Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Kritis



***Sebelumnya aku mau ngucapin makasih banget buat para readers yang udah mendukung aku selama ini. Jujur aku nggak pernah nyangka kalo karya aku bisa berhasil menarik perhatian kalian. Thanks banget buat yang udah like, kirim masukan lewat coment dan yang udah Vote. Makasih kalian udah mau luangin waktunya buat baca karya aku yang nggak seberapa ini. Maaf jika ada kalimat yang kurang berkenan atau menyinggung, terlalu kasar dan semacamnya. I'm so happy karena bisa sampek di titik ini, meskipun nggak bisa jadi penulis kontrak gara² masih kelas 9 SMP wkwkwk😂, yang otomatis blm punya KTP&Rekening. Nasib masih jd pelajar 😣.


Kan........ aku jadi curhat 😂😂.


Oke back to Story, and Happy Reading 😘***


Reyhan masih terduduk di ruang tunggu dengan perasaan yang tak karuan. Dari kejauhan, terlihat Renata, Tasya,dan Andien tengah berlari menghampirinya.


"Rey, gimana keadaannya Kenzi" tanya Andien. Reyhan hanya menjawab dengan gelengan. Mereka bertiga terduduk lemas di samping Reyhan.


"Ini semua salah kita bertiga" lirih Tasya sambil berurai air mata.


"Sebenernya apa yang terjadi, kenapa kalian bisa disekap sama mereka" Tanya Reyhan.


Renata menghela nafas berat, ia lalu mulai menceritakan kejadian tadi sore.


Flashback On


Setelah kepergian Kenzi dari taman, mereka bertiga masih berada disana sambil menikmati pemandangan sore kota J.


"Eh habis ini kita mau kemana?" tanya Renata.


"Balik aja yuk, udah mau gelap nih" ajak Andien.


"Yaudah ayo"


Mereka bertiga pulang menggunakan mobil Tasya, kebetulan mereka tadi berangkat bersama. Saat di tengah perjalanan, tiba² mobil Tasya di hadang oleh 10 orang berbadan kekar. Salah satu dari mereka menghampiri mobil Tasya yang sudah berhenti.


"WOY, BUKA PINTUNYA" seru orang itu sambil menggedor-gedor kaca mobil.


Renata, Tasya, dan Andien mengamati sekeliling. Jalanan nampak sepi, tak ada orang satu pun kecuali mereka. Tidak ada yang bisa di mintai bantuan. Mau tak mau mereka bertiga keluar dari mobil.


"Mau apa kalian" cetus Renata.


"Wah ternyata target kita cantik-cantik ya. Mau kami, kalian ikut bersama kami" ucap salah satu dari mereka.


"Kalo kami gak mau, gimana?" ucap Tasya menantang.


"Cih, kami tadi meminta dengan cara baik², tapi kalian ternyata sangat sombong. Jadi jangan salahkan kami jika kami menggunakan kekerasan nona" ucapnya.


Tanpa babibu lagi, mereka bersepuluh menyerang Renata, Tasya, dan Andien. Beruntung mereka bertiga atlet tekoundo, jadi mereka dapat menangkis bahkan melawan serangan mereka. Tapi, tanpa disadari oleh Renata Dkk, di belakang mereka sudah ada anggota dari orang tadi. Orang itu Memukul tengkuk Renata dkk hingga membuat mereka tak sadarkan diri.


Saat terbangun, Renata dkk sudah berada di gudang itu bersama dengan Anak Black Diamond dan Black Angel.


Flashback Off


"Btw, lo udah kabarin keluarganya Kenzi belum?" tanya Tasya.


"Oh iya gue lupa. Tapi gue nggak tau nomer salah satu keluarga Kenzi" sahut Reyhan.


"Lo tuh gimana sih, kan lo bisa dateng ke rumahnya terus tanya ke asistennya. Atau lo suruh Asistennya buat kasih tau keluarga Kenzi. Gitu kan bisa Reyhan Saputra Alexander" Cebik Renata.


"Hehe, gue tadi gak kepikiran" cengir Reyhan sambil menggaru tengkuknya yang tidak gatal. Renata, Tasya, dan Andien hanya mendengus malas.


Saat mereka tengah berdebat, dokter tiba² keluar dari ruang UGD. Sontak mereka berempat langsung menghampiri dokter tersebut.


"Dok, bagaimana keadaan temen saya?" tanya Renata.


"Kondisinya kritis. Ada pembukuh darah yang pecah sehingga harus dilakukan Tindakan operasi. Apa disini ada keluarga pasien?" ucap dokter itu.


"Keluarganya sedang di perjalanan dok" bohong Reyhan.


"Baiklah, harap mereka segera datang. Jika terlalu lama, nyawanya bisa terancam. Kalau begitu saya pamit dulu" ucap Dokter itu lalu pergi meninggalkan mereka berempat yang masih mematung sambil menatal pintu ruangan Kenzi.


"Ini semua salah kita bertiga hiks, andau kita hiks bisa bantu Kenzi, hiks pasti dia nggak jadi begini" tangis Renata pecah saat mendengar penuturan dokter. Tasya dan Andien ikut terisak sambil saling berpelukan.


"Kita nggak ada gunanya kalo gini terus. Yang terpenting saat ini, kita doain yang terbaik buat kesembuhan Kenzi. Dan lo Rey, lebih baik lo sekarang ke rumah Kenzi. Kabarin keluarganya biar Kenzi bisa segera di operasi" ucap Tasya. Reyhan mengangguk lalu ia pergi menuju mansion Kenzi.


Mansion Keluarga Aleskey


Ting...tong..


Reyhan memencet bel mansion dan keluarlah maid dari dalam mansion itu.


"Maaf den, cari siapa ya?" tanya maid itu.


"Bi, keluarga Aleskey ada?" tanya balik Reyhan.


"Tuan, nyonya, sama tuan muda sedang di Singapura den. Kalo Nona Kenzi tadi pergi, sampai sekarang belum pulang" ucap maid itu.


"Maaf bi sebelumnya, kedatangan saya kesini, saya ingin memberi tau pihak keluarga Kenzi kalau Kenzi sedang dirawat di rumah sakit. Kondisinya kritis dan pihak keluarga di mohon segera datang. Kalau bisa, bibi tolong kasih tau orang tua Kenzi ya bi" pinta Reyhan.


"Astaga non Kenzi, iya den saya segera kasih tau keluarganya"


"Terima kasih bi, kalo gitu saya pamit" ucap Reyhan. ia lalu pergi meninggalkan mansion Kenzi dan kembali ke Rumah sakit.


Sepulangnya Reyhan dar sana, maid itu langsung menghubungi Allia, momy Kenzi.


Singapore, 04.00 am


Aliia dan William sedang tidur di salah satu hotel ternama di singapura. Sedangkan Devano, pria itu menginap di hotel lain yang kebih dekat dengan kantor cabang Daddy nya.


Kringgg.....kringgg.....


Suara dering ponsel membangunkan Allia dari tidurnya. ia lalu mengambil ponsel dari atas nakas. Ternyata telfon dari orang rumah. ia lalu menggeser ikon hijau di layar pipih itu.


"Hallo bi, ada apa?. disini masih pagi banget lo bi" ucap Allia.


"Maaf nyonya, tapi itu....Nona Kenzi.."


"Kenzi kenapa bi" ucap Allia dengan kesadaran penuh. Perasaannya mulai tidak enak pada putri bungsunya.


"Nona kenzi kritis nyonya....tadi temennya datang..


katanya nona kenzi harus segera di operasi dan pihak keluarga dimohon segera datang.


Duarrrr


Bak disambar petir di pagi buta, Allia terduduk lemas saat mendengar kabar buruk tentang putrinya. Ponsel yang dia bawa terjatuh di lantai, ia menangis sejadi-jadinya sambil memanggil nama Kenzi.


"Hiks....hiks....KENZIII....hiks...KENZIII" racau Allia sambil menangis sesenggukan. William yang mendengar ada orang menangis langsung terbangun. Ia terkejut saat melihat istrinya histeris sambil memanggil nama Kenzi.


"Mom, ada apa?" tanya William cemas. Allia langsung memeluk tubuh suaminya erat lalu menangis


"Kenzi dad...hiks...Kenzi kritis...hiks...dia harus dioperasi dad...hiks" ucap Allia dengan suara parau. William syok, sedih, khawatir saat mendengar hal ini. ia berusaha menguatkan istrinya walaupun hatinya juga tak tenang.


"Aku nggak mau kehilangan Kenzi dad...hiks...aku nggak mau" racau Allia.


"Nggak mom, Kenzi nggak akan kenapa-napa. Kita pulang sekarang, urusan disini biar di urus sama Devano. Dia pasti mengerti. Sekarang kita siap²" ucap William


Mereka segera bersiap untuk pulang ke Indonesia. Mereka menggunakan jet pribadi agar lebih cepat sampai. Allia terus menangis sepanjang perjalanan. William kalang kabut dibuatnya.


Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Indonesia, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Kenzi di rawat


**Tandai typo, jangan lupa like, coment and vote guys


Mampir juga ke karyaku "Doctor is my wife"


Happy Reading.😘**