Beautiful Bad Girl

Beautiful Bad Girl
Kenzi diculik?



Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa, kini hari yang dinanti semua orang telah tiba. Reyhan menatap pantulan dirinya di cermin. Ia nampak sangat gagah berbalutkan Jas tuxedo berwarna putih. Dalam hati ia masih tak menyangka bahwa hari ini telah tiba, hari dimana Ia akan memiliki Kenzi seutuhnya dan mengikat gadis itu dengan ikatan suci dihadapan Tuhan.


Sebuah tepukan di bahu membuat pemuda itu mengalihkan atensinya dari cermin. Ia menengok dan menemukan tiga sahabatnya masuk ke dalam ruangan dengan wajah sumringah.


"Congrats Bro.... gue nggak nyangka lo jadi juga sama Kenzi" Ucap Reza sembari memeluk Reyhan singkat seperti lelaki pada umumnya.


"Thanks kalian udah dateng. Jodoh emang nggak akan kemana kali Za, buktinya gue bisa nikah sama dia" sahut Reyhan tak kalah senang.


"Nama bapaknya udah hafal belom?!, jangan sampek lo malu-maluin kita pas Ijab-kabul" ledek Vicky disertai kekehan.


"Udah gue hafalin, tapi pas deg-degan kayak gini gue suka nge-blank" sahut Reyhan dengan gusar. Rasa gugup tak dapat ia tutupi. Ini adalah moment terpenting dalam hidupnya yang hanya akan ia lakukan sekali seumur hidup.


"Enjoy ajalah Rey. Tarik nafas, terus tahan dua jam" ucapan Ariel mengundang tatapan tajam dari teman-temannya. Reyhan mengulurkan tangannya dan memukul kepala belakang pemuda itu dengan kesal.


"Lo mau bikin gue mati?!" desis Reyhan jengkel.


Ariel hanya menyengir memamerkan gigi putihnya sast melihat wajah Reyhan yang tak bersahabat.


"Rey, nanti kalo malem pertama live streaming ya. Biar gue bisa belajar" otak satu ons Vicky kembali berulah. Bisa-bisanya ia berfikiran yang iya-iya disaat seperti ini.


"Pala lo tuh yang live streaming!!. Udah akh, ayo kita keluar. Semua pasti udah nunggu" . Reyhan bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar dari ruang ganti diikuti tiga temannya di belakang.


Gedung sudah didekorasi seindah mungkin. Furniture yang digunakan juga bukan merk sembarangan. Itu semua import yang pasti harganya jauh dari kata murah.


Semua tamu undangan, kolega bisnis, dan juga para sahabat sudah hadir dalam acara pernikahan putra dan putri dari dua keluarga konglomerat itu. Reyhan berjalan perlahan menuruni tangga dengan gagah di dampingi oleh tiga temannya yang setia mengekor di belakang.


Keluarga Reyhan sudah menunggu di bawah. Mereka semua tersenyum bahagia saat melihat dirinya sudah hadir di depan mereka. Reyhan duduk di antara kedua orangtuanya, mereka hanya perlu menunggu kehadiran Kenzi. Gadis itu sedang di rias di lantai paling atas gedung. Sedangkan keluarganya sudah hadir disini. Allia dan William duduk berdampingan di kursi yang berseberangan dengan keluarga Reyhan. Sedangkan Devano dan Via duduk di kursi tamu paling depan dengan seorang pemuda di sampingnya.


************


Gaun putih yang menjuntai indah itu sudah membalut tubuh Kenzi dengan sempurna. Riasan yang elegan serta model rambut yang modern membuatnya terlihat seperti putri kerajaan masa kini.


Tangannya menggenggam sebuah kalung pemberian Reyhan waktu itu. Senyuman bahagia tak dapat ia sembunyikan. Ia sangat senang saat ini, apalagi ini adalah hari pernikahannya bersama pemuda yang sangat ia cintai.


"Gue nggak nyangka hari ini bener-bener terjadi" gumam Kenzi dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.


Tok....tok...tok


Suara pintu diketuk membuat Kenzi menoleh kearah sumber suara.


"Siapa?!" tanya Kenzi namun tak ada jawaban dari sana. Kening gadis itu mengerut bingung. Ia berjalan kearah pintu lalu membuka pintu tersebut untuk melihat siapa yang datang.


Tiga orang berpakaian seperti seorang pelayan berdiri di depan pintu.


"Maaf, ada apa ya?" tanya Kenzi dengan ekspresi bingung.


**************


Semua tamu undangan sudah hadir, penghulu dan juga saksi juga sudah berdatangan. Prosesi ijab-kabul akan segera dilakukan.


"Mommy panggil Ken dulu ya" Allia bangkit dari duduknya setelah mendapatkan persetujuan. Di dampingi oleh Raisa, Ia berjalan menaiki tangga untuk menjemput putrinya yang akan segera menikah.


Saat sampai di depan ruangan, Allia dan Raisa kompak saling pandang saat melihat pintu ruangan terbuka padahal mereka sudah memperingatkan Kenzi untuk tidak membuka pintu sebelum dipanggil. Pikiran buruk mulai bersarang di otak keduanya. Dengan buru-buru, mereka melihat ke dalam ruangan.


"Ken... kenzi" ucap Allia dengan suara bergetar saat melihat Kenzi tidak ada di ruangan itu. Raisa pun sama terkejutnya, Ia menutup mulutnya yang terbuka saat tidak melihat kehadiran calon menantunya disini.


"PENJAGA!!!" Allia berteriak dengan kencang di sela-sela kekhawatirannya. Tak ada sahutan ataupun seseorang yang datang.Allia dan Raisa kompak melihat ke beberapa sudut tempat yang diberi penjagaan. Mereka semua tewas.


"Dimana Kenzi!!!" Allia berseru dengan wajah cemas, Raisa pun tak kalah cemasnya.


"Al, tenang dulu. Kita ke bawah, kita beri tau Reyhan" ucap Raisa mencoba menenangkan padahal dia sendiri juga kebingungan. Tak menunggu waktu lama, mrreka semua segera turun ke bawah untuk memberitahu hal ini.


Reyhan dan yang lain kompak berdiri saat melihat Raisa dan Allia menuruni tangga dengan terburu-buru. Apalagi saat melihat wajah Allia beruraikan air mata, semakin membuat mereka kebingungan.


"Mah, ada apa?!" tanya Reyhan bingung.


"Kenzi, Kenzi nggak ada di ruangannya. Dia diculik" ucapan itu seperti peluru yang menghujam dada Reyhan. Tubuh pemuda itu lemas seketika, rasa cemas mendadak muncul dalam hatinya hingga membuat ia tak tenang.


"Kenapa bisa?!. Dimana para penjaga?!!!" desis Devano dengan amarah. Via mengusap bahu Devano, berusaha membuatnya sedikit tenang. Sedangkan pemuda di sampingnya hanya diam menyimak dengan kening mengerut.


"Mereka, mereka tewas" jawab Allia dengan suara bergetar.


Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia berubah menjadihari yang paling mencekam bagi mereka. Para tamu undangan saling berbisik prihatin melihat pesta yang menjadi kacau balau.


"Dimana Big Seven?" tanya Reyhan dengan suara lirih dan kepala menunduk. Tak ada yang menjawab, membuat darah pemuda itu kian mendidih.


"MARCO!!!!" teriakan Reyhan menggema ke seluruh penjuru gedung hingga membuat suasana semakin mencekam.


Tak ada seorang pun yang datang. Reyhan bangkit dari duduknys. Ia berjalan keluar diikuti Reza, Vicky dan Ariel. Kini Ia baru sadar, seluruh penjaga sudah berhasil di lumpuhkan. Mereka semua terkapar di lantai karena obat bius yang diberikan lewat bidikan jarak jauh entah dari siapa.


"Akhhh!!!" Reyhan berteriak dengan kesal seraya menendang sebuah bangku di depannya. Nafasnya naik turun, Ia berbalik badan lalu menatap ketiga temannya dengan tatapan tajam.


"Cari Big Seven sampek ketemu!!" seru Reyhan tak terbantahkan. Tanpa menunggu jawaban persetujuan atapun penolakan, Ia kembali masuk ke dalam gedung meninggalkan mereka yang tengah menatap bingung kearahnya.


"Anggep aja bantu temen" sela Ariel dengan cepat saat melihat Reza hendak protes. Pemuda itu mendesah berat. Reza benar, ini adalah saat yang sangat kacau. Sudah sepantasnya mereka membantu.


"Kita cari mereka sekarang!!" Tiga pemuda itu bergegas mencari keberadaan Big Seven yang menghilang entah kemana. Mereka berpencar memutari seluruh area gesung untuk menemukan tujuh pria berpengaruh itu. Saat ini, tujuh pria itu benar-benar dibutuhkan.


Please tinggalkan jejak:)