Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Akhir?



Malam sudah menjelang di Kota J, dan saat-saat paling menegangkan bagi semua orang akan di mulai. Allia duduk di samping suaminya dengan wajah cemas. Dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa, berharap sang putri dapat melewati masa sulitnya dengan selamat.


"Kamu harus kuat ya sayang. Kenzi pasti kuat kalo kamu juga kuat" Raisa memberikan motivasi moral kepada anaknya. Reyhan hanya mengangguk kecil. Jantungnya memompa dua kali lebih cepat, ini lebih menegangkan dari apapun.


Dari kejauhan, nampak Devano datang setelah dari ruangan transfusi darah. Kenzi membutuhkan transfusi darah untuk melakukan operasi, dan Devano dengan senang hati menyumbangkan darahnya. Asal sang adik selamat, apapun pasti ia berikan.


"Makasih Bang" ucap Reyhan saat Devano sudah berdiri di depannya. Pria dengan wajah baby face itu tersenyum tipis, ia mengangguk beberapa kali sebagai jawaban.


"Dia adek gue"


Suasana kembali tegang saat para perawat mulai keluar masuk dari ruang operasi. Tak lama kemudian dokter datang, memberi intruksi kepada Reyhan bahwa ia boleh masuk.


Reyhan menatap semua orang sekali lagi, meminta kekuatan dan dukungan dari merrka meskipun hanya lewat kata-kata yang tak menjanjikan sama sekali. Namun hal itu sedikit membuat hatinya tenang karena asumsi semua orang yang yakin jika Kenzi selamat.


Reyhan memasuki ruang operasi, sebelum itu seluruh tubuhnya di sterilkan dan bajunya diganti dengan baju yang sudah disiapkan.


Setelah dirasa semuanya sudah sesuai dengan prosedur rumah sakit, Reyhan dipersilahkan masuk semakin dalam. Tubuh pria itu membeku saat melihat tubuh Kenzi terbaring lemah dengan mata terpejam di ranjang rumah sakit.


Seluruh alat medis sudah memenuhi tubuh perempuan itu. Reyhan berjalan mendekat, berdiri di samping ranjang dengan mata teduhnya. Perlahan ia mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Kenzi beberapa kali.


"Aku tau kamu kuat"


*************


Operasi di mulai, penghalang berupa kain berwarna hijau dipasang di tubuh Kenzi sampai sebatas dada. Reyhan dengan setia menunggu di sampinngnya. Ia terus menggenggam tangan kiri perempuan itu yang terpasang selang infus. Sedangkan tangan kanannnya terpasang selang kantong darah.


Perjuangan menyelamatkan tiga nyawa masih terus berlanjut. Dokter Veyna didampingi seorang Dokter bedah melalui pekerjaan mereka dengan amat fokus. Para perawat silih berganti menyerahkan alat-alat yang dibutuhkan sang dokter untuk melancarkan operasinya.


Reyhan menggenggam tangan Kenzi semakin erat. Ia hanya mampu menatap wajah perempuan itu, tak tega melihat yang lain apalagi saat perut bagian bawah Kenzi mulai terbedah. Hal ini, lebih menegangkan dari perkiraannya.


1 jam lamanya proses pembedahan yang berselimut ketegangan dilakukan. Hingga suara tangisan bayi pertama terdengar menggema mengisi ruangan, membuat rasa takut yang sedari tadi menguasai hati Reyhan runtuh seketika setelah mendengar suara tangis putranya untuk pertama kali.


Diluar ruangan seluruh keluarga dan sahabat yang hadir kompak mengucap syukur saat cucu dan keponakan pertama mereka telah lahir ke dunia.


"Laki-laki Pak, sehat dan sempurna" ucap Dokter Veyna setelah memeriksa setiap inchi tubuh si bayi.


Kepala Reyhan mengangguk beberapa kali diiringi senyuman. Ia kembali menatap kearah Kenzi. Mengusap kepala perempuan itu berulanng kali dengan penuh kasih.


Ketegangan masih belum selesai, masih ada satu bayi lagi yang harus di keluarkan. Reyhan harus menahan kebahagiaannya sebentar untuk kembali merasakan kecemasan.


Waktu 10 menit terasa begitu lama saat ia berada di ruangan itu. Seakan waktu berputar begitu lambat. Wajah semua orang terlihat tegang saat bayi kedua agak sulit untuk dikeluarkan, membuat udara di dalam ruangan terasa sangat sulit untuk dihirup.


Dentingan suara alat operasi mengusi keheningan ruangan yang tengah dipenuhi para tim medis. Hingga menit ke 15, suara bayi kedua terdengar sangat nyaring dan menimbulkan kelegaan di hati semua orang yang mendengarnya.


"Semuanya sehat pak, mereka sempurna dan sangat tampan"


Air mata Reyhan tidak dapat ia bendung lagi. Ia menangis bahagia, dua pangeran kecil sudah hadir dalam hidupnya dan Kenzi. Memberikan warna baru di kehidupan mereka.


Dua bayi laki-laki itu dibawa oleh perawat untuk dibersihkan. Menyisakan Reyhan, dua orang dokter dan dua orang perawat yang masih harus membereskqn tugas mereka.


Seorang Dokter bedah mulai menjahit luka operasi Kenzi dengan teliti dan penuh hati-hati. Rasa bahagia dan lega menyelimuti hati semua orang, namun suara dari layar monitor mengancurkan semuanya.


"Dok, jantungnya berhenti berdetak"


Ucapan itu, membuat perasaan bahagia yang Reyhan rasakan runtuh seketika. Semua orang kompak menatap kearah layar monitor yang menampilkan satu garis lurus.


"Siapkan alat penekan jantung!!"


Tubuh pria itu hanya bisa mematung melihat semuanya. Bahkan saat seorang perawat menyuruhnya untuk minggir sejenak pun ia tidak punya kekuatan untuk menolak. Oksigen di paru-parunya seakan habis hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.


"Kalo nanti ada sesuatu yang terjadi, please lanjutin hidup kamu dan jaga mereka. Dan satu yang perlu kamu tau, aku sayang kalian"


Ucapan itu kembali terngiang di kepala Reyhan. Ia erduduk lemas di lantai. Batinnya menjerit keras menolak peristiwa yang tengah terjadi di depannya. Melihat tubuh Kenzi tersentak saat alat penekan jantung itu menekan dadanya membuat hati Reyhan teriris. Ini sakit, teramat sakit bahkan lebih sakit dari di tinggal Kenzi selama delapan tahun.


"Tuhan aku mohon, jangan ambil dia. Aku masih butuh dia, hidup aku itu dia. Dia kebahagiaan aku, dia segalanya. Please, jangan sekarang"


Pria itu menangis seraya meringkuk di lantai. Tangisannya begitu pilu hingga membuat para perawat menatap iba kearahnya.


"Aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu"


**Kaborrrr sebelum di serang....😩


Oh ya, like comentnya jangan lupa oke**?!