
"Tuan, maaf kalau saya lancang ... tapi saya harus memastikan hal ini."
"Apa yang mau kamu tanyakan?" Nathan menghabiskan tegukan terakhir susunya.
"Anda menaruh hati kepada nona Clair?"
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
Kali ini Brian benar-benar memperhatikan tiap detail sang tuan. Dia benar-benar curiga, total sudah dua kali sang tuan muda bertemu langsung dengan Clair. Dia mengingat-ingat sejak pertemuan pertama, pada saat rapat jelas-jelas itu adalah pertemuan pertama mereka.
"Jangan mencurigai aku seperti itu, aku tidak mungkin mengkhianati istriku." tebakan Nathan memang tepat.
"Tuan, apakah anda merasa ada sesuatu yang berbeda ketika berdekatan dengan nona Clair?"
"Maksud kamu?!"
"Maafkan saya, tuan. Tapi ketika anda berada di dekatnya, anda tidak menolak ataupun merasa keberatan dengan keberadaannya. Dan, itu tidak seperti anda." daripada aku menerka-nerka lebih baik tanya langsung saja.
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Tuan, anda bahkan mengacuhkan nona muda."
"Hei ... tidak mungkin."
"Jadi ... anda bahkan tidak sadar dengan apa yang anda lakukan?" Nathan mulai ragu dengan dirinya, tidak mungkin kan Brian mengada-ada. "Tuan, apa anda ingat bahwa anda menolak ajakan nona Clair makan malam di tempatnya menginap, tapi kemudian anda mengundangnya makan siang?" Brian mengatakan hal itu untuk makin meyakinkan kecurigaan nya.
"What?!! kenapa aku harus mengundangnya makan siang?!!" Nathan tidak kalah terkejut.
Gotcha!! Memang ada sesuatu, wanita itu melakukan sesuatu hingga tuan muda seperti ini. "Apa anda tahu apa yang lebih mengejutkan??" pancing Brian.
"Apa?"
"Kejadian yang bagi anda tidak mungkin itu, terjadi pada saat kita rapat bersama Mirae Contruction, tuan."
Nathan terlihat berpikir sejenak, hari itu, rapat dengan Mirae ... "Tita-ku ada disana!!!!" Nathan setengah berteriak. Brian hanya menganggukkan kepala. "Jadi, itu alasan dia marah padaku??"
"Iya, tentu saja tuan. Apa nona tidak mengatakan apapun?"
Nathan langsung berlari keluar, tidak memperdulikan Brian lagi. "Mami ... mami lihat Tita?"
Mami menunjuk ke arah ruang tengah, "Tadi sedang menonton bersama Loudy."
"Sayang." Nathan menghampiri sang istri dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kamu kenapa?" Tita kebingungan melihat sang tuan suami.
"Sayang ..." Nathan menggenggam dan menatap sang istri dengan perasaan menyesal. "Sayang, maafkan aku." kemudian memeluk Tita penuh sayang.
"Maaf? maaf kenapa?" makin bingung kan? bahkan Loudy yang berada di sebelah Tita juga bingung dengan kelakuan sang kakak.
"Iya, tapi cerita dulu ... kamu kenapa sih??"
"Kamu janji mau memaafkan aku?"
"Iya, memang apa salahmu?" uuh ... kencang sekali pelukannya. "Aku ... aku susah ber-nafas."
Nathan mengendurkan pelukannya, memasang muka sedih ... dia benar-benar merasa bersalah, "Aku janji, aku tidak akan mengabaikan kamu lagi." Tita makin merasa aneh dengan laki-laki di hadapannya ini, dan Nathan yang melihat raut wajah Tita jadi makin menggemaskan pada saat itu. Dan rasa penyesalan itu berganti begitu saja menjadi rasa ingin menutup mulut sang istri yang terbuka setengah itu. Tanpa memikirkan ada sang adik, yang sebenarnya tidak sepolos kelihatannya, Nathan langsung saja mencium bibir sang istri di saat itu juga.
Kali ini bahkan Loudy benar-benar tidak bernafas, ha ha ha. Bagaimana mungkin sang kakak yang kepala batu, otoriter, dingin dan sering menyebalkan bisa-bisanya mencium istrinya di ruang tengah yang terang benderang seperti ini, tanpa rasa bersalah lagi. Lihat, lihat mereka ... dan apa itu, temanku bahkan menikmati cumbuan kakak ku?!
Waah ... bahaya kalau aku kelamaan disini, otakku bisa terkontaminasi, masalahnya kan aku tidak punya pasangan, hiks. Maka Loudy langsung angkat kaki dari sana, diam-diam tanpa menimbulkan suara ... dan karena dia adik yang baik hati, maka di redup pencahayaan di ruang tengah itu. Bahkan ketika ada pelayan yang akan membawakan makanan ke ruang tengah, Loudy memberi peringatan, "Jangan ada yang kesana kalau kalian mau selamat, sampaikan kepada yang lainnya, oke!"
"Ehm, ah, sa... sayang ... sudah, jangan disini." sepertinya Tita lebih dulu sadar akan keberadaan mereka.
"Apa, kenapa?" Nathan seperti anak kecil yang di rebut mainannya.
"Kita pindah ke apartemen saja, yuk."
"Lho, kenapa tiba-tiba?"
"Biar kita bebas melakukan dimanapun." ajakan nakal Nathan. Dan Tita hanya tertawa malu.
Dasar yaa ... kelakuan suami istri ini, ckckck ... kan kasihan Loudy.
***
Sebuah mobil berwarna biru metalik memasuki parkiran sebuah restoran, seorang laki-laki memakai polo shirt dan berkaca mata hitam melangkah keluar dan memasuki restoran.
"Selamat siang, tuan Brian." ya dialah Brian, siapa yang tidak kenal laki-laki ini ... tangan kanan tuan Petra.
"Aku sudah ada janji." terangnya.
"Oh, baik tuan, silahkan."
"Brian." seorang wanita cantik melambaikan tangan padanya, dia tersenyum manis sekali.
Brian menghampiri dan mencium pipinya, "Hai, sayang. Sudah lama?"
Wanita itu merapatkan duduknya, merangkul mesra lengan Brian, "Belum lama sayang ... aku kangen deh."
"Aku juga, tapi kita makan dulu ya. Kamu sudah pesan makan?"
"Belum, aku menunggumu."
Wanita ini adalah kekasih Brian, bisa dibilang kekasih terlama sang Don Juan. Wanita ini bekerja di Petra Corporate, bukan sebagai sekretaris ataupun pekerjaan yang lumrah bagi wanita, melainkan di bagian keamanan ring 2 dan sudah tentu bela dirinya sangat hebat.
"Kita mau kemana, sayang?" Brian ternyata laki-laki yang tau bagaimana cara menyenangkan hati pasangannya.
"Nonton aja yuk, aku sudah lama tidak nonton."
"Oke, sayang ... habiskan makanannya dulu ya." Ketika sedang menikmati makanannya, ponsel Brian berdering. "Iya, tuan muda? saya sedang kencan, apa? hm ... baiklah." klik.
"Ada apa? kamu harus pergi?"
"Tuan muda ingin di jemput,"
Ada rasa tidak rela sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. "Pergilah, aku akan menghabiskan makanan ku dulu."
"Tidak kali ini, tuan muda ingin kita pergi bersama."
"Hah?!!"
Dan disini lah mereka kini, menunggu tuan dan nona muda. Entah apa yang mereka pikirkan, apakah sengaja ingin kencan bersama??
"Maaf ya kak Brian, aku mengganggu kencan kalian. Halo saya Tita." Tita memperkenalkan diri kepada teman kencan Brian.
Oh, jadi ini nona Tita istri tuan muda ... pantas saja tuan muda mati-matian mengejarnya, ternyata manis begini orangnya, ramah lagi .. tidak seperti wanita-wanita yang mengejar-ngejar tuan muda sebelumnya. "Saya Ana, nona." ucapnya menjawab salam Tita.
Sementara Nathan, tentu dia sudah mengenal siapa wanita yang di bawa oleh Brian ini. Dan seperti biasa, dia hanya mengucapkan 'hai' sebagai sapaan ... irit sekali.
"Jadi, anda mau kemana, tuan?"
Bukannya langsung menjawab, Nathan malah melihat kearah Tita seakan meminta jawaban. Dan Tita pun menyadari sikap Nathan itu, "Aku ingin nonton ... kita nonton saja yuk, bagaimana?"
"Waah, nona sebelumnya memang kami berencana nonton film, bagaimana bisa kita memiliki pemikiran yang sama?" Ana yang menjawab secara spontan pertama random dari Tita.
Brian pun cukup kaget dengan sikap Ana yang begitu santai menanggapi Tita, padahal mereka baru saja bertemu. "Maaf, tuan, nona. Maafkan Ana yang sudah lancang." Brian merasa tidak enak.
"Kak Brian, tidak perlu meminta maaf ... aku senang kok kita bisa pergi sama-sama, ya kan sayang?" Tita tau kenapa Brian meminta maaf, oleh karena itu dia juga berusaha 'menjinakkan' orang yang membuat atmosfer di dalam mobil itu menjadi canggung, yaaa ... tentu dengan bersikap manja padanya. he he.