Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Jangan Sekarang!!



Satu minggu setelah obrolan penuh makna di tepi pantai waktu itu, semua berjalan dengan lancar seperti biasanya. Kenzi mengantar Reyhan sampai teras rumah saat pria itu hendak pergi menghadiri meeting penting hingga harus memaksanya berangkat ke kantor hari ini.


"Aku berangkat dulu ya, kalo ada apa-apa cepet kabarin aku!!"


"Iya" sahut Kenzi dengan nada jengah seraya menyalami tangan suaminya. Entah sudah berapa kali pria itu mengatakan hal yang sama berulang kali hingga ia merasa bosan untuk menjawab.


"Beneran loh ya?!" peringat Reyhan lagi yang dibalas anggukan oleh perempuan itu. Entahlah, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang lain hari ini. Jika bukan karena mengingat betapa penting meeting ini, ia pasti lebih memilih bekerja di rumah seperti biasanya.


"Oh ya, nanti Hanzo mau kesini nganterin berkas. Mungkin agak siangan dia baru nyampek. Aku berangkat dulu, bye" Reyhan berucap tanpa mengizinkan Kenzi menjawab. Sebuah kecupan ia berikan di dahi perempuan itu sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan area rumah.


Kenzi kembali masuk ke dalam rumah setelah kepergian Reyhan. Para ART sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan hal itulah yang menjadi pemandangannya setiap hari. Ia berjalan kearah ruang tengah, duduk di sofa dan menonton channel yang menjadi favoritnya saat ini. Pertandingan sepak bola.


Berbekalkan biskuit di pangkuannya, Kenzi mulai menikmati acara itu dengan anteng tanpa beban ataupun dosa.


Waktu terus bergulir, jam telah berganti dengan jam. Pertandingan sudah memasuki sesi tiga tapi si ibu hamil masih terlihat anteng di tempat. Hingga sebuah suara bell pintu berbunyi mengalihkan atensi perempuan itu dari layar televisinya.


"Mbak, ada tamu!!!" seru Kenzi pada salah satu ART.


Mbak Ratna bergegas berjalan menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang. Pintu terbuka dan menampakkan wajah Hanzo dengan senyuman khas yang ia miliki.


"Kenzinya ada Mbak?" tanya Hanzo dengan sopan.


"Ada Pak, Ibu lagi di ruang tengah. Mari masuk!!" Hanzo dengan setia mengekor di belakang tubuh Mbak Ratna saat perempuan itu berjalan di depan untuk menunjukkan dimana si bos berada.


"Gue kirain lo nggak jadi dateng" ucap Kenzi saat melihat kedatangan Hanzo dengan sebuah map berwarna hijau di tangannya.


Pria itu mengendikkan bahunya acuh. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa seraya meletakkan map yang ia bawa diatas meja.


"Ya dateng lah. Bisa digorok ama laki lo kalo gue sampek lupa!!" sahut Hanzo disertai dengusan malas yang keluar dari mulutnya.


"Takut juga lo sama dia!!" ledek Kenzi diiringi kekehan kecil.


"Lo tau sendirikan tuh orang kalo lagi marah kayak gimana. Bisa-bisa jantungan gue kalo denger dia tereak-tereak kek di tarzan tiap hari" desis pria itu dengan nada malas.


"Oh ya Ken, tolong ambilin berkas keuangan perusahaan bulan kemaren dong. Laki lo nyuruh gue ngecek lagi, katanya kayak ada yang kagak beres. Perasaan dia demen banget nambahin kerjaan gue"


"Dih, lo nya aja yang malesan!!" tukas Kenzi sambil memutar bola matanya malas. Dengan gerakan perlahan, Ia bangkit dari duduknya. Berdiri tegak dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.


"Capek banget lo kayaknya!!"


"Berat coy bawa anak dua kemana-mana. Mana pinggang gue kadang serasa mau copot kalo jalan lama-lama"


"Lo kapan lahiran?" tanya Hanzo.


"Kata dokter sih 1,5 minggu lagi. Doain ya semoga nggak ada apa-apa"


"Gue selalu doain yang terbaik buat lo" Hanzo tersenyum tulus. Matanya menatap kearah Kenzi penuh arti. Perempuan ini berharga untuknya, lebih dari sekedar sahabat. Disaat semua orang menganggapnya salah, disaat dunia seakan membencinya, Kenzi tetap selalu ada. Bahkan disaat keluarganya menolak dia hadir di tengah mereka, perempuan itu dengan senang hati menawarkan bahu dan bantuan untuk ia bersandar. Kenzi selalu ada untuknya, memberi dukungan tulus sebagai seorang sahabat sampai pernah suatu saat hatinya menyalah artikan kebaikan perempuan itu.


Hanzo tertawa dalam hati saat ia teringat akan dirinya dulu yang begitu naif sampai pernah menaruh hati pada seorang perempuan yang kini sudah ia anggap sebagai adik. Dulu ia sadar, sosok perempuan hebat seperti Kenzia sangat mustahil dimiliki oleh orang biasa seperti dirinya. Hingga ia lebih memilih mundur, memendam perasaannya dalam sebuah hubungan yang bernama persahabatan.


"Woy, malah bengong!!. Mapnya yang warna apa?!, gue nggak tau!!" seruan itu menarik paksa Hanzo dari kenangan masa lalu. Pria itu menarik naf panjang seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Kuning" sahutnya dengan nada malas.


Tanpa bertanya dua kali, Kenzi segera melenggang pergi menuju ruang kerja Reyhan yang terletak di sebelah kamar mereka. Ia membuka pintu ruangan berwarna cokelat itu lalu melangkah ke rak berisi tumpukan map bermacam bentuk dan ukuran disana.


Satu-persatu map berwarna kuning ia pilah dengan teliti. Hingga map yang dimaksud hadir di depan mata. Kenzi tersenyum puas. Ia meraih map itu dan membawa map itu dalam dekapannya.


"Akhirnya ketemu!!" Kenzi berbalik badan hendak kembali ke ruang tengah. Namun tiba-tiba bahu kanannya menyenggol rak buku hingga membuatnya sedikit terhuyung ke belakang. Kenzi berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, tapi saat mundur punggungnya terhantam ujung meja hingga menimbulkan rasa nyeri disana sampai menjalar ke perut.


"Gue nggak boleh jatoh!" Kenzi menahan rasa nyeri yang teramat sangat. Ia berjongkok perlahan, sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak terjatuh agar tidak membahayakan kedua bayinya.


"Akhhh" ringis perempuan itu sembari memegangi perutnya yang semakin terasa nyeri.


"TOLONG!!!" berusaha memanfaatkan tenaga yang masih tersisa, Kenzi berteriak sekencang mungkin berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya.


Seakan semesta masih memihak, seorang ART memasuki ruangan dengan langkah terburu-buru saat mendengar teriakan majikannya.


"Astagfirullah Bu!!!" pekik Bi Nana terkejut. Spontan ia berlari kearah Kenzi, mencoba membantu perempuan yang tengah kesakitan itu.


"Tolong bayi aku" lirih Kenzi dengan suara yang hampir tak terdengar.


Bi Nana semakin kalang kabut karena rasa cemas.


"Saya panggil bantuan dulu Bu ya. Ibu tunggu sebentar ya"


Bi Nana berlari ke luar ruangan menuju ruang tengah, tempat dimana Hanzo berada.


"Pak, tolong pak!!!" peremouan itu berucap dengan nada panik bahkan matanya hampir menangis, membuat dahi Hanzo mengerut bingung.


"Kenapa Bi?" tanya Hanzo tak kalah cemas. Perasaannya tak enak saat ini.


"Ibu....-


Sontak Hanzo langsung berlari kearah ruangan dimana Kenzi berada bahkan sebelum Bi Nana menyelesaikan ucapannya. Perasaan pria itu menjadi tak karuan, ia tau apa yang saat ini sedang terjadi.


Hanzo memasuki ruangan dengan tak sabaran diikuti beberapa ART di belakangnya. Saat ia masuk, tubuh Kenzi sudah tak sadarkan diri di lantai. Ia terpaku beberapa saat, kejadian inu tak pernah ia lihat sebelumnya.


"KEN....!!!" Hanzo berlari mendekat, Ia membawa tubuh perempuan itu dalam dekapannya dengan hati-hati. Kenzi tak memberikan respon apapun sehingga membuat perasaan Hanzo semakin tak karuan.


"Gue bakal bawa lo ke rumah sakit. Lo tenang aja oke?!"


Tangan kanannya meraih kaki Kenzi untuk digendong. Namun ada sebuah cairan yang membasahi tangannya saat ia memegang paha perempuan itu, sebuah cairan bening.


*************


"Ini desain bagian sampingnya. Semua sudah kami siapkan se-detail mungkin untuk hasil yang benar-benar maksimal"


Reyhan yang sedang presentasi di depan para kolega terpaksa berhenti saat melihat ponselnya yang terus menyala karena ada notifikasi telepon. Ia mengambil ponsel itu, ternyata telepon dari rumah.


"Maaf, saya angkat telfon dulu" ucapnya dengan wajah sungkan.


"Silahkan..." seorang pria mewakili menjawab.


Reyhan sedikit menjauh untuk menjawab telfon masuk.


"Hallo?" ucapnya dengan nada sedikit berbisik.


"Pak, ibu dibawa ke rumah sakit medika...-


Reyhan sontak mematikan panggilan tersebut tanpa mau mendengar lanjutan dari ucapan ART yang menelfonnya. Ia kembali ke meja rapat untuk mengambil kunci mobil dan berbicara kepada Faiz.


"Iz, tolong lanjutkan rapat ini!!"


"Tapi Pak...-


Faoz tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Reyhan sudah lebih dulu pergi. Pria itu bahkan sudah menghilang dari pandangan hingga membuat semua orang kebingungan.


************


Reyhan mengendarai mobilnya dengan urakan, tak peduli banyaknya pengemudi yang ada disana. Pikiran buruk terus bersemayam dalam benaknya, ia benar-benar kalut saat ini.


"Kalo nanti ada sesuatu yang terjadi, aku mohon sama kamu. Please jaga mereka dan lanjutin hidup kamu. Dan satu yang perlu selalu kamu inget, aku sayang kalian"


Ucapan Kenzi beberapa minggu lalu, kembali terputar diingatannya. Apa ini takdir yang diciptakan untuk mereka?, entahlah. Dia juga tidak tau.


"Please tuhan, jangan sekarang!!. Aku belum siap kehilangan lagi"


Hanya itu yang bisa ia ucapkan sebagai doa kepada sang pencipta. Berharap ada sedikit belas kasih untuk keluarganya kembali bahagia seperti dulu.


Di depan lampu merah, dan disana macet parah. Membuat Reyhan berulang kali mengumpat dalam hati. 15 menit ia menunggu namun antrian kendaraan tak kunjung usai, bahkan bertambah panjang.


Kesabarannya sudah habis, Ia tidak kuat jika harus menunggu apalagi mengingat kondisi Kenzi yang sedang membutuhkan dirinya. Ia keluar dari mobil dan berlari kencang di trotoar menuju rumah sakit. Jarak yang masih lumayan jauh tak menyurutkan tekadnya untuk bertemu sang istri.


**************


Reyhan memasuki rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Nafas pria itu terengah-engah karena lari terlalu jauh.


Setelah bertanya pada resepsionis, ia segera masuk lift untuk menuju lantai 3 tepat pada ruangan Kenzi di rawat.


"Dimana Kenzi?!"


Hanzo, Allia, Raisa, William, dan Raymond kompak berdiri saat melihat kedatangan Reyhan disana. Raisa berjalan mendekat, merangkul bahu putranya dan memberikan dukungan batin dari seorang ibu.


"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus kuat ya?!"


Ucapan itu seperti sebuah cambuk bagi Reyhan. Hatinya seakan menolak untuk menerima, tapi takdir berkata lain.


"Maksud Mama?!"


**************


Reyhan tertunduk lemas di lantai rumah sakit dengan punggung yang bersandar pada dinding setelah ia keluar dari ruangan Dokter Veyna beberapa saat lalu. Ucapan dokter itu, membuat perasaannya berkecamuk tak menentu. Untuk bernafas lega pun rasanya ia sangat sulit.


"Air ketubannya keluar di saat yang belum tepat karena benturan itu. Kita harus melakukan operasi cecar secepat mungkin untuk menyelamatkan bayi dan ibu, atau kalau tidak nyawa ketiganya yang akan terancam"


Reyhan menjambak rambutnya sendiri dengan begitu keras. Rasa takut menggerogoti dirinya hingga ia terasa sesak untuk bernafas.


"Aku cuma minta satu tuhan, jangan ambil mereka ataupun salah satunya. Mereka berharga, sangat berharga buat aku. Kalaupun semua ini takdir, aku pengen egois kali ini aja untuk terus hadirin mereka di sisa kehidupan aku. Please, biarin mereka tetep disini"


Dan untuk kesekian kalinya, seorang pria berwibawa seperti Reyhan menangis sesenggukan karena satu perempuan, Kenzi pelakunya. Rasa cintanya melebihi apapun. Bahkan mungkin dunianya akan terasa hambar jika perempuan itu menghilang dari kehidupannya.


Sebuah tepukan di bahu membuat kepala Reyhan mendongak. William tersenyum tipis menatapnya. Ia ikut duduk di lantai, menemani sang menantu yang masih menangis karena putrinya.


"Daddy tau apa yang kamu rasain. Takut, cemas, gelisah, semua perasaan itu ada. Daddy udah pernah ngerasain itu dua kali, dan rasanya bener-bener bikin paru-paru serasa kisut. Mau napas aja susah"


"Liat kamu nangis kayak gini, Daddy jadi tau apa yang buat Kenzi dulu bener-bener ngebet pengen nikah sama kamu. Laki-laki emang jarang nangis, tapi kalo dia sampek nangis hanya karena satu sosok perempuan dihidupnya, dia adalah laki-laki yang bener-bener tulus. Dan Daddy melihat itu dalam diri kamu. Terimakasih, terimakasih banyak udah jagain dan bahagiain Kenzi selama ini" ucapan tulus dari seorang Ayah yang berhasil membuat hati Reyhan sedikit tenang.


"Dia pasti baik-baik aja kan Dad?"


"Pasti, dia putriku. Dia perempuan hebat"


...Nggak usah tegang!!...


Like, coment gassss dong.....!!😊