuat-kuat untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Ti-tidur?" tanya Kenzi dengan terbata-bata.
"Iya, tidur. Aku capek banget sumpah, kamu kalo mau begadang besok aja. Ini udah hampir jam empat, mending kita tidur" Kenzi merutuki kebodohannya sendiri, bisa-bisanya dia berfikir yang iya-iya disaat Reyhan bahkan tidak bermaksud demikian.
"i..ii..iya. Kita tidur aja" sahut Kenzi seraya menunjukkan cengirannya.
Mereka sama-sama naik keatas ranjang, tidur bersebelahan dengan posisi saling membelakangi. Suasana malam begitu hening, hanya dentingan jam yang terdengar memenuhi seisi ruangan.
Mata Reyhan masih terbuka sempurna, entah hilang kemana rasa kantuknya tadi. Ia merubah posisinya menjadi terlentang dengan tangan kanan yang ia gunakan sebagai bantalan. Matanya kemudian melirik punggung Kenzi yang nampak tak bergerak.
"Ken.." panggil Reyhan dengan nada rendah.
"Hmm?" sahutan dari sana menandakan jika gadis itu belum tidur. Jika boleh jujur, Ia juga tidak bisa tidur saat ini. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Matanya terasa enggan untuk terpejam.
"Kamu belum tidur?" tanya Reyhan lagi.
"Belum" sahut Kenzi tanpa merubah posisinya.
Reyhan membuang nafas kasar. Ia menarik bahu kanan Kenzi ke belakang hingga posisi gadis itu menjadi terlentang. Ia memiringkan tubuhnya dengan tangan kiri sebagai penyangga kepala, menatap Kenzi lekat-lekat hingga membuatnya gugup.
"Kamu ngapain?" tanya Kenzi dengan terbata-bata. Jantungnya sudah menggila sejak tadi. Apalagi melihat tingkah Reyhan seperti ini, membuatnya semakin tidak tenang.
Reyhan mendekatkan dirinya, membuat jarak diantara mereka habis tak tersisa. Masih dengan tangan kiri yang menyangga kepala, Reyhan mengusap pipi Kenzi menggunakan tangan kanannya dengan lembut.
"Kamu cantik" bisik Reyhan dengan nada yang sangat seksi hingga membuat semua wanita yang mendengarnya bertekuk lutut. Jarinya masih terus menjelajah wajah seorang perempuan yang sudah resmi menjadi miliknya. Hingga sentuhannya beralih pada leher putih Kenzi, mengusapnya dengan lembut hingga membuat gadis itu menggeliat geli.
Tangan nakalnya ternyata tak berhenti sampai disitu. Jari-jari Reyhan mulai turun dan membuka kancing baju Kenzi satu persatu. Saat gerakannya sudah mencapai kancing ketiga, tangan Kenzi menghentikannya.
"Rey...." cicit Kenzi dengan nada yang tak berbobot.
"Aku mau itu....... sekarang" bisik Reyhan tepat di telinga Kenzi hingga membuat wajah gadis itu bersemu merah.
"Ta... tapi...-
Ucapan Kenzi terhenti saat Reyhan lebih dulu membungkam bibirnya dengan ciuman. Kenzi memejamkan matanya, mencoba untuk menikmati dan mengimbangi apa yang Reyhan lakukan. Tanpa sadar, Ia melingkarkan tangannya di leher Reyhan dan meremass rambut pemuda itu saat bibir Reyhan mulai bermain dengan lehernya.
"Please....." nada yang pemuda itu ucapkan sudah tak beraturan. Kenzi hanya mengangguk pasrah. Ia merutuki dirinya sendiri saat tubuhnya begitu cepat merespon apa yang Reyhan lakukan.
Senyuman pemuda itu melebar setelah mendapatkan lampu hijau dari sang pemilik tubuh. Ia kembali menyerang bibir Kenzi tanpa ampun, mengabsen setiap inchi mulut gadis itu tanpa terkecuali. Tangannya tidak bisa tinggal diam, satu persatu kancing baju gadis itu berhasil ia lepaskan. Kepalanya semakin ke bawah, bersiap untuk naik-naik ke puncak gunung. Tak lupa juga ia meninggalkan jejak agar tidak tersesat. Mulut Reyhan dengan lihainya bermain di puncak itu, mencari sumber susu bergizi dengan alasan untuk memenuhi asupan empat sehat lima sempurna.
Kenzi hanya bisa memejamkan matanya dengan tangan yang meremass sprei kuat-kuat saat Reyhan benar-benar tak terkendali. Ia tidak punya kekuatan untuk menolak apalagi melawan.
lalalalalalaaaaaa
Reyhan tersenyum bahagia saat melihat wajah perempuan yang masih tertidur dalam pelukannya. Ia tertawa kecil saat melihat tanda merah di leher dan dada Kenzi hasil dari main kuda-kudaan tadi subuh.
Bulu mata lentik itu perlahan mulai bergerak. Kenzi membuka matanya dan senyuman Reyhan langsung menyambutnya dengan sangat manis.
"Selamat......" Reyhan melirik kearah jam dinding yang terletak di tembok samping.
"Siang" Lanjutnya diiringi kekehan.
Dahi Kenzi mengerut bingung, Ia ikut melihat kearah jam. Mata perempuan itu langsung membulat sempurna saat melihat ini sudah jam 1 siang.
"Astaga.... ini udah siang banget!!" pekik Kenzi dengan suara agak keras.
"Kamu kok nggak bangunin aku sih!!" cebik Kenzi seraya menatap sebal kearah Reyhan. Bibirnya sudah maju beberapa centi, bahkan bisa untuk dikuncir.
Reyhan sangat gemas dibuatnya. Ia sedikit menunduk lalu mencium bibir perempuan itu sekilas.
"Kamu kayaknya capek, aku ngga tega buat bangunin"
Ya, itu adalah jawaban yang sangat tepat menurut Reyhan. Karena sebenarnya ia sangat malas untuk bangun, ia masih ingin berlama-lama dalam posisi seperti ini.
Kenzi hanya mengangguk lesu, tak ada niatan untuk bangun saat ini. Badannya sakit semua karena ulah Reyhan, Ia butuh pemulihan. Reyhan mempererat pelukannya hingga wajah Kenzi membenam di dadanya yang telanjang.
"Aku mau mandi" ucap Kenzi sambil menggeliatkan tubuhnya, mencoba lepas dari jeratan Reyhan yang kian mengerat.
"Kita mandi bareng" ucap Reyhan dengan senyum penuh arti.
Pipi Kenzi merona merah, Ia memukul dada pemuda itu dengan kencang.
"Ihhh kamu mah selalu gitu dehh!!" rengek Kenzi dengan manja layaknya anak kecil.
"Tapi kamu suka kan...... Ini buktinya!!" Reyhan menunjuk leher dan juga dadanya yang terdapat kissmark hasil karya Kenzi. Pipi perempuan itu semakin memerah mengingat tindakan spontannya tadi. Ia menarik selimut sampai menutupi kepala dan bersembunyi disana. Enggan menatap Reyhan yang masih terus tersenyum jahil sejak tadi.
"Yang, jangan disitu. Itu aku belum dibungkus"
"REYHAN!!!!" Teriakan Kenzi menggema seisi ruangan dan Reyhan malah tertawa dibuatnya. Dasar pasangan nggak waras.
************
Huaa, otakku udah nggak polos lagi😣. Berdosa kalian udah nyuruh adek bikin beginian....... Aku masih kecil lho Beb:(
Pokoknya nggak mau tau, like coment-nya harus banyak!!!!!!
Ihhh geli aku bikin part ini, kalian geli nggak sih?. Atau jangan-jangan, kalian mikir yg iya-iya yaaaa
Pokoknya harus like-coment yaa mbak, mas, ibu, bapak sekalian...
Aku udah ada GC, mari masuk yang berniat untuk bergabung.
Happy Reading all😘