
Semua berjalan aman dan damai setelah kejadian tak mengenakkan itu. Reyhan dan Kenzi berhasil memenangkan persidangan berkat bantuan Bagas. Bukan tanpa alasan. Mereka memiliki bukti. Bukti yang mereka dapatkan entah dari mana. Sedangkan Rossa sudah meninggal beberapa hari yang lalu karena gantung diri di ruang rawatnya. Entah karena tertekan ataupun merasa bersalah, perempuan itu lebih memilih jalan menyimpang yaitu bunuh diri.
Masih teringat jelas diingatan Kenzi bagaimana wajah marah Bianca saat menatapnya terakhir kali di ruang sidang. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin melindungi anaknya.
"Saya pastikan hidup kamu nggak akan bisa tenang!!. Saya akan balas semua perbuatan kamu, bahkan ribuan kali lebih kejam!!"
Ucapan perempuan itu kembali terngiang, membuat Kenzi tertawa kecil. Tidak ada ketakutan dalam dirinya, apalagi hanya ancaman murahan seperti itu.
"MAMA..." Kairen dan Raizel berlarian dari arah gerbang, mereka baru saja pulang dari rumah Kimy. Membuat atensi Kenzi yang tadi menatap kearah pepohonan beralih menatap mereka.
"Ma, Tante Cindy tadi nyanyinya bagus!!" Kairen dengan terampil menceritakan apa yang barusan Ia lihat kepada sang ibu.
"Oh ya?" tanya Kenzi seraya mengelus kepala dua anak itu. Kairen dan Raizel mengangguk bersama. Terlihat jelas ada sorot kekaguman yang terpancar di mata mereka kepada Ibu Kimy yang memang berprofesi sebagai penyanyi.
"Tante bisa pake gital, Mama bica nggak?" kini Raizel yang bertanya. Menatap Kenzi dengan mata indah yang mereka miliki. Dua anak itu benar-benar menggemaskan.
"Bisa dong.... besok Mama nyanyi buat kalian. Tapi sekarang kalian mandi dulu terus dandan yang ganteng. Bentar lagi Kak Satya, Viola, Gabriel, Nauval, Vero, sama Kimy kan mau kesini. Masak anaknya Mama yang gantengnya nauzubillah bau sayur basi siih"
"Emang sayur basi baunya gimana Ma?" tanya Kairen penasaran.
"Mirip kentut Papa kamu, tapi rada original dikit".
***********
Rumah Reyhan dan Kenzi mendadak ramai karena kedatangan teman-teman masa sekolah mereka. Reza, Vicky, Ariel beserta istri-istrinya berkunjunng ke Rumah Reyhan dan Kenzi. Devano pun turut hadir bersama Via, Bagas dan Cindy juga ada, tak lupa mereka membawa buntut masing-masing yang sudah seumuran dengan Kairen dan Raizel.
"Kerjaan lo gimana Rey?, lama juga kita nggak kontek-kontekan" ucap Reza memulai pembicaraan. Para orangtua duduk di sofa, sedangkan anak-anak kecil duduk di lantai sembari bermain bersama RK Twins.
"Ya gitu-gitu doang. Lo tau sendiri kan kerjaan kantor tuh kayak gimana. Ujung-ujungnya nggak bakal jauh dari berkas, laptop, meeting" sahut Reyhan apa adanya. Ia meraih kopi dalam cangkir. Meniupnya sejenak kemudian menyesap sedikit demi sedikit.
"Kenapa nggak ganti profesi aja?. Jadi kang parkir kek, atau kang cukur" saran Vicky mengundang decakan dari bibir Reyhan. Pria di depannya ini memang tidak berubah sejak dulu. Kalo ngomong nggak difilter sampek buriknya beneran keliatan luar dalem.
"Gue malah rencananya pengen jadi dukun, biar bisa ngirim santet ke lu tiap malem!!" sahut Reyhan dengan nada nggak santai. Sewot sampek matanya ikutan melotot.
"Ih, serem juga yak. Kan nggak lucu kalo gue bangun-bangun udah berubah jadi kodok" Vicky bergidik ngeri. Membayangkan wajah paripurnanya berubah jadi kodok zumba. Ijo lompat lompat. Serasa kayak lontong berkaki.
"Terus Renata kawin lagi gegara males punya laki yang mukanya kek kodok!!" Ariel ikut menimpali. Sembari tertawa, pria itu mengungkapkan hal apa yang ada dipikirannya dengan spontan.
"Ati-ati Renata diembat sama produser film yang tinggal di sebelah rumah lo tuh Vick, gue denger-denger dia suka ama bini lo!!" Kenzi mengompori suasana, tak mengerti jika Vicky tengah menahan kesal sedangkan Renata diam sambil menahan berak.
"Tau gue kalo itu mah. Tuh produser tiap pagi ngeliatin mulu. Serasa pengen gue congkel matanya terus gue buat main ping pong"
"Ntar kita cat warna ijo toska biar estetik" tambah Ariel
"Kenapa nggak sekalian kuning?. enak tuh tinggal ngehanyutin di kali pun udah jadi"
Sementara di sisi lain, para anak kecil tengah sibuk dengan mainannya. Kimy ada disana. Gadis kecil itu nampak sangat senang, apalagi setelah mendapat banyak teman seperti Satya, Viola, Gabriel, Nauval, dan Vero.
"Kikim...." panggil Kairen sembari menyenggol sedikit lengan anak itu.
Gadis kecil dengan rambut indah sebahu itu menoleh, Ia menatap sengit kearah Kairen, seakan tak terima jika namanya diplesetkan seperti tadi.
"Kimy, Kai. K I M Y" dengan perasaan kesal, Kimy mengeja namanya pelan-pelan. Berharap Kairen dapat memperbaikinya meski sedikit.
"Bagusan Kikim, aku cuka" sahut Kairen dengan wajah tanpa dosa.
"Tapi aku nggak cuka!!" Kimy bedecak kesal. Ia menghentakkan tangannya berulang kali, sembari mengerucutkan bibir hingga pipi chubby-nya mengembang.
"Kalian kenapa?" tanya Gabriel, anak Ariel dan Andien yang kini seumuran dengan KR Twins.
"Kai manggil aku Kikim" adu Kimy dengan nada kesal. Gabriel terdiam cukup lama. Gadis berponi itu kemudian berkacak pinggang, menatap Kairen sembari menggelengkan kepalanya.
"Nggak boleh gitu, Kai. Om Bagas udah caliin nama buat Kimy susah-susah, macak kamu plecetin!!" Gabriel dengan terampil mengoceh, benar-benar mewarisi sifat Ariel yang gemar senam bibir.
Raizel menoleh. Menatap sang kakak dengan tatapan bingung.
"Cayang itu apa?" tanyanya.
"Nggak tau. Tapi Papa seling bilang gitu ke Mama" sahut Kairen dengan wajah polos.
Sementara di seberang mereka, Bagas terkekeh melihat tingkah anak-anak kecil itu.
"Kai itu anaknya terampil banget kalo bicara" pria itu memberikan komentarnya, membuat semua orang yang ada disana ikut menoleh.
"Iya, tuh anak cara ngomongnya bener-bener jelmaannya Kenzi. Nggak pernah bisa di rem" sahut Devano
"Dih, kayak dia nggak gitu aja?!" Kenzi berdecak sinis. Memandang kakaknya yang kadang nggak sadar diri dengan tatapan mencibir.
"Seenggaknya gue nggak secerewet elu!!"
Kimy beranjak dari duduknya karena jengah mendengar perdebatan Kairen dan Gabriel yang unfaedah. Ia beralih duduk di samping Satya yang tengah menyusun kubus. Anak itu nampak sangat serius hingga tidak menyadari kedatangan Kimy di dekatnya.
"Satya lagi apa?" tanya Kimy berbasa-basi. Satya menoleh sembari tersenyum manis, senyuman yang sama persis seperti milik Via.
"Nyusun kubus, biar bisa oren semua" jawabnya dengan segera.
Kimy mengangguk beberapa kali. Tak lama Viola datang sembari membawa boneka. Ia ikut duduk di samping Satya, memperhatikan sang kakak yang tengah sibuk dengan kubusnya.
Viola, anak kedua Devano dan Via. Gadis kecil berumur 3 tahun itu terlihat sangat imut dengan rambut dikepang dua.
"Val, Kimy cantik ya?" Vero yang sedang bermain kereta mainan bersama Nauval berucap demikian. Membuat Nauval menatap heran kearahnya, merasa bingung dengan apa yang Ia katakan.
"Cantikan Briel" sahut Nauval dengan segera. Ia kemudian kembali menunduk, menyusun kereta-kereta kecil dengan telaten agar menjadi panjang.
"Tapi Briel cerewet"
"Tapi dia cantik"
"Cantikan Kimy!!"
"Briel lebih cantik"
Perdebatan antara anak Vicky dan Reza itu masih berbuntut panjang. Berdebat membicarakan yang mana yang lebih cantik padahal cuma author yang paling cantik:>
Sementara Raizel, Ia sibuk dengan dunianya sendiri. Seakan tak peduli ada berapa orang disekitarnya. Jika Ia sudah fokus kepada sesuatu, maka Ia tidak akan menganggap hal lain ada.
"Rai kenapa nggak main?" tanya Kimy yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya. Raizel menggeleng beberapa kali, masih dengan tangan yang sibuk menggerakkan robot.
"Kamu juga kenapa nggak main?" alih-alih menjawab, anak itu malah berbalik bertanya dengan wajah datar.
"Nggak, aku nemenin kamu aja" Kimy menjawab diiringi senyuman. Ia merapikan posisi duduknya, mencoba mencari posisi senyaman mungkin.
Raizel ikut tersenyum simpul. Tangannya masih belum berhenti mengontrol robot, Ia benar-benar menyukai permainan itu.
"Lusa aku ulang tahun, kamu dateng ya?!"
Ucapan itu membuat Raizel menoleh, namun ternyata Kimy sudah melangkah menjauh. Ia masih bisa melihat gadis itu dari belakang, rambut indahnya bergerak kesana kemari seiiring dengan langkah kakinya yang bergerak cepat.
Kimy duduk di samping Gabriel. Mereka tertawa bersama, dan Raizel masih memperhatikannya. Tanpa sadar ia ikut tersenyum. Senyuman yang sama persis seperti milik Reyhan.
......Hayo lohhh, mau jadi cinta segi berapa entarrr?!!!......
......Jan lupa like coment oke?!!!......
......Makasih yang udah mau nunggu:) ......