
"MAMA.... ADA KODOK!!" Kairen berlari kocar-kacir menuruni tangga. Teriakannya menggelegar memenuhi isi ruangan, membuat semua orang kompak mengamankan telinga masing-masing.
"Kenapa sih teriak-teriak?!" tanya Kenzi dengan nada kesal. Perasaan dia dulu nggak ngidam toa, tapi kenapa anaknya hobby bikin orang budek sih.
"Ada kodok di Kamar Kai Mah" adu Kairen sembari menunjuk kearah pintu kamarnya yang terletak di lantai dua.
"Kamu sih, ngapain naroh kecebong di kolong tempat tidur?!. Gitu kan jadinya"
"Tau tuh kakak. Giliran jadi kodok aja takut. Cemen" ledek Raizel dengan wajah minta ditabok. Di tangannya terdapat sebuah robot berwarna merah. Robot yang selalu dia bawa kemana mana.
"Biarin, suka-suka aku lah!!" sahut Kairen ketus.
Kenzi hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak dua nggak ada yang bener. Yang satu demen bikin rusuh, yang satu demen ngolok-ngolok. Ujung-ujungnya gelud terus ngadu ke emak.
"Terus itu kodoknya nanti siapa yang ngambil?!" percayalah, Kenzi ingin tobat saat ini juga. Kemarin Raizel, habis mecahin kaca rumah tetangga pake batu. Alesannya nggak tau.
"Rai nggak tau. Rai pikir kacanya kaca plastik"
Ihh gemes deh pengen bunuh.
"Kai, nanti kodoknya siapa yang ngambil?!" Kenzi mengulangi pertanyaannya dengan kesabaran seluas samudra cinta. Ehh itu teh sinetron atuh neng.
"Mama lah"
"Eh?!"
***************"
Setelah drama kodok yang terjadi di dalam rumah, keluarga Kenzi dan Reyhan memilih berlibur ke pantai untuk mengisi waktu liburan mereka.
Menikmati semilir air pantai dan suara deburan ombak yang berkejaran, Kenzi menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan. Mereka duduk bersandingan tanpa alas di atas pasir pantai yang putih. Cahaya redup dari sang mentari yang hendak beristirahat, menemani suassna sore keluarga kecil yang tengah berbahagia.
Reyhan tersenyum kecil. Tangannya menyelipkan rambut Kenzi yang berterbangan ke belakang telinga. Ya, perempuan itu benar. Dia merasa hidupnya begitu sempurna sekarang. Apalagi setelah kehadiran Kairen dan Raizel dihidupnya.
"Nggak kerasa ya, mereka udah segede itu. Padahal perasaan baru kemarin aku gendong mereka di pinggir kolam. Tapi sekarang mereka udah bisa lari sendiri" ucap Reyhan dengan senyuman tulus yang mengembang di bibirnya.
Kenzi ikut tersenyum kecil. Waktu memang berlalu dengan sangat cepat. Lebih cepat dari yangg ia bayangkan. Enam tahun sudah ia membina rumah tangga. Dan enam tahun sudah ia menjalani segala kisah tentang tawa dan air mata bersama keluarga kecilnya.
Kaki-kaki kecil itu berlarian dengan tangan yang membawa sebuah keong laut. Tawa bahagia menghiasi wajah tampan Kairen dan Raizel. Seperti tak ada beban ataupun kegelisahan di dalamnya.
"Rai, balikin!!!" seru Kairen dengan nafas terengah-engah. Keong bercangkang putih yang ia cari susah payah, direbut Raizel dengan seenaknya. Dan lihatlah sekarang, bocah itu malah berlari sembari menjulurkan lidahnya. Mengejek sang kakak.
"Kai, Rai, jangan lari-lari!!!. Nanti jatoh!!!" seruan dari Kenzi membuat Kairen dan Raizel menoleh. Dua anak itu saling pandang kemudian sama-sama melangkah menuju ke orangtua mereka.
"Gimana, suka nggak pantainya?" tanya Reyhan saat dua anak itu sudah duduk di depannya.
Kairen dan Raizel mengangguk dengan semangat. Ini adalah kali pertama merrka ke pantai, tentu menjadi sebuah moment yang mengesankan.
Waktu sudah semakin petang. Kini saatnya moment yang paling ditunggu semua orang terjadi. Sunset, saat dimana matahari mulai beristirahat digantikan oleh rembulan, saat dimana langit menunjukkan pesona awan merahnya di ufuk barat.
Kairen dan Raizel tak berkedip sama sekali menatap hal itu. Mata polos mereka dimanjakan oleh keindahan alam yang ada.
Reyhan merangkul bahu Kenzi sembari menikmati matahari tenggelam. Senyumannya tak luntur sama sekali. Dia merasa Tuhan begitu baik kepadanya saat ini. Diberikan Keluarga yang lengkap dan bahagia, dua anak yang pintar, dan istri yang menurutnya sempurna. Tak ada yang lebih membahagiakan untuknya selain memiliki tiga sosok itu. Tiga sosok orang yang menempati tahta tertinggi di hatinya.
"*Sebuah kisah yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya. Ini kebahagiaan yang nggak pernah aku bayangin. Makasih Tuhan. Terimakasih udah menghadirkan mereka di hidup aku yang nggak sempurna, hidup aku yang jauh dari kata baik, di hidup aku yang mungkin selalu menyimpang dari norma. Memiliki mereka adalah anugrah terindah di hidup aku. Kenzi, Kai, dan Rai, permata yang akan selalu aku jaga sampai kapanpun" ~Reyhan.
"Setelah sekian pengorbanan yang terjadi, terimakasih untuk kebahagiaan ini Tuhan. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih karena engkah sudah mentakdirkan mereka untuk aku. Sebuah harta terindah yang nggak akan pernah bisa digantiin sama apapun" ~Kenzia*
#END#