
Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional XX. Tujuh pria berpostur tinggi kekar dengan tubuh atletis turun dari pesawat tersebut. Mereka hanya turun membawa badan saja tanpa membawa tas ransel, koper atau semacamnya seperti penumpang lain karena mereka sudah tau, sang Lady pasti sudah menyiapkan segalanya jadi mereka tidak perlu merepotkan diri untuk membawa keperluan dari negara asalnya, Mexico.
Tujuh pria itu kompak memakai kaca mata hitam sambil memasang wajah datar tanpa ekspresi. Satu orang diantaranya maju ke depan, ia terlihat paling mencolok diantara yang lain. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menggerakkan jari telunjuknya ke depan. Memberi kode agar mereka menuju luar bandara. Jeritan dari para perempuan yang ada disana memenuhi lobby Bandara saat mata mereka melihat tujuh sosok pria berbadan kekar di dalam lobby tersebut. Tak ada yang merespon kecuali satu orang, Frans. Dengan wajah jenakanya Ia mengedipkan sebelah matanya pada perempuan-perempuan itu hingga mereka memekik kegirangan.
"Jaga sikap, Frans!!" desis Marco tanpa menoleh. Frans hanya menyengir sambil menoleh kearah ketuanya yang sedang memasang wajah masam.
Kini mereka sampai di area depan bandara. Pandangan mereka mengedar ke semua penjuru untuk mencari sosok gadis yang mereka kenali.
"Big Seven!!" sebuah seruan dari arah belakang sontak membuat mereka semua menoleh. Dengan serentak, mereka membungkukkan badan kepada seorang gadis cantik yang tengah berdiri bersama seorang pemuda di sampingnya.
"Siang, Lady" ucap mereka dengan serempak
Big Seven, sebuah kelompok mafia kelas kakap dari Negara Mexico. Sesuai dengan namanya, Big Seven terdiri atas tujuh Anggota, Marco, Frans, Josh, Albert, Gilbert, Boby, dan Jack. Tidak mudah untuk bisa menjadikan mereka sebagai pengikut. Kenzi bahkan dulu harus mengalahkan ketua lama mereka yang tidak bisa dibilang remeh. Dark Phoenix, itu adalah nama mereka yang dulu sebelum kekuasaan berpindah ke tangan Kenzi. Di dalam dunia bawah, nama Big Seven sudah menjadi momok tersendiri bagi para mafia kelas menengah ke bawah. Nama Big Seven bahkan
berada di peringkat teratas sebagai mafia paling kejam yang pernah ada. Big Seven tak sembarang orang yang tau, hanya kalangan orang teratas dan komplotan kelas elite yang bisa mengidentifikasi mereka.
Reyhan menatap bingung kearah mereka semua, Ia kemudian menatap kearah Kenzi. Meminta penjelasan lewat sorot matanya.
"Mereka Big Seven, kamu tau kan?" tanya Kenzi yang langsung diangguki oleh Reyhan. Siapa yang tidak tau Big Seven. Nama itu bahkan sudah sangat mendunia, apalagi bagi para orang dunia bawah. Nama itu pasti sudah sangat familiar terdengar. Tapi yang menjadi pertanyaannya, bagaimana bisa mereka patuh dengan Kenzi?!.
"Mereka......" ucapan Reyhan menggantung di udara saat Kenzi memberinya kode untuk diam lewat sorot matanya.
"Gue ada tugas untuk kalian. Tapi kita bahas nanti, sekarang kalian ikut gue!!!" Kenzi kembali naik ke boncengan Reyhan. Selang beberapa detik, sebuah mobil BMW datang dan berhenti di depan mereka. Kenzi memberi kode kepada semuanya untuk masuk, dan mereka langsung menurutinya.
Motor Reyhan berjalan terlebih dahulu diikuti mobil itu di belakang. Sore itu langit nampak cerah, tidak mendung seperti biasanya sehingga memudahkan siapapun untuk bepergian kesana-kemari.
"Kamu hutang penjelasan ssma aku!!" suara Reyhan membuyarkan lamunan Kenzi. Gadis itu mendekat, menempelkan dagunya di pundak Reyhan dengan manja.
"Kamu akan tau semuanya, nanti" bisik Kenzi yang membuat Reyhan menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Ia meraih tangan Kenzi dan melingkarkan tangan gadis itu di perutnya, Ia mengusap tangan Kenzi menggunakan sebelah tangannya ysng tidsk menyetir.
"Apa-apaan mereka itu?!, pamer kemesraan?!" gerutu Frans yang sejak tadi melihat pemandangan merusak iman di depan matanya.
"Bilang aja lo iri!!!. Jomblo diem aja deh!!" tukas Boby dengan wajah songong khasnya itu. Sniper andalan Big Seven itu tak hanya tepat sasaran saat membidik mangsa, perkataan pun juga tepat sasaran. Langsung kena mental.
Motor Reyhan berhenti di depan sebuah gedung apartemen sesuai arahan Kenzi. Mereka semua turun dari mobil dan berjalan kearah Kenzi yang sedang menunggu mereka di depan pintu. Tanpa kata tanps bicara, gadis itu berjalan masuk terlebih dahulu dan yang lain dengan patuh mengikuti.
Mereka semua masuk ke dalam lift, benda persegi bergerak itu terasa sangat sesak karena banyaknya orang di dalam sana. Kenzi menekan tombol lantai 21, lantai paling atas gedung ini. Mereka semus berdesak-desakan, Marco bahkan harus menahan nafas saat Josh tiba-tiba Kentut di sebelahnya. Ingin rasanya ia membunuh pria gondrong yang satu itu, sayangnya dia sayang.
Tingg
Pintu lift terbuka dan mereka langsung bernafas lega. Kenzi dan Reyhan berjalan di depan diikuti Big Seven di belakangnya.
"Ini apartemen untuk kalian" Kenzi berhenti di sebuah lorong yang terdapat empat pintu apartemen terpisah disana. Satu lantai itu memang hanya terdapat empat apartemen, menandakan jika tempat itu benar-benar privat.
"Silahkan kalian bagi tempat masing-masing. Kalo udah selesai, temui gue di markas" ucap Kenzi lagi yang langsung diangguki semuanya. Ia meraih tangan Reyhan, mengajak pemuda itu untuk pergi Bersamanya, tentu saja Reyhan menurut.
************
Sebelas orang tengah berkumpul dalam ruangan yang diyakini adalah ruangan ketua Red Rose. Duduk melingkar dengan sebuah meja sebagai penengah, mereka sibuk berfikir mencari titik terang dari sebuah masalah.
"Gue nggak tau mereka siapa, dan gue nggak pernah buat masalah sama mereka" untuk kesekian kalinya Kenzi menjawab hal yang sama dari pertanyaan yang sama pula.
"Lo yakin?" tanya Marco dengan tatapan menyelidik.
Kenzi memutar bola matanya jengah, lelah rasanya menjawab pertanyaan yang sama setiap saat.
"Ayolah Marc, lo tau gue kan?!. Gue nggak mungkin buat masalah kalo nggak ada yang cari masalah sama gue" dengus Kenzi dengan kesal.
"Gue harap lo bisa dipercaya" ucapnya dengan nada ledekan.
"Cihh" Kenzi berdecik sambil memalingkan wajahnya, menatap Soffia yang masih sibuk berkutat dengan layar komputer.
"Lo belum bisa membobol keamanan mereka lagi, Soff?" tanya Kenzi yang langsung membuat Soffia menoleh.
"Belum" sahut gadis itu dengan nada frustasi.
Gilbert tiba-tiba berdiri, membuat semua orang menatap kearahnya. Ia berjalan kearah Soffia, berdiri di samping gadis itu dengan posisi membungkuk.
"Butuh bantuan?" tanya Gilbert dengan senyuman.
Soffia menoleh, menatap pemuda itu sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Lo bisa?" tanya Soffia meragukan.
"Lo tinggal duduk tenang, biar gue yang beresin. Nggak perlu ragu, gue bisa diandalkan" sahut Gilbert sambil mengedipkan sebelah matanya genit. Masih dengan posisi membungkuk, Gilbert mulai meneruskan apa yang tadi gadis itu kerjakan. Soffia mengerjapkan matanya berulang kali, debarsn jantungnya menjadi tak menentu. Apalagi melihat Gilbert dari jarak sedekat ini, pemuda itu terlihat sangat tampan.
"Gue tau gue ganteng, nggak usah diliatin sampek segitunya" ucap Gilbert secara tiba-tiba tanpa menoleh. Soffia terperangah, Ia memalingkan wajahnya dengan cepat. Apa-apaan ini, memalukan !!
Hanzo menatap sengit keduanya. Ia memalingkan wajahnya kearah lain, enggan menatap dua orang yang sedang berdekatan itu.
Kenzi tersenyum miring saat melihat wajah masam rekannya. Ia mengulurkan tangannya, menepuk bahu pemuda itu berulang kali.
"Jangan sampek kecolongan start, gue dukung lo!!" bisik Kenzi tepat di telinga Hanzo. Reyhan yang melihat itu mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan apa yang mereka katakan.
"Kenapa?" tanya Reyhan pada Kenzi.
"Si Han cemburu" jawab Kenzi sambil terkekeh.
Reyhan nampak terkejut sebelum akhirnya ia menggeleng.
"Gue pikir lo nggak suka cewek bro!!" ledek Reyhan yang membuat Hanzo mendengus kesal.
"Bngsatt!!!" umpat Hanzo dengan kesal.
"El, perempuan berusia 30 tahun yang berasal dari Filiphina. Dia ketua Mafia terbesar di Negara itu, pemilik usaha ilegal terbesar di Asia Tenggara dan dia juga buronan aparat pemerintah disana, mungkin itu sebabnya dia pindah ke sini. Cuma itu informasi yang bisa gue dapetin. Dia kayaknya emang nggak menyertakan keterangan lain selain nama, umur, dan negara asal. Hmm, bener-bener cerdik" ucap Gilbert panjang lebar. Soffia hanya diam menyimak. Dalam hati ada sedikit kekaguman yang ia tujukan pada pemuda itu. Sudah satu minggu lamanya ia mencoba untuk meretas sistem keamanan mereka namun tak bisa. Tapi Gilbert, hanya sekali tindakan saja ia sudah bisa melakukan semuanya dengan baik. Benar-benar mengesankan.
"Terus tujuan dia ganggu gue itu apa sihh?!!" desis Kenzi sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Kami akan coba cari tau. Lo tenang aja, kami di belakang lo" ucap Jack, si dingin layaknya kutub utara akhirnya bersuara, membuat semua orang menatap kearahnya.
"Masih hidup ternyata lo bro?!!" ledek Albert disertai kekehan. Jack tak menjawab, Ia hanya menunjukkan wajah datarnya kepada temannya yang terkenal agak gila itu.
"Kalo kalian butuh bantuan, kalian bisa hubungin gue. Geng gue dengan senang hati pasti membantu" timpal Reyhan dengan ramah
"Thanks, Bro" sahut Marco sambil tersenyum tipis yang dibalas anggukan oleh Reyhan.
**Jangan lupa like and coment yaaa
Maaf guys baru up, otak aku lagi buntu makanya gak bisa up bab lanjutan.
Happy Reading semuaaa😘**